Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi AS, Harga Emas Spot Tertahan di US$ 4.042 per Troi Ons

MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — Harga emas di pasar global berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan mingguan yang signifikan, meskipun harus merelakan sebagian penguatannya akibat aksi lepas aset (profit taking) pada perdagangan hari ini.

Tumpukan emas batangan. Foto oleh Peggy Marco/Pixabay

Melansir dari Bloomberg, Jumat (6/11/2026), harga emas spot terkoreksi 1,1% ke level US$ 4.042,66 per troi ons pada pukul 11.48 WIB. Kendati melemah hari ini, sang logam mulia masih berpeluang membukukan lonjakan hingga 5% sepanjang pekan ini—menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak Agustus lalu.

Tertekan Sell-off Pasar Saham dan Dinamika Politik AS

Reli harga emas harus tertahan hari ini lantaran sejumlah investor memilih melepas kepemilikan logam mulia demi menutupi kerugian (margin call) di pasar saham.

Anjloknya saham-saham teknologi di Bursa Wall Street pada Kamis kemarin berlanjut hingga ke bursa Asia hari ini. Aksi jual ini dipicu oleh spekulasi para trader atas hasil Pemilu Sela di AS, di mana kemenangan Partai Demokrat di Kongres diperkirakan bakal melahirkan regulasi ketat yang membatasi industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pasca-gelombang penolakan warga terhadap pembangunan pusat data (data center).

Di sisi lain, kekalahan Partai Republik turut mendorong peralihan modal ke obligasi pemerintah AS (US Treasury) sebagai aset aman (safe haven), yang pada gilirannya menekan imbal hasil (yield) ke level terendah sejak awal September.

Christoper Wong, Ahli Strategi di Oversea-Chinese Banking Corp. (OCBC), menilai bahwa daya tahan emas di tengah tekanan hebat pasar saham masih tergolong positif.

"Logam mulia mungkin secara bertahap mendapatkan kembali daya tariknya sebagai aset aman. Kendati demikian, sejauh mana emas mampu bertahan jika pelemahan pasar saham terus berlanjut akan menjadi ujian penting," ungkap Wong melansir Bloomberg, Jumat (6/11).

Baca: 

Ekspektasi Penurunan Inflasi & Suku Bunga Fed

Berdasarkan dinamika hasil Pemilu Sela AS, investor memproyeksikan pemerintahan yang terpisah (divided government) bakal membatasi agenda fiskal Presiden Donald Trump, khususnya terkait pengeluaran dan penarikan utang baru.

Selain itu, dominasi Demokrat di Kongres diharapkan mampu mendorong penyelesaian konflik dengan Iran yang selama ini menjadi biang kerok lonjakan harga energi dan inflasi global.

Pemberhentian tekanan inflasi ini diyakini memberi ruang lebih luas bagi bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter dengan memangkas suku bunga acuan. Skenario suku bunga rendah ini menjadi angin segar bagi emas, mengingat instrumen tanpa imbal hasil (non-yielding asset) ini cenderung paling diuntungkan saat suku bunga melandai.

0 Comments

Posting Komentar

Berita Terbaru

    RESEARCH

    • Memuat artikel...

    Belajar Saham

      KONTEN PREMIUM

      • Memuat artikel...

      DIVIDEN