Nabung Saham Untung apa Rugi? Cek Fakta Studi Kasus Nabung Saham BBRI (2022-2025)

Nabung Saham Untung apa Rugi? Cek Fakta Studi Kasus Nabung Saham BBRI (2022-2025)

yuk nabung saham
Ilustrasi Nabung Saham di BEI. Adit Saputra / Mediasaham.com


Ringkasan

  • Metode DCA & Konsistensi: Nabung saham berfokus pada teknik Dollar Cost Averaging (DCA), yakni menyisihkan dana tetap secara rutin untuk membeli saham Blue Chip guna membangun aset produktif tanpa terpengaruh kepanikan pasar.
  • Fokus pada Akumulasi Lot: Berdasarkan studi kasus BBRI, meskipun nilai pasar berfluktuasi secara jangka pendek, disiplin menabung memungkinkan investor mengumpulkan jumlah lot yang maksimal sebagai sumber pendapatan dividen yang stabil.
  • Manajemen Risiko & Waktu: Keberhasilan investasi ini bergantung pada penggunaan "uang dingin" dan cakrawala waktu jangka panjang (3-5 tahun) untuk memanfaatkan efek bunga majemuk serta memitigasi risiko penurunan harga.

Apakah Anda ingin melawan inflasi dengan strategi yang teruji secara historis? Nabung saham adalah metode investasi dengan cara menyisihkan dana secara rutin untuk membeli saham perusahaan secara konsisten dalam jangka panjang.

Berbeda dengan tabungan bank konvensional, menabung saham memungkinkan Anda mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga aset (capital gain) dan pembagian laba perusahaan (dividen). Dalam artikel ini, kita akan membedah strategi nabung saham berdasarkan data riil pasar periode 2022 hingga akhir 2025.

Saham Gorengan: Panduan Lengkap, Ciri-Ciri, dan Studi Kasus Nyata Saham DADA 2025

Saham Gorengan: Panduan Lengkap, Ciri-Ciri, dan Studi Kasus Nyata Saham DADA 2025

saham pom-pom
Ilustrasi Saham gorengan yang sedang digoreng oleh Bandar Saham. Radit M. Pase / Mediasaham.com


Mediasaham.com – Pasar saham Indonesia (IHSG) adalah tempat di mana kekayaan bisa dibangun dalam jangka panjang, namun juga tempat di mana modal bisa lenyap dalam sekejap mata. Di antara hampir ribuan saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat satu kategori yang menjadi momok menakutkan sekaligus godaan terbesar bagi investor ritel: Saham Gorengan.

Bagi trader profesional yang paham risikonya, saham gorengan adalah arena berselancar di atas ombak volatilitas tinggi untuk meraih cuan kilat. Namun, bagi mayoritas investor pemula, ini adalah jebakan maut yang sering berakhir dengan penyesalan mendalam—uang tabungan hasil kerja keras hilang dimakan permainan "Bandar".

Fenomena ini terus berulang. Investor baru masuk, tergiur oleh cerita keuntungan ribuan persen dalam hitungan minggu, melompat masuk karena FOMO (Fear Of Missing Out), dan akhirnya terjebak di harga pucuk saat pemain besar sudah keluar.

Artikel ini bukan sekadar definisi singkat. Ini adalah panduan komprehensif dan mendalam yang dirancang untuk membekali Anda dengan pengetahuan agar tidak menjadi korban berikutnya. Kita akan membedah anatomi saham gorengan, psikologi di balik pergerakannya, dan melihat bukti nyata yang tak terbantahkan melalui studi kasus saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) yang mengalami siklus pump and dump (pom-pom) ekstrem pada tahun 2025.


Bab 1: Apa Sebenarnya Saham Gorengan Itu?

Secara harfiah, istilah "gorengan" di pasar modal Indonesia mengacu pada saham yang pergerakan harganya tidak mencerminkan kinerja fundamental perusahaan yang sebenarnya, melainkan hasil dari rekayasa atau manipulasi pasar (market manipulation) oleh pihak-pihak tertentu.

Pihak yang menggerakkan harga ini sering disebut sebagai "Bandar", Market Maker, atau Operator. Mereka biasanya adalah individu atau kelompok dengan modal sangat besar dan kemampuan untuk mengendalikan suplai dan permintaan saham tertentu dalam jangka pendek.

Analogi Sederhana: Gorengan di Pinggir Jalan

Bayangkan penjual gorengan. Agar dagangannya laku keras, ia membuat gorengannya terlihat sangat besar, warnanya kuning keemasan yang menggoda, dan aromanya semerbak. Orang-orang yang lewat tergiur dan berebut membeli.

Namun, setelah dibeli dan digigit, ternyata isinya kosong, hanya tepung yang digelembungkan, atau bahkan menggunakan minyak jelantah yang tidak sehat. Penjualnya sudah untung besar, sementara pembelinya sakit perut.

Dalam saham:

  • Gorengan yang menggoda adalah kenaikan harga saham yang tiba-tiba melonjak tajam.
  • Aroma semerbak adalah rumor-rumor positif yang disebarkan di grup saham dan media sosial. Di sini pom-pom saham mulai disebarkan ke ritel.
  • Isi yang kosong adalah fundamental perusahaan yang sebenarnya rugi atau tidak jelas masa depannya.
  • Sakit perut adalah kerugian finansial masif yang dialami investor ritel saat harga sahamnya jatuh kembali ke dasar.

Perbedaan Mendasar dengan Saham Blue Chip

Saham Blue Chip (seperti BBCA, TLKM, ASII) harganya naik karena kinerja perusahaan yang terus bertumbuh, laba yang meningkat, dan pembagian dividen yang rutin. Kenaikannya logis dan didukung data.

Sebaliknya, saham gorengan naik karena "digoreng". Kenaikannya artifisial. Tujuan utamanya adalah menciptakan ilusi bahwa saham tersebut sedang diminati banyak orang, sehingga investor ritel (publik) terpancing untuk membeli di harga yang sudah dinaikkan.


Bab 2: Studi Kasus Nyata: Jejak Mengerikan Saham DADA (2025)

Teori tanpa bukti hanyalah wacana. Untuk memahami betapa brutalnya pergerakan saham gorengan, mari kita analisis contoh nyata yang terjadi pada saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (kode: DADA).

Data historis ini adalah contoh sempurna dari skema Pump and Dump (Pompa dan Buang) klasik. Perhatikan baik-baik kronologi berikut berdasarkan data grafik yang ada.

Fase 1: Tidur Panjang dan Akumulasi Senyap (The Setup)

Perhatikan gambar pertama di bawah ini. Ini adalah kondisi saham DADA pada awal Agustus 2025.

grafik harga saham dada
Gambar 1: Saham DADA "tertidur" di harga dasar Rp 8 per lembar pada 1 Agustus 2025. Sumber data: Tangkapan Layar Google.com/finance


Pada fase ini, saham DADA praktis tidak bergerak. Harganya terpuruk di level Rp 8 per lembar. Ini adalah area yang sering disebut sebagai "saham zombie" atau saham yang sudah sangat tidak likuid.

Namun, di sinilah seringkali Fase Akumulasi oleh bandar dimulai. Mereka membeli saham ini sedikit demi sedikit dari pemegang saham lama yang sudah putus asa, tanpa membuat harga naik secara signifikan. Mereka mengumpulkan "barang" sebanyak mungkin di harga diskon.

Fase 2: Penggorengan Dimulai dan Mencapai Pucuk (The Pump)

Setelah bandar merasa cukup menguasai mayoritas saham beredar, dimulailah fase "penggorengan" atau markup. Harga dinaikkan secara agresif. Volume transaksi tiba-tiba meledak. Rumor-rumor positif (yang belum tentu benar) mulai beredar di forum-forum untuk memancing investor ritel.

Lihatlah apa yang terjadi hanya dalam waktu dua bulan pada gambar kedua di bawah ini:

harga saham dada di pucuk
Gambar 2: Puncak euforia. Saham DADA terbang hingga menyentuh harga tertinggi Rp 178 pada 8 Oktober 2025. Sumber data: Tangkapan Layar Google.com/finance


Ini adalah pemandangan yang luar biasa sekaligus mengerikan. Dari harga Rp 8 di awal Agustus, saham DADA meroket hingga menyentuh Rp 178 pada tanggal 8 Oktober 2025.

Mari kita hitung kenaikannya:

$$\text{Kenaikan} = \frac{(178 - 8)}{8} \times 100\% = \text{2.125\%}$$

Dalam fase ini, psikologi pasar diambil alih oleh KERAKUSAN (GREED) dan FOMO.

Investor ritel melihat saham ini naik 20-30% setiap hari (seringkali menyentuh Auto Reject Atas/ARA). Mereka yang awalnya ragu, akhirnya ikut membeli di harga Rp 100, Rp 120, bahkan di dekat pucuk Rp 150-an, karena berharap harga akan naik ke Rp 500 atau Rp 1000.

Di area pucuk inilah (Rp 150 - Rp 178), Bandar melakukan Fase Distribusi. Mereka menjual saham yang mereka beli di harga Rp 8 tadi kepada investor ritel yang sedang euforia membeli di harga mahal. Bandar merealisasikan keuntungan ribuan persen mereka.

Fase 3: Gosong, Jatuh, dan Terkunci di Gocap (The Crash & Dump)

Apa yang terjadi setelah Bandar selesai berjualan dan keluar dari pasar? Tidak ada lagi yang menahan harga. Suplai saham melimpah (karena ritel panik ingin jual), tapi tidak ada permintaan (tidak ada yang mau beli).

Harga jatuh bebas. Seringkali saham langsung terkena Auto Reject Bawah (ARB) berjilid-jilid setiap hari. Investor ritel yang membeli di atas tidak bisa keluar karena antrian jual menumpuk tanpa ada pembeli.

Lihat gambar ketiga untuk melihat akhir dari cerita tragis ini:

saham gocap
Gambar 3: Akhir yang tragis. Hanya dalam dua minggu setelah pucuk, harga DADA jatuh ke Rp 50 (Gocap) pada 24 Oktober 2025 dan tidak bangkit lagi hingga Desember. Sumber data: Tangkapan Layar Google.com/finance)


Hanya dalam waktu sekitar dua minggu (dari 8 Oktober ke 24 Oktober), harga saham DADA terjun bebas dari Rp 178 kembali ke level Rp 50.

Di Bursa Efek Indonesia, Rp 50 seringkali menjadi batas bawah psikologis (dan historis) untuk saham di papan utama/pengembangan, sering disebut sebagai Saham Gocap.

Ketika saham sudah menyentuh Rp 50 dan tidak ada transaksi, ia menjadi sangat tidak likuid. Investor yang membeli di harga Rp 178 kini melihat nilai investasinya menyusut lebih dari 70% dan yang paling parah: sahamnya tidak bisa dijual (nyangkut permanen).

Studi kasus DADA ini adalah representasi visual yang sempurna tentang bahaya saham gorengan.


Bab 3: Mekanisme dan Psikologi di Balik Layar

Memahami bagaimana saham gorengan bekerja berarti memahami psikologi pasar yang dimainkan oleh para operator. Skema Pump and Dump (pom-pom) seperti pada kasus DADA memiliki siklus yang sistematis:

1. Akumulasi (Fase Senyap)

Seperti dijelaskan di atas, ini adalah fase pengumpulan barang. Bandar mencari saham perusahaan kecil, kapitalisasi pasar rendah, dan tidak likuid. Mereka membeli perlahan agar tidak memicu kenaikan harga yang mencolok. Ini bisa berlangsung berbulan-bulan.

2. Markup / Pump (Fase Goreng)

Bandar mulai menaikkan harga. Mereka melakukan transaksi pancingan (seringkali transaksi semu antar akun mereka sendiri) untuk menciptakan volume dan menaikkan harga.

  • Tujuan: Membuat saham masuk dalam daftar Top Gainers atau Most Active di aplikasi sekuritas.
  • Alat Bantu: Di tahap ini, seringkali muncul "Pom-Pom Saham" (influencer atau anggota grup berbayar) yang mulai merekomendasikan saham tersebut dengan target harga fantastis, disertai bumbu berita korporasi yang belum tentu valid.

3. Distribusi (Fase Jualan)

Ini adalah fase paling krusial bagi bandar. Saat publik (ritel) sudah ramai-ramai masuk karena FOMO, bandar mulai melepas saham mereka secara bertahap di harga atas. Mereka "memberikan" saham mahal mereka kepada ritel yang antusias.

4. Markdown / Crash (Fase Pembantaian)

Setelah bandar kehabisan barang atau mencapai target profit, mereka berhenti menyangga harga. Tekanan jual dari ritel yang mulai panik mendominasi pasar. Harga jatuh drastis, seringkali terkunci di ARB berhari-hari, meninggalkan investor ritel dalam kerugian besar.


Bab 4: 7 Ciri Fisik Utama Saham Gorengan

Agar Anda tidak menjadi korban seperti dalam kasus DADA, Anda wajib mengenali tanda-tanda fisik saham gorengan sebelum memutuskan untuk membeli.

1. Volatilitas Harga yang Tidak Masuk Akal

Ciri paling jelas adalah pergerakan harga yang ekstrem. Saham bisa naik 25%-35% (ARA) hari ini, lalu turun tajam 15% (ARB) besoknya, atau sebaliknya. Kenaikan harga seringkali tidak disertai berita korporasi atau perbaikan kinerja keuangan yang signifikan.

2. Volume Transaksi Meledak Tiba-Tiba

Saham yang biasanya sepi seperti kuburan tiba-tiba memiliki volume transaksi ratusan miliar rupiah dalam sehari.

Waspada: Jika Anda melihat lonjakan volume yang luar biasa tinggi di area harga bawah setelah periode sepi yang lama, itu bisa jadi indikasi awal fase markup (awal penggorengan). Namun, jika volume meledak saat harga sudah naik tinggi (di pucuk), itu seringkali indikasi fase distribusi (bandar jualan).

3. Kapitalisasi Pasar (Market Cap) Kecil

Bandar menyukai saham second liner atau third liner dengan kapitalisasi pasar kecil (misalnya di bawah Rp 500 Miliar atau Rp 1 Triliun).

  • Alasannya: Menggoreng saham berkapitalisasi besar seperti BBCA membutuhkan dana triliunan rupiah. Mustahil bagi bandar biasa. Namun, untuk saham berkapitalisasi kecil, modal beberapa puluh miliar saja sudah cukup untuk mengendalikan harga dan membuat chart terlihat "cantik".

4. Fundamental Perusahaan yang Buruk atau Absurd

Ini adalah ciri fundamental. Perusahaan yang sahamnya digoreng seringkali:

  • Mencatatkan kerugian bertahun-tahun.
  • Memiliki utang yang sangat tinggi dibanding ekuitasnya (Debt to Equity Ratio tinggi).
  • Valuasi yang sangat mahal dan tidak masuk akal. Contoh: Perusahaan rugi tapi harga sahamnya terus naik, membuat rasio PER (Price to Earnings) menjadi negatif atau sangat tinggi.

5. Sering Masuk "Radar" Bursa (UMA & Suspensi)

Bursa Efek Indonesia memiliki sistem pengawasan. Jika sebuah saham bergerak terlalu liar di luar kebiasaan, BEI akan memberikan peringatan berupa status UMA (Unusual Market Activity).

Jika setelah UMA harga masih bergerak liar, BEI akan melakukan Suspensi (penghentian sementara perdagangan) untuk "mendinginkan" suasana. Saham yang sering terkena UMA dan Suspensi adalah indikator kuat saham gorengan.

6. Pola Bid-Offer yang Aneh (Permainan Orderbook)

Bandar sering memanipulasi tampilan orderbook (antrian beli dan jual) untuk menipu ritel.

  • Fake Bid (Ganjelan): Memasang antrian beli (Bid) yang sangat tebal agar seolah-olah banyak yang ingin membeli dan harga akan naik. Padahal, jika ritel mulai membeli di harga Offer, antrian Bid tebal tadi tiba-tiba dicabut (withdraw).
  • Fake Offer (Tembok): Memasang antrian jual (Offer) yang tebal untuk menahan kenaikan harga di level tertentu, atau untuk menakut-nakuti ritel agar menjual barangnya (yang kemudian ditampung bandar).

7. Masuk Papan Pemantauan Khusus

Sejak implementasi Papan Pemantauan Khusus oleh BEI, banyak saham gorengan atau saham bermasalah yang masuk ke papan ini. Saham di papan ini memiliki mekanisme perdagangan berbeda, seringkali full call auction (FCA) dan dianggap lebih berisiko. Cek apakah saham incaran Anda memiliki notasi khusus (seperti notasi 'X') di belakang kodenya.


Bab 5: Risiko Fatal: Mengapa Anda Akan Rugi Besar

Bermain di saham gorengan bukan sekadar risiko rugi 5% atau 10%. Risikonya jauh lebih fatal:

  • Nyangkut Permanen di Harga Pucuk: Seperti kasus DADA di harga 178. Dana Anda tertahan di saham yang nilainya mungkin tidak akan pernah kembali ke harga tersebut seumur hidup.
  • Risiko Likuiditas (Gocap Lock): Saat harga jatuh ke Rp 50 (atau harga terendah di papan pemantauan khusus misal Rp 1), dan tidak ada pembeli sama sekali. Anda memiliki sahamnya, tapi tidak bisa diuangkan. Uang Anda efektif menjadi nol.
  • Delisting Paksa (Forced Delisting): Jika perusahaan terus merugi, tidak mematuhi aturan bursa, atau tersangkut masalah hukum serius, BEI bisa menghapus pencatatan saham tersebut (Delisting). Jika ini terjadi, dan perusahaan tidak melakukan buyback, saham yang Anda pegang menjadi kertas tidak berharga.

Bab 6: Panduan Bertahan Hidup: Cara Menghindari Jebakan

Sebagai investor cerdas, pertahanan adalah serangan terbaik. Berikut cara menghindari jebakan saham gorengan:

1. Cek Fundamental Sebelum Membeli

Jangan malas. Buka aplikasi sekuritas Anda, lihat Key Statistics. Apakah perusahaan untung? Bagaimana riwayat labanya 3 tahun terakhir? Jika perusahaan rugi konsisten tapi harganya naik gila-gilaan, JANGAN SENTUH.

2. Jangan Telan Mentah-Mentah Rumor Forum

Matikan kebisingan. Grup Telegram, WhatsApp, atau influencer yang berteriak "Saham ABCD menuju 1000!" seringkali adalah bagian dari skema distribusi. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi seperti Keterbukaan Informasi di situs IDX.

3. Pahami Analisis Teknikal Dasar

Pelajari cara membaca candlestick dan volume. Kenali pola climax top (kenaikan harga tajam dengan volume super tinggi di pucuk) yang sering menjadi tanda pembalikan arah.

4. Terapkan Money Management yang Ketat

Jika Anda tetap ingin mencoba peruntungan trading (bukan investasi) di saham gorengan:

  • Gunakan "uang dingin" yang Anda siap kehilangan seluruhnya.
  • Batasi maksimal 5-10% dari total portofolio Anda untuk saham jenis ini.
  • Disiplin Cut Loss: Tentukan batas kerugian sebelum masuk (misal 5%). Jika harga turun menyentuh batas itu, jual tanpa berpikir dua kali. Jangan berharap harga akan berbalik.

5. Hindari FOMO

Pasar saham akan selalu ada besok. Jangan merasa tertinggal jika melihat saham naik 50% hari ini. Kesempatan lain akan selalu datang. Lebih baik tidak mendapatkan untung daripada kehilangan modal secara permanen.

"Pasar saham memindahkan uang dari orang yang tidak sabar kepada orang yang sabar." — Warren Buffett


Kesimpulan: Ubah Mindset Anda

Saham gorengan seperti DADA menawarkan ilusi kekayaan instan. Mereka memanfaatkan sifat dasar manusia: keserakahan dan ketakutan.

Grafik saham DADA yang naik dari Rp 8 ke Rp 178 lalu kembali ke Rp 50 dalam hitungan bulan adalah pelajaran mahal yang harus diingat setiap investor. Di balik setiap kenaikan harga yang tidak wajar, ada pihak yang sedang mempersiapkan perangkap.

Fokuslah menjadi investor, bukan penjudi. Bangun kekayaan Anda secara bertahap melalui perusahaan-perusahaan berfundamental kuat yang memberikan nilai nyata bagi pemegang sahamnya. Perjalanan mungkin terasa lebih lambat, tetapi jauh lebih aman dan menenangkan.


FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Q: Apakah semua saham yang harganya naik cepat itu saham gorengan?

A: Tidak selalu. Ada saham yang naik cepat karena ada aksi korporasi nyata (seperti akuisisi besar) atau lonjakan kinerja laba yang luar biasa. Kuncinya adalah melihat apakah kenaikan harga didukung oleh alasan fundamental yang kuat atau hanya sekadar lonjakan volume tanpa berita jelas.

Q: Apakah salah trading di saham gorengan?

A: Tidak ada yang salah atau benar mutlak di pasar modal. Namun, trading di saham gorengan adalah aktivitas berisiko sangat tinggi (high risk). Ini lebih cocok untuk trader berpengalaman yang ahli membaca tape reading (pergerakan bid-offer) dan disiplin cut loss, bukan untuk investor pemula atau jangka panjang.

Q: Apa yang harus saya lakukan jika sudah terlanjur nyangkut di saham gorengan di harga pucuk?

A: Ini situasi sulit. Pilihannya adalah melakukan cut loss segera untuk menyelamatkan sisa modal sebelum jatuh lebih dalam, atau menunggu (dengan risiko saham tersebut tidur selamanya di gocap atau bahkan delisting). Evaluasi kembali toleransi risiko Anda.

Q: Bagaimana cara mengetahui saham yang sedang diakumulasi bandar?

A: Ini memerlukan keahlian analisis teknikal dan bandarmologi. Biasanya ditandai dengan harga yang bergerak sideways (mendatar) dalam rentang sempit dalam waktu lama, namun sesekali muncul lonjakan volume yang kemudian kempes lagi (upaya bandar mengetes pasar atau mengumpulkan barang).

Disclaimer

Artikel ini bertujuan untuk edukasi dan bukan merupakan rekomendasi pembelian atau penjualan saham tertentu. Penyebutan saham DADA adalah sebagai studi kasus historis. Investasi saham mengandung risiko. Selalu lakukan riset Anda sendiri (DYOR - Do Your Own Research) sebelum mengambil keputusan investasi.

Penulis: Adit Saputra, Radit M. Pase  - Mediasaham Research

400+ Daftar Saham Bagi Dividen Tahun 2025: Cek Jadwal dan Dividen Per Lembar

400+ Daftar Saham Bagi Dividen Tahun 2025: Cek Jadwal dan Dividen Per Lembar

dividen 2025
Ilustrasi Jadwal Dividen 2025. Radit M.Pase / Mediasaham.com



 

Daftar Saham Bagi Dividen Tahun 2025

Berikut daftar saham yang membagikan dividen tahun 2025. Lengkap dengan jumlah dividen per lembar dan juga jadwal pembagian dividen.

Berita Terbaru

    Laporan Keuangan

      Dividen Saham