![]() |
| Ilustrasi Emas batangan 1 kg. Steve Bidmead / Pixabay |
Mediasaham.com - Harga emas terpantau menguat pada perdagangan hari Selasa (9/12) waktu setempat. Kenaikan ini didorong oleh optimisme para pelaku pasar menjelang keputusan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
Tak hanya emas, harga perak (silver) bahkan melonjak drastis hingga mencapai tonggak sejarah tak terduga, menembus angka $60 per ounce, di tengah kekhawatiran adanya kendala pasokan.
Perak Capai Level Tertinggi Sepanjang Masa ($60.74/oz)
Menurut data Reuters per 9 Desember (2021 GMT):
- Emas Spot naik 0,6% menjadi $4.211,77 per ounce.
- Kontrak Berjangka Emas AS untuk pengiriman Februari ditutup naik 0,4% pada $4.236,2 per ounce.
- Perak Spot melambung 4,3% menjadi $60,74 per ounce, mencapai level tertinggi sepanjang masa (all-time high).
Kenaikan spektakuler pada harga perak ini didorong oleh ekspektasi lonjakan permintaan industri yang kuat di tahun-tahun mendatang, terutama dari sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, dan kecerdasan buatan (AI).
"Orang-orang mengantisipasi akan ada permintaan industri yang kuat untuk perak selama bertahun-tahun, itulah mengapa harga perak meningkat," ujar Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com.
Asosiasi industri Silver Institute menyebutkan bahwa sektor-sektor seperti energi surya, kendaraan listrik beserta infrastrukturnya, pusat data, dan kecerdasan buatan akan mendorong permintaan industri perak lebih tinggi hingga tahun 2030.
Selain permintaan industri, harga perak juga didukung oleh faktor-faktor berikut:
- Pasokan yang terus-menerus rendah dan menyusutnya persediaan global.
- Ekspektasi The Fed melonggarkan suku bunga.
- Penambahan perak baru-baru ini ke dalam daftar mineral kritis AS.
Maria Smirnova, manajer portofolio senior dan kepala investasi di Sprott Asset Management, optimistis bahwa selama defisit pasokan tidak teratasi, perak hanya memiliki satu arah, yaitu naik.
Fokus Pasar pada Keputusan Suku Bunga The Fed
Fokus utama pasar kini tertuju pada pertemuan dua hari kebijakan moneter The Fed (FOMC) yang berakhir pada hari Rabu (10/12). Para trader secara luas memproyeksikan adanya pemotongan suku bunga.
Menurut CME FedWatch Tool, para trader saat ini melihat peluang 87,4% untuk pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) minggu ini.
"Pergerakan harga emas saat ini disebabkan oleh lonjakan besar pada perak dan ekspektasi tinggi untuk pemotongan suku bunga seperempat poin lagi," kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.
Data Ketenagakerjaan AS yang Kuat
Di sisi lain, laporan JOLTS dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan adanya sedikit peningkatan lowongan pekerjaan menjadi 7,67 juta pada bulan Oktober, melampaui perkiraan 7,15 juta, mengindikasikan pasar tenaga kerja yang masih kuat.
Meskipun data ketenagakerjaan yang kuat biasanya dapat membatasi kenaikan logam mulia, Haberkorn mencatat bahwa emas tampak mengabaikan laporan tersebut. Ia bahkan memproyeksikan potensi kenaikan harga yang signifikan di masa depan.
Haberkorn menambahkan, "Kita bisa melihat perak diperdagangkan di atas $70 per ounce pada paruh pertama 2026, dan emas berada di jalur menuju $5.000 per ounce."
Sumber: Reuters

0 Comments
Posting Komentar