Transformasi 2.0 Darma Henwa (DEWA): Laba Naik 1000% & Proyek Emas

Transformasi 2.0 Darma Henwa (DEWA): Laba Naik 1000% & Proyek Emas

PT Darma Henwa
Karyawan PT Darma Henwa (DEWA) sedang melakukan pengawasan di lapangan. Darma Henwa


PT Darma Henwa Tbk (DEWA) tengah berada dalam titik balik bersejarah. Sebagai salah satu kontraktor pertambangan terintegrasi tertua di Indonesia, perusahaan ini sedang menjalankan strategi "Transformation 2.0" yang bertujuan mengubah wajah perusahaan dari sekadar kontraktor tradisional menjadi grup layanan pertambangan berbasis teknologi yang efisien dan berkelanjutan.

Artikel ini akan membedah secara rinci seluruh aspek berdasarkan dokumen data Public Expose 2025 DEWA yang diterbitkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Artikel ini menganalisa perusahaan mulai dari kinerja keuangan, efisiensi operasional, hingga proyek diversifikasi emas yang menjadi "game changer" bagi emiten berkode saham DEWA ini.

1. Profil Perusahaan

Didirikan pada tahun 1991, PT Darma Henwa Tbk telah lama malang melintang di industri jasa pertambangan Indonesia. Perusahaan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 26 September 2007. Saat ini, DEWA menyediakan layanan terintegrasi yang mencakup:

  • Jasa penambangan batubara dan mineral.
  • Infrastruktur pertambangan dan aktivitas pendukung lainnya.
  • Manajemen pelabuhan.

Hingga semester pertama 2025 (1H25), DEWA mengelola total aset senilai Rp 10,04 triliun dengan dukungan lebih dari 3.300 karyawan. Portofolio klien utama mereka tetap didominasi oleh raksasa industri seperti PT Kaltim Prima Coal (KPC).

Analisis Strategis Merger Moratelindo (MORA) dan MyRepublic (EMR): Panduan Lengkap bagi Investor

Analisis Strategis Merger Moratelindo (MORA) dan MyRepublic (EMR): Panduan Lengkap bagi Investor

penggabungan dua perusahaan
Ilustrasi Penggabungan dua perusahaan (merger). Adit Saputra / Mediasaham.com


Poin Utama Merger MORA & EMR (MyRepublic)

1. Integrasi Vertikal Strategis

Penggabungan antara MORA (pemilik infrastruktur kabel serat optik 57.779 km) dan EMR/MyRepublic (penyedia internet ritel) akan menciptakan ekosistem telekomunikasi terpadu. Sinergi ini bertujuan meningkatkan efisiensi biaya sewa jaringan dan memperluas pangsa pasar melawan kompetitor besar seperti IndiHome dan Link Net.

2. Struktur Transaksi & Kendali Sinar Mas

MORA akan menjadi entitas yang bertahan (surviving entity) dengan rasio konversi 1 saham EMR setara 7.703,8 saham baru MORA. Pasca-merger, Grup Sinar Mas melalui PT Innovate Mas Utama akan menjadi pengendali baru dengan kepemilikan mayoritas, yang memberikan stabilitas finansial bagi entitas gabungan.

3. Opsi Investor & Jadwal Krusial

Pemegang saham MORA menghadapi potensi dilusi kepemilikan sebesar 50,50%. Namun, tersedia mekanisme perlindungan berupa buyback pada harga Rp432 per saham bagi pemegang saham yang tidak setuju. Tanggal penting yang wajib dipantau adalah RUPSLB pada 25 Maret 2026 dan tanggal efektif penggabungan pada 22 April 2026.

Industri telekomunikasi Indonesia tengah bersiap menyambut salah satu aksi korporasi paling signifikan di tahun 2026. Rencana penggabungan usaha (merger) antara PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), yang dikenal sebagai raksasa infrastruktur backbone serat optik, dengan PT Eka Mas Republik (EMR), penyedia layanan internet ritel bermerek MyRepublic, menjanjikan terciptanya kekuatan baru dalam ekosistem digital nasional.

Artikel ini akan mengupas tuntas setiap sudut dari rancangan penggabungan tersebut, mulai dari valuasi, rasio konversi saham, hingga proyeksi sinergi yang akan mempengaruhi nilai investasi Anda.

1. Latar Belakang dan Profil Perusahaan yang Melakukan Penggabungan

PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA)

Didirikan pada tahun 2000, MORA telah berkembang menjadi salah satu penyedia jaringan fiber optik backbone terbesar di Indonesia. Kekuatan utama MORA terletak pada infrastruktur bawah laut dan darat yang masif, mencakup Sumatera, Jawa, Bali, hingga Papua.

  • Jangkauan: Per September 2025, MORA memiliki kabel serat optik sepanjang 57.779 km dan mengoperasikan 6 data center di lokasi strategis seperti Jakarta, Surabaya, dan Batam.
  • Segmen Pasar: Utama pada segmen enterprise, Internet Service Provider (ISP), dan penyediaan kapasitas jaringan internasional melalui sistem kabel MIC-1 ke Singapura.

PT Eka Mas Republik (EMR)

EMR, yang beroperasi dengan merek dagang MyRepublic, adalah pemain kunci di sektor internet broadband ritel (Fiber to the Home - FTTH). Sebagai bagian dari grup Sinar Mas, EMR fokus pada penyediaan internet kecepatan tinggi untuk pelanggan residensial dan usaha kecil menengah (UKM).

  • Model Bisnis: Berbeda dengan MORA yang fokus pada "jalan tol" informasi (infrastruktur), EMR adalah "kendaraan" yang mengantarkan layanan langsung ke pintu rumah pelanggan.

2. Rasional Strategis: Mengapa Merger Ini Terjadi?

Investor perlu memahami bahwa merger ini bukan sekadar penggabungan dua entitas, melainkan integrasi vertikal yang sangat kuat.

  • Sinergi Infrastruktur dan Ritel: MORA memiliki kabel, sedangkan EMR memiliki basis pelanggan ritel yang besar. Dengan bergabung, entitas gabungan dapat mengurangi biaya sewa jaringan pihak ketiga dan memaksimalkan utilisasi aset serat optik milik sendiri.
  • Efisiensi Biaya Operasional: Penggabungan fungsi kantor pusat, operasional, dan pemasaran diharapkan dapat menekan rasio biaya terhadap pendapatan. Kantor pusat akan dipusatkan di Grha 9, Menteng, sementara kantor EMR di Sinar Mas Land Plaza akan menjadi kantor cabang.
  • Skala Ekonomi: Gabungan kedua perusahaan ini akan memiliki kapasitas untuk bersaing lebih kompetitif melawan raksasa telekomunikasi lain seperti Telkom (IndiHome) dan Link Net (XL Axiata).

3. Detail Transaksi dan Struktur Permodalan Pasca-Merger

Rencana penggabungan ini akan menempatkan MORA sebagai entitas yang tetap berdiri (surviving entity), sementara EMR akan berakhir demi hukum tanpa likuidasi.

Valuasi Saham dan Rasio Konversi

Berdasarkan penilaian independen per 30 September 2025, nilai pasar kedua perusahaan hampir setara, yang menunjukkan betapa besarnya skala merger ini:

  • Nilai Pasar Ekuitas MORA: Rp10,21 triliun (Rp432 per saham).
  • Nilai Pasar Ekuitas EMR: Rp10,42 triliun (Rp3.327.118 per saham).

Berdasarkan valuasi tersebut, telah disepakati Rasio Konversi Saham:

1 Saham EMR = 7.703,807548 Saham Baru MORA.

Dampak Dilusi bagi Pemegang Saham MORA

Aksi korporasi ini akan menyebabkan penambahan jumlah saham beredar MORA secara signifikan. Pemegang saham eksisting MORA akan mengalami dilusi kepemilikan sebesar 50,50%. Meskipun terjadi dilusi, secara teori, nilai ekonomi pemegang saham tetap terjaga karena mereka kini memiliki persentase lebih kecil dalam entitas yang memiliki aset dua kali lebih besar.

4. Struktur Pemegang Saham dan Kendali (Ultimate Beneficial Owner)

Setelah merger efektif, peta kepemilikan MORA akan berubah drastis dengan masuknya entitas di bawah naungan Grup Sinar Mas sebagai pemegang saham mayoritas.

  • Pengendali Baru: PT Innovate Mas Utama (IMU) akan menjadi pengendali dari MORA pasca-merger.
  • UBO (Ultimate Beneficial Owner): Pemilik manfaat akhir dari entitas hasil penggabungan adalah Bapak Franky Oesman Widjaja dan Ibu Farida Bau.

Hal ini menandakan integrasi yang lebih dalam antara aset telekomunikasi Sinar Mas dengan infrastruktur strategis Moratelindo.

5. Jadwal Penting yang Harus Dipantau Investor (Milestones)

Investor harus memperhatikan tanggal-tanggal kritis berikut guna mengambil langkah strategis:

  • 18 Desember 2025: Pengumuman resmi rancangan penggabungan.
  • 25 Maret 2026: Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk persetujuan merger.
  • 6 - 17 April 2026: Periode bagi pemegang saham yang tidak setuju untuk mengajukan permintaan pembelian kembali (buyback) saham mereka.
  • 22 April 2026: Perkiraan Tanggal Efektif Penggabungan setelah mendapat persetujuan Menteri Hukum.
  • 23 April 2026: Tanggal pembayaran bagi pemegang saham yang melakukan buyback.

6. Opsi bagi Pemegang Saham: Setuju atau Tidak?

MORA memberikan perlindungan bagi pemegang saham minoritas yang tidak setuju dengan rencana merger ini melalui mekanisme buyback.

  • Harga Buyback: Pemegang saham yang memenuhi syarat dapat meminta saham mereka dibeli kembali di harga wajar, yaitu Rp432 per saham.
  • Pertimbangan: Jika harga pasar di bursa lebih rendah dari Rp432 saat periode verifikasi, opsi buyback ini bisa menjadi pelindung modal (capital protection) bagi investor minoritas. Namun, jika investor percaya pada prospek jangka panjang entitas gabungan, tetap memegang saham adalah pilihan untuk menikmati potensi pertumbuhan di masa depan.

7. Analisis Laporan Keuangan Proforma (Key Highlights)

Secara proforma, entitas gabungan akan memiliki profil keuangan yang jauh lebih kokoh dibandingkan entitas mandiri.

  • Aset: Total aset gabungan diperkirakan melonjak karena konsolidasi seluruh infrastruktur EMR ke dalam neraca MORA.
  • Laba per Saham: Adanya penyesuaian proforma termasuk eliminasi utang-piutang antar-perusahaan dan penyesuaian akuntansi kombinasi bisnis untuk mencerminkan nilai wajar.
  • Rasio Keuangan: MORA mencatatkan perbaikan berkelanjutan dalam Debt to Equity Ratio (DER) dari 139,14% di 2022 menjadi 89,34% per September 2025. Hal ini menunjukkan manajemen risiko utang yang baik menjelang merger besar ini.

8. Analisis Risiko: Apa yang Harus Diwaspadai?

Meskipun terlihat menjanjikan, investor tetap harus mempertimbangkan beberapa risiko material:

  1. Risiko Integrasi: Menyatukan dua budaya perusahaan dan sistem operasional yang berbeda (infrastruktur vs ritel) bukanlah perkara mudah. Kegagalan integrasi dapat menghambat pencapaian sinergi yang diharapkan.
  2. Risiko Regulasi: Perubahan kebijakan pemerintah di sektor telekomunikasi atau tantangan dari otoritas persaingan usaha (KPPU) bisa menjadi penghambat.
  3. Dampak Pajak: Otoritas pajak mungkin memiliki pandangan berbeda atas posisi pajak hasil merger, yang berpotensi menimbulkan kewajiban tambahan.

9. Kesimpulan dan Pandangan Investasi (Investment Outlook)

Merger MORA dan EMR (MyRepublic) adalah langkah defensif sekaligus ofensif yang cerdas. Secara defensif, perusahaan memperkuat kontrol atas rantai pasok infrastruktur. Secara ofensif, mereka menciptakan ekosistem end-to-end yang sulit dikalahkan oleh pemain baru.

Bagi Investor Jangka Panjang: Merger ini memberikan akses ke perusahaan telekomunikasi dengan aset fisik yang kuat dan basis pelanggan ritel yang tumbuh cepat. Kepemilikan di bawah kendali Grup Sinar Mas juga memberikan stabilitas dari sisi dukungan finansial dan ekosistem bisnis yang luas.

Bagi Investor Jangka Pendek: Pergerakan harga saham MORA menjelang RUPSLB pada Maret 2026 akan sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap harga buyback Rp432 dan persepsi terhadap nilai dilusi 50,50%.

Secara keseluruhan, penggabungan ini menandai era baru bagi Moratelindo untuk bertransformasi dari sekadar "penyedia kabel" menjadi pemimpin pasar layanan digital terpadu di Indonesia.


Kontak Informasi Tambahan:
Apabila Anda memerlukan informasi lebih lanjut mengenai penggabungan ini, perusahaan telah menyediakan akses melalui Kantor Pusat di Grha 9, Jl. Penataran No. 9, Jakarta Pusat.


Disclaimer: Analisis ini berdasarkan dokumen Ringkasan Rancangan Penggabungan tanggal 18 Desember 2025. Artikel ini bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan perintah jual atau beli. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga. Redaksi Mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pembaca.

Penulis: Adit Saputra, Radit M. Pase  - Mediasaham Research

Sumber Data: Pengumuman Keterbukaan Informasi di IDX

Saham Gorengan: Panduan Lengkap, Ciri-Ciri, dan Studi Kasus Nyata Saham DADA 2025

Saham Gorengan: Panduan Lengkap, Ciri-Ciri, dan Studi Kasus Nyata Saham DADA 2025

saham pom-pom
Ilustrasi Saham gorengan yang sedang digoreng oleh Bandar Saham. Radit M. Pase / Mediasaham.com


Mediasaham.com – Pasar saham Indonesia (IHSG) adalah tempat di mana kekayaan bisa dibangun dalam jangka panjang, namun juga tempat di mana modal bisa lenyap dalam sekejap mata. Di antara hampir ribuan saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat satu kategori yang menjadi momok menakutkan sekaligus godaan terbesar bagi investor ritel: Saham Gorengan.

Bagi trader profesional yang paham risikonya, saham gorengan adalah arena berselancar di atas ombak volatilitas tinggi untuk meraih cuan kilat. Namun, bagi mayoritas investor pemula, ini adalah jebakan maut yang sering berakhir dengan penyesalan mendalam—uang tabungan hasil kerja keras hilang dimakan permainan "Bandar".

Fenomena ini terus berulang. Investor baru masuk, tergiur oleh cerita keuntungan ribuan persen dalam hitungan minggu, melompat masuk karena FOMO (Fear Of Missing Out), dan akhirnya terjebak di harga pucuk saat pemain besar sudah keluar.

Artikel ini bukan sekadar definisi singkat. Ini adalah panduan komprehensif dan mendalam yang dirancang untuk membekali Anda dengan pengetahuan agar tidak menjadi korban berikutnya. Kita akan membedah anatomi saham gorengan, psikologi di balik pergerakannya, dan melihat bukti nyata yang tak terbantahkan melalui studi kasus saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) yang mengalami siklus pump and dump (pom-pom) ekstrem pada tahun 2025.


Bab 1: Apa Sebenarnya Saham Gorengan Itu?

Secara harfiah, istilah "gorengan" di pasar modal Indonesia mengacu pada saham yang pergerakan harganya tidak mencerminkan kinerja fundamental perusahaan yang sebenarnya, melainkan hasil dari rekayasa atau manipulasi pasar (market manipulation) oleh pihak-pihak tertentu.

Pihak yang menggerakkan harga ini sering disebut sebagai "Bandar", Market Maker, atau Operator. Mereka biasanya adalah individu atau kelompok dengan modal sangat besar dan kemampuan untuk mengendalikan suplai dan permintaan saham tertentu dalam jangka pendek.

Analogi Sederhana: Gorengan di Pinggir Jalan

Bayangkan penjual gorengan. Agar dagangannya laku keras, ia membuat gorengannya terlihat sangat besar, warnanya kuning keemasan yang menggoda, dan aromanya semerbak. Orang-orang yang lewat tergiur dan berebut membeli.

Namun, setelah dibeli dan digigit, ternyata isinya kosong, hanya tepung yang digelembungkan, atau bahkan menggunakan minyak jelantah yang tidak sehat. Penjualnya sudah untung besar, sementara pembelinya sakit perut.

Dalam saham:

  • Gorengan yang menggoda adalah kenaikan harga saham yang tiba-tiba melonjak tajam.
  • Aroma semerbak adalah rumor-rumor positif yang disebarkan di grup saham dan media sosial. Di sini pom-pom saham mulai disebarkan ke ritel.
  • Isi yang kosong adalah fundamental perusahaan yang sebenarnya rugi atau tidak jelas masa depannya.
  • Sakit perut adalah kerugian finansial masif yang dialami investor ritel saat harga sahamnya jatuh kembali ke dasar.

Perbedaan Mendasar dengan Saham Blue Chip

Saham Blue Chip (seperti BBCA, TLKM, ASII) harganya naik karena kinerja perusahaan yang terus bertumbuh, laba yang meningkat, dan pembagian dividen yang rutin. Kenaikannya logis dan didukung data.

Sebaliknya, saham gorengan naik karena "digoreng". Kenaikannya artifisial. Tujuan utamanya adalah menciptakan ilusi bahwa saham tersebut sedang diminati banyak orang, sehingga investor ritel (publik) terpancing untuk membeli di harga yang sudah dinaikkan.


Bab 2: Studi Kasus Nyata: Jejak Mengerikan Saham DADA (2025)

Teori tanpa bukti hanyalah wacana. Untuk memahami betapa brutalnya pergerakan saham gorengan, mari kita analisis contoh nyata yang terjadi pada saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (kode: DADA).

Data historis ini adalah contoh sempurna dari skema Pump and Dump (Pompa dan Buang) klasik. Perhatikan baik-baik kronologi berikut berdasarkan data grafik yang ada.

Fase 1: Tidur Panjang dan Akumulasi Senyap (The Setup)

Perhatikan gambar pertama di bawah ini. Ini adalah kondisi saham DADA pada awal Agustus 2025.

grafik harga saham dada
Gambar 1: Saham DADA "tertidur" di harga dasar Rp 8 per lembar pada 1 Agustus 2025. Sumber data: Tangkapan Layar Google.com/finance


Pada fase ini, saham DADA praktis tidak bergerak. Harganya terpuruk di level Rp 8 per lembar. Ini adalah area yang sering disebut sebagai "saham zombie" atau saham yang sudah sangat tidak likuid.

Namun, di sinilah seringkali Fase Akumulasi oleh bandar dimulai. Mereka membeli saham ini sedikit demi sedikit dari pemegang saham lama yang sudah putus asa, tanpa membuat harga naik secara signifikan. Mereka mengumpulkan "barang" sebanyak mungkin di harga diskon.

Fase 2: Penggorengan Dimulai dan Mencapai Pucuk (The Pump)

Setelah bandar merasa cukup menguasai mayoritas saham beredar, dimulailah fase "penggorengan" atau markup. Harga dinaikkan secara agresif. Volume transaksi tiba-tiba meledak. Rumor-rumor positif (yang belum tentu benar) mulai beredar di forum-forum untuk memancing investor ritel.

Lihatlah apa yang terjadi hanya dalam waktu dua bulan pada gambar kedua di bawah ini:

harga saham dada di pucuk
Gambar 2: Puncak euforia. Saham DADA terbang hingga menyentuh harga tertinggi Rp 178 pada 8 Oktober 2025. Sumber data: Tangkapan Layar Google.com/finance


Ini adalah pemandangan yang luar biasa sekaligus mengerikan. Dari harga Rp 8 di awal Agustus, saham DADA meroket hingga menyentuh Rp 178 pada tanggal 8 Oktober 2025.

Mari kita hitung kenaikannya:

$$\text{Kenaikan} = \frac{(178 - 8)}{8} \times 100\% = \text{2.125\%}$$

Dalam fase ini, psikologi pasar diambil alih oleh KERAKUSAN (GREED) dan FOMO.

Investor ritel melihat saham ini naik 20-30% setiap hari (seringkali menyentuh Auto Reject Atas/ARA). Mereka yang awalnya ragu, akhirnya ikut membeli di harga Rp 100, Rp 120, bahkan di dekat pucuk Rp 150-an, karena berharap harga akan naik ke Rp 500 atau Rp 1000.

Di area pucuk inilah (Rp 150 - Rp 178), Bandar melakukan Fase Distribusi. Mereka menjual saham yang mereka beli di harga Rp 8 tadi kepada investor ritel yang sedang euforia membeli di harga mahal. Bandar merealisasikan keuntungan ribuan persen mereka.

Fase 3: Gosong, Jatuh, dan Terkunci di Gocap (The Crash & Dump)

Apa yang terjadi setelah Bandar selesai berjualan dan keluar dari pasar? Tidak ada lagi yang menahan harga. Suplai saham melimpah (karena ritel panik ingin jual), tapi tidak ada permintaan (tidak ada yang mau beli).

Harga jatuh bebas. Seringkali saham langsung terkena Auto Reject Bawah (ARB) berjilid-jilid setiap hari. Investor ritel yang membeli di atas tidak bisa keluar karena antrian jual menumpuk tanpa ada pembeli.

Lihat gambar ketiga untuk melihat akhir dari cerita tragis ini:

saham gocap
Gambar 3: Akhir yang tragis. Hanya dalam dua minggu setelah pucuk, harga DADA jatuh ke Rp 50 (Gocap) pada 24 Oktober 2025 dan tidak bangkit lagi hingga Desember. Sumber data: Tangkapan Layar Google.com/finance)


Hanya dalam waktu sekitar dua minggu (dari 8 Oktober ke 24 Oktober), harga saham DADA terjun bebas dari Rp 178 kembali ke level Rp 50.

Di Bursa Efek Indonesia, Rp 50 seringkali menjadi batas bawah psikologis (dan historis) untuk saham di papan utama/pengembangan, sering disebut sebagai Saham Gocap.

Ketika saham sudah menyentuh Rp 50 dan tidak ada transaksi, ia menjadi sangat tidak likuid. Investor yang membeli di harga Rp 178 kini melihat nilai investasinya menyusut lebih dari 70% dan yang paling parah: sahamnya tidak bisa dijual (nyangkut permanen).

Studi kasus DADA ini adalah representasi visual yang sempurna tentang bahaya saham gorengan.


Bab 3: Mekanisme dan Psikologi di Balik Layar

Memahami bagaimana saham gorengan bekerja berarti memahami psikologi pasar yang dimainkan oleh para operator. Skema Pump and Dump (pom-pom) seperti pada kasus DADA memiliki siklus yang sistematis:

1. Akumulasi (Fase Senyap)

Seperti dijelaskan di atas, ini adalah fase pengumpulan barang. Bandar mencari saham perusahaan kecil, kapitalisasi pasar rendah, dan tidak likuid. Mereka membeli perlahan agar tidak memicu kenaikan harga yang mencolok. Ini bisa berlangsung berbulan-bulan.

2. Markup / Pump (Fase Goreng)

Bandar mulai menaikkan harga. Mereka melakukan transaksi pancingan (seringkali transaksi semu antar akun mereka sendiri) untuk menciptakan volume dan menaikkan harga.

  • Tujuan: Membuat saham masuk dalam daftar Top Gainers atau Most Active di aplikasi sekuritas.
  • Alat Bantu: Di tahap ini, seringkali muncul "Pom-Pom Saham" (influencer atau anggota grup berbayar) yang mulai merekomendasikan saham tersebut dengan target harga fantastis, disertai bumbu berita korporasi yang belum tentu valid.

3. Distribusi (Fase Jualan)

Ini adalah fase paling krusial bagi bandar. Saat publik (ritel) sudah ramai-ramai masuk karena FOMO, bandar mulai melepas saham mereka secara bertahap di harga atas. Mereka "memberikan" saham mahal mereka kepada ritel yang antusias.

4. Markdown / Crash (Fase Pembantaian)

Setelah bandar kehabisan barang atau mencapai target profit, mereka berhenti menyangga harga. Tekanan jual dari ritel yang mulai panik mendominasi pasar. Harga jatuh drastis, seringkali terkunci di ARB berhari-hari, meninggalkan investor ritel dalam kerugian besar.


Bab 4: 7 Ciri Fisik Utama Saham Gorengan

Agar Anda tidak menjadi korban seperti dalam kasus DADA, Anda wajib mengenali tanda-tanda fisik saham gorengan sebelum memutuskan untuk membeli.

1. Volatilitas Harga yang Tidak Masuk Akal

Ciri paling jelas adalah pergerakan harga yang ekstrem. Saham bisa naik 25%-35% (ARA) hari ini, lalu turun tajam 15% (ARB) besoknya, atau sebaliknya. Kenaikan harga seringkali tidak disertai berita korporasi atau perbaikan kinerja keuangan yang signifikan.

2. Volume Transaksi Meledak Tiba-Tiba

Saham yang biasanya sepi seperti kuburan tiba-tiba memiliki volume transaksi ratusan miliar rupiah dalam sehari.

Waspada: Jika Anda melihat lonjakan volume yang luar biasa tinggi di area harga bawah setelah periode sepi yang lama, itu bisa jadi indikasi awal fase markup (awal penggorengan). Namun, jika volume meledak saat harga sudah naik tinggi (di pucuk), itu seringkali indikasi fase distribusi (bandar jualan).

3. Kapitalisasi Pasar (Market Cap) Kecil

Bandar menyukai saham second liner atau third liner dengan kapitalisasi pasar kecil (misalnya di bawah Rp 500 Miliar atau Rp 1 Triliun).

  • Alasannya: Menggoreng saham berkapitalisasi besar seperti BBCA membutuhkan dana triliunan rupiah. Mustahil bagi bandar biasa. Namun, untuk saham berkapitalisasi kecil, modal beberapa puluh miliar saja sudah cukup untuk mengendalikan harga dan membuat chart terlihat "cantik".

4. Fundamental Perusahaan yang Buruk atau Absurd

Ini adalah ciri fundamental. Perusahaan yang sahamnya digoreng seringkali:

  • Mencatatkan kerugian bertahun-tahun.
  • Memiliki utang yang sangat tinggi dibanding ekuitasnya (Debt to Equity Ratio tinggi).
  • Valuasi yang sangat mahal dan tidak masuk akal. Contoh: Perusahaan rugi tapi harga sahamnya terus naik, membuat rasio PER (Price to Earnings) menjadi negatif atau sangat tinggi.

5. Sering Masuk "Radar" Bursa (UMA & Suspensi)

Bursa Efek Indonesia memiliki sistem pengawasan. Jika sebuah saham bergerak terlalu liar di luar kebiasaan, BEI akan memberikan peringatan berupa status UMA (Unusual Market Activity).

Jika setelah UMA harga masih bergerak liar, BEI akan melakukan Suspensi (penghentian sementara perdagangan) untuk "mendinginkan" suasana. Saham yang sering terkena UMA dan Suspensi adalah indikator kuat saham gorengan.

6. Pola Bid-Offer yang Aneh (Permainan Orderbook)

Bandar sering memanipulasi tampilan orderbook (antrian beli dan jual) untuk menipu ritel.

  • Fake Bid (Ganjelan): Memasang antrian beli (Bid) yang sangat tebal agar seolah-olah banyak yang ingin membeli dan harga akan naik. Padahal, jika ritel mulai membeli di harga Offer, antrian Bid tebal tadi tiba-tiba dicabut (withdraw).
  • Fake Offer (Tembok): Memasang antrian jual (Offer) yang tebal untuk menahan kenaikan harga di level tertentu, atau untuk menakut-nakuti ritel agar menjual barangnya (yang kemudian ditampung bandar).

7. Masuk Papan Pemantauan Khusus

Sejak implementasi Papan Pemantauan Khusus oleh BEI, banyak saham gorengan atau saham bermasalah yang masuk ke papan ini. Saham di papan ini memiliki mekanisme perdagangan berbeda, seringkali full call auction (FCA) dan dianggap lebih berisiko. Cek apakah saham incaran Anda memiliki notasi khusus (seperti notasi 'X') di belakang kodenya.


Bab 5: Risiko Fatal: Mengapa Anda Akan Rugi Besar

Bermain di saham gorengan bukan sekadar risiko rugi 5% atau 10%. Risikonya jauh lebih fatal:

  • Nyangkut Permanen di Harga Pucuk: Seperti kasus DADA di harga 178. Dana Anda tertahan di saham yang nilainya mungkin tidak akan pernah kembali ke harga tersebut seumur hidup.
  • Risiko Likuiditas (Gocap Lock): Saat harga jatuh ke Rp 50 (atau harga terendah di papan pemantauan khusus misal Rp 1), dan tidak ada pembeli sama sekali. Anda memiliki sahamnya, tapi tidak bisa diuangkan. Uang Anda efektif menjadi nol.
  • Delisting Paksa (Forced Delisting): Jika perusahaan terus merugi, tidak mematuhi aturan bursa, atau tersangkut masalah hukum serius, BEI bisa menghapus pencatatan saham tersebut (Delisting). Jika ini terjadi, dan perusahaan tidak melakukan buyback, saham yang Anda pegang menjadi kertas tidak berharga.

Bab 6: Panduan Bertahan Hidup: Cara Menghindari Jebakan

Sebagai investor cerdas, pertahanan adalah serangan terbaik. Berikut cara menghindari jebakan saham gorengan:

1. Cek Fundamental Sebelum Membeli

Jangan malas. Buka aplikasi sekuritas Anda, lihat Key Statistics. Apakah perusahaan untung? Bagaimana riwayat labanya 3 tahun terakhir? Jika perusahaan rugi konsisten tapi harganya naik gila-gilaan, JANGAN SENTUH.

2. Jangan Telan Mentah-Mentah Rumor Forum

Matikan kebisingan. Grup Telegram, WhatsApp, atau influencer yang berteriak "Saham ABCD menuju 1000!" seringkali adalah bagian dari skema distribusi. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi seperti Keterbukaan Informasi di situs IDX.

3. Pahami Analisis Teknikal Dasar

Pelajari cara membaca candlestick dan volume. Kenali pola climax top (kenaikan harga tajam dengan volume super tinggi di pucuk) yang sering menjadi tanda pembalikan arah.

4. Terapkan Money Management yang Ketat

Jika Anda tetap ingin mencoba peruntungan trading (bukan investasi) di saham gorengan:

  • Gunakan "uang dingin" yang Anda siap kehilangan seluruhnya.
  • Batasi maksimal 5-10% dari total portofolio Anda untuk saham jenis ini.
  • Disiplin Cut Loss: Tentukan batas kerugian sebelum masuk (misal 5%). Jika harga turun menyentuh batas itu, jual tanpa berpikir dua kali. Jangan berharap harga akan berbalik.

5. Hindari FOMO

Pasar saham akan selalu ada besok. Jangan merasa tertinggal jika melihat saham naik 50% hari ini. Kesempatan lain akan selalu datang. Lebih baik tidak mendapatkan untung daripada kehilangan modal secara permanen.

"Pasar saham memindahkan uang dari orang yang tidak sabar kepada orang yang sabar." — Warren Buffett


Kesimpulan: Ubah Mindset Anda

Saham gorengan seperti DADA menawarkan ilusi kekayaan instan. Mereka memanfaatkan sifat dasar manusia: keserakahan dan ketakutan.

Grafik saham DADA yang naik dari Rp 8 ke Rp 178 lalu kembali ke Rp 50 dalam hitungan bulan adalah pelajaran mahal yang harus diingat setiap investor. Di balik setiap kenaikan harga yang tidak wajar, ada pihak yang sedang mempersiapkan perangkap.

Fokuslah menjadi investor, bukan penjudi. Bangun kekayaan Anda secara bertahap melalui perusahaan-perusahaan berfundamental kuat yang memberikan nilai nyata bagi pemegang sahamnya. Perjalanan mungkin terasa lebih lambat, tetapi jauh lebih aman dan menenangkan.


FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Q: Apakah semua saham yang harganya naik cepat itu saham gorengan?

A: Tidak selalu. Ada saham yang naik cepat karena ada aksi korporasi nyata (seperti akuisisi besar) atau lonjakan kinerja laba yang luar biasa. Kuncinya adalah melihat apakah kenaikan harga didukung oleh alasan fundamental yang kuat atau hanya sekadar lonjakan volume tanpa berita jelas.

Q: Apakah salah trading di saham gorengan?

A: Tidak ada yang salah atau benar mutlak di pasar modal. Namun, trading di saham gorengan adalah aktivitas berisiko sangat tinggi (high risk). Ini lebih cocok untuk trader berpengalaman yang ahli membaca tape reading (pergerakan bid-offer) dan disiplin cut loss, bukan untuk investor pemula atau jangka panjang.

Q: Apa yang harus saya lakukan jika sudah terlanjur nyangkut di saham gorengan di harga pucuk?

A: Ini situasi sulit. Pilihannya adalah melakukan cut loss segera untuk menyelamatkan sisa modal sebelum jatuh lebih dalam, atau menunggu (dengan risiko saham tersebut tidur selamanya di gocap atau bahkan delisting). Evaluasi kembali toleransi risiko Anda.

Q: Bagaimana cara mengetahui saham yang sedang diakumulasi bandar?

A: Ini memerlukan keahlian analisis teknikal dan bandarmologi. Biasanya ditandai dengan harga yang bergerak sideways (mendatar) dalam rentang sempit dalam waktu lama, namun sesekali muncul lonjakan volume yang kemudian kempes lagi (upaya bandar mengetes pasar atau mengumpulkan barang).

Disclaimer

Artikel ini bertujuan untuk edukasi dan bukan merupakan rekomendasi pembelian atau penjualan saham tertentu. Penyebutan saham DADA adalah sebagai studi kasus historis. Investasi saham mengandung risiko. Selalu lakukan riset Anda sendiri (DYOR - Do Your Own Research) sebelum mengambil keputusan investasi.

Penulis: Adit Saputra, Radit M. Pase  - Mediasaham Research

BBRI Dibanjiri Net Sell Asing Rp3,06T dalam 5 Hari: Analisis, Data Broker, dan Dampaknya

BBRI Dibanjiri Net Sell Asing Rp3,06T dalam 5 Hari: Analisis, Data Broker, dan Dampaknya

net sell asing
Ilustrasi Net Sell Asing. Radit M. Pase / Mediasaham.com


Selama periode 25 November hingga 1 Desember 2025, terjadi tekanan jual besar dari investor asing pada saham bank terbesar Indonesia, BBRI. Penjualan asing ini berlangsung 5 hari berturut-turut, dan menyebabkan harga saham BBRI terkoreksi cukup signifikan. Berdasarkan data yang dihimpun dan diolah dari laporan Statistik Ringkasan Saham BEI.

Total nilai penjualan asing mencapai:

Rp –3.058.066.630.000 (3,05 Triliun Rupiah)

Ini menjadi salah satu aksi jual asing terbesar pada saham perbankan di akhir November 2025.

Analisis Transaksi Saham Broker MG November 2025: Ini Untungnya Bagi Trader

Analisis Transaksi Saham Broker MG November 2025: Ini Untungnya Bagi Trader

grafik harga saham
Ilustrasi grafik naik turunnya harga saham. Radit M. Pase / Mediasaham.com


Broker MG mencatat aktivitas jual beli saham yang besar sepanjang November 2025, dengan total nilai transaksi mencapai Rp25,53 triliun untuk 20 daftar saham paling aktif ditransaksikan oleh broker saham MG.

Data ini memberikan insight berharga bagi investor saham Indonesia yang mencari tren akumulasi atau distribusi di bursa efek, terutama di sektor pertambangan, teknologi, dan energi. Periode ini berakhir pada 26 November 2025, menunjukkan dominasi net sell secara keseluruhan, yang bisa menjadi sinyal bagi strategi investasi jangka pendek.

Dari 20 saham terbesar yang diperdagangkan, BUMI menjadi penyumbang terbesar dengan nilai transaksi sentuh Rp9,86 triliun, disusul INET, GOTO, BRMS, dan DEWA. Saham seperti COIN, MINA, BUVA hingga BREN juga masuk radar transaksi besar MG.

Aksi Broker MG di Pasar Saham yang Wajib Anda Ketahui (Analisis Mendalam 2025)

Aksi Broker MG di Pasar Saham yang Wajib Anda Ketahui (Analisis Mendalam 2025)

trading broker mg
Ilustrasi. Transaksi jual beli saham oleh Broker MG. Radit M. Pase / Mediasaham.com


Aksi Broker MG di Pasar Saham: Analisis Mendalam Periode 24–26 November 2025

Aksi Broker MG di Pasar Saham kembali menyita perhatian pada periode 24–26 November 2025. Dalam tiga hari perdagangan tersebut, MG (Semesta Sekuritas) mencatatkan transaksi jumbo pada banyak saham, mulai dari saham komoditas, consumer goods, teknologi, hingga midcap yang volatil. Aktivitas ini mencerminkan pola akumulasi yang kuat serta rotasi sektor yang tengah digerakkan investor besar.

Broker AK Catat Lonjakan Nilai Trading Saham, Tertinggi Capai Rp240 Triliun

Broker AK Catat Lonjakan Nilai Trading Saham, Tertinggi Capai Rp240 Triliun

Broker AK
Grafik trading saham / Pixabay

Mediasaham.com, Jakarta — Aktivitas perdagangan saham oleh UBS Sekuritas Indonesia (Broker AK) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan tren yang meningkat dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data yang dihimpun hingga Oktober 2025, nilai transaksi broker AK terus mencatatkan pertumbuhan yang positif dengan capaian tertinggi pada tahun 2024.

Broker AK adalah salah satu broker saham asing yang terdaftar resmi di BEI dan diawasi oleh OJK. Broker AK selalu bersaing dengan salah satu broker lokal yakni broker CC dan broker XL.

Broker AK juga termasuk salah satu broker asing terbesar di Indonesia yang aktif merajai nilai transaksi terbesar di Indonesia. Broker AK selalu bersaing ketat dengan broker asing besar lainnya seperti broker YP, broker ZP dan broker YU. 

IPO PJHB: Tambah 3 Kapal Baru, Siap Angkut Cuan dari Lautan Nusantara

IPO PJHB: Tambah 3 Kapal Baru, Siap Angkut Cuan dari Lautan Nusantara

IPO PJHB

Mediasaham.com, Jakarta – IPO PJHB. Dunia pelayaran tanah air kembali kedatangan pemain baru. Kali ini, giliran PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) yang siap berlayar di Bursa Efek Indonesia.

Perusahaan asal Samarinda, Kalimantan Timur ini bakal mencatatkan saham perdana pada 6 November 2025.

Harga saham PJHB ditawarkan Rp330 per lembar, dengan jumlah saham yang dilepas ke publik sebanyak 480 juta lembar atau 25% dari modal disetor. Total dana yang berhasil dikantongi PJHB sebesar Rp158,4 miliar.

Menariknya lagi, PJHB juga membagikan 240 juta Waran Seri I secara cuma-cuma. Setiap 2 saham baru dapat 1 waran, yang bisa ditebus mulai Mei 2026 dengan harga pelaksanaan Rp330 per lembar.
Penjamin pelaksana emisi efeknya adalah PT Pilarmas Investindo Sekuritas.

Laba Bersih Unilever Q3 2025 Naik 10,8%, Tapi Apakah Pertumbuhannya Nyata?

Laba Bersih Unilever Q3 2025 Naik 10,8%, Tapi Apakah Pertumbuhannya Nyata?

  Kantor Unilever

Jakarta, Mediasaham.com — PT Unilever Indonesia Tbk (IDX: UNVR) menutup sembilan bulan pertama tahun 2025 dengan kinerja keuangan yang solid di permukaan. Perusahaan membukukan laba bersih Rp3,33 triliun, naik 10,8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp3,01 triliun.

Namun di balik kenaikan laba tersebut, tidak ada lonjakan penjualan signifikan. Pertumbuhan laba ini lebih disebabkan oleh efisiensi biaya, bukan peningkatan permintaan pasar.


Laba Naik, tapi Bukan karena Penjualan — Artinya Pertumbuhan Belum Organik

Laba bersih Unilever naik +10,8%, namun penjualan hanya naik +0,7%.
Dengan kata lain, kenaikan laba berasal dari pemangkasan biaya, bukan dari peningkatan daya saing atau ekspansi pasar.

Pendapatan bersih hanya naik Rp196 miliar dari Rp27,42 triliun menjadi Rp27,61 triliun — sangat kecil untuk skala Unilever.

Beban pokok penjualan pun naik sebanding, sehingga laba kotor hanya naik 0,8%.
Jadi, secara bisnis, tidak ada dorongan permintaan signifikan dari pasar.

Pendapatan Stagnan, Margin Didorong Efisiensi

Penjualan bersih Unilever hanya meningkat +0,7% menjadi Rp27,61 triliun dibanding Rp27,42 triliun pada 2024.

Kenaikan tipis ini menandakan pasar barang konsumsi cepat saji (FMCG) domestik masih bergerak datar, di tengah ketatnya kompetisi harga dan perubahan perilaku konsumen.

Meski pendapatan hampir tidak berubah, laba usaha melonjak 13,8% menjadi Rp4,45 triliun berkat pemangkasan biaya pemasaran dan penjualan secara besar-besaran. Total beban tersebut turun dari Rp6,88 triliun menjadi Rp6,45 triliun, atau efisiensi Rp421,7 miliar (-6,1%).

Rincian dan Selisih Beban Pemasaran & Penjualan

Komponen Beban
Pemasaran & Penjualan
2025 (Rp juta)2024 (Rp juta)SelisihPerubahan
Iklan & riset pasar2.432.2142.648.695-216.481-8,2%
Distribusi1.225.4041.286.496-61.092-4,8%
Promosi1.120.9831.134.471-13.488-1,2%
Remunerasi & imbalan kerja656.863828.452-171.589-20,7%
Jasa konsultan & eksternal32.98092.049-59.069-64,2%
Lain-lain (termasuk perjalanan)213.872180.512+33.360+18,5%
Total6.454.8886.876.620-421.732-6,1%

Bagian yang Dipangkas: Dari Iklan hingga Konsultan Eksternal

Analisis laporan keuangan menunjukkan beberapa area efisiensi utama yang mendorong kenaikan margin laba:

  • Iklan dan riset pasar turun Rp216,5 miliar (-8,2%), seiring pergeseran dari kampanye televisi ke promosi digital yang lebih terukur.

  • Remunerasi dan imbalan kerja berkurang Rp171,6 miliar (-20,7%), mencerminkan optimalisasi tenaga lapangan dan efisiensi struktur organisasi.

  • Jasa konsultan eksternal turun drastis Rp59,1 miliar (-64,2%), mengindikasikan pengurangan ketergantungan terhadap pihak ketiga.

  • Biaya distribusi dan promosi turun Rp74,6 miliar secara total, menandakan rantai pasok dan logistik yang lebih efisien.

Namun, beberapa pos seperti biaya perjalanan dan kegiatan promosi tatap muka justru naik Rp33,4 miliar (+18,5%), mencerminkan normalisasi aktivitas lapangan pascapandemi.


Efisiensi Meningkatkan Margin, Tapi Bukan Pertumbuhan Organik

Secara operasional, efisiensi ini meningkatkan margin laba usaha dari 14,3% menjadi 16,1% — pencapaian yang patut diapresiasi dari sisi manajemen keuangan.
Namun secara bisnis, kenaikan laba tanpa pertumbuhan penjualan bukan cerminan peningkatan daya saing pasar.

Dalam industri FMCG, di mana merek dan distribusi menjadi ujung tombak, pemangkasan belanja iklan dan promosi berisiko menggerus brand awareness dalam jangka menengah.
Jika efisiensi dilakukan terlalu agresif, kompetitor seperti Wings, P&G, dan pemain lokal berpotensi merebut pangsa pasar melalui strategi harga dan promosi yang lebih agresif.


Tantangan: Bertahan di Tengah Dinamika Konsumen Baru

Pasar FMCG Indonesia kini menghadapi perubahan besar. Konsumen lebih sensitif terhadap harga dan cenderung memilih produk value-for-money atau merek lokal dengan inovasi cepat.
Selain itu, pertumbuhan penjualan melalui e-commerce membuat persaingan semakin tajam, menuntut kecepatan inovasi dan kehadiran digital yang kuat.

Unilever tampaknya memilih strategi konservatif — menjaga margin dengan efisiensi — daripada ekspansi agresif. Strategi ini efektif di jangka pendek, namun tidak menjamin pertumbuhan jangka panjang jika tidak diimbangi inovasi produk dan penetrasi saluran digital yang lebih dalam.

Kesimpulan: Laba Naik, Tapi Belum Menang di Pasar

Kinerja Unilever Indonesia tahun 2025 menggambarkan laba yang tumbuh karena efisiensi, bukan karena pertumbuhan permintaan. Manajemen berhasil mengendalikan biaya, memperkuat margin, dan menjaga profitabilitas di tengah pasar yang stagnan. Namun, dari sisi daya saing, perusahaan belum menunjukkan momentum baru dalam memperluas pangsa pasar.

Dengan persaingan yang makin ketat di segmen FMCG dan perilaku konsumen yang berubah cepat, tantangan Unilever berikutnya bukan lagi sekadar menjaga efisiensi, tapi mengembalikan pertumbuhan penjualan dan relevansi merek di tengah generasi konsumen digital.

Disclaimer: Informasi hanya untuk edukasi, bukan rekomendasi investasi. Analisis ini tidak bertujuan untuk mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

Penulis: Adit Saputra  - Mediasaham Research

Laporan Keuangan CDIA Semester I-2025, Laba Bersih Melesat 330%

Laporan Keuangan CDIA Semester I-2025, Laba Bersih Melesat 330%

Logo CDIA

CDIA Catat Laba Bersih Melesat 330% di Semester I-2025, Didorong Lonjakan Pendapatan dan Keuntungan Investasi


Mediasaham.com, Jakarta – PT Chandra Daya Investasi Tbk (IDX: CDIA) mencatat kinerja spektakuler pada semester pertama 2025. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim (tidak diaudit) per 30 Juni 2025, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$67,84 juta, melonjak 330% dibandingkan US$15,78 juta pada periode yang sama tahun 2024.

Lonjakan laba ini ditopang oleh peningkatan pendapatan, efisiensi beban, serta keuntungan luar biasa dari investasi dan transaksi keuangan perusahaan.

Analisis Laporan Keuangan Bank Mandiri Semester I-2025, Laba Bersih Turun 7,9% Imbas Kenaikan Beban Bunga

Analisis Laporan Keuangan Bank Mandiri Semester I-2025, Laba Bersih Turun 7,9% Imbas Kenaikan Beban Bunga

Teller Bank Mandiri

Bank Mandiri Catat Laba Bersih Rp24,45 Triliun di Semester I-2025, Turun 7,9% Imbas Kenaikan Beban Bunga

Mediasaham.com, Jakarta – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melaporkan kinerja keuangan semester I-2025 yang tetap solid di tengah tekanan ekonomi global. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian terbaru, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp24,45 triliun, turun 7,9% dibandingkan Rp26,55 triliun pada periode yang sama tahun 2024.

Meskipun laba bersih mengalami penurunan, kinerja intermediasi Bank Mandiri tetap kuat dengan pertumbuhan aset dan dana pihak ketiga (DPK) yang solid.

Laporan Keuangan GOTO Juni 2025, Pangkas Kerugian Hingga 78%

Laporan Keuangan GOTO Juni 2025, Pangkas Kerugian Hingga 78%

logo goto

Mediasaham.com, Jakarta
– Berdasarkan laporang keuangan GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) per Juni 2025. Emiten teknologi terbesar di Indonesia, mencatat perbaikan signifikan pada kinerja keuangannya.

GOTO berhasil memangkas rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp580,01 miliar, turun tajam 78,5% dibandingkan rugi Rp2,70 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Dividen PTBA dari Tahun ke Tahun

Dividen PTBA dari Tahun ke Tahun


Mediasaham.com - Dividen PTBA dari tahun ke tahun selalu dibagikan ke investor. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dikenal rutin membagikan dividen, tetapi nilainya bergerak mengikuti siklus harga batubara. Berikut ringkasan data dividen PTBA dari 2003 sampai 2025 dan analisis tren utama untuk investor.

Dividen PTBA dari Tahun ke Tahun — Data & Analisis (2003–2025)

Berita Terbaru

    Laporan Keuangan

      Dividen Saham