![]() |
| Ilustrasi Harga Saham Terus Naik. Radit M. Pase / Mediasaham.com |
Pernah melihat sebuah saham naik 5%, lalu 10%, kemudian 20% dalam beberapa hari? Awalnya kita hanya melihat.
Lalu mulai berpikir:
“Wah, naik terus.
Kalau beli sekarang masih bisa untung nggak, ya?”
Kita melihat saham itu
kembali naik. Akhirnya muncul pikiran lain:
“Kalau saya tidak beli
sekarang, nanti keburu mahal.” Akhirnya kita membeli.
Beberapa menit
kemudian harga naik. Kita senang.
“Benar kan, saham ini memang bagus!” Tetapi tidak lama kemudian harga berbalik turun. Turun 2%. Kemudian 5%. Lalu 10%.
Yang tadinya kita
berharap mendapatkan keuntungan, sekarang justru bingung harus melakukan apa. Inilah
salah satu kesalahan yang sering dilakukan trader saham: membeli saham yang
sudah naik terlalu tinggi hanya karena takut ketinggalan.
Dalam dunia saham,
perasaan seperti ini disebut FOMO, singkatan dari Fear of Missing Out
atau takut ketinggalan.
Masalahnya, FOMO
sering membuat seseorang membeli saham bukan karena sudah melakukan analisis,
tetapi karena melihat orang lain sudah mendapatkan keuntungan.
Kenapa Kita Bisa Terjebak FOMO?
Sebenarnya FOMO bukan
hanya terjadi di saham. Bayangkan ada temanmu membeli sebuah sepatu seharga
Rp500.000. Seminggu kemudian sepatu itu menjadi tren. Semua orang mulai
mencarinya.
Harganya naik menjadi
Rp700.000.
Temanmu kemudian
berkata: “Untung aku beli waktu masih Rp500.000.”
Kamu mulai merasa
menyesal. “Kenapa waktu itu saya tidak ikut beli?”
Kemudian kamu melihat
harga sepatu tersebut naik lagi menjadi Rp800.000. Karena takut harganya
semakin mahal, kamu akhirnya membeli.
Padahal, kamu
sebenarnya tidak terlalu membutuhkan sepatu tersebut.
Beberapa minggu
kemudian trennya hilang.
Harga sepatu turun
menjadi Rp400.000.
Apa yang terjadi?
Kamu membeli ketika orang lain sudah mulai mendapatkan keuntungan. Hal yang sama bisa terjadi pada saham.
Baca Juga: Volume Trading Saham: Pengertian, Cara Membaca, dan Strategi Analisis untuk Investor
Contoh Sederhana di Saham
Misalnya ada saham
ABCD.
Pada awal bulan,
harganya masih Rp1.000.
Kemudian harga mulai
naik.
|
Hari |
Harga |
|
Senin |
Rp1.000 |
|
Selasa |
Rp1.100 |
|
Rabu |
Rp1.200 |
|
Kamis |
Rp1.350 |
|
Jumat |
Rp1.500 |
|
Senin berikutnya |
Rp1.700 |
Kamu awalnya hanya
melihat.
Ketika harga Rp1.000,
kamu tidak membeli.
Ketika Rp1.200, kamu
masih ragu.
Ketika Rp1.500, kamu
mulai tertarik.
Ketika Rp1.700, kamu
akhirnya berkata:
“Kalau tidak beli
sekarang, nanti naik Rp2.000.”
Akhirnya kamu membeli
di Rp1.700.
Ternyata setelah kamu
membeli, harga berhenti naik.
Bahkan turun menjadi
Rp1.600.
Kemudian Rp1.500.
Lalu Rp1.400.
Kamu mulai panik.
Padahal saham tersebut
tidak tiba-tiba menjadi perusahaan jelek. Kamu hanya membeli setelah
kenaikan besar sudah terjadi.
Saham Naik Bukan Berarti Harus Dibeli
Ini adalah hal yang
sangat penting untuk dipahami trader pemula. Saham yang naik bukan berarti
saham tersebut harus dibeli.
Justru ketika sebuah
saham sudah naik sangat cepat, kita harus lebih berhati-hati.
Kenapa?
Karena orang yang
membeli lebih awal mungkin sudah mendapatkan keuntungan besar.
Misalnya seseorang
membeli saham di Rp1.000.
Ketika harga sudah
Rp1.700, keuntungannya sudah mencapai 70%.
Dia mungkin berpikir:
“Saya sudah untung
banyak. Sekarang waktunya mengambil sebagian keuntungan.”
Akhirnya dia mulai
menjual.
Sementara kamu baru
masuk di Rp1.700.
Di sinilah masalahnya.
Kamu membeli ketika
orang lain mungkin mulai mengambil keuntungan.
Jangan Sampai
Membeli karena Melihat Orang Lain Untung
Salah satu penyebab
FOMO adalah melihat keuntungan orang lain.
Di media sosial, kita
sering melihat orang berkata:
“Saham ini sudah naik
30%!”
“Hari ini cuan Rp10
juta!”
“Kemarin beli, hari
ini sudah profit!”
Masalahnya, kita
biasanya hanya melihat hasil akhirnya.
Kita tidak tahu kapan
orang tersebut membeli.
Mungkin dia membeli
saham ketika harganya masih Rp1.000.
Sekarang harganya
sudah Rp1.500.
Dia sudah mendapatkan
keuntungan 50%.
Lalu kamu melihat
postingannya dan membeli di Rp1.500.
Kalau setelah itu
harga turun ke Rp1.300, kamu yang rugi.
Orang pertama masih
untung.
Kamu malah rugi.
Jadi, jangan membandingkan posisi kita dengan orang yang sudah masuk jauh lebih awal.
Baca Juga: Risiko Bermain Saham Online yang Wajib Diketahui Pemula
Analogi Sederhana: Bus yang Sudah Berangkat
Bayangkan kamu sedang
menunggu bus.
Bus yang kamu tunggu
sudah bergerak meninggalkan halte.
Kamu baru datang.
Apa yang kamu lakukan?
Kamu bisa saja berlari
mengejar bus.
Tetapi semakin cepat
bus bergerak, semakin berbahaya kalau kamu memaksakan diri untuk naik.
Dalam trading saham,
kondisi seperti ini juga bisa terjadi.
Harga saham yang
sudah naik sangat jauh ibarat bus yang sudah meninggalkan halte.
Kalau belum sempat
masuk, tidak selalu harus mengejar.
Kamu bisa menunggu bus
berikutnya.
Dalam saham, “bus
berikutnya” bisa berupa kesempatan membeli ketika harga melakukan koreksi
atau ketika muncul setup trading yang lebih masuk akal.
Karena pasar saham
buka lagi besok.
Tidak ada kewajiban
untuk membeli hari ini.
“Tapi Kalau Setelah
Saya Tidak Beli, Harganya Terus Naik?”
Ini adalah ketakutan
terbesar orang yang terkena FOMO.
Misalnya kamu tidak
membeli saham ABCD di Rp1.700.
Besok ternyata naik
menjadi Rp1.800.
Lusa naik lagi menjadi
Rp1.900.
Kamu mulai menyesal.
“Tuh kan! Harusnya
kemarin saya beli.”
Perasaan ini bisa
membuat kamu semakin terburu-buru.
Akhirnya kamu membeli
di Rp1.900.
Ternyata setelah itu
harga turun menjadi Rp1.700.
Sekarang kamu
mengalami kerugian.
Padahal sebenarnya
tidak ada masalah kalau kamu tidak membeli.
Kamu tidak kehilangan
uang.
Kamu hanya kehilangan
kesempatan.
Dan dalam trading, kehilangan
kesempatan jauh lebih baik daripada kehilangan modal.
Trader Tidak Harus Menang di Setiap Kesempatan
Ini juga perlu
dipahami sejak awal.
Trader tidak harus
mendapatkan keuntungan dari setiap saham yang naik.
Kalau ada 100 saham
yang naik hari ini, kamu tidak harus memiliki semuanya.
Kamu cukup memilih
beberapa saham yang menurut sistem trading kamu memang layak dibeli.
Misalnya kamu memiliki
modal Rp10 juta.
Kamu melihat ada saham
A naik 20%.
Saham B naik 15%.
Saham C naik 12%.
Saham D naik 10%.
Semuanya terlihat
menarik.
Tetapi kalau tidak ada
yang sesuai dengan rencana trading kamu, tidak membeli juga merupakan
keputusan.
Tidak melakukan
transaksi bukan berarti gagal.
Justru terkadang
keputusan terbaik trader adalah:
“Saya tidak masuk
dulu.”
Lalu, Kapan Saham
yang Sudah Naik Boleh Dibeli?
Ini bagian yang
penting.
Bukan berarti setiap
saham yang sudah naik harus dihindari.
Ada saham yang memang
sedang berada dalam uptrend dan masih bisa melanjutkan kenaikan.
Baca Juga: Cara Memilih Broker Saham Terbaik di Indonesia dan Aman untuk Pemula
Masalahnya adalah kita
perlu membedakan antara:
saham sedang naik
dengan sehat
dan saham naik terlalu cepat karena euforia.
Contohnya begini.
Harga saham naik dari
Rp1.000 menjadi Rp1.100.
Kemudian turun sedikit
ke Rp1.050.
Setelah itu naik lagi
ke Rp1.200.
Turun ke Rp1.150.
Kemudian naik lagi ke
Rp1.300.
Gerakannya seperti
naik tangga.
Naik, istirahat, naik
lagi.
Ini berbeda dengan
saham yang tiba-tiba naik dari Rp1.000 menjadi Rp1.500 hanya dalam beberapa
hari karena banyak orang ikut membeli.
Semakin cepat harga
naik, semakin penting bagi trader untuk bertanya:
“Kalau saya beli
sekarang, siapa yang akan membeli dari saya nanti dengan harga lebih tinggi?”
Pertanyaan sederhana
ini bisa membantu kita berpikir lebih tenang.
Jangan Membeli Saham Hanya karena Takut Harga Akan Terus Naik Tanpa Kita
Ini adalah jebakan
psikologis.
Kita takut melihat
saham naik tanpa kita.
Padahal sebenarnya
tidak ada yang salah dengan itu.
Kalau saham yang kita
tidak punya naik 30%, uang kita tidak berkurang.
Kita hanya tidak
mendapatkan keuntungan tersebut.
Yang berbahaya adalah
ketika kita merasa harus mengejar keuntungan yang sudah lewat.
Akibatnya kita membeli
tanpa rencana.
Tidak tahu titik beli.
Tidak tahu batas
kerugian.
Tidak tahu kapan harus
menjual.
Yang kita tahu hanya
satu:
“Takut nanti naik
lagi.”
Itu bukan strategi
trading.
Itu kejar-kejaran
dengan harga.
Coba Balik Cara
Berpikir
Daripada bertanya:
“Bagaimana supaya saya
tidak ketinggalan saham yang sedang naik?”
Lebih baik bertanya:
“Bagaimana saya
bisa membeli saham pada kondisi yang memberikan risiko yang masuk akal?”
Perbedaannya sangat
besar.
Pertanyaan pertama
membuat kita terburu-buru.
Pertanyaan kedua
membuat kita berpikir.
Misalnya harga saham
sudah naik 30%.
Daripada langsung
membeli, kita bisa menunggu.
Kalau harga turun dan
membentuk pola yang sesuai dengan strategi kita, kita bisa mempertimbangkan
masuk.
Kalau harga terus naik
tanpa memberikan kesempatan yang bagus?
Biarkan saja.
Pasar akan memberikan
kesempatan lain.
Ingat: Modal Lebih
Penting daripada ikut-ikutan karena gengsi
Banyak trader pemula
ingin membuktikan bahwa mereka bisa mendapatkan keuntungan besar.
Akibatnya mereka
berani membeli saham yang sudah naik tinggi.
Padahal tujuan utama
trading bukan menunjukkan bahwa kita selalu benar.
Tujuannya adalah menjaga
modal agar tetap bisa digunakan untuk trading berikutnya.
Bayangkan kamu
memiliki modal Rp10 juta.
Kamu kehilangan Rp2
juta karena mengejar saham yang sedang naik.
Sekarang modalmu
tinggal Rp8 juta.
Untuk kembali ke Rp10
juta, kamu tidak cukup mendapatkan keuntungan 20%.
Kamu membutuhkan
keuntungan 25% dari Rp8 juta.
Artinya, satu
kesalahan bisa membuat pekerjaan berikutnya menjadi lebih berat.
Karena itu, jangan
terlalu takut kehilangan satu kesempatan.
Takut kehilangan
modal jauh lebih penting daripada takut kehilangan kesempatan.
Baca Juga: Kamus Istilah Saham A–Z: Cocok untuk Investor Pemula
Kesimpulan
Mengejar saham yang
sudah naik tinggi karena takut ketinggalan adalah salah satu kesalahan yang
sering terjadi pada trader.
Awalnya sederhana.
Kita melihat saham
naik.
Kita takut
ketinggalan.
Kita membeli.
Kemudian harga turun.
Kita panik.
Masalahnya bukan
karena saham tersebut naik.
Masalahnya adalah kita
membeli tanpa memiliki alasan yang jelas selain takut ketinggalan kereta.
Ingat satu hal:
Tidak semua saham
yang naik harus kita beli.
Kalau harga sudah naik
terlalu tinggi, kita tidak perlu mengejarnya.
Tunggu kesempatan yang
lebih baik.
Pasar saham tidak
hanya memberikan satu kesempatan.
Besok masih ada.
Minggu depan masih
ada.
Bulan depan juga masih
ada.
Sebagai trader, tugas
kita bukan menangkap semua peluang.
Tugas kita adalah
memilih peluang yang paling masuk akal sambil menjaga modal tetap aman.
Karena dalam trading
saham, tidak ikut naik kereta bukan berarti rugi. Tetapi membeli karena FOMO
lalu kehilangan modal, itu baru benar-benar rugi.

0 Comments
Posting Komentar