| Trading Saham. Radit M. Pase / Mediasaham.com |
JAKARTA — Ada kabar menarik dari pasar saham Indonesia. Ketika IHSG naik 1,93% sepanjang perdagangan 18–21 Agustus 2026, investor asing ternyata kembali melakukan pembelian besar-besaran.
Salah satu saham yang
paling banyak diburu adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Dalam empat hari
perdagangan tersebut, investor asing mencatat net buy BBRI sebesar Rp745,32
miliar.
Menariknya, harga
saham BBRI juga ikut naik 3,53% menjadi Rp3.230 per saham.
Jadi, apakah ini tanda
investor asing mulai kembali ke pasar saham Indonesia?
Jawabannya: belum
tentu.
Ada beberapa hal yang perlu kita lihat lebih dalam.
IHSG Naik, Transaksi Saham Juga Ramai
Sepanjang 18–21
Agustus 2026, IHSG naik dari 6.401,888 menjadi 6.525,690.
Artinya, dalam satu
pekan perdagangan, indeks naik 1,93%.
Bukan cuma indeks yang
naik. Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia juga semakin ramai.
Rata-rata volume
transaksi harian naik 47,90% menjadi 50,30 miliar saham.
Frekuensi transaksi
juga meningkat 5,52% menjadi 2,21 juta transaksi per hari.
Sementara itu,
rata-rata nilai transaksi harian naik 2,36% menjadi Rp15,57 triliun.
Sederhananya, pasar
saham pada pekan tersebut sedang lebih aktif.
Lebih banyak saham
berpindah tangan dan nilai transaksi juga meningkat.
Asing Kembali Membeli Saham Indonesia
Di tengah kondisi
tersebut, investor asing mencatat net buy sekitar Rp2,23 triliun di seluruh
pasar.
Kalau hanya menghitung
pasar reguler, net buy asing berada di sekitar Rp548 miliar.
Ini cukup menarik
karena sebelumnya investor asing masih sering melakukan penjualan.
Namun, jangan
buru-buru menyimpulkan bahwa asing sudah kembali sepenuhnya.
Kenapa?
Karena kalau kita
melihat data sepanjang 2026, investor asing masih mencatat net sell sekitar
Rp70,64 triliun.
Jadi, ada dua cerita
yang berbeda.
Dalam jangka pendek,
asing sedang membeli.
Tetapi kalau dilihat
sejak awal tahun, asing masih menjadi penjual bersih.
Inilah kenapa
investor perlu membedakan antara tren mingguan dan tren jangka panjang.
Baca Juga: Cara Investasi Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap, Aman dan Menguntungkan
BBRI Jadi Saham Favorit Asing
Dari seluruh saham
yang diperdagangkan, BBRI menjadi saham yang paling banyak dibeli investor
asing.
Nilai net buy-nya
mencapai Rp745,32 miliar.
Dengan kata lain,
dalam periode tersebut nilai pembelian saham BBRI oleh investor asing lebih
besar daripada nilai penjualannya sebesar Rp745,32 miliar.
Harga saham BBRI juga
ikut naik.
Pada akhir pekan
perdagangan, BBRI berada di level Rp3.230 per saham, atau naik 3,53%.
Setelah BBRI, ada BBCA
dengan net buy Rp409,05 miliar.
Kemudian AMMN sebesar Rp329,14
miliar dan ANTM sebesar Rp251,18 miliar.
Kalau melihat daftar
ini, ada pola yang cukup menarik.
Asing tidak hanya
membeli saham bank besar. Mereka juga masuk ke sejumlah saham pertambangan dan
komoditas.
10 Saham yang Paling Banyak Dibeli Asing
|
Peringkat |
Saham |
Net Buy Asing |
|
1 |
BBRI |
Rp745,32 miliar |
|
2 |
BBCA |
Rp409,05 miliar |
|
3 |
AMMN |
Rp329,14 miliar |
|
4 |
ANTM |
Rp251,18 miliar |
|
5 |
PSAB |
Rp133,62 miliar |
|
6 |
TINS |
Rp125,11 miliar |
|
7 |
BRMS |
Rp88,58 miliar |
|
8 |
BRPT |
Rp40,10 miliar |
|
9 |
BBNI |
Rp38,60 miliar |
|
10 |
INCO |
Rp37,28 miliar |
Sumber: Bursa Efek
Indonesia.
Dari daftar tersebut,
terlihat bahwa perhatian asing cukup besar pada dua kelompok saham.
Pertama, perbankan,
terutama BBRI, BBCA dan BBNI.
Kedua, pertambangan
dan komoditas, seperti AMMN, ANTM, PSAB, TINS, BRMS dan INCO.
Tetapi ada satu hal
penting.
Data net buy hanya
menunjukkan apa yang dibeli investor asing, bukan alasan mengapa mereka
membelinya.
Baca Juga: Volume Trading Saham: Pengertian, Cara Membaca, dan Strategi Analisis untuk Investor
Jadi, kita tidak bisa
langsung mengatakan bahwa asing membeli BBRI karena harga BBRI murah atau
membeli ANTM karena harga emas akan naik.
Untuk mengetahui alasannya, kita perlu melihat data lain seperti valuasi, laba perusahaan, harga komoditas, aksi korporasi dan prospek bisnis.
Tidak Semua Saham Dibeli Asing
Kalau ada yang dibeli,
tentu ada juga yang dijual.
Saham yang paling
banyak dijual asing pada periode tersebut adalah ISAT.
Net sell asing di ISAT
mencapai Rp322,3 miliar.
Namun, ada hal yang
cukup mengejutkan.
Walaupun asing menjual
ISAT dalam jumlah besar, harga saham ISAT justru naik 7,09% menjadi Rp2.720.
Ini menunjukkan satu
hal yang sangat penting bagi investor pemula:
Asing jual bukan
berarti saham pasti turun.
Kenapa?
Karena investor asing
bukan satu-satunya pemain di pasar.
Misalnya, asing
menjual saham ISAT senilai Rp322 miliar. Tetapi pada saat yang sama, investor
domestik mungkin membeli dalam jumlah yang lebih besar.
Kalau permintaan dari
pembeli lain lebih kuat, harga saham tetap bisa naik.
10 Saham yang Paling Banyak Dijual Asing
|
Peringkat |
Saham |
Net Sell Asing |
|
1 |
ISAT |
Rp322,30 miliar |
|
2 |
ASII |
Rp211,25 miliar |
|
3 |
DSSA |
Rp139,68 miliar |
|
4 |
AADI |
Rp95,94 miliar |
|
5 |
CPIN |
Rp81,20 miliar |
|
6 |
TLKM |
Rp79,25 miliar |
|
7 |
TPIA |
Rp65,39 miliar |
|
8 |
UNTR |
Rp59,48 miliar |
|
9 |
EMAS |
Rp56,24 miliar |
|
10 |
BREN |
Rp51,77 miliar |
Sumber: Bursa Efek
Indonesia.
Jadi, Apakah Asing Sudah Balik Lagi?
Nah, ini bagian yang
paling menarik.
Kalau hanya melihat
perdagangan 18–21 Agustus, jawabannya terlihat seperti iya.
Asing mencatat net buy
sekitar Rp2,23 triliun.
IHSG juga naik 1,93%.
BBRI, BBCA, AMMN dan
ANTM mendapat pembelian asing cukup besar.
Tetapi kalau kita
memperpanjang periode pengamatan sampai awal tahun, ceritanya berbeda.
Investor asing masih
mencatat net sell sekitar Rp70,64 triliun sepanjang 2026.
Artinya, pembelian
dalam satu pekan belum cukup untuk mengatakan bahwa tren investasi asing sudah
berubah total.
Bayangkan seperti
seseorang yang selama berbulan-bulan terus mengambil uang dari rekeningnya.
Kemudian minggu ini
dia memasukkan uang lagi.
Apakah itu berarti dia
sudah mulai menabung kembali?
Belum tentu.
Bisa saja hanya
sementara.
Begitu juga dengan
pasar saham.
Net buy satu pekan
adalah sinyal yang menarik, tetapi kita perlu melihat apakah pembelian tersebut
berlanjut dalam beberapa pekan berikutnya.
Kenapa Investor Perlu Memperhatikan Foreign Flow?
Kalau kamu baru
belajar saham, istilah foreign flow mungkin terdengar rumit.
Sebenarnya sederhana.
Foreign flow adalah
gambaran mengenai apakah investor asing sedang lebih banyak membeli atau
menjual saham di pasar Indonesia.
Ketika asing terus
melakukan net buy, pasar biasanya membaca adanya peningkatan minat investor
asing.
Sebaliknya, net sell
yang berlangsung terus-menerus bisa menjadi tanda bahwa investor asing sedang
mengurangi eksposurnya di Indonesia.
Tetapi jangan
menjadikan data ini sebagai satu-satunya dasar membeli saham.
Misalnya:
Asing beli BBRI Rp745 miliar.
Bukan berarti:
"Asing beli BBRI,
berarti saya harus beli BBRI."
Cara berpikir seperti
itu terlalu sederhana.
Pertanyaan berikutnya
justru harus:
Kenapa mereka membeli?
Apakah karena valuasi
BBRI menarik?
Apakah karena prospek
laba?
Apakah karena
ekspektasi dividen?
Apakah karena ada
perubahan strategi portofolio?
Atau hanya karena
terjadi perpindahan dana sementara?
Di sinilah analisis
saham menjadi lebih menarik.
Net Buy Asing Bisa Menjadi Petunjuk, Bukan Ramalan
Data asing sebenarnya
lebih tepat digunakan sebagai petunjuk daripada ramalan.
Misalnya, kita melihat
asing membeli BBRI selama beberapa hari.
Kemudian volume
transaksi BBRI ikut meningkat.
Harga BBRI juga naik.
Lalu pembelian asing
terus berlanjut selama beberapa pekan.
Situasi seperti ini
tentu lebih menarik untuk dipelajari dibandingkan hanya melihat satu hari net
buy.
Karena kita mulai
melihat adanya pola.
Hal yang sama berlaku
ketika asing terus menjual suatu saham.
Kalau net sell hanya
terjadi satu hari, belum tentu berarti apa-apa.
Tetapi jika terjadi
berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, sementara harga saham juga terus
turun, sinyalnya menjadi lebih penting untuk diperhatikan.
BBRI, BBCA dan Saham Tambang Jadi Perhatian
Dari data 18–21
Agustus, ada tiga kelompok yang menarik diperhatikan.
Yang pertama adalah bank
besar.
BBRI dan BBCA menjadi
dua saham dengan net buy asing terbesar. BBNI juga masuk 10 besar.
Ini menunjukkan bahwa
saham perbankan besar masih menjadi bagian penting dari portofolio investor
asing.
Yang kedua adalah saham
pertambangan.
AMMN, ANTM, PSAB,
TINS, BRMS dan INCO masuk dalam daftar 10 besar saham yang paling banyak dibeli
asing.
Artinya, sektor
komoditas juga mendapatkan perhatian besar.
Tetapi sekali lagi,
kita tidak boleh langsung menarik kesimpulan bahwa semua saham tambang akan
naik.
Investor tetap perlu
melihat kondisi harga komoditas, kinerja perusahaan, cadangan, biaya produksi,
laba dan valuasi masing-masing emiten.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Investor?
Buat investor yang
masih berusia 20–25 tahun dan baru membangun portofolio, data seperti ini
sebaiknya digunakan untuk belajar membaca pasar, bukan untuk ikut-ikutan
membeli.
Ada beberapa hal
sederhana yang bisa diperhatikan.
Pertama, lihat tren
asing.
Jangan hanya melihat
satu hari. Coba lihat apakah asing terus membeli selama beberapa hari atau
pekan.
Kedua, bandingkan
dengan harga saham.
Asing membeli dan
harga saham naik tentu berbeda dengan asing membeli tetapi harga saham justru
turun.
Baca Juga: Volume Trading Saham: Pengertian, Cara Membaca, dan Strategi Analisis untuk Investor
Ketiga, lihat
volume transaksi.
Pergerakan harga yang
didukung volume besar biasanya lebih menarik untuk dipelajari.
Keempat, cek
fundamental perusahaan.
Lihat laba, utang,
arus kas, dividen dan prospek bisnis.
Kelima, jangan
membeli hanya karena "asing masuk".
Investor asing juga
bisa salah.
Mereka bisa membeli
hari ini dan menjual kembali beberapa hari kemudian.
Kesimpulan
Investor asing kembali
menjadi pembeli bersih di pasar saham Indonesia sepanjang 18–21 Agustus 2026.
IHSG naik 1,93%,
sementara investor asing mencatat net buy sekitar Rp2,23 triliun di
seluruh pasar.
BBRI menjadi bintang
utama dengan net buy asing mencapai Rp745,32 miliar.
Di belakangnya ada
BBCA, AMMN dan ANTM.
Namun, cerita ini
belum cukup untuk mengatakan bahwa asing sudah sepenuhnya kembali ke Indonesia.
Sebab, secara
kumulatif sepanjang 2026, investor asing masih mencatat net sell sekitar
Rp70,64 triliun.
Jadi, kalau kamu
melihat berita seperti "Asing Borong BBRI Rp745 Miliar",
jangan berhenti pada angka tersebut.
Pertanyaan yang lebih
penting adalah:
Apakah asing akan
terus membeli?
Kalau jawabannya iya
dan pembelian tersebut berlangsung konsisten, sementara harga, volume dan
fundamental perusahaan juga mendukung, barulah sinyalnya menjadi jauh lebih
menarik.
Karena dalam investasi
saham, satu hari bisa memberikan informasi, tetapi sebuah tren membutuhkan
waktu untuk membuktikan dirinya.
FAQ
Saham apa yang
paling banyak dibeli asing pada 18–21 Agustus 2026?
BBRI menjadi saham
dengan net buy asing terbesar, yaitu Rp745,32 miliar.
Berapa net buy
asing di BBCA?
Investor asing
mencatat net buy BBCA sebesar Rp409,05 miliar.
Saham apa yang
paling banyak dijual asing?
ISAT menjadi saham
dengan net sell terbesar, yaitu sekitar Rp322,30 miliar.
Kalau asing menjual
saham, apakah harganya pasti turun?
Tidak. ISAT menjadi
contoh bahwa harga saham tetap bisa naik meskipun asing melakukan net sell.
Harga saham ditentukan oleh seluruh permintaan dan penawaran di pasar.
Apakah asing sudah
kembali ke pasar saham Indonesia?
Belum bisa dipastikan.
Dalam periode 18–21 Agustus asing memang melakukan net buy, tetapi secara
kumulatif sepanjang 2026 masih mencatat net sell sekitar Rp70,64 triliun.
Apakah net buy
asing berarti saham tersebut harus dibeli?
Tidak. Net buy asing
hanya salah satu indikator. Investor tetap perlu melihat fundamental, valuasi,
tren harga, volume transaksi dan risiko saham tersebut.
Apa yang paling
penting dari data ini?
Bukan hanya melihat saham
apa yang dibeli asing, tetapi melihat apakah pembelian tersebut berlanjut
dan didukung oleh kenaikan harga, volume transaksi serta fundamental perusahaan.
0 Comments
Posting Komentar