Mengenal Reksa Dana: Jenis, Cara Kerja, Risiko, dan Contohnya

Reksa dana menjadi salah satu pilihan investasi yang cukup mudah dipahami oleh investor pemula. Alasannya sederhana: investor tidak perlu memilih dan membeli sendiri saham, obligasi, atau instrumen pasar uang satu per satu.

Dada uang dari banyak investor dikumpulkan dalam satu wadah, kemudian dikelola oleh Manajer Investasi untuk ditempatkan ke berbagai instrumen sesuai kebijakan investasi reksa dana tersebut.

Namun, reksa dana bukan hanya satu jenis.

Ada reksa dana yang sebagian besar dananya ditempatkan pada saham. Ada yang berfokus pada obligasi. Ada yang menempatkan dana pada instrumen pasar uang. Ada pula yang menggabungkan beberapa jenis aset.

Karena itu, memahami jenis reksa dana menjadi langkah penting sebelum seseorang mulai berinvestasi.

Sebab, dua produk reksa dana sama-sama bernama "reksa dana", tetapi tingkat risiko, tujuan investasi, dan pergerakan nilainya dapat berbeda jauh.

Jenis-jenis reksa dana
Mengenal pengerti reksa dana. Radit M. Pase


Apa Itu Reksa Dana?

Secara sederhana, reksa dana adalah wadah yang menghimpun dana dari masyarakat untuk kemudian diinvestasikan ke dalam portofolio efek dan dikelola oleh Manajer Investasi.

Misalnya, seorang investor memiliki uang Rp1 juta tetapi belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk memilih saham atau obligasi.

Daripada membeli saham sendiri, investor tersebut dapat membeli unit penyertaan sebuah reksa dana.

Dana dari investor tersebut kemudian digabungkan dengan dana investor lainnya.

Sebagai gambaran sederhana:

Investor A Rp1 juta
Investor B Rp2 juta
Investor C Rp5 juta
Investor D Rp2 juta

Dana tersebut menjadi satu kumpulan dana yang kemudian dikelola oleh Manajer Investasi sesuai kebijakan produk.

Portofolionya bisa berisi saham, obligasi, instrumen pasar uang, atau kombinasi beberapa instrumen tersebut.

OJK menjelaskan bahwa reksa dana memang dirancang sebagai salah satu sarana investasi bagi masyarakat yang memiliki modal tetapi tidak mempunyai banyak waktu atau keahlian untuk mengelola investasi secara langsung.

Mengapa Jenis Reksa Dana Perlu Dipahami?

Kesalahan yang cukup sering dilakukan investor pemula adalah menganggap semua reksa dana memiliki karakter yang sama.

Padahal tidak demikian.

Bayangkan ada dua orang yang sama-sama memiliki uang Rp10 juta.

Orang pertama membutuhkan uang tersebut dalam beberapa bulan.

Orang kedua ingin menginvestasikan uangnya untuk kebutuhan 10 tahun mendatang.

Keduanya belum tentu cocok membeli jenis reksa dana yang sama.

Reksa dana pasar uang, misalnya, memiliki karakter yang berbeda dengan reksa dana saham.

Karena itu, sebelum memilih produk, investor sebaiknya memahami:

  • uang akan digunakan kapan;
  • seberapa besar penurunan nilai yang sanggup diterima;
  • tujuan investasinya;
  • jenis aset yang menjadi isi portofolio;
  • biaya yang dikenakan;
  • serta kebijakan investasi produk tersebut.

Jenis-Jenis Reksa Dana

Secara umum, investor akan banyak menemukan empat jenis utama reksa dana, yaitu:

  1. Reksa Dana Pasar Uang
  2. Reksa Dana Pendapatan Tetap
  3. Reksa Dana Saham
  4. Reksa Dana Campuran

Selain itu terdapat kategori atau bentuk khusus seperti:

  1. Reksa Dana Indeks
  2. Reksa Dana Terproteksi
  3. Reksa Dana dengan Penjaminan
  4. Exchange Traded Fund atau ETF
  5. Reksa Dana Syariah
  6. Reksa Dana berbasis efek luar negeri atau kategori khusus lainnya sesuai kebijakan produk.

Perlu diperhatikan bahwa kategori tersebut tidak seluruhnya berada pada level klasifikasi yang sama. Ada yang membedakan jenis berdasarkan aset yang dominan, sementara yang lain menggambarkan strategi, mekanisme, bentuk perdagangan, atau prinsip pengelolaannya.

Mari kita bahas satu per satu.


1. Reksa Dana Pasar Uang

Reksa Dana Pasar Uang adalah reksa dana yang berinvestasi pada instrumen pasar uang dan/atau efek bersifat utang dengan jangka waktu atau sisa jatuh tempo yang pendek.

Karena aset yang digunakan memiliki jangka waktu relatif pendek, karakter pergerakannya umumnya berbeda dengan reksa dana saham.

Contoh sederhana

Misalnya seorang investor memiliki Rp10 juta yang kemungkinan akan digunakan untuk membeli kendaraan dalam waktu sekitar satu tahun.

Ia kemudian memilih reksa dana pasar uang.

Dana tersebut dikelola dalam instrumen yang sesuai dengan kebijakan reksa dana pasar uang.

Nilai investasinya tetap dapat mengalami perubahan. Jadi, reksa dana pasar uang bukan tabungan bank dan bukan investasi yang dijamin selalu menghasilkan keuntungan.

Karakteristik

Secara umum:

  • risiko relatif lebih rendah dibandingkan reksa dana saham;
  • pergerakan nilai cenderung lebih stabil;
  • cocok untuk kebutuhan investasi dengan horizon relatif pendek;
  • tetap memiliki risiko investasi;
  • hasil investasi tidak dijamin.

Contoh penggunaan

Misalnya:

Modal: Rp10 juta
Tujuan: dana yang akan digunakan sekitar 6–12 bulan lagi.

Investor dapat mempertimbangkan produk pasar uang karena karakter asetnya lebih pendek dibandingkan produk yang berinvestasi dominan pada saham.

Namun, keputusan tersebut tetap harus disesuaikan dengan prospektus dan tujuan investor.


2. Reksa Dana Pendapatan Tetap

Jangan terkecoh dengan namanya.

"Pendapatan tetap" bukan berarti investor pasti mendapatkan pendapatan yang tetap setiap bulan.

Istilah tersebut merujuk pada karakter aset yang menjadi portofolio utama, yaitu efek bersifat utang atau obligasi.

OJK menjelaskan bahwa Reksa Dana Pendapatan Tetap menginvestasikan sekurang-kurangnya 80% asetnya pada efek bersifat utang.

Instrumen tersebut dapat berupa obligasi pemerintah maupun obligasi korporasi sesuai kebijakan dan ketentuan produk.

Contoh sederhana

Bayangkan sebuah reksa dana memiliki dana kelolaan Rp100 miliar.

Jika produk tersebut memiliki kebijakan yang mengharuskan minimal 80% pada efek bersifat utang, maka setidaknya sekitar Rp80 miliar ditempatkan pada instrumen tersebut.

Sisanya dapat ditempatkan pada instrumen lain sesuai ketentuan dan kebijakan produk.

Mengapa nilainya bisa turun?

Ini bagian yang sering tidak dipahami investor pemula.

Walaupun berisi obligasi, nilai reksa dana pendapatan tetap tidak selalu naik.

Harga obligasi dapat berubah.

Ketika harga obligasi yang ada dalam portofolio turun, nilai aktiva bersih reksa dana juga dapat ikut turun.

Karena itu, reksa dana pendapatan tetap tetap memiliki risiko pasar.

Karakteristik

  • dominan pada obligasi atau efek bersifat utang;
  • risikonya umumnya berada di antara pasar uang dan saham;
  • nilai dapat naik dan turun;
  • memiliki risiko perubahan harga obligasi;
  • cocok dipertimbangkan untuk tujuan investasi dengan jangka menengah, tergantung produk dan tujuan investor.

3. Reksa Dana Saham

Reksa Dana Saham adalah jenis reksa dana yang sebagian besar asetnya ditempatkan pada saham.

OJK menetapkan bahwa Reksa Dana Saham menginvestasikan sekurang-kurangnya 80% dari asetnya pada efek bersifat ekuitas.

Karena saham dapat mengalami perubahan harga yang cukup besar, nilai reksa dana saham juga dapat bergerak lebih tinggi maupun lebih rendah.

Contoh sederhana

Misalnya seseorang memiliki Rp10 juta.

Ia membeli reksa dana saham.

Manajer Investasi kemudian mengelola dana tersebut sesuai kebijakan produk, misalnya dengan menempatkan sebagian besar portofolionya pada berbagai saham.

Jika harga saham-saham dalam portofolio meningkat, nilai investasi dapat meningkat.

Sebaliknya, jika pasar saham mengalami penurunan, nilai investasi juga dapat turun.

Contoh situasi

Misalnya:

Investasi awal: Rp10 juta

Kemudian pasar saham turun 10%.

Nilai investasi tidak otomatis menjadi Rp9 juta secara persis karena perubahan NAB juga dipengaruhi oleh komposisi portofolio dan faktor lainnya.

Tetapi secara sederhana, investor harus memahami bahwa reksa dana saham bisa mengalami penurunan nilai yang cukup besar dalam periode tertentu.

Baca Juga: Cara Investasi Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap, Aman dan Menguntungkan

Karakteristik

  • mayoritas aset berupa saham;
  • memiliki potensi pertumbuhan nilai yang lebih besar dalam jangka panjang;
  • fluktuasi nilai relatif tinggi;
  • cocok dipertimbangkan untuk tujuan jangka panjang;
  • tidak cocok dipahami sebagai instrumen untuk mendapatkan keuntungan cepat.

4. Reksa Dana Campuran

Sesuai namanya, Reksa Dana Campuran menggabungkan beberapa jenis aset.

Portofolionya dapat terdiri dari:

  • saham;
  • obligasi atau efek bersifat utang;
  • instrumen pasar uang.

Komposisinya bergantung pada kebijakan masing-masing produk.

Contoh sederhana

Misalnya sebuah reksa dana campuran mempunyai portofolio:

50% saham
30% obligasi
20% pasar uang

Produk lain mungkin memiliki komposisi berbeda.

Inilah alasan investor tidak cukup hanya melihat nama "Reksa Dana Campuran".

Investor perlu melihat prospektus dan fund fact sheet untuk mengetahui sebenarnya dana tersebut ditempatkan di mana.

Mengapa memilih campuran?

Tujuannya adalah mengombinasikan beberapa jenis aset.

Ketika pasar saham mengalami tekanan, misalnya, sebagian portofolio yang berada pada obligasi atau pasar uang memiliki karakter risiko yang berbeda.

Tetapi hal tersebut bukan berarti penurunan saham pasti dapat ditutupi.

Jika porsi saham cukup besar dan pasar saham turun tajam, NAB reksa dana campuran tetap dapat mengalami penurunan.


5. Reksa Dana Indeks

Reksa Dana Indeks memiliki tujuan yang berbeda dari reksa dana yang secara aktif memilih saham.

Produk ini berusaha mengikuti kinerja suatu indeks yang menjadi acuannya.

Misalnya sebuah reksa dana menggunakan indeks tertentu sebagai benchmark.

Manajer Investasi kemudian mengelola portofolio agar pergerakannya mengikuti indeks tersebut.

OJK menetapkan, antara lain, bahwa Reksa Dana Indeks menginvestasikan paling sedikit 80% NAB pada efek yang menjadi bagian dari indeks acuannya.

Contoh sederhana

Misalnya terdapat indeks yang terdiri dari 30 saham.

Sebuah reksa dana indeks menggunakan indeks tersebut sebagai acuan.

Tujuannya bukan memilih satu atau dua saham yang dianggap akan naik paling tinggi, tetapi membuat portofolio yang mengikuti komposisi indeks tersebut dalam batas yang ditentukan.

Apa yang perlu diperhatikan?

Investor perlu melihat tracking error.

Tracking error menunjukkan seberapa jauh kinerja reksa dana menyimpang dari indeks acuannya.

Jadi, walaupun namanya "reksa dana indeks", hasil investasinya tidak harus persis sama dengan indeks.


6. Reksa Dana Terproteksi

Reksa Dana Terproteksi berbeda dari reksa dana biasa.

Produk ini memiliki mekanisme tertentu untuk memberikan perlindungan atas nilai investasi yang diproteksi sesuai ketentuan produk.

OJK menjelaskan bahwa mekanisme perlindungan tersebut antara lain menggunakan portofolio efek bersifat utang yang memenuhi kriteria tertentu sehingga pada saat jatuh tempo nilainya dapat menutupi jumlah yang diproteksi.

Tetapi ada hal penting

Terproteksi bukan berarti bebas risiko.

Investor harus membaca dengan teliti:

  • berapa nilai yang benar-benar diproteksi;
  • kapan proteksi berlaku;
  • kapan jatuh tempo;
  • kondisi yang menyebabkan hak proteksi hilang;
  • risiko produk;
  • biaya;
  • dan ketentuan pencairan.

OJK sendiri menekankan bahwa prospektus Reksa Dana Terproteksi harus menjelaskan hal-hal yang dapat menyebabkan pemegang unit kehilangan hak atas proteksi.


7. Reksa Dana dengan Penjaminan

Ini berbeda dengan Reksa Dana Terproteksi.

Pada Reksa Dana Terproteksi, mekanisme perlindungan berasal dari struktur portofolio dan kebijakan investasi produk.

Sementara pada Reksa Dana dengan Penjaminan terdapat pihak yang memberikan jaminan atau guarantee sesuai ketentuan produk.

OJK menjelaskan Reksa Dana dengan Penjaminan sebagai reksa dana yang memberikan penjaminan atas investasi awal melalui pihak yang memberikan penjaminan.

Karena mekanismenya berbeda, investor tidak boleh menyamakan istilah:

terproteksi ≠ dijamin.


8. Exchange Traded Fund atau ETF

ETF adalah reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa.

Inilah salah satu hal yang membedakannya dari reksa dana yang dibeli atau dijual melalui mekanisme transaksi reksa dana pada umumnya.

Secara sederhana:

Reksa dana biasa: investor membeli atau menjual unit melalui mekanisme yang disediakan oleh Manajer Investasi atau Agen Penjual Efek Reksa Dana.

ETF: unitnya diperdagangkan di Bursa Efek sehingga mekanisme transaksinya menyerupai perdagangan efek di bursa.

Karena diperdagangkan di bursa, harga ETF selama jam perdagangan dapat berubah mengikuti aktivitas pasar.

Investor juga perlu memahami perbedaan antara:

NAB per unit dan harga ETF di bursa.

Keduanya dapat memiliki perbedaan karena mekanisme perdagangan di pasar.


9. Reksa Dana Syariah

Reksa Dana Syariah pada dasarnya menggunakan konsep reksa dana, tetapi pengelolaannya harus mengikuti prinsip syariah di pasar modal.

OJK menjelaskan bahwa Reksa Dana Syariah merupakan wadah investasi kolektif yang dikelola dengan menginvestasikan dana pada efek syariah seperti saham syariah, sukuk, atau instrumen syariah lainnya.

Jenisnya juga tidak hanya satu.

OJK mencantumkan antara lain:

  • Reksa Dana Syariah Pasar Uang;
  • Reksa Dana Syariah Pendapatan Tetap;
  • Reksa Dana Syariah Saham;
  • Reksa Dana Syariah Campuran;
  • Reksa Dana Syariah Terproteksi;
  • Reksa Dana Syariah Indeks;
  • ETF Syariah;
  • Reksa Dana Syariah berbentuk KIK Penyertaan Terbatas;
  • Reksa Dana Syariah berbasis Efek Syariah Luar Negeri;
  • Reksa Dana Syariah berbasis Sukuk.

Artinya, kata "syariah" bukan menggantikan jenis aset.

Misalnya terdapat:

Reksa Dana Saham
dan
Reksa Dana Saham Syariah

Keduanya sama-sama berinvestasi pada saham, tetapi yang kedua menggunakan saham dan instrumen yang memenuhi prinsip syariah.

OJK juga menerbitkan Daftar Efek Syariah yang menjadi salah satu referensi bagi Manajer Investasi dalam mengelola reksa dana syariah.


10. Reksa Dana Berbasis Efek Luar Negeri

Ada pula reksa dana yang memberikan eksposur terhadap aset atau efek di luar Indonesia.

Contohnya dapat berupa produk yang memiliki portofolio pada saham atau obligasi di Amerika Serikat, Asia, Eropa, atau negara lainnya.

Jenis produk seperti ini memberikan kesempatan bagi investor Indonesia mendapatkan eksposur ke pasar global tanpa harus membeli seluruh aset luar negeri tersebut secara langsung.

Namun ada risiko tambahan yang perlu diperhatikan, terutama:

  • risiko pasar negara tujuan;
  • perubahan harga aset global;
  • risiko nilai tukar;
  • kondisi ekonomi dan kebijakan negara lain.

Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya melihat potensi keuntungan, tetapi juga memahami sumber risikonya.


Tabel Ringkas Jenis Reksa Dana

Jenis

Aset/karakter utama

Fluktuasi

Contoh tujuan

Pasar Uang

Instrumen pasar uang/utang jangka pendek

Relatif lebih rendah

Kebutuhan jangka pendek

Pendapatan Tetap

Dominan efek bersifat utang

Rendah–menengah

Investasi menengah

Saham

Dominan saham

Tinggi

Tujuan jangka panjang

Campuran

Saham + obligasi + pasar uang

Menengah, tergantung komposisi

Tujuan menengah–panjang

Indeks

Mengikuti indeks acuan

Mengikuti aset indeks

Mengikuti pasar/indeks tertentu

Terproteksi

Memiliki mekanisme proteksi sesuai produk

Tergantung struktur

Investasi dengan mekanisme perlindungan tertentu

Penjaminan

Memiliki pihak penjamin

Tergantung produk

Investasi dengan mekanisme penjaminan

ETF

Reksa dana yang diperdagangkan di bursa

Tergantung aset

Investasi yang diperdagangkan di bursa

Syariah

Mengikuti prinsip syariah

Tergantung jenisnya

Investasi sesuai prinsip syariah

Efek Luar Negeri

Memiliki eksposur aset luar negeri

Tergantung aset + kurs

Diversifikasi global


Jangan Menentukan Reksa Dana Hanya dari Tingkat Keuntungan

Investor pemula sering melakukan kesalahan dengan melihat:

"Produk A menghasilkan 10%, produk B hanya 7%, berarti A lebih bagus."

Cara berpikir seperti ini belum tentu tepat.

Misalnya:

Reksa Dana A

Return: 10%
Fluktuasi: tinggi

Reksa Dana B

Return: 7%
Fluktuasi: lebih rendah

Keduanya memiliki karakter berbeda.

Investor yang membutuhkan dana dalam waktu dekat mungkin mempunyai kebutuhan yang berbeda dengan investor yang menyiapkan dana pensiun 20 tahun lagi.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan:

"Reksa dana mana yang paling tinggi return-nya?"

Melainkan:

"Jenis reksa dana mana yang sesuai dengan tujuan, jangka waktu, dan kemampuan saya menerima risiko?"


Bagaimana Cara Memilih Jenis Reksa Dana?

Cara sederhananya dapat dimulai dari tiga pertanyaan.

1. Kapan uang tersebut akan digunakan?

Jika uang kemungkinan digunakan dalam waktu relatif dekat, investor perlu mempertimbangkan produk dengan karakter risiko yang sesuai untuk jangka pendek.

Jika uang baru akan digunakan dalam waktu panjang, pilihan aset dapat lebih beragam.

2. Seberapa besar penurunan yang bisa diterima?

Misalnya seseorang tidak nyaman melihat nilai investasinya turun 10% atau 20%.

Orang tersebut perlu memahami bahwa produk berbasis saham dapat mengalami fluktuasi yang cukup besar.

Jangan membeli reksa dana saham hanya karena melihat potensi return historis, kemudian panik ketika pasar mengalami koreksi.

3. Apa tujuan investasinya?

Tujuan dapat berupa:

  • dana pendidikan;
  • dana membeli rumah;
  • dana membeli kendaraan;
  • dana pensiun;
  • dana perjalanan;
  • atau sekadar membangun aset jangka panjang.

Tujuan tersebut akan membantu menentukan jangka waktu investasi dan jenis risiko yang dapat dipertimbangkan.


Contoh Memilih Reksa Dana Berdasarkan Tujuan

Misalnya ada tiga orang.

Andi: uang akan digunakan 6 bulan lagi

Andi memiliki Rp20 juta yang akan digunakan untuk kebutuhan tertentu enam bulan mendatang.

Karena jangka waktunya pendek, Andi perlu mempertimbangkan produk dengan karakter yang sesuai untuk kebutuhan jangka pendek.

Reksa dana pasar uang dapat menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan.

Budi: investasi 5 tahun

Budi memiliki Rp30 juta dan tidak membutuhkan uang tersebut dalam waktu dekat.

Ia dapat mempelajari reksa dana pendapatan tetap, campuran, atau jenis lainnya sesuai profil risiko dan tujuan investasinya.

Citra: investasi 15 tahun

Citra ingin membangun dana jangka panjang.

Ia bersedia menghadapi naik turunnya pasar dalam jangka pendek.

Citra dapat mempelajari reksa dana saham, indeks, atau produk lain yang memiliki karakter pertumbuhan jangka panjang.

Contoh tersebut bukan rekomendasi produk tertentu, melainkan cara berpikir dalam menentukan jenis investasi.


Apakah Reksa Dana Pasti Menguntungkan?

Tidak.

Reksa dana adalah investasi, bukan simpanan dengan keuntungan yang sudah ditentukan.

Nilai investasi dapat naik maupun turun.

Besarnya risiko sangat dipengaruhi oleh aset yang ada di dalam portofolio.

Reksa dana saham, misalnya, dapat mengalami penurunan ketika pasar saham turun.

Reksa dana pendapatan tetap juga dapat mengalami penurunan ketika harga obligasi dalam portofolionya turun.

Bahkan produk pasar uang tetap memiliki risiko investasi.

Karena itu, kalimat seperti:

"Reksa dana pasti untung."

sebaiknya dihindari.


Apa Itu NAB dan NAB per Unit?

Salah satu istilah yang akan sering ditemukan ketika membeli reksa dana adalah NAB, atau Nilai Aktiva Bersih.

Secara sederhana, NAB menggambarkan nilai bersih seluruh aset reksa dana setelah memperhitungkan kewajibannya.

Kemudian terdapat istilah NAB per Unit Penyertaan.

Contoh sederhana:

Total NAB sebuah reksa dana:

Rp100 miliar

Jumlah unit penyertaan:

100 juta unit

Maka secara sederhana:

NAB per unit = Rp1.000

Jika kemudian nilai portofolio meningkat sehingga NAB naik menjadi Rp110 miliar sementara jumlah unit tetap, NAB per unit menjadi sekitar:

Rp1.100

Investor tidak memperoleh keuntungan hanya karena angka NAB per unit terlihat murah atau mahal.

Ini penting.

Reksa dana dengan NAB per unit Rp500 tidak otomatis lebih murah atau lebih menarik dibandingkan reksa dana dengan NAB per unit Rp2.000.

Yang lebih penting adalah bagaimana aset di dalamnya dikelola dan bagaimana kinerjanya dibandingkan tujuan serta risikonya.


Apa Saja Risiko Reksa Dana?

Sebelum membeli, investor perlu memahami beberapa risiko utama.

Risiko pasar

Nilai aset dalam portofolio dapat turun karena perubahan kondisi pasar.

Risiko likuiditas

Dalam kondisi tertentu, aset yang dimiliki reksa dana dapat lebih sulit dijual pada harga yang diharapkan.

Risiko kredit

Pada produk yang memiliki obligasi atau instrumen utang, terdapat risiko pihak penerbit mengalami masalah dalam memenuhi kewajibannya.

Risiko suku bunga

Perubahan suku bunga dapat memengaruhi harga obligasi dan pada akhirnya memengaruhi nilai reksa dana yang memiliki portofolio obligasi.

Risiko nilai tukar

Produk yang memiliki aset dalam mata uang asing dapat terpengaruh oleh perubahan kurs.

Risiko pengelolaan

Kinerja produk juga dipengaruhi oleh bagaimana portofolio dikelola sesuai strategi dan mandat investasi.


Reksa Dana Bukan Sekadar "Investasi yang Dikelola Orang Lain"

Pernyataan tersebut memang benar secara sederhana, tetapi belum lengkap.

Investor tetap perlu mengetahui:

uangnya diinvestasikan ke mana?

Misalnya dua produk sama-sama memiliki label "reksa dana".

Produk pertama:

80% saham

Produk kedua:

80% obligasi

Keduanya jelas memiliki karakter risiko yang berbeda.

Karena itu, sebelum membeli, investor sebaiknya membaca prospektus dan fund fact sheet.

Dari sana investor dapat mengetahui antara lain:

  • tujuan investasi;
  • kebijakan investasi;
  • komposisi aset;
  • risiko;
  • biaya;
  • kinerja historis;
  • Manajer Investasi;
  • Bank Kustodian;
  • serta ketentuan pembelian dan penjualan kembali.

Kesimpulan

Reksa dana bukan hanya satu jenis investasi.

Ada Reksa Dana Pasar Uang, Pendapatan Tetap, Saham, dan Campuran yang menjadi kategori dasar yang paling sering ditemui investor.

Selain itu terdapat produk dengan karakteristik khusus seperti Reksa Dana Indeks, Terproteksi, dengan Penjaminan, ETF, serta berbagai jenis Reksa Dana Syariah.

Perbedaan utama antarproduk terletak pada ke mana dana investor ditempatkan, bagaimana produk dikelola, tingkat fluktuasinya, dan tujuan investasinya.

Karena itu, investor pemula sebaiknya tidak memilih reksa dana hanya berdasarkan angka return tertinggi.

Langkah yang lebih penting adalah memahami jenis produknya, isi portofolionya, risiko, biaya, jangka waktu investasi, serta tujuan keuangan pribadi.

Dengan memahami hal tersebut, investor tidak lagi melihat reksa dana sekadar sebagai "tempat menyimpan uang agar berkembang", tetapi sebagai sebuah produk investasi yang memiliki struktur, strategi, potensi hasil, dan risiko masing-masing.

 

Data diolah dari sumber-sumber yang diterbitkan oleh OJK.

Disclaimer: Artikel ini bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan perintah jual atau beli saham tertentu. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga. Redaksi Mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pembaca.

Penulis: Adit Saputra, Radit M. Pase - Mediasaham Research

0 Comments

Posting Komentar

Berita Terbaru

    Belajar Saham

      Dividen Saham