Laporan Keuangan PJAA September 2026: Laba Bersih Anjlok 56,5% Jadi Rp25,3 Miliar

JAKARTA, Mediasaham.com — PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) membukukan laba bersih sebesar Rp25,30 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Capaian tersebut turun 56,51% dibandingkan laba bersih Rp58,19 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Penurunan laba terjadi di tengah pendapatan usaha yang juga melemah. Hingga September 2026, PJAA mencatat pendapatan usaha Rp781,77 miliar, turun 2,10% dari Rp798,53 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Logo Pembangunan Jaya Ancol

Pendapatan PJAA Turun 2,10%

Pendapatan usaha PJAA hingga September 2026 mencapai Rp781,77 miliar, dibandingkan Rp798,53 miliar pada sembilan bulan pertama 2025. Namun, beban pokok pendapatan dan beban langsung meningkat menjadi Rp463,07 miliar dari Rp440,03 miliar. Kenaikan beban tersebut menekan laba bruto perusahaan. Dengan demikian, laba bruto PJAA turun 11,10% menjadi Rp318,70 miliar dari Rp358,50 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pos 9M 2026 9M 2025 Perubahan
Pendapatan usaha Rp781,77 miliar Rp798,53 miliar -2,10%
Beban pokok pendapatan & beban langsung Rp463,07 miliar Rp440,03 miliar +5,24%
Laba bruto Rp318,70 miliar Rp358,50 miliar -11,10%

Laba Usaha PJAA Merosot 28,91%

Tekanan terhadap kinerja PJAA berlanjut pada tingkat operasional. Beban umum dan administrasi tercatat Rp186,34 miliar, relatif turun dari Rp187,51 miliar. Sementara itu, beban penjualan turun tipis menjadi Rp23,75 miliar dari Rp23,96 miliar. Namun, penghasilan lainnya juga turun menjadi Rp25,81 miliar dari Rp28,38 miliar. Beban lain-lain meningkat menjadi Rp27,08 miliar dari Rp19,70 miliar. Akibatnya, laba usaha PJAA turun 28,91% menjadi Rp116,80 miliar dari Rp164,29 miliar pada periode sembilan bulan 2025.

Laba Sebelum Pajak Turun 45,15%

Setelah memperhitungkan bagian laba bersih entitas asosiasi, bagian laba bersih ventura bersama, beban keuangan, serta beban pajak final, laba sebelum pajak PJAA tercatat Rp48,23 miliar. Angka tersebut turun 45,15% dibandingkan laba sebelum pajak Rp87,95 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Beban keuangan sendiri turun menjadi Rp49,29 miliar dari Rp56,47 miliar. Sementara beban pajak final turun menjadi Rp17,62 miliar dari Rp20,10 miliar. Setelah dikurangi beban pajak penghasilan sebesar Rp22,93 miliar, PJAA membukukan laba bersih Rp25,30 miliar.
Pos 9M 2026 9M 2025 Perubahan
Laba usaha Rp116,80 miliar Rp164,29 miliar -28,91%
Laba sebelum pajak Rp48,23 miliar Rp87,95 miliar -45,15%
Laba bersih Rp25,30 miliar Rp58,19 miliar -56,51%
Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik induk Rp25,35 miliar Rp58,63 miliar -56,76%

Margin Laba PJAA Tertekan

Penurunan laba yang lebih dalam dibandingkan penurunan pendapatan membuat margin laba PJAA menyusut. Margin laba bruto turun dari sekitar 44,89% pada sembilan bulan 2025 menjadi 40,77% pada periode yang sama 2026. Sementara itu, margin laba usaha turun dari sekitar 20,57% menjadi 14,94%. Margin laba bersih juga menyusut dari sekitar 7,29% menjadi 3,24%. Dengan demikian, setiap Rp100 pendapatan yang dibukukan PJAA hingga September 2026 menghasilkan laba bersih sekitar Rp3,24, dibandingkan sekitar Rp7,29 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Aset PJAA Turun Menjadi Rp3,49 Triliun

Dari sisi neraca, total aset PJAA per 30 September 2026 tercatat Rp3,49 triliun. Nilai tersebut turun 3,98% dibandingkan Rp3,63 triliun pada 31 Desember 2025. Aset lancar turun menjadi Rp747,25 miliar dari Rp858,86 miliar. Salah satu perubahan terbesar terlihat pada piutang lain-lain pihak ketiga yang turun dari Rp180,62 miliar menjadi Rp9,10 miliar. Kas dan setara kas justru meningkat menjadi Rp335,07 miliar dari Rp278,52 miliar pada akhir 2025. Sementara itu, aset tidak lancar turun menjadi Rp2,74 triliun dari Rp2,77 triliun.

Liabilitas Turun 7,23%

Total liabilitas PJAA per 30 September 2026 tercatat Rp1,65 triliun, turun 7,23% dibandingkan Rp1,77 triliun pada akhir 2025. Namun, komposisi liabilitas mengalami perubahan. Liabilitas jangka pendek meningkat menjadi Rp739,44 miliar dari Rp386,44 miliar. Kenaikan terutama terlihat pada utang obligasi yang jatuh tempo dalam satu tahun, dari Rp65,40 miliar menjadi Rp446,03 miliar. Sebaliknya, liabilitas jangka panjang turun menjadi Rp905,81 miliar dari Rp1,39 triliun.
Posisi Keuangan 30 Sep 2026 31 Des 2025 Perubahan
Total aset Rp3,49 triliun Rp3,63 triliun -3,98%
Liabilitas jangka pendek Rp739,44 miliar Rp386,44 miliar +91,34%
Liabilitas jangka panjang Rp905,81 miliar Rp1,39 triliun -34,72%
Total liabilitas Rp1,65 triliun Rp1,77 triliun -7,23%
Total ekuitas Rp1,84 triliun Rp1,86 triliun -0,88%

Ekuitas PJAA Turun Tipis

Total ekuitas PJAA pada akhir September 2026 tercatat Rp1,84 triliun, turun 0,88% dibandingkan Rp1,86 triliun pada akhir 2025. Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp1,82 triliun, turun dari Rp1,84 triliun. Sementara kepentingan nonpengendali berada di Rp19,31 miliar, dibandingkan Rp19,36 miliar pada akhir 2025.

Arus Kas Operasi PJAA Tetap Positif

Dari sisi arus kas, PJAA mencatat kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi sebesar Rp80,68 miliar pada sembilan bulan 2026. Nilai tersebut turun 28,98% dibandingkan Rp113,60 miliar pada periode yang sama 2025. Penerimaan dari pelanggan tercatat Rp753,31 miliar, turun dari Rp834,06 miliar. Pembayaran kepada pemasok dan pihak ketiga juga turun menjadi Rp429,14 miliar dari Rp456,79 miliar. Sementara pembayaran kepada karyawan meningkat menjadi Rp189,50 miliar dari Rp169,87 miliar.

Arus Kas Investasi Berbalik Positif

Aktivitas investasi memberikan kontribusi positif terhadap kas PJAA. Kas bersih yang diperoleh dari aktivitas investasi mencapai Rp111,58 miliar, berbalik dari penggunaan kas Rp72,56 miliar pada sembilan bulan 2025. Perubahan tersebut terutama dipengaruhi penerimaan penggantian kerugian atas proyek pembangunan jalan tol sebesar Rp175,92 miliar. Di sisi lain, PJAA mengeluarkan Rp55,53 miliar untuk perolehan aset tetap dan Rp571 juta untuk aset takberwujud.

Arus Kas Pendanaan Masih Negatif

Aktivitas pendanaan masih mencatat arus kas negatif sebesar Rp135,71 miliar, meski membaik dibandingkan penggunaan kas Rp198,64 miliar pada periode yang sama 2025. Sepanjang sembilan bulan 2026, PJAA membayar utang bank Rp19,47 miliar, utang obligasi Rp65,40 miliar, liabilitas sewa Rp8,85 miliar, serta dividen Rp41,68 miliar.

Kas PJAA Naik Menjadi Rp335,07 Miliar

Secara keseluruhan, PJAA mencatat kenaikan bersih kas dan setara kas sebesar Rp56,55 miliar hingga September 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, perusahaan mencatat penurunan bersih kas Rp157,59 miliar. Dengan posisi kas awal tahun Rp278,52 miliar, kas dan setara kas PJAA pada 30 September 2026 mencapai Rp335,07 miliar.

Baca Laporan Keuangan Emiten:

  1. MAHA Perluas Sinergi Bisnis, Suntik Modal Rp15,75 Miliar ke Mandiri Karya Maritim
  2. Laporan Keuangan Waskita Karya (WKST) 9 Bulan 2026: Pendapatan Naik, Rugi Bersih Masih Rp3,26 Triliun
  3. Kinerja Darma Henwa (DEWA) 2026: Laba Naik 114,5% hingga September
  4. Laporan Keuangan AXIO Q3 2026: Pendapatan Tumbuh 24,21%, Laba Naik 73,66%
  5. Laporan Keuangan BPFI Q3 2026: Laba Bersih Melonjak 88%
  6. Penjualan Arwana Citramulia (ARNA) Tumbuh 15,57% Menjadi Rp2,51 Triliun
  7. Artha Mahiya Investama (AIMS) Rugi Rp706 Juta hingga September 2026
  8. Laporan Keuangan PTPP September 2026: Laba yang Diatribusikan ke Pemilik Entitas Induk Meroket Jadi Rp259,97 Miliar
  9. Laporan Keuangan PJAA  September 2026: Laba Bersih Anjlok 56,5% Jadi Rp25,3 Miliar

Ringkasan Kinerja PJAA September 2026

Kinerja PJAA hingga September 2026 menunjukkan penurunan pada pendapatan dan profitabilitas. Pendapatan usaha turun 2,10%, sementara laba bersih terkontraksi 56,51%. Tekanan terbesar terlihat pada laba bruto dan laba usaha yang masing-masing turun 11,10% dan 28,91%. Di sisi neraca, total aset turun 3,98% dan total liabilitas turun 7,23%. Dari sisi arus kas, aktivitas operasi masih menghasilkan kas positif Rp80,68 miliar. Arus kas investasi juga berbalik positif menjadi Rp111,58 miliar, sehingga membantu menopang kenaikan kas dan setara kas menjadi Rp335,07 miliar pada akhir September 2026.

Disclaimer: Artikel ini merupakan konten jurnalistik dari mediasaham.com yang bertujuan memberikan informasi, bukan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual saham tertentu. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dan mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

0 Comments

Posting Komentar

Berita Terbaru

    Konten Premium

      Dividen Saham