MEDIASAHAM.COM, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah sepanjang perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2–6 November 2026. Tekanan pasar tercermin dari penurunan indeks, menyusutnya kapitalisasi pasar, serta berkurangnya aktivitas transaksi harian investor.
![]() |
| Indonesia Stock Exchange/ Bursa Efek Indonesia |
Berdasarkan data statistik mingguan BEI, IHSG ditutup di level 5.050,429 pada Jumat (6/11/2026). Posisi tersebut turun 6,621 poin atau 0,13% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya yang berada di level 5.057,050.
Meski penurunan IHSG secara mingguan relatif terbatas, pergerakan indeks sepanjang pekan menunjukkan tekanan yang cukup besar. IHSG sempat menyentuh level terendah 4.824,364 dan mencapai level tertinggi 5.143,582.
Di tengah kondisi tersebut, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih atau net sell. Sementara itu, pergerakan saham berkapitalisasi besar menunjukkan hasil yang beragam. Sejumlah saham perbankan dan konsumer menopang IHSG, tetapi tekanan dari saham energi, pertambangan, dan infrastruktur membatasi penguatan indeks.
IHSG Bergerak dalam Rentang 4.824–5.143
Perdagangan saham selama 2–6 November 2026 memperlihatkan pergerakan IHSG yang cukup lebar. Indeks sempat berada di bawah level 5.000 sebelum kembali bergerak naik dan mengakhiri pekan di posisi 5.050,429.
Jika dibandingkan dengan penutupan pekan sebelumnya, IHSG mengalami penurunan sebesar 0,13%. Namun, rentang pergerakan tertinggi dan terendah menunjukkan bahwa tekanan intrapekan lebih besar dibandingkan perubahan penutupan secara mingguan.
| Indikator IHSG | Pekan Lalu | Pekan Ini | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Penutupan | 5.057,050 | 5.050,429 | -6,621 (-0,13%) |
| Level terendah | 4.979,342 | 4.824,364 | -154,978 (-3,11%) |
| Level tertinggi | 5.453,647 | 5.143,582 | -310,065 (-5,69%) |
Data tersebut menunjukkan bahwa level tertinggi IHSG pada pekan ini lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya. Demikian pula dengan level terendahnya yang turun 3,11%.
Dengan demikian, meskipun IHSG hanya terkoreksi 0,13% secara mingguan, ruang pergerakan indeks selama perdagangan menunjukkan adanya tekanan yang lebih luas.
Kapitalisasi Pasar BEI Menyusut Rp119 Triliun
Penurunan IHSG turut diikuti penyusutan kapitalisasi pasar atau market capitalization saham di Bursa Efek Indonesia.
BEI mencatat kapitalisasi pasar saham turun dari Rp8.862 triliun pada pekan sebelumnya menjadi Rp8.744 triliun pada periode 2–6 November 2026. Artinya, terdapat penurunan sekitar Rp119 triliun atau 1,34%.
Dalam denominasi dolar AS, kapitalisasi pasar BEI turun dari US$489 miliar menjadi US$482 miliar, atau berkurang 1,30%.
Penurunan kapitalisasi pasar yang lebih besar dibandingkan koreksi IHSG memperlihatkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi pada pergerakan indeks secara keseluruhan. Nilai pasar sejumlah saham juga mengalami penyusutan.
Aktivitas Transaksi Saham Mengalami Penurunan
Selain kapitalisasi pasar, aktivitas perdagangan saham selama pekan tersebut juga mengalami perlambatan dibandingkan pekan sebelumnya.
Rata-rata nilai transaksi harian BEI turun cukup tajam sebesar 23% menjadi Rp11,04 triliun per hari. Pada pekan sebelumnya, rata-rata nilai transaksi harian masih mencapai Rp14,34 triliun.
Penurunan juga terjadi pada rata-rata volume transaksi dan frekuensi perdagangan harian.
| Indikator | Pekan Lalu | Pekan Ini | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Volume harian | 32.428 juta saham | 31.291 juta saham | -3,50% |
| Nilai transaksi harian | Rp14,339 triliun | Rp11,041 triliun | -23,00% |
| Frekuensi harian | 1,543 juta kali | 1,290 juta kali | -16,44% |
| Kapitalisasi pasar | Rp8.862 triliun | Rp8.744 triliun | -1,34% |
Jika dilihat dari nilai transaksi, penurunan sebesar 23% menjadi salah satu catatan penting dalam aktivitas pasar saham pekan ini. Investor melakukan transaksi dengan nilai yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Nilai Perdagangan Selama Sepekan
Secara keseluruhan, total perdagangan saham selama 2–6 November 2026 mencapai Rp55,20 triliun dengan volume 156,46 miliar saham dan frekuensi 6,45 juta kali.
Pasar reguler mendominasi aktivitas perdagangan dengan nilai transaksi Rp47,14 triliun atau sekitar 85,40% dari total nilai perdagangan saham.
Sementara itu, pasar negosiasi mencatat nilai transaksi Rp8,06 triliun atau 14,60%. Adapun pasar tunai hanya mencatat nilai transaksi sekitar Rp1,27 miliar.
Investor Asing Catat Net Sell Rp167,11 Miliar
Salah satu perhatian utama investor selama pekan perdagangan ini adalah aktivitas transaksi investor asing. Berdasarkan data BEI, investor asing membukukan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp167,11 miliar.
Nilai tersebut meningkat jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Pada periode sebelumnya, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp3,06 triliun.
Baca: Prediksi IHSG November 2026: Apakah Rebound Setelah Anjlok 16,7% pada Oktober?
Dengan demikian, meskipun investor asing masih melakukan penjualan bersih, besaran net sell pada pekan 2–6 November 2026 jauh lebih kecil dibandingkan periode sebelumnya.
Secara rinci, transaksi investor asing selama pekan ini terdiri dari pembelian saham senilai Rp20,164 triliun dan penjualan saham sebesar Rp20,332 triliun.
| Transaksi Asing | Nilai |
|---|---|
| Foreign Buy | Rp20,164 triliun |
| Foreign Sell | Rp20,332 triliun |
| Net Foreign Sell | Rp167,11 miliar |
Data tersebut menunjukkan bahwa nilai penjualan investor asing masih lebih tinggi dibandingkan pembeliannya. Namun, selisihnya relatif kecil dibandingkan total nilai transaksi asing selama pekan tersebut.
Perlu diperhatikan bahwa angka net sell merupakan selisih antara transaksi jual dan beli investor asing. Angka ini tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan investor asing melakukan penjualan saham.
BBCA Menjadi Penopang Terbesar IHSG
Di tengah pelemahan IHSG, sejumlah saham berkapitalisasi besar justru memberikan kontribusi positif terhadap pergerakan indeks.
Berdasarkan data index movers BEI, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi kontributor positif terbesar terhadap IHSG selama periode 2–6 November 2026.
Baca: Asing Borong BBCA Rp303 Miliar saat IHSG Rebound, Ini 10 Saham yang Dibeli Asing
Harga saham BBCA meningkat 4,42% dengan kontribusi sebesar 20,48 poin terhadap IHSG. Kapitalisasi pasar free float yang digunakan dalam perhitungan indeks tercatat sebesar Rp168,50 triliun.
Selain BBCA, sejumlah saham lain juga memberikan kontribusi positif, seperti MKNT, ASII, SMMA, CASA, INDF, dan ICBP.
Daftar Saham dengan Kontribusi Positif Terbesar terhadap IHSG
| Kode | Perubahan Harga | MCFF (Rp triliun) | Kontribusi IHSG (poin) |
|---|---|---|---|
| BBCA | 4,42% | 168,50 | 20,48 |
| MKNT | 190,91% | 6,58 | 12,40 |
| ASII | 4,17% | 86,94 | 9,99 |
| SMMA | 4,63% | 64,60 | 8,21 |
| CASA | 6,35% | 37,07 | 6,36 |
| INDF | 7,42% | 29,27 | 5,81 |
| ICBP | 15,53% | 14,34 | 5,54 |
| MDKA | 8,89% | 23,21 | 5,45 |
| BBNI | 2,41% | 48,43 | 3,27 |
| PGAS | 8,33% | 14,77 | 3,27 |
BBCA menjadi saham dengan kontribusi terbesar, baik dari sisi kenaikan harga maupun sumbangan poin indeks. Sementara itu, MKNT mencatat kenaikan harga paling tinggi dalam daftar tersebut, yakni 190,91%.
Meski demikian, kenaikan harga saham tidak selalu sebanding dengan kontribusi terhadap IHSG. Hal ini terlihat dari MKNT yang mengalami kenaikan sangat tinggi, tetapi kontribusi indeksnya masih berada di bawah BBCA.
Mayoritas Saham Mengalami Kenaikan, tetapi Kapitalisasi Pasar Tertekan
Menariknya, data pergerakan saham BEI menunjukkan bahwa jumlah saham yang mengalami kenaikan masih lebih banyak dibandingkan saham yang melemah.
Sepanjang pekan 2–6 November 2026, sebanyak 472 saham atau sekitar 49% dari saham yang tercatat dalam klasifikasi pergerakan harga mengalami kenaikan lebih dari 2%.
Sebanyak 107 saham atau 11% naik antara 0% hingga 2%. Sementara itu, 169 saham atau 18% tidak mengalami perubahan harga.
Di sisi lain, 61 saham atau 6% mengalami penurunan antara 0% hingga 2%, sedangkan 154 saham atau 16% terkoreksi lebih dari 2%.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa jumlah saham yang naik cukup besar. Namun, pengaruh saham-saham berkapitalisasi besar yang mengalami penurunan tetap dapat menekan IHSG.
Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa pergerakan mayoritas saham tidak selalu sejalan dengan arah indeks utama.
MKNT dan AIMS Pimpin Daftar Top Gainers
Dari sisi pergerakan harga individual, MKNT menjadi saham dengan kenaikan tertinggi selama periode perdagangan 2–6 November 2026.
Harga MKNT meningkat dari Rp11 menjadi Rp32 per saham, atau naik 190,91%. Posisi berikutnya ditempati AIMS yang menguat 125,96% dari Rp520 menjadi Rp1.175 per saham.
Baca: 10 Saham Paling Cuan dan Buntung Hari Ini (05/11/2026), BAJA Melonjak 34,72%, BSWD Anjlok 6,94%
TMPO berada di urutan berikutnya dengan kenaikan 56,99%, disusul YUPI yang menguat 51,20%.
10 Saham dengan Kenaikan Tertinggi
| Kode | Harga Pekan Lalu | Harga Pekan Ini | Kenaikan |
|---|---|---|---|
| MKNT | 11 | 32 | 190,91% |
| AIMS | 520 | 1.175 | 125,96% |
| TMPO | 186 | 292 | 56,99% |
| YUPI | 830 | 1.255 | 51,20% |
| BAJA | 152 | 184 | 21,05% |
| KINO | 1.300 | 1.570 | 20,77% |
| BOBA | 156 | 186 | 19,23% |
| AKPI | 510 | 600 | 17,65% |
| BREN | 1.795 | 2.110 | 17,55% |
| KSIX | 338 | 396 | 17,16% |
BLUE, PTSP, dan MORA Masuk Daftar Top Losers
Berbanding terbalik dengan saham-saham yang menguat, sejumlah saham mengalami penurunan harga cukup dalam.
BLUE menjadi saham dengan penurunan terbesar selama pekan tersebut. Harga saham BLUE turun dari Rp2.190 menjadi Rp1.535 atau melemah 29,91%.
PTSP berada di posisi berikutnya dengan penurunan 29,76%, sedangkan MORA terkoreksi 29,74%.
10 Saham dengan Penurunan Terdalam
| Kode | Harga Pekan Lalu | Harga Pekan Ini | Penurunan |
|---|---|---|---|
| BLUE | 2.190 | 1.535 | -29,91% |
| PTSP | 2.520 | 1.770 | -29,76% |
| MORA | 2.270 | 1.595 | -29,74% |
| SMLE | 234 | 165 | -29,49% |
| RSCH | 436 | 308 | -29,36% |
| BSML | 448 | 318 | -29,02% |
| PTSN | 366 | 260 | -28,96% |
| WBSA | 478 | 344 | -28,03% |
| TPMA | 360 | 260 | -27,78% |
| MMIX | 795 | 580 | -27,04% |
Saham GOTO Paling Ramai Diperdagangkan Berdasarkan Volume
Dari sisi aktivitas perdagangan, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi saham dengan volume transaksi terbesar selama pekan 2–6 November 2026.
Volume transaksi GOTO mencapai 41,70 miliar saham atau sekitar 26,65% dari total volume perdagangan saham yang tercatat dalam daftar tersebut.
Posisi berikutnya ditempati BUMI dengan volume 15,42 miliar saham, disusul KOTA, BNBR, dan ENRG.
10 Saham dengan Volume Perdagangan Terbesar
| Kode | Volume (juta saham) | Porsi |
|---|---|---|
| GOTO | 41.701 | 26,65% |
| BUMI | 15.418 | 9,85% |
| KOTA | 4.682 | 2,99% |
| BNBR | 4.366 | 2,79% |
| ENRG | 3.942 | 2,52% |
| DEWA | 3.328 | 2,13% |
| BRMS | 2.234 | 1,43% |
| BUVA | 2.171 | 1,39% |
| BHIT | 2.170 | 1,39% |
| IATA | 1.865 | 1,19% |
BBCA Memimpin Nilai dan Frekuensi Transaksi
Jika dilihat berdasarkan nilai transaksi, BBCA menjadi saham dengan nilai perdagangan terbesar selama pekan tersebut.
Nilai transaksi saham BBCA mencapai Rp5,999 triliun atau sekitar 10,87% dari total nilai perdagangan dalam daftar 10 saham teratas.
BBRI berada di posisi kedua dengan nilai transaksi Rp3,261 triliun, diikuti BMRI sebesar Rp2,915 triliun.
Berikutnya terdapat ENRG, TLKM, BUMI, ANTM, TPIA, ASII, dan AADI.
10 Saham dengan Nilai Transaksi Terbesar
| Kode | Nilai Transaksi | Porsi |
|---|---|---|
| BBCA | Rp5,999 triliun | 10,87% |
| BBRI | Rp3,261 triliun | 5,91% |
| BMRI | Rp2,915 triliun | 5,28% |
| ENRG | Rp2,243 triliun | 4,06% |
| TLKM | Rp2,082 triliun | 3,77% |
| BUMI | Rp1,858 triliun | 3,37% |
| ANTM | Rp1,546 triliun | 2,80% |
| TPIA | Rp1,243 triliun | 2,25% |
| ASII | Rp1,091 triliun | 1,98% |
| AADI | Rp1,072 triliun | 1,94% |
Dari sisi frekuensi transaksi, BBCA juga menempati posisi teratas dengan 207.000 kali transaksi. BBRI berada di urutan kedua dengan 203.000 kali transaksi, sedangkan BUMI mencatatkan 194.000 kali transaksi.
Hal ini memperlihatkan bahwa BBCA, BBRI, dan BMRI menjadi tiga saham perbankan yang memiliki aktivitas perdagangan cukup besar selama pekan tersebut.
IDX Sektor Energi Turun 5,01%, Teknologi Melemah 6,46%
Pergerakan indeks sektoral menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak terjadi secara merata. Dari 11 indeks sektor yang dicatat BEI, mayoritas mengalami penurunan selama pekan perdagangan ini.
Sektor teknologi menjadi sektor dengan koreksi terdalam, yakni 6,46%. Indeks sektor teknologi ditutup di level 4.447,576.
Sektor transportasi dan logistik juga mengalami penurunan sebesar 5,35%, diikuti sektor energi yang melemah 5,01%.
Selain itu, sektor properti dan real estat terkoreksi 4,35%, sedangkan sektor konsumer siklikal turun 4,04%.
Performa Seluruh Indeks Sektoral BEI
| Sektor | Penutupan | Perubahan |
|---|---|---|
| Energi | 2.300,222 | -5,01% |
| Barang Baku | 1.244,704 | -1,95% |
| Perindustrian | 1.242,681 | -1,22% |
| Konsumer Non-Siklikal | 599,926 | +0,85% |
| Konsumer Siklikal | 699,247 | -4,04% |
| Kesehatan | 1.247,789 | -3,01% |
| Keuangan | 1.214,108 | +1,33% |
| Properti dan Real Estat | 641,245 | -4,35% |
| Teknologi | 4.447,576 | -6,46% |
| Infrastruktur | 1.220,964 | -3,46% |
| Transportasi dan Logistik | 1.426,512 | -5,35% |
Hanya dua sektor yang berhasil mencatatkan penguatan, yakni sektor keuangan yang naik 1,33% dan konsumer non-siklikal sebesar 0,85%.
Penguatan sektor keuangan sejalan dengan kenaikan sejumlah saham perbankan besar, termasuk BBCA, BBNI, dan BBRI yang memberikan kontribusi positif terhadap indeks.
Sementara itu, sektor energi mengalami tekanan cukup besar. Kondisi tersebut sejalan dengan pelemahan sejumlah saham seperti BRPT, AADI, MEDC, PTBA, dan ENRG yang masuk dalam daftar pemberat IHSG.
Indeks LQ45 dan IDX30 Justru Menguat
Meski IHSG mengalami koreksi, beberapa indeks saham unggulan justru mencatatkan kinerja positif.
Indeks LQ45 meningkat 0,60% menjadi 518,279. Sementara itu, IDX30 naik 0,72% ke level 291,883.
IDX High Dividend 20 juga mengalami penguatan 0,66% menjadi 394,322. Indeks BUMN20 naik 0,68%, sedangkan IDX Growth30 menguat 0,16%.
Berikut perbandingan beberapa indeks utama BEI selama pekan perdagangan tersebut.
| Indeks | Penutupan | Perubahan |
|---|---|---|
| IHSG | 5.050,429 | -0,13% |
| LQ45 | 518,279 | +0,60% |
| IDX30 | 291,883 | +0,72% |
| IDX SMC Composite | 313,669 | -3,08% |
| IDX SMC Liquid | 245,819 | -2,80% |
| IDX High Dividend 20 | 394,322 | +0,66% |
| IDX BUMN20 | 279,489 | +0,68% |
| IDX80 | 75,072 | -0,28% |
Perbedaan kinerja tersebut memperlihatkan bahwa tekanan pasar tidak dirasakan secara merata oleh seluruh kelompok saham. Indeks yang berisi saham-saham unggulan tertentu masih mampu mencatatkan penguatan ketika IHSG bergerak melemah.
IHSG Tertinggal dari Sejumlah Bursa Asia Tenggara
Jika dibandingkan dengan beberapa bursa saham di kawasan Asia Tenggara, IHSG mencatatkan penurunan yang relatif kecil selama periode tersebut.
Indeks saham Filipina PSEi meningkat 1,44%, sedangkan FTSE Bursa Malaysia KLCI menguat 0,06%. Sebaliknya, VN-Index Vietnam turun 0,93%, SET Thailand melemah 3,48%, dan Straits Times Index Singapura terkoreksi 3,67%.
Perbandingan Kinerja Indeks ASEAN
| Negara | Indeks | Perubahan |
|---|---|---|
| Filipina | PSEi | +1,44% |
| Malaysia | KLCI | +0,06% |
| Indonesia | IHSG | -0,13% |
| Vietnam | VN-Index | -0,93% |
| Thailand | SET Index | -3,48% |
| Singapura | STI | -3,67% |
Dengan penurunan 0,13%, koreksi IHSG lebih kecil dibandingkan Thailand, Vietnam, dan Singapura. Namun, IHSG masih tertinggal dari Filipina dan Malaysia yang mencatatkan penguatan.
Kesimpulan Perdagangan Saham Pekan Ini
Perdagangan saham BEI periode 2–6 November 2026 memperlihatkan kondisi pasar yang cenderung tertekan, meskipun penurunan IHSG secara mingguan hanya sebesar 0,13%.
Beberapa indikator menunjukkan pelemahan yang lebih besar, mulai dari kapitalisasi pasar yang turun Rp119 triliun, rata-rata nilai transaksi harian yang menyusut 23%, hingga sejumlah indeks sektoral yang terkoreksi cukup dalam.
Investor asing juga masih mencatatkan net sell sebesar Rp167,11 miliar. Namun, jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan net sell Rp3,06 triliun pada pekan sebelumnya.
Dari sisi saham penggerak indeks, BBCA menjadi penopang terbesar dengan kontribusi positif 20,48 poin. Sebaliknya, BRPT menjadi pemberat utama dengan kontribusi negatif 15,98 poin.
Hal menarik lainnya adalah mayoritas saham dalam klasifikasi pergerakan harga BEI masih mengalami kenaikan. Namun, tekanan pada saham-saham tertentu yang memiliki pengaruh terhadap kapitalisasi pasar dan indeks membuat IHSG tetap berakhir di zona merah.
Seri Belajar Saham
- Apa Itu Trading? Pengertian, Cara Kerja, Jenis, Keuntungan dan Risikonya
- Cara Jual Beli Saham di Bursa Efek Indonesia untuk Pemula
- Cara Membaca Candlestick Saham: Panduan Lengkap untuk Pemula
- Apa Itu Volume Saham: Pengertian, Cara Membaca, dan Cara Menggunakannya
- Cara Menentukan Support dan Resistance Saham
- Pola Candlestick Saham yang Sering Digunakan Trader
- Moving Average Saham: Pengertian, Jenis, Cara Membaca, dan Cara Menggunakannya
- RSI dalam Analisis Saham: Pengertian, Cara Membaca, dan Cara Menggunakannya
- Chart Pattern Saham: Jenis dan Cara Membacanya
- False Breakout dan Bull Trap Saham: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya
- Breakout Saham: Pengertian, Ciri-Ciri, Cara Membaca, dan Strategi Trading
- 7 Aplikasi Trading Saham Terbaik di Indonesia
- 92 Daftar Kode Broker Asing dan Lokal Resmi di Indonesia
- Cara Memilih Broker Saham Terbaik di Indonesia dan Aman untuk Pemula
Sumber Data
Seluruh data perdagangan, pergerakan indeks, saham penggerak IHSG, transaksi investor asing, serta statistik pasar dalam artikel ini bersumber dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX Weekly Statistics periode 2–6 November 2026, diterbitkan Jumat, 6 November 2026.
Disclaimer: Informasi ini disajikan untuk tujuan edukasi dan pemberitaan pasar modal, bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham. Setiap keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

0 Comments
Posting Komentar