MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat pertumbuhan bisnis panas bumi, mulai dari peningkatan kapasitas pembangkit, pengembangan proyek baru, hingga penambahan porsi saham publik atau free float.
![]() |
| Pertamina Geothermal EnergyArea Ulubelu/PGEO |
Dalam Public Expose 2026 yang diselenggarakan pada 3 November 2026, manajemen PGEO mengungkapkan tengah mengkaji strategi peningkatan free float dari sekitar 11,2% pada akhir Oktober 2026 menjadi 15% pada akhir Maret 2028.
Selain itu, perseroan juga menargetkan proyek Ulubelu Bottoming Unit (BU) 1, 2, dan 3 dengan total kapasitas 30 megawatt (MW) mulai berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas terpasang pada 2027.
Public Expose tersebut dipaparkan oleh jajaran direksi PGEO dan dihadiri 417 peserta yang terdiri dari analis serta pemegang saham institusi dan individu melalui aplikasi Zoom.
PGEO Kaji Peningkatan Free Float Menjadi 15%
Salah satu perhatian investor dalam Public Expose 2026 adalah rencana peningkatan free float saham PGEO.
Baca: Rangkuman Q&A Public Expose ITMG 2026: Strategi Logistik, Divisi Nikel, hingga Prospek Dividen
Manajemen menjelaskan bahwa perseroan sedang mengkaji strategi untuk meningkatkan porsi saham publik dari sekitar 11,2% pada akhir Oktober 2026 menjadi 15% pada akhir Maret 2028.
Langkah tersebut berkaitan dengan upaya memenuhi ketentuan Bursa Efek Indonesia (BEI), memperluas basis investor, serta meningkatkan likuiditas perdagangan saham PGEO.
Isu ini juga muncul dalam sesi tanya jawab mengenai potensi penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Baca: Moving Average Saham: Pengertian, Jenis, Cara Membaca, dan Cara Menggunakannya
Manajemen mengakui perubahan klasifikasi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap arus investasi asing dan likuiditas saham. Namun, PGEO menyatakan tetap optimistis terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang.
Perseroan berharap peningkatan free float, fundamental operasional dan keuangan, serta komunikasi aktif dengan investor dapat mendukung daya tarik saham PGEO di kalangan investor domestik maupun internasional.
Siapkan Tambahan Kapasitas 30 MW dari Ulubelu
Dari sisi operasional, PGEO terus mendorong pengembangan proyek panas bumi untuk meningkatkan kapasitas terpasang.
Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah Ulubelu Bottoming Unit (BU) 1, 2, dan 3 dengan total kapasitas 30 MW.
Baca: Laba PT Vale Indonesia (INCO) Meroket 180% Jadi AS$147,1 juta hingga September 2026
Manajemen memiliki aspirasi agar proyek cogeneration tersebut mulai berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas terpasang pada 2027.
Meski demikian, PGEO menegaskan bahwa jadwal penyelesaian proyek masih akan dievaluasi secara berkala dengan mempertimbangkan perkembangan dan kesiapan pelaksanaan.
Perseroan menyatakan tetap mengutamakan keselamatan, keandalan operasional, serta kelayakan investasi dalam setiap tahapan pengembangan.
Selain proyek Ulubelu, PGEO telah mengantongi Power Purchase Agreement (PPA) untuk sejumlah proyek panas bumi dengan total kapasitas 300 MW.
Rinciannya sebagai berikut:
| Proyek | Kapasitas |
|---|---|
| Hululais Unit 1 & 2 | 110 MW |
| Kotamobagu Unit 1 & 2 | 64 MW |
| Lumut Balai Unit 3 | 55 MW |
| Lumut Balai Unit 4 | 55 MW |
| Kotamobagu Unit 3 & 4 | 16 MW |
| Total | 300 MW |
Perolehan PPA tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam pengembangan proyek karena berkaitan dengan kesepakatan penjualan listrik kepada pembeli.
PGEO Amankan Pinjaman US$477,9 Juta untuk Pengembangan Proyek
Untuk mendukung ekspansi kapasitas panas bumi, PGEO juga mengungkapkan telah memperoleh pembiayaan lunak atau concessional loan melalui Green Book 2026.
Terdapat tiga fasilitas pembiayaan yang disebutkan dalam Public Expose, yaitu:
| Proyek | Lembaga Pembiayaan | Nilai Pinjaman |
|---|---|---|
| Lumut Balai Unit 2 | JICA | US$158,9 juta |
| Lumut Balai Unit 4 | JICA | US$149 juta |
| Lahendong Unit 7–8 | World Bank | US$170 juta |
| Total | US$477,9 juta |
Manajemen menjelaskan bahwa pinjaman tersebut memiliki tingkat bunga kompetitif dan tenor panjang sehingga diharapkan dapat menopang keekonomian pengembangan kapasitas panas bumi.
Baca: 92 Daftar Kode Broker Asing dan Lokal Resmi di Indonesia
Sebelumnya, PGEO juga menyampaikan bahwa akses pembiayaan menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan energi panas bumi karena karakteristik bisnisnya yang padat modal dan memiliki risiko eksplorasi.
Kembangkan Green Data Center Berkapasitas 5 MW di Kamojang
Selain bisnis utama pembangkitan listrik panas bumi, PGEO mulai mengembangkan konsep beyond energy melalui rencana pemanfaatan energi panas bumi untuk mendukung pusat data ramah lingkungan atau green data center.
Saat ini, perseroan tengah mengembangkan proyek percontohan atau pilot project elektrifikasi green data center berkapasitas 5 MW di Kamojang.
Baca: ITMG (Indo Tambangraya Megah Tbk): Profil, Harga Saham, Dividen dan Laporan Keuangan
Menurut manajemen, karakteristik energi panas bumi yang mampu menyediakan listrik secara stabil selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu menjadi salah satu keunggulan untuk mendukung kebutuhan operasional pusat data.
PGEO menyebut pembangkit panas bumi memiliki capacity factor hingga sekitar 90%, sehingga berpotensi menjadi sumber pasokan listrik baseload bagi fasilitas tersebut.
Meski demikian, proyek 5 MW di Kamojang masih berada dalam tahap kajian dan evaluasi. Perseroan belum menetapkan jadwal realisasi maupun operasional karena masih mempertimbangkan hasil kajian dan kesiapan pengembangan.
Apabila proyek percontohan tersebut berhasil, PGEO berharap konsep serupa dapat dikembangkan di wilayah kerja potensial lainnya, seperti Lahendong dan Ulubelu.
Pendapatan Ulubelu Turun akibat Pemeliharaan Pembangkit
Dalam sesi tanya jawab, manajemen juga memberikan penjelasan mengenai penurunan pendapatan dari wilayah kerja Ulubelu.
PGEO menyebut penurunan tersebut terutama disebabkan oleh produksi yang turun 0,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan produksi dipengaruhi kegiatan pemeliharaan terjadwal selama 19 hari pada September 2026 di Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) milik PLN Indonesia Power (PLN IP).
Manajemen menjelaskan bahwa pemeliharaan tersebut merupakan kegiatan rutin untuk menjaga keandalan dan keamanan produksi.
Secara keseluruhan, produksi PGEO mencapai 1.218 GWh selama sembilan bulan pertama 2026 atau setara 75% dari target produksi sepanjang 2026 sebesar 1.618 GWh.
Capacity Factor Lumut Balai Tembus 102,30%
Sementara itu, PGEO juga menjelaskan pencapaian capacity factor Lumut Balai yang mencapai 102,30%.
Menurut manajemen, angka tersebut mencerminkan kemampuan pembangkit beroperasi di atas kapasitas nominal, tetapi masih berada dalam batas desain teknis yang mencapai sekitar 110%.
Batas tersebut juga memperhitungkan kebutuhan listrik internal pembangkit atau auxiliary power consumption (own use). Dengan demikian, capaian 102,30% tidak menunjukkan bahwa pembangkit beroperasi di luar batas desain.
Untuk menjaga keandalan fasilitas, PGEO secara konsisten menerapkan pemeliharaan preventif dan pemantauan peralatan.
Baca: Market Cap BBCA Anjlok Rp385 Triliun, Nilai Saham Djarum Turun Rp211 Triliun
Perseroan juga mengandalkan pemantauan reservoir secara berkala, optimalisasi produksi dan reinjeksi, serta pengeboran make-up well untuk mengompensasi penurunan produktivitas alami sumur.
Manajemen menyebut pengalaman pengelolaan reservoir selama lebih dari empat dekade, termasuk keberlanjutan operasi Kamojang sejak 1982, menjadi salah satu modal perseroan dalam menjaga produksi jangka panjang.
Jadwal Pemeliharaan Pembangkit PGEO pada 2027
Dalam Public Expose tersebut, PGEO turut memaparkan rencana pemeliharaan sejumlah wilayah operasi sepanjang 2027.
Berikut jadwal yang disampaikan manajemen:
| Wilayah Operasi | Jenis Pemeliharaan | Jadwal |
|---|---|---|
| Kamojang | Simple Inspection | April |
| Kamojang | Maintenance Outage | Februari, September, Oktober, Desember |
| Lahendong | Simple Inspection | September, Oktober |
| Lahendong | Maintenance Outage | Juni, Agustus, September, Oktober |
| Ulubelu | Minor Inspection | September |
| Ulubelu | Major Overhaul | Oktober |
| Ulubelu | Simple Inspection | November |
| Karaha | Minor Inspection | Juli |
| Lumut Balai | Maintenance Outage | Februari |
| Lumut Balai | Major Overhaul | Oktober |
Jadwal tersebut merupakan bagian dari strategi PGEO untuk menjaga keandalan dan mengoptimalkan kinerja pembangkit, sekaligus mendukung pencapaian target produksi pada 2027.
Manajemen Perkirakan Rasio Dividen Relatif Sejalan Tahun Sebelumnya
Terkait kebijakan dividen, manajemen menjelaskan bahwa sesuai prospektus perseroan, rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio dapat diusulkan hingga 50%.
Namun, realisasi pembagian dividen tetap mempertimbangkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), kinerja keuangan, kebutuhan investasi, dan keberlanjutan jangka panjang perusahaan.
Dengan mempertimbangkan kinerja keuangan dan likuiditas perseroan, manajemen memperkirakan rasio pembayaran dividen akan relatif sejalan dengan tahun sebelumnya.
Meski demikian, keputusan akhir tetap bergantung pada persetujuan pemegang saham.
Tantangan Pengembangan Panas Bumi Masih Berasal dari Tarif dan Pembiayaan
Dalam Public Expose, PGEO juga memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi untuk mempercepat pencapaian kapasitas terpasang 1 gigawatt (GW).
Pertama, struktur pasar dengan pembeli tunggal atau single-offtaker. PLN menjadi pembeli utama uap dan listrik panas bumi sehingga koordinasi mengenai jadwal proyek, kebutuhan, serta kesiapan infrastruktur menjadi penting.
Kedua, keekonomian proyek dan kerangka tarif. Menurut manajemen, tarif yang berlaku berpotensi menghasilkan tingkat pengembalian investasi atau IRR yang relatif kurang menarik di tengah tingginya investasi awal dan risiko eksplorasi.
Karena itu, PGEO terus mendorong peninjauan Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 agar kerangka tarif dapat lebih menarik bagi pengembang panas bumi.
Ketiga, akses terhadap pembiayaan kompetitif. Pengembangan panas bumi membutuhkan modal besar dengan jangka waktu pengembangan yang panjang. Perolehan pinjaman dari JICA dan World Bank melalui Green Book 2026 menjadi salah satu upaya perseroan mengatasi tantangan tersebut.
Keempat, kompleksitas pengembangan proyek, termasuk risiko eksplorasi, perizinan, kesiapan infrastruktur, dan panjangnya waktu pelaksanaan.
Manajemen menyatakan akan terus memperkuat kolaborasi antar-BUMN, mendorong penyempurnaan regulasi, menjaga disiplin alokasi modal, serta meningkatkan efektivitas pelaksanaan proyek.
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan materi Laporan Pelaksanaan Public Expose 2026 PT Pertamina Geothermal Energy Tbk yang dilaksanakan pada 3 November 2026. Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham PGEO. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing

0 Comments
Posting Komentar