MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — Pasar saham di kawasan Asia diperkirakan bergerak menguat pada perdagangan hari ini, didorong oleh kembali bergairahnya transaksi saham berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Wall Street. Di saat yang sama, para pelaku pasar global menanti secara cermat hasil Pemilihan Paruh Waktu (midterm elections) di Amerika Serikat (AS) yang berpotensi mengubah peta politik Washington.
![]() |
| Taiwan Stock Exchange Corporation. Fot: Wikipedia |
Indikasi penguatan terlihat dari pergerakan kontrak berjangka (futures) indeks saham Korea Selatan dan Taiwan. Sebaliknya, kontrak berjangka bursa Australia tercatat melorot, sementara bursa Jepang bergerak cenderung mereda tipis seiring kembalinya para investor domestik pascalibur nasional.
Sentimen positif bursa global ditopang oleh pemulihan tajam pada saham-saham produsen cip AS. Indeks Philadelphia Semiconductor melesat 2,6%, membalikkan posisi setelah sebelumnya diterpa aksi jual masif akibat kecemasan pasar terhadap membengkaknya anggaran belanja AI. Pemulihan sektor semi-konduktor ini turut mendongkrak indeks berbasis teknologi Nasdaq 100 sebesar 0,7%.
Optimisme pasar kian tebal setelah dua raksasa teknologi, Super Micro Computer Inc. dan Advanced Micro Devices Inc. (AMD), secara bersamaan merilis proyeksi pendapatan yang melampaui estimasi konsensus pasar. Sementara itu, Meta Platforms Inc. juga mencatatkan serapan permintaan yang kuat atas penerbitan obligasi pertamanya dalam enam bulan terakhir.
Sorotan Pemilu AS dan Efek Kebijakan The Fed
Fokus utama investor global kini tertuju pada jalannya penghitungan suara midterm elections di AS. Berdasarkan data platform prediksi Polymarket, Partai Demokrat berpeluang besar menyapu bersih kendali legislatif, dengan probabilitas sekitar 95% untuk menguasai House of Representatives (DPR AS) serta 77% probabilitas memenangkan Senat.
"Hasil pemilu dapat menjadi momentum penting untuk mengikis sebagian ketidakpastian pasar. Meski demikian, dinamika perkembangan AI dan risiko geopolitik tetap menjadi kemudi utama yang menggerakkan pasar menjelang penghujung tahun ini," ungkap Angelo Kourkafas, Analis dari Edward Jones, dikutip dari Bloomberg.
Baca:
- IHSG Anjlok 3,49% ke 5.098, Investor Asing Net Sell Rp1,08 Triliun
- Market Cap BBCA Anjlok Rp385 Triliun, Nilai Saham Djarum Turun Rp211 Triliun
- Net Sell Asing BEI Capai Rp6,67 Triliun Periode 19-23 Oktober 2026
- Binance Diretas US$6 Miliar, Korut Buka Suara Bantah Tudingan FBI
- Terseret Isu Manipulasi Indeks MSCI, Barito Renewables (BREN) Buka Suara dan Bantah Tudingan Pompa Saham
Di sisi ekonomi makro, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) mencatatkan kenaikan seiring menguatnya indikator pasar tenaga kerja AS. Data terbaru menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS secara tak terduga melonjak pada September ke level tertinggi dalam empat bulan terakhir, disusul angka pemutusan hubungan kerja (PHK) yang merosot ke level terendah sejak Maret 2025.
Kondisi pasar tenaga kerja AS yang solid memberikan keleluasaan lebih bagi Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), untuk terus mengawal laju inflasi pascamenahan suku bunga acuan pada pekan lalu.
Komoditas Minyak & Sinyal Geopolitik AS-Iran
Dari pasar komoditas, harga minyak mentah jenis Brent bergerak stabil di kisaran US$104 per barel. Pelaku pasar terus mencermati sinyal berfluktuasi dari negosiasi perdamaian antara Washington dan Teheran menyusul serangan udara terbatas AS sebelumnya. Kedua pihak dilaporkan tengah mengkaji draf proposal perdamaian baru yang disodorkan tim mediator demi mencegah risiko pecahnya perang berskala penuh di Timur Tengah.
Disclaimer: Artikel ini merupakan konten jurnalistik dari mediasaham.com yang bertujuan memberikan informasi, bukan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual saham tertentu. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dan mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

0 Comments
Posting Komentar