Laba Bersih Unilever Q3 2025 Naik 10,8%, Tapi Apakah Pertumbuhannya Nyata?
Jakarta, Mediasaham.com — PT Unilever Indonesia Tbk (IDX: UNVR) menutup sembilan bulan pertama tahun 2025 dengan kinerja keuangan yang solid di permukaan. Perusahaan membukukan laba bersih Rp3,33 triliun, naik 10,8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp3,01 triliun.
Namun di balik kenaikan laba tersebut, tidak ada lonjakan penjualan signifikan. Pertumbuhan laba ini lebih disebabkan oleh efisiensi biaya, bukan peningkatan permintaan pasar.
Laba Naik, tapi Bukan karena Penjualan — Artinya Pertumbuhan Belum Organik
Laba bersih Unilever naik +10,8%, namun penjualan hanya naik +0,7%.
Dengan kata lain, kenaikan laba berasal dari pemangkasan biaya, bukan dari peningkatan daya saing atau ekspansi pasar.
Pendapatan bersih hanya naik Rp196 miliar dari Rp27,42 triliun menjadi Rp27,61 triliun — sangat kecil untuk skala Unilever.
Beban pokok penjualan pun naik sebanding, sehingga laba kotor hanya naik 0,8%.
Jadi, secara bisnis, tidak ada dorongan permintaan signifikan dari pasar.
Pendapatan Stagnan, Margin Didorong Efisiensi
Penjualan bersih Unilever hanya meningkat +0,7% menjadi Rp27,61 triliun dibanding Rp27,42 triliun pada 2024.
Kenaikan tipis ini menandakan pasar barang konsumsi cepat saji (FMCG) domestik masih bergerak datar, di tengah ketatnya kompetisi harga dan perubahan perilaku konsumen.
Meski pendapatan hampir tidak berubah, laba usaha melonjak 13,8% menjadi Rp4,45 triliun berkat pemangkasan biaya pemasaran dan penjualan secara besar-besaran. Total beban tersebut turun dari Rp6,88 triliun menjadi Rp6,45 triliun, atau efisiensi Rp421,7 miliar (-6,1%).
Rincian dan Selisih Beban Pemasaran & Penjualan
Bagian yang Dipangkas: Dari Iklan hingga Konsultan Eksternal
Analisis laporan keuangan menunjukkan beberapa area efisiensi utama yang mendorong kenaikan margin laba:
Iklan dan riset pasar turun Rp216,5 miliar (-8,2%), seiring pergeseran dari kampanye televisi ke promosi digital yang lebih terukur.
Remunerasi dan imbalan kerja berkurang Rp171,6 miliar (-20,7%), mencerminkan optimalisasi tenaga lapangan dan efisiensi struktur organisasi.
Jasa konsultan eksternal turun drastis Rp59,1 miliar (-64,2%), mengindikasikan pengurangan ketergantungan terhadap pihak ketiga.
Biaya distribusi dan promosi turun Rp74,6 miliar secara total, menandakan rantai pasok dan logistik yang lebih efisien.
Namun, beberapa pos seperti biaya perjalanan dan kegiatan promosi tatap muka justru naik Rp33,4 miliar (+18,5%), mencerminkan normalisasi aktivitas lapangan pascapandemi.
Efisiensi Meningkatkan Margin, Tapi Bukan Pertumbuhan Organik
Secara operasional, efisiensi ini meningkatkan margin laba usaha dari 14,3% menjadi 16,1% — pencapaian yang patut diapresiasi dari sisi manajemen keuangan.
Namun secara bisnis, kenaikan laba tanpa pertumbuhan penjualan bukan cerminan peningkatan daya saing pasar.
Dalam industri FMCG, di mana merek dan distribusi menjadi ujung tombak, pemangkasan belanja iklan dan promosi berisiko menggerus brand awareness dalam jangka menengah.
Jika efisiensi dilakukan terlalu agresif, kompetitor seperti Wings, P&G, dan pemain lokal berpotensi merebut pangsa pasar melalui strategi harga dan promosi yang lebih agresif.
Tantangan: Bertahan di Tengah Dinamika Konsumen Baru
Pasar FMCG Indonesia kini menghadapi perubahan besar. Konsumen lebih sensitif terhadap harga dan cenderung memilih produk value-for-money atau merek lokal dengan inovasi cepat.
Selain itu, pertumbuhan penjualan melalui e-commerce membuat persaingan semakin tajam, menuntut kecepatan inovasi dan kehadiran digital yang kuat.
Unilever tampaknya memilih strategi konservatif — menjaga margin dengan efisiensi — daripada ekspansi agresif. Strategi ini efektif di jangka pendek, namun tidak menjamin pertumbuhan jangka panjang jika tidak diimbangi inovasi produk dan penetrasi saluran digital yang lebih dalam.
Kesimpulan: Laba Naik, Tapi Belum Menang di Pasar
Kinerja Unilever Indonesia tahun 2025 menggambarkan laba yang tumbuh karena efisiensi, bukan karena pertumbuhan permintaan. Manajemen berhasil mengendalikan biaya, memperkuat margin, dan menjaga profitabilitas di tengah pasar yang stagnan. Namun, dari sisi daya saing, perusahaan belum menunjukkan momentum baru dalam memperluas pangsa pasar.
Dengan persaingan yang makin ketat di segmen FMCG dan perilaku konsumen yang berubah cepat, tantangan Unilever berikutnya bukan lagi sekadar menjaga efisiensi, tapi mengembalikan pertumbuhan penjualan dan relevansi merek di tengah generasi konsumen digital.
Disclaimer: Informasi hanya untuk edukasi, bukan rekomendasi investasi. Analisis ini tidak bertujuan untuk mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Penulis: Adit Saputra - Mediasaham Research
.jpg)