Aset BCA Tembus Rp1.586 Triliun, Kredit Jadi Penopang Utama

Aset BCA Tembus Rp1.586 Triliun, Kredit Jadi Penopang Utama

Aset BCA

Mediasaham.com – PT Bank Central Asia Tbk (IDX: BBCA) bersama entitas anak mencatat pertumbuhan aset konsolidasian tahun 2025. Berdasarkan laporan keuangan tahun 2025  diaudit), total aset bank swasta terbesar di Indonesia ini mencapai Rp1.586,8 triliun. Angka tersebut meningkat 9,49% dibandingkan posisi akhir 2024 yang senilai Rp1.449,3 triliun (diaudit).

I. Ringkasan Eksekutif

Total Aset Konsolidasian BCA pada akhir tahun 2025 tercatat sebesar Rp 1.586,8 triliun, meningkat sebesar Rp 137,5 triliun atau 9,49% dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp 1.449,3 triliun. Pertumbuhan ini didorong secara signifikan oleh ekspansi kredit yang diberikan dan peningkatan portofolio efek investasi.

II. Tabel Perbandingan Aset (Year-on-Year) Bank BCA

Pos Akun Aset 31 Des 2025 (Juta Rp) 31 Des 2024 (Juta Rp) Kenaikan / (Penurunan) (Rp) % Perubahan
Aset Lancar & Kas
Kas 25.305.031 29.315.878 (4.010.847) -13,68%
Giro pada Bank Indonesia 47.768.278 36.408.142 11.360.136 31,20%
Giro pada bank lain 5.331.638 4.097.199 1.234.439 30,13%
Penempatan pada BI & Bank lain 9.813.541 15.714.884 (5.901.343) -37,55%
Aset Keuangan & Investasi
Aset keuangan (FVTPL) 35.320.959 21.524.617 13.796.342 64,10%
Efek dibeli janji dijual kembali 5.285.513 1.449.562 3.835.951 264,63%
Efek untuk tujuan investasi 409.421.000 371.151.957 38.269.043 10,31%
Pinjaman (Kredit) & Pembiayaan
Kredit yang diberikan 940.481.200 868.686.210 71.794.990 8,27%
Tagihan Akseptasi 9.494.630 9.621.047 (126.417) -1,31%
Wesel tagih 11.825.095 8.891.769 2.933.326 32,99%
Piutang pembiayaan konsumen 8.953.987 9.435.564 (481.577) -5,10%
Piutang sewa pembiayaan 8.005 51.042 (43.037) -84,32%
Aset dari transaksi syariah 12.698.160 10.206.637 2.491.523 24,41%
Aset Lainnya
Biaya dibayar dimuka 1.713.699 969.926 743.773 76,68%
Pajak dibayar dimuka 77.001 1.562.175 (1.485.174) -95,07%
Aset Tetap 28.473.684 28.250.624 223.060 0,79%
Aset Takberwujud 1.778.772 1.805.639 (26.867) -1,49%
Aset Pajak Tangguhan 5.852.206 5.495.208 356.998 6,50%
Aset Lain-lain 27.226.137 24.663.248 2.562.889 10,39%
TOTAL ASET 1.586.828.536 1.449.301.328 137.527.208 9,49%

III. Analisa Kenaikan Signifikan (Top Growth Drivers)

  1. Kredit yang Diberikan (+Rp 71,79 Triliun / 8,27%)
    Ini adalah penyumbang angka kenaikan terbesar dalam neraca. Pertumbuhan kredit sebesar 8,27% menunjukkan fungsi intermediasi bank berjalan sangat baik dan adanya peningkatan permintaan kredit dari nasabah.
  2. Efek-efek untuk Tujuan Investasi (+Rp 38,27 Triliun / 10,31%)
    Bank meningkatkan penempatan dana pada surat berharga/obligasi secara signifikan. Ini mengindikasikan strategi bank untuk mengamankan yield (imbal hasil) dari dana pihak ketiga yang belum tersalurkan ke kredit.
  3. Aset Keuangan Diukur pada Nilai Wajar Melalui Laba Rugi (+Rp 13,8 Triliun / 64,10%)
    Kenaikan tajam sebesar 64% menunjukkan bank lebih agresif dalam trading surat berharga jangka pendek atau instrumen keuangan likuid lainnya untuk memaksimalkan pendapatan non-bunga.
  4. Giro pada Bank Indonesia (+Rp 11,36 Triliun / 31,20%)
    Peningkatan simpanan di BI menunjukkan likuiditas bank yang sangat melimpah, kemungkinan untuk memenuhi ketentuan GWM (Giro Wajib Minimum) seiring naiknya Dana Pihak Ketiga (DPK) atau persiapan likuiditas akhir tahun.
  5. Efek Dibeli dengan Janji Dijual Kembali / Reverse Repo (+264,63%)
    Meskipun nilainya relatif kecil dibanding total aset, kenaikan persentase sebesar 264% mengindikasikan aktivitas manajemen likuiditas jangka pendek yang sangat aktif di pasar uang antar bank pada akhir tahun 2025.

IV. Analisa Penurunan Signifikan

  1. Pajak Dibayar Dimuka (-Rp 1,48 Triliun / -95,07%)
    Penurunan drastis ini mengindikasikan bahwa saldo pajak dibayar dimuka (seperti PPh 25) telah dikreditkan atau direstitusi terhadap kewajiban pajak tahun berjalan, atau bank membayar pajak lebih mendekati realisasi beban pajak aktual.
  2. Penempatan pada Bank Indonesia & Bank Lain (-Rp 5,9 Triliun / -37,55%)
    Bank tampaknya memindahkan dana dari penempatan antar-bank (yang mungkin bunganya rendah) ke instrumen yang lebih menguntungkan seperti Aset Keuangan (FVTPL) atau Obligasi (Efek Investasi).
  3. Kas (-Rp 4,01 Triliun / -13,68%)
    Penurunan uang tunai fisik di brankas/ATM adalah hal wajar seiring dengan tren digitalisasi perbankan, di mana nasabah lebih sedikit menarik uang tunai, dan bank melakukan efisiensi pengelolaan uang tunai (cash management).
  4. Piutang Sewa Pembiayaan (-84,32%)
    Penurunan tajam dari Rp 51 Miliar menjadi hanya Rp 8 Miliar menunjukkan portofolio bisnis finance lease sedang menyusut drastis, kemungkinan karena pelunasan yang tidak diikuti dengan penyaluran pembiayaan sewa baru.

V. Kesimpulan

Secara umum, posisi keuangan BCA pada tahun 2025 menunjukkan kondisi yang sangat sehat dan ekspansif. Bank berhasil mengalihkan aset-aset likuid yang memberikan imbal hasil rendah (seperti Kas dan Penempatan Bank Lain) menjadi aset produktif (Kredit dan Surat Berharga) yang tumbuh signifikan. Penurunan pada pos pajak dibayar dimuka dan sewa pembiayaan bersifat spesifik dan tidak mengganggu stabilitas total aset yang tumbuh hampir 10%.

Laba Bersih Bank BCA Tahun 2025 Rp 57,53 triliun, Meningkat 4,93%

Laba Bersih Bank BCA Tahun 2025 Rp 57,53 triliun, Meningkat 4,93%

Logo Bank BCA


Laba bersih Bank BCA (BBCA) Tahun 2025 yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 57,53 triliun. Sejalan dengan kenaikan laba tersebut, laba bersih per saham (Earning Per Share/EPS) BBCA juga mengalami kenaikan menjadi Rp 467 per lembar saham.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian auditan terbaru, laba bersih Bank BCA (BBCA) Tahun 2025 tersebut naik sebesar 4,93% dibandingkan laba bersih tahun 2024.

Bagi Anda yang baru belajar saham, angka-angka di atas bukan sekadar statistik. Laba bersih dan EPS adalah indikator utama apakah perusahaan tempat Anda menanam modal mampu mencetak keuntungan yang bertumbuh atau tidak. Mari kita bedah lebih dalam laporan keuangan BBCA per 31 Desember 2025 ini untuk melihat apakah "Raja Bank Swasta" ini masih layak disebut sebagai mesin pencetak uang yang efisien.

Laba Bersih BCA November 2025 Tembus Rp52,6 Triliun di Tengah Penguatan CASA

Laba Bersih BCA November 2025 Tembus Rp52,6 Triliun di Tengah Penguatan CASA

Logo bank BCA

JAKARTA, Mediasaham.com – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kembali menunjukkan taji sebagai pemimpin pasar perbankan di Indonesia. Berdasarkan laporan posisi keuangan (individual) yang berakhir pada 30 November 2025 Laba Bersih BCA tembus Rp52,6 Triliun. BCA berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja yang solid, baik dari sisi aset, penyaluran kredit, hingga profitabilitas.

Keberhasilan ini didorong oleh strategi digitalisasi yang kuat serta manajemen risiko yang prudent di tengah dinamika ekonomi global. Berikut adalah bedah tuntas performa keuangan BCA periode November 2025 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024.

Pertumbuhan Aset dan Dominasi Dana Murah (CASA)

Hingga November 2025, total aset BCA tercatat mencapai Rp1.527,2 triliun, tumbuh sebesar 7,9% (YoY) dari posisi Rp1.415,4 triliun pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan penyaluran kredit sebesar 5,19% menjadi Rp921,2 triliun dan kenaikan signifikan pada penempatan surat berharga yang mencapai Rp436,5 triliun.

Dari sisi liabilitas, kepercayaan nasabah tetap menjadi mesin utama pertumbuhan bank. Hal ini tercermin dari kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK), khususnya pada komponen dana murah (CASA):

  • Giro: Tumbuh pesat menjadi Rp418,9 triliun dari sebelumnya Rp363,1 triliun.
  • Tabungan: Meningkat menjadi Rp594,2 triliun dibandingkan Rp551,7 triliun pada 2024.
  • Deposito: Mengalami sedikit penyusutan menjadi Rp186,6 triliun dari Rp194,6 triliun.
Darma Henwa (DEWA) Peroleh Kredit Rp1 Triliun dari BCA, Fokus Ambil Alih Proyek KPC & Arutmin

Darma Henwa (DEWA) Peroleh Kredit Rp1 Triliun dari BCA, Fokus Ambil Alih Proyek KPC & Arutmin

Darma Henwa (DEWA) Raih Fasilitas Kredit Rp1 Triliun dari BCA, Siap Ekspansi Alat Berat! | Mediasaham.com
alat berat
Alat berat PT Darma Henwa Tbk DEWA proyek pertambangan. Darma Henwa


Langkah strategis ini diambil Perseroan untuk memperkuat struktur permodalan guna mendukung peningkatan volume pekerjaan di sejumlah proyek raksasa serta melakukan peremajaan armada alat berat.

BCA Bagikan Dividen Interim Rp55 per Saham, Total Rp6,77 Triliun untuk Tahun Buku 2025

BCA Bagikan Dividen Interim Rp55 per Saham, Total Rp6,77 Triliun untuk Tahun Buku 2025

dividen bbca
Ilustrasi Dividen Bank BCA. Radit M. / Mediasaham.com

 

Mediasaham.com, Jakarta — PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) resmi menetapkan pembagian dividen interim tunai untuk tahun buku 2025 dengan nilai total Rp6,77 triliun. Keputusan ini diambil oleh Direksi dan telah memperoleh persetujuan Dewan Komisaris pada 24 November 2025.

Dividen tersebut setara dengan 15,6% dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk hingga kuartal III-2025, yaitu Rp43,40 triliun. Perseroan menetapkan dividen interim sebesar Rp55 per saham, meningkat 10% dibanding periode yang sama tahun 2024 sebesar Rp 50 per lembar saham.

Baca: 400+ Daftar Saham Bagi Dividen Tahun 2025: Cek Jadwal dan Dividen Per Lembar

Berdasarkan harga penutupan saham BBCA pada Senin (25/11/2025) di Rp8.500, dividen interim ini memberikan dividend yield sekitar 0,64%.

Bank Central Asia Tbk (BBCA): Profil BCA, Dividen, Laporan Keuangan, dan Perkembangan Terbaru

Bank Central Asia Tbk (BBCA): Profil BCA, Dividen, Laporan Keuangan, dan Perkembangan Terbaru

Bank BCA

Profil Bank Central Asia Tbk (BCA)

Bank BCA adalah salah satu bank swasta terbesar di Indonesia yang berfokus pada layanan perbankan ritel dan korporasi. Dikenal dengan jaringan luas dan sistem transaksi digital yang andal, BCA memiliki reputasi sebagai bank dengan pelayanan nasabah terbaik di Indonesia.

BCA telah menjadi pionir dalam inovasi digital banking seperti BCA Mobile, KlikBCA, dan myBCA, yang menjadikannya pemimpin di sektor layanan perbankan berbasis teknologi.

BCA Catat Laba Bersih Rp43,4 Triliun di 9 Bulan 2025, Kredit Tumbuh 7,6% Didukung Likuiditas Kuat

BCA Catat Laba Bersih Rp43,4 Triliun di 9 Bulan 2025, Kredit Tumbuh 7,6% Didukung Likuiditas Kuat

 

Logo BCA

Mediasaham.com, Jakarta 21 Oktober 2025 — PT Bank Central Asia Tbk (IDX: BBCA) menutup sembilan bulan pertama tahun 2025 dengan kinerja solid. Perseroan dan entitas anak membukukan pertumbuhan kredit sebesar 7,6% secara tahunan (YoY) menjadi Rp944 triliun per akhir September 2025. Pertumbuhan tersebut ditopang ekspansi kredit berkualitas dan likuiditas yang tetap terjaga.

Laba bersih konsolidasian naik 5,7% YoY menjadi Rp43,4 triliun, sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 7,0% YoY, didorong oleh dana murah (CASA) yang menjadi basis utama pendanaan BCA.

“Penyaluran kredit yang terjaga di berbagai segmen hingga September mencerminkan komitmen BCA dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, dalam keterangan resmi, Senin (20/10).

Laba Bersih BCA Naik 8,5% Jadi Rp39,06 triliun Hingga Agustus 2025

Laba Bersih BCA Naik 8,5% Jadi Rp39,06 triliun Hingga Agustus 2025

My BCA

Mediasaham.com – Bank Central Asia Tbk (IDX: BBCA) kembali membukukan kinerja positif sepanjang delapan bulan pertama tahun 2025. Berdasarkan laporan keuangan Bank BCA untuk periode 8 bulan pertama 2025, laba bersih BCA per 31 Agustus 2025 tercatat Rp39,06 triliun, naik 8,5 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp35,99 triliun.

Pertumbuhan ini ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang meningkat menjadi Rp53,12 triliun, naik 5,1 % dibanding Agustus 2024 sebesar Rp50,55 triliun. Pendapatan bunga BCA mencapai Rp61,38 triliun, tumbuh 5,3 % dari tahun lalu Rp58,27 triliun. Beban bunga juga naik 7,0 % menjadi Rp8,27 triliun, namun efisiensi pendanaan lewat dominasi dana murah tetap menjaga margin bunga.

 Baca
1. Kamus Istilah Saham A–Z: Cocok untuk Investor Pemula
2. 
Cara Investasi Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap, Aman dan Menguntungkan
3. Cara Memilih Broker Saham Terbaik di Indonesia dan Aman untuk Pemula
4. 7 Aplikasi Trading Saham Terbaik di Indonesia ( Update Oktober 2025)

Di luar bunga, pendapatan non-bunga BCA juga mencatat pertumbuhan signifikan. Pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi meningkat 7,6 % menjadi Rp12,61 triliun. Lonjakan besar terlihat pada pendapatan dividen yang naik hampir dua kali lipat, dari Rp1,11 triliun menjadi Rp2,20 triliun. Pendapatan lainnya juga naik hampir 99 %, sementara keuntungan dari transaksi derivatif melonjak 128,8 %. Namun, beban impairment (cadangan kerugian penurunan nilai aset) ikut naik tajam 106,8 % menjadi Rp2,66 triliun.

Berita Terbaru

    Laporan Keuangan

      Dividen Saham