Terapkan Strategi 'Back to Core', PTPP Amankan Kontrak Baru EPC Senilai Rp 400 Miliar

Terapkan Strategi 'Back to Core', PTPP Amankan Kontrak Baru EPC Senilai Rp 400 Miliar

MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — Emiten konstruksi dan investasi milik BUMN di bawah naungan Danantara Indonesia, PT PP (Persero) Tbk (PTPP), kembali memperkuat posisi bisnisnya di sektor infrastruktur industri. PTPP resmi mengantongi proyek anyar setelah meraih kepercayaan dari PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) untuk mengerjakan proyek Engineering, Procurement, and Construction (EPC) Dermaga 11 senilai Rp400 miliar.

Engineering, Procurement, and Construction (EPC) 

Berdasarkan keterangan resminya pada Selasa (3/11/2026), proyek ini berlokasi di sisi timur Dermaga Tursina dalam kawasan industri Pupuk Kaltim di Bontang, Kalimantan Timur. PTPP ditargetkan menyelesaikan pekerjaan ini dalam kurun waktu 570 hari kalender, terhitung sejak 18 September 2026.

Lingkup pekerjaan proyek EPC ini mencakup pembangunan dermaga multiguna, struktur pendukung, sistem conveyor, hingga instalasi peralatan mobile ship loader. Dermaga 11 dirancang khusus untuk melayani fasilitas bongkar muat kapal pengangkut material curah padat berkapasitas besar hingga 40.000 Deadweight Tonnage (DWT).

Hadirnya dermaga baru ini diproyeksikan bakal memperlancar rantai pasok dan distribusi material di kawasan industri Pupuk Kaltim, sekaligus menopang pemenuhan kebutuhan Soda Ash nasional serta pengembangan ekosistem industrinya di Indonesia.

Bursa Asia Siap Menguat Disorong Reli Saham Teknologi & Dinamika Pemilu Paruh Waktu AS

Bursa Asia Siap Menguat Disorong Reli Saham Teknologi & Dinamika Pemilu Paruh Waktu AS

MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — Pasar saham di kawasan Asia diperkirakan bergerak menguat pada perdagangan hari ini, didorong oleh kembali bergairahnya transaksi saham berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Wall Street. Di saat yang sama, para pelaku pasar global menanti secara cermat hasil Pemilihan Paruh Waktu (midterm elections) di Amerika Serikat (AS) yang berpotensi mengubah peta politik Washington.

Taiwan Stock Exchange Corporation. Fot: Wikipedia

Indikasi penguatan terlihat dari pergerakan kontrak berjangka (futures) indeks saham Korea Selatan dan Taiwan. Sebaliknya, kontrak berjangka bursa Australia tercatat melorot, sementara bursa Jepang bergerak cenderung mereda tipis seiring kembalinya para investor domestik pascalibur nasional.

Sentimen positif bursa global ditopang oleh pemulihan tajam pada saham-saham produsen cip AS. Indeks Philadelphia Semiconductor melesat 2,6%, membalikkan posisi setelah sebelumnya diterpa aksi jual masif akibat kecemasan pasar terhadap membengkaknya anggaran belanja AI. Pemulihan sektor semi-konduktor ini turut mendongkrak indeks berbasis teknologi Nasdaq 100 sebesar 0,7%.

Optimisme pasar kian tebal setelah dua raksasa teknologi, Super Micro Computer Inc. dan Advanced Micro Devices Inc. (AMD), secara bersamaan merilis proyeksi pendapatan yang melampaui estimasi konsensus pasar. Sementara itu, Meta Platforms Inc. juga mencatatkan serapan permintaan yang kuat atas penerbitan obligasi pertamanya dalam enam bulan terakhir.

Sorotan Pemilu AS dan Efek Kebijakan The Fed

Fokus utama investor global kini tertuju pada jalannya penghitungan suara midterm elections di AS. Berdasarkan data platform prediksi Polymarket, Partai Demokrat berpeluang besar menyapu bersih kendali legislatif, dengan probabilitas sekitar 95% untuk menguasai House of Representatives (DPR AS) serta 77% probabilitas memenangkan Senat.

"Hasil pemilu dapat menjadi momentum penting untuk mengikis sebagian ketidakpastian pasar. Meski demikian, dinamika perkembangan AI dan risiko geopolitik tetap menjadi kemudi utama yang menggerakkan pasar menjelang penghujung tahun ini," ungkap Angelo Kourkafas, Analis dari Edward Jones, dikutip dari Bloomberg.

Baca:

  1. IHSG Anjlok 3,49% ke 5.098, Investor Asing Net Sell Rp1,08 Triliun
  2. Market Cap BBCA Anjlok Rp385 Triliun, Nilai Saham Djarum Turun Rp211 Triliun
  3. Net Sell Asing BEI Capai Rp6,67 Triliun Periode 19-23 Oktober 2026
  4. Binance Diretas US$6 Miliar, Korut Buka Suara Bantah Tudingan FBI
  5. Terseret Isu Manipulasi Indeks MSCI, Barito Renewables (BREN) Buka Suara dan Bantah Tudingan Pompa Saham

Di sisi ekonomi makro, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) mencatatkan kenaikan seiring menguatnya indikator pasar tenaga kerja AS. Data terbaru menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS secara tak terduga melonjak pada September ke level tertinggi dalam empat bulan terakhir, disusul angka pemutusan hubungan kerja (PHK) yang merosot ke level terendah sejak Maret 2025.

Kondisi pasar tenaga kerja AS yang solid memberikan keleluasaan lebih bagi Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), untuk terus mengawal laju inflasi pascamenahan suku bunga acuan pada pekan lalu.

Komoditas Minyak & Sinyal Geopolitik AS-Iran

Dari pasar komoditas, harga minyak mentah jenis Brent bergerak stabil di kisaran US$104 per barel. Pelaku pasar terus mencermati sinyal berfluktuasi dari negosiasi perdamaian antara Washington dan Teheran menyusul serangan udara terbatas AS sebelumnya. Kedua pihak dilaporkan tengah mengkaji draf proposal perdamaian baru yang disodorkan tim mediator demi mencegah risiko pecahnya perang berskala penuh di Timur Tengah.

Disclaimer: Artikel ini merupakan konten jurnalistik dari mediasaham.com yang bertujuan memberikan informasi, bukan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual saham tertentu. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dan mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

Terseret Isu Manipulasi Indeks MSCI, Barito Renewables (BREN) Buka Suara dan Bantah Tudingan Pompa Saham

Terseret Isu Manipulasi Indeks MSCI, Barito Renewables (BREN) Buka Suara dan Bantah Tudingan Pompa Saham

MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), salah satu emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI), akhirnya angkat bicara merespons sorotan tajam publik dan pemberitaan media internasional terkait dugaan rekayasa volume perdagangan demi mengamankan posisi dalam indeks global MSCI Inc.

Melalui keterangan resminya pada Selasa, manajemen BREN secara tegas membantah seluruh tudingan yang menyebutkan bahwa perseroan terlibat dalam upaya penggelembungan harga maupun volume perdagangan saham (volume inflation).

Ilustrasi manajemen perusahaan bantah pompa saham. Adit Saputra/Mediasaham.com

"Perusahaan tidak pernah menginstruksikan, melibatkan, ataupun membayar perusahaan sekuritas mana pun untuk menggelembungkan volume perdagangan atau harga sahamnya, serta tidak terlibat dalam kampanye apa pun untuk melakukan hal tersebut," tegas manajemen BREN dalam pernyataan resminya.

Lebih lanjut, emiten energi bersih milik konglomerat Prajogo Pangestu ini menekankan bahwa seluruh pergerakan harga saham di pasar sekunder murni terjadi melalui mekanisme pasar yang wajar. Menurut perseroan, fluktuasi harga saham sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor fundamental eksternal, mulai dari dinamika permintaan investor, tingkat likuiditas pasar, hingga kondisi makroekonomi yang berlaku.

"Dinamika pasar yang lebih luas ini merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam memahami pergerakan harga di pasar modal Indonesia," tambah manajemen.

Stockbit Dominasi Volume dan Frekuensi Transaksi Saham, Mandiri serta UBS Pimpin Nilai

Stockbit Dominasi Volume dan Frekuensi Transaksi Saham, Mandiri serta UBS Pimpin Nilai

MediaSaham.com, Jakarta — Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, 3 November 2026 berlangsung cukup ramai dengan total volume transaksi saham mencapai 26,59 miliar saham dan nilai transaksi Rp11,72 triliun.

Di antara anggota bursa, Stockbit Sekuritas Digital menjadi perusahaan sekuritas dengan volume transaksi saham terbesar. Sementara itu, Mandiri Sekuritas dan UBS Sekuritas Indonesia memimpin berdasarkan nilai transaksi.

Trading saham
Seseorang Investor sedang melakukan trading saham. Adit Saputra / Mediasaham.com

Analisis Mendalam Pendapatan dan Profitabilitas Telkom (TLKM)  hingga September 2026

Analisis Mendalam Pendapatan dan Profitabilitas Telkom (TLKM) hingga September 2026

Mediasaham.com - Dari laporan keuangan konsolidasian Telkom Indonesia (IDX: TLKM) per 30 September 2026, ada beberapa hal menarik. Pendapatan Telkom masih tumbuh, tetapi pertumbuhan tersebut tidak sepenuhnya menghasilkan peningkatan laba. Bahkan, terdapat perubahan penting dalam komposisi pendapatan, terutama pertumbuhan bisnis B2C, penurunan layanan telepon, kenaikan beban operasional, serta lonjakan kerugian perubahan nilai wajar investasi.

Ilustrasi Analisis Kinerja Telkom Indonesia. Adit Saputra/Mediasaham.com

1. Analisis Pertumbuhan Pendapatan Telkom

Pendapatan konsolidasian Telkom meningkat dari Rp109,62 triliun pada September 2025 menjadi Rp113,50 triliun pada September 2026.

  • Pendapatan 9M 2026: Rp113,50 T (Naik dari Rp109,62 triliun)
  • Pertumbuhan tahunan: 3,54% (Bertambah Rp3,89 triliun)

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa bisnis Telkom masih mampu meningkatkan pendapatan. Namun, jika dilihat lebih dalam, pertumbuhan tersebut tidak terjadi secara merata pada seluruh lini usaha.

Laporan Keuangan Mayora Q3 2026: Laba Naik +31,08% Jadi Rp2,47 Triliun, Cek Rasio Keuangan Saham MYOR

Laporan Keuangan Mayora Q3 2026: Laba Naik +31,08% Jadi Rp2,47 Triliun, Cek Rasio Keuangan Saham MYOR

Mediasaham.com, Jakarta — PT Mayora Indah Tbk (MYOR) membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp2,47 triliun pada periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Capaian tersebut meningkat 31,08% dibandingkan laba Rp1,88 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba tersebut terjadi di tengah penjualan bersih yang naik 3,59% menjadi Rp28,13 triliun dari Rp27,16 triliun. Mayora juga mencatat penurunan beban pokok penjualan sebesar 1,51% menjadi Rp21,07 triliun.

Produk Mayora seperti Sari Gandum, Roma Kelapa dan lainnya di pajang di salah satu supermarket. Adit Saputra/Mediasaham.com

Laporan Keuangan Indosat Q3 2026: Laba Bersih Melonjak +37,19% Jadi Rp4,92 triliun, Cek Analisis Keuangan ISAT

Laporan Keuangan Indosat Q3 2026: Laba Bersih Melonjak +37,19% Jadi Rp4,92 triliun, Cek Analisis Keuangan ISAT

Mediasaham.com, Jakarta — PT Indosat Tbk (ISAT) membukukan laba periode berjalan sebesar Rp5,12 triliun hingga 30 September 2026. Angka tersebut meningkat 33,07% dibandingkan laba Rp3,84 triliun pada periode sembilan bulan yang sama tahun 2025.

Pertumbuhan laba ditopang kenaikan pendapatan sebesar 11,14% menjadi Rp45,75 triliun. Indosat juga mencatat peningkatan laba sebelum pajak menjadi Rp6,46 triliun, dari sebelumnya Rp4,75 triliun.

Kantor pusat Indosat Ooredoo Hutchison. Foto: Indosat

Ringkasan IHSG 3 November 2026: IHSG Anjlok 3,78%, Asing Net Sell Rp575 Miliar, Saham TMPO ARA 34,48% dan TAXI Top Loser

Ringkasan IHSG 3 November 2026: IHSG Anjlok 3,78%, Asing Net Sell Rp575 Miliar, Saham TMPO ARA 34,48% dan TAXI Top Loser

MediaSaham.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok pada perdagangan Selasa, 3 November 2026. IHSG turun 192,543 poin atau 3,78% ke level 4.904,287 dari penutupan sebelumnya di 5.096,830.

Sepanjang perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 5.143,582 sebelum akhirnya tertekan hingga level terendah 4.895,596. Total volume perdagangan saham mencapai 26,59 miliar saham dengan nilai transaksi Rp11,72 triliun dan frekuensi 1,38 juta kali.

IDX Jakarta
Gedung Bursa Efek Indonesia. Adit Saputra / Mediasaham.com

Top Gainer IHSG Hari Ini

Di tengah tekanan IHSG, sejumlah saham masih mampu mencatat kenaikan cukup tinggi. TMPO menjadi saham dengan kenaikan terbesar, yakni 34,48% dari Rp174 menjadi Rp234 per saham.

Berikut 10 saham dengan kenaikan harga terbesar:

Saham Sebelumnya Hari Ini Kenaikan
TMPO 174 234 34,48%
MKNT 14 18 28,57%
AIMS 486 605 24,49%
BSWD 8.075 9.675 19,81%
BLZ 2.880 3.240 12,50%
KINO 1.450 1.630 12,41%
TIRA 274 306 11,68%
GOLD 236 260 10,17%
MBAP 1.560 1.715 9,94%
CBPE 478 525 9,83%

Top Loser IHSG Hari Ini

Sementara itu, tekanan paling besar terjadi pada saham TAXI yang turun 9,09% dari Rp11 menjadi Rp10 per saham.

PPRO melemah 7,14%, GRPH turun 7,00%, sedangkan ALKA, SMAR, ANTM, DMAS, FIRE, HOMI dan MOLI masing-masing terkoreksi sekitar 6,98% hingga 6,99%.

Berikut 10 saham dengan penurunan terbesar:

Saham Sebelumnya Hari Ini Penurunan
TAXI 11 10 -9,09%
PPRO 14 13 -7,14%
GRPH 100 93 -7,00%
ALKA 5.150 4.790 -6,99%
SMAR 6.800 6.325 -6,99%
ANTM 2.580 2.400 -6,98%
DMAS 172 160 -6,98%
FIRE 86 80 -6,98%
HOMI 172 160 -6,98%
MOLI 344 320 -6,98%

Asing Net Sell Rp575,01 Miliar

Investor asing kembali mencatat penjualan bersih saham pada perdagangan hari ini. Berdasarkan IDX Daily Statistics, net foreign sell mencapai Rp575,01 miliar atau sekitar US$31,68 juta.

Dengan tambahan transaksi hari ini, akumulasi net sell investor asing sepanjang 2026 mencapai Rp98,61 triliun atau sekitar US$5,43 miliar.

Perlu dicatat, angka Rp98,61 triliun merupakan net sell, yaitu selisih antara nilai penjualan dan pembelian saham oleh investor asing, bukan total penjualan bruto saham asing.

Valuasi IHSG: PER 10,32 Kali dan PBV 1,27 Kali

Dari sisi valuasi, statistik BEI menunjukkan Market PER IHSG berada di level 10,32 kali. Sementara Market PBV tercatat sebesar 1,27 kali.

Angka tersebut memberikan gambaran valuasi agregat pasar saham berdasarkan metrik PER dan PBV yang digunakan dalam statistik BEI.

Baca:

  1. IHSG Anjlok 3,49% ke 5.098, Investor Asing Net Sell Rp1,08 Triliun
  2. Pukul Rata Kanan Borong Saham MMIX, Kini Kuasai 4,33% Saham
  3. Market Cap BBCA Anjlok Rp385 Triliun, Nilai Saham Djarum Turun Rp211 Triliun
  4. Net Sell Asing BEI Capai Rp6,67 Triliun Periode 19-23 Oktober 2026
  5. Binance Diretas US$6 Miliar, Korut Buka Suara Bantah Tudingan FBI

IHSG Turun 43,28% Secara YTD

Tekanan perdagangan hari ini membuat IHSG mencatat kinerja negatif 43,28% sejak awal tahun. LQ45 turun 41,26% secara YTD, sedangkan IDX30 melemah 35,92%.

Di kelompok indeks syariah, JII turun 51,60% secara YTD dan ISSI melemah 46,94%.

Kesimpulan

Perdagangan 3 November 2026 menjadi salah satu sesi yang berat bagi pasar saham Indonesia. IHSG anjlok 3,78% ke 4.904,287 dengan tekanan jual yang tercermin dari net sell asing Rp575,01 miliar.

Di tengah tekanan tersebut, TMPO menjadi top gainer dengan kenaikan 34,48%, sedangkan TAXI menjadi top loser dengan penurunan 9,09%.

Secara fundamental pasar, valuasi IHSG tercatat pada PER 10,32 kali dan PBV 1,27 kali. Sementara itu, akumulasi net sell asing sepanjang tahun telah mencapai Rp98,61 triliun.

Sumber: Bursa Efek Indonesia, IDX Daily Statistics, 3 November 2026.

Sengit! Broker AS Saling Sikut Berburu Saham IPO Anthropic untuk Nasabah Ritel

Sengit! Broker AS Saling Sikut Berburu Saham IPO Anthropic untuk Nasabah Ritel

MEDIASAHAM.COM — Persaingan antar-perusahaan sekuritas ritel semakin memanas dalam memperebutkan alokasi saham initial public offering (IPO) dari raksasa teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), Anthropic PBC. Robinhood Markets Inc. menjadi salah satu broker yang berada di barisan depan untuk memperjuangkan porsi saham yang lebih besar bagi para investor ritel.

Anthropic

Melansir dari Bloomberg, Chief Financial Officer (CFO) Robinhood, Shiv Verma, mengungkapkan bahwa pihaknya menampung seluruh permintaan jatah saham IPO dari para nasabah ritel untuk kemudian diteruskan kepada perusahaan yang akan melantai di bursa serta penjamin emisi (underwriter).

Dalam pembaruan prospektus IPO pada Senin lalu, Anthropic—perusahaan pengembang chatbot Claude—memasukkan nama Robinhood sebagai salah satu pialang yang akan menawarkan sahamnya kepada investor ritel.

"Ini adalah pertarungan sengit di lapangan (food fight). Jadi kami akan biarkan besarnya permintaan dari nasabah kami yang berbicara, lalu membiarkan perusahaan menentukan alokasinya," ujar Verma dalam wawancara bersama Bloomberg Television pada Senin (3/11).

Karyawan Terancam AI? Bos Standard Chartered Buka-Bukaan Soal Nasib 25 Ribu Pekerjaan

Karyawan Terancam AI? Bos Standard Chartered Buka-Bukaan Soal Nasib 25 Ribu Pekerjaan

MEDIASAHAM.COM — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kerap dibayang-bayangi kekhawatiran akan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Kendati demikian, Chief Executive Officer (CEO) Standard Chartered Plc, Bill Winters, mengimbau para pekerja untuk tidak terlalu panik. Menurutnya, industri perbankan telah berulang kali melalui dinamika transformasi teknologi serupa.

Bill Winters / sc.com

Melansir dari Bloomberg, Winters menanggapi isu seputar evolusi AI dalam acara Global Financial Leaders’ Investment Summit yang diselenggarakan oleh Hong Kong Monetary Authority pada Selasa (3/11). Ia mengakui adanya kecemasan atau 'fear factor' yang dirasakan oleh para karyawan terkait pesatnya adopsi AI di sektor finansial.

"Ada faktor ketakutan di sana," ujar Winters saat ditanya mengenai evolusi AI.

Namun, ia memberikan gambaran konkret melalui perjalanan Standard Chartered. Winters mengungkapkan bahwa bank yang berbasis di London tersebut saat ini mempekerjakan sekitar 100.000 karyawan—jumlah yang sama persis saat ia pertama kali bergabung 11 tahun lalu.

"Dalam perjalanan itu, kami mengotomatisasi sekitar 25.000 pekerjaan, tetapi kami mengganti peran-peran tersebut dengan peran (jabatan) baru lainnya," jelas Winters.

Berita Terbaru

    Belajar Saham

      Dividen Saham