Analisis Mendalam Pendapatan dan Profitabilitas Telkom (TLKM) hingga September 2026

Mediasaham.com - Dari laporan keuangan konsolidasian Telkom Indonesia (IDX: TLKM) per 30 September 2026, ada beberapa hal menarik. Pendapatan Telkom masih tumbuh, tetapi pertumbuhan tersebut tidak sepenuhnya menghasilkan peningkatan laba. Bahkan, terdapat perubahan penting dalam komposisi pendapatan, terutama pertumbuhan bisnis B2C, penurunan layanan telepon, kenaikan beban operasional, serta lonjakan kerugian perubahan nilai wajar investasi.

Ilustrasi Analisis Kinerja Telkom Indonesia. Adit Saputra/Mediasaham.com

1. Analisis Pertumbuhan Pendapatan Telkom

Pendapatan konsolidasian Telkom meningkat dari Rp109,62 triliun pada September 2025 menjadi Rp113,50 triliun pada September 2026.

  • Pendapatan 9M 2026: Rp113,50 T (Naik dari Rp109,62 triliun)
  • Pertumbuhan tahunan: 3,54% (Bertambah Rp3,89 triliun)

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa bisnis Telkom masih mampu meningkatkan pendapatan. Namun, jika dilihat lebih dalam, pertumbuhan tersebut tidak terjadi secara merata pada seluruh lini usaha.

A. Pendapatan Berdasarkan Segmen Bisnis

Segmen 9M 2026 9M 2025 Perubahan
B2C Rp81,55 T Rp78,80 T +3,49%
B2B Infra Rp7,08 T Rp6,71 T +5,53%
B2B ICT Rp11,15 T Rp10,82 T +3,06%
Internasional Rp8,88 T Rp8,39 T +5,82%
Lain-lain Rp4,83 T Rp4,89 T -1,15%
Total Rp113,50 T Rp109,62 T +3,54%

B2C menjadi penyumbang pendapatan terbesar, mencapai Rp81,55 triliun atau sekitar 71,8% dari total pendapatan konsolidasian.

Dengan demikian, bisnis yang berhubungan langsung dengan konsumen masih menjadi tulang punggung pendapatan Telkom.

Menariknya, seluruh segmen utama mencatat pertumbuhan, kecuali segmen lain-lain. Pertumbuhan tertinggi secara persentase berasal dari bisnis internasional sebesar 5,82%, disusul B2B Infra sebesar 5,53%.

Namun, dari sisi nominal, B2C menjadi kontributor terbesar terhadap tambahan pendapatan karena peningkatannya mencapai sekitar Rp2,75 triliun.

B. Pendapatan Data, Internet, dan Teknologi Informatika

Ini merupakan lini pendapatan terbesar Telkom.

Pendapatan data, internet, dan jasa teknologi informatika mencapai Rp71,55 triliun, meningkat dari Rp66,07 triliun pada September 2025.

Artinya, terjadi pertumbuhan sekitar Rp5,48 triliun atau 8,30%.

Komponen Pendapatan 2026 2025 Pertumbuhan
Internet dan data seluler Rp56,58 T Rp52,11 T +8,57%
Internet, komunikasi data, dan jasa TI Rp11,12 T Rp10,50 T +5,91%
Lain-lain Rp3,85 T Rp3,45 T +11,47%
Total Rp71,55 T Rp66,07 T +8,30%

Internet dan data seluler menyumbang sekitar 79,1% dari total pendapatan data, internet, dan teknologi informatika.

Pertumbuhan Rp4,46 triliun pada internet dan data seluler menjadi pendorong terbesar kenaikan pendapatan Telkom.

Hal ini menunjukkan bahwa bisnis konektivitas digital masih menjadi mesin utama pendapatan perusahaan.

C. Pendapatan IndiHome Justru Mengalami Penurunan

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pendapatan IndiHome.

Pendapatan IndiHome turun dari Rp19,73 triliun menjadi Rp19,13 triliun. Penurunannya mencapai Rp602 miliar atau sekitar 3,05%.

Ini menarik karena pendapatan internet dan data seluler tumbuh 8,57%, sementara pendapatan IndiHome justru mengalami kontraksi.

Artinya, pertumbuhan bisnis konektivitas Telkom lebih banyak ditopang oleh layanan seluler dibandingkan layanan internet rumah.

Penurunan IndiHome dapat menjadi perhatian karena layanan internet rumah merupakan salah satu bisnis penting Telkom dalam membangun pendapatan berulang dari pelanggan.

D. Pendapatan Telepon Terus Mengalami Tekanan

Pendapatan telepon secara keseluruhan turun dari Rp6,71 triliun menjadi Rp5,32 triliun.

Penurunan mencapai Rp1,39 triliun atau sekitar 20,7%.

Komponen 2026 2025 Perubahan
Telepon seluler Rp2,05 T Rp3,84 T -46,72%
Telepon tidak bergerak Rp368 M Rp406 M -9,36%
SMS Rp2,91 T Rp2,46 T +17,99%
Total telepon Rp5,32 T Rp6,71 T -20,71%

Penurunan terbesar berasal dari pendapatan telepon seluler yang berkurang sekitar Rp1,79 triliun.

Sementara itu, pendapatan SMS justru meningkat sekitar Rp443 miliar.

Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran komposisi pendapatan dari layanan telepon konvensional menuju layanan data dan internet.

Kenaikan pendapatan data seluler menjadi indikasi bahwa Telkom semakin bergantung pada konsumsi internet pelanggan dibandingkan layanan suara.

E. Pendapatan Interkoneksi dan Jaringan

Pendapatan interkoneksi turun dari Rp7,11 triliun menjadi Rp6,72 triliun, atau berkurang sekitar 5,45%.

Sebaliknya, pendapatan jaringan meningkat dari Rp2,71 triliun menjadi Rp3,31 triliun, tumbuh sekitar 22,34%.

Pertumbuhan pendapatan jaringan ini menunjukkan peningkatan kontribusi layanan infrastruktur jaringan kepada pelanggan bisnis dan pihak lainnya.

Sementara itu, penurunan interkoneksi menjadi salah satu faktor yang mengimbangi pertumbuhan dari lini data dan internet.

F. Pendapatan Layanan Lainnya

Pendapatan layanan lainnya meningkat tipis dari Rp5,13 triliun menjadi Rp5,21 triliun.

Beberapa komponen yang menarik:

  • E-payment meningkat dari Rp1,25 triliun menjadi Rp1,58 triliun.
  • Call center service meningkat dari Rp870 miliar menjadi Rp887 miliar.
  • Managed service dan terminal meningkat dari Rp615 miliar menjadi Rp679 miliar.
  • E-health sebesar Rp544 miliar pada 2025 tidak lagi tercatat sebagai pos tersendiri pada 2026.

Kenaikan E-payment mencapai sekitar 26,8%, menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi di antara layanan lainnya.

Namun, kontribusi layanan ini masih relatif kecil dibandingkan bisnis data dan internet.

2. Analisis Mengapa Pendapatan Naik tetapi Laba Usaha Turun

Ini bagian paling penting dari laporan keuangan Telkom.

Pendapatan Telkom meningkat Rp3,89 triliun, tetapi laba usaha justru turun dari Rp28,24 triliun menjadi Rp28,00 triliun.

  • Pertumbuhan pendapatan: +3,54% (Rp3,89 triliun)
  • Perubahan laba usaha: -0,87% (Turun Rp245 miliar)

Artinya, kenaikan pendapatan belum mampu mengimbangi peningkatan sejumlah beban perusahaan.

A. Beban Operasi, Pemeliharaan, dan Jasa Telekomunikasi Meningkat

Beban ini naik dari Rp30,28 triliun menjadi Rp32,09 triliun.

Keterangan 2026 2025
Operasi dan pemeliharaan Rp19,00 T Rp17,68 T
Pemakaian frekuensi radio Rp6,05 T Rp5,80 T
Sewa sirkit dan CPE Rp2,74 T Rp2,73 T
Hak penyelenggaraan dan KPU Rp2,39 T Rp2,16 T
Listrik, gas, dan air Rp862 M Rp775 M
Komponen lainnya Rp536 M Rp431 M
Total Rp32,09 T Rp30,28 T

Beban operasi dan pemeliharaan meningkat sekitar Rp1,32 triliun atau 7,45%.

Ini merupakan kenaikan yang cukup besar karena menyumbang sebagian besar peningkatan beban operasional.

Beban pemakaian frekuensi radio juga meningkat sekitar Rp253 miliar.

Kenaikan biaya ini menunjukkan bahwa pengoperasian dan pemeliharaan jaringan membutuhkan pengeluaran lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

Hal ini relevan dengan pertumbuhan pendapatan data dan internet. Semakin besar kebutuhan layanan konektivitas, perusahaan juga harus menjaga kapasitas, kualitas, dan jangkauan jaringan.

Namun, kenaikan beban operasi lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan konsolidasian. Ini menjadi salah satu tekanan terhadap margin perusahaan.

B. Beban Umum dan Administrasi Melonjak 19,15%

Beban umum dan administrasi meningkat dari Rp5,00 triliun menjadi Rp5,96 triliun.

Kenaikannya mencapai Rp958 miliar atau 19,15%.

Komponen yang paling menarik adalah penyisihan kerugian kredit ekspektasian piutang usaha.

Komponen 2026 2025
Penyisihan kerugian
kredit ekspektasian
Rp1,93 T Rp1,45 T
Beban umum Rp1,81 T Rp1,77 T
Jasa profesional Rp624 M Rp438 M
Pelatihan, pendidikan, dan rekrutmen Rp307 M Rp246 M
Sumbangan sosial Rp286 M Rp212 M
Perjalanan Rp264 M Rp241 M
Rapat Rp223 M Rp225 M
Beban penagihan Rp167 M Rp172 M
Lain-lain Rp348 M Rp253 M
Total Rp5,96 T Rp5,00 T

Penyisihan kerugian kredit ekspektasian meningkat dari Rp1,45 triliun menjadi Rp1,93 triliun, naik sekitar Rp483 miliar atau 33,4%.

Ini merupakan perkembangan yang perlu diperhatikan.

Penyisihan kerugian kredit ekspektasian atau expected credit loss (ECL) merupakan pencadangan akuntansi atas potensi kerugian dari piutang yang diperkirakan tidak tertagih.

Dengan meningkatnya pencadangan tersebut, berarti estimasi risiko kredit atas piutang Telkom lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan ini dapat dipengaruhi perubahan kualitas piutang, umur piutang, kondisi pelanggan, serta estimasi kemampuan pembayaran.

Bagi Telkom, peningkatan pencadangan piutang menjadi perhatian karena bisnisnya melibatkan banyak pelanggan korporasi, institusi, dan pelanggan lainnya.

C. Kerugian Perubahan Nilai Wajar Investasi Meningkat Tajam

Ini merupakan salah satu perubahan terbesar dalam laporan laba rugi.

Pada September 2025, kerugian yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar investasi tercatat Rp360 miliar.

Pada September 2026, angka tersebut meningkat menjadi Rp1,66 triliun.

  • September 2025: Rp360 miliar
  • September 2026: Rp1,66 triliun (+Rp1,30 triliun atau sekitar 362%)

Pos ini merupakan kerugian akuntansi akibat perubahan nilai wajar investasi yang dimiliki perusahaan. di saham GOTO.

Karena sifatnya belum direalisasi, kerugian tersebut tidak selalu berarti Telkom telah mengeluarkan kas sebesar nilai kerugiannya.

Namun, kerugian tersebut tetap mengurangi laba sebelum pajak dan laba periode berjalan dalam laporan keuangan.

D. Beban Karyawan Justru Mengalami Penurunan

Tidak semua biaya mengalami peningkatan.

Beban karyawan turun dari Rp11,90 triliun menjadi Rp11,68 triliun, berkurang Rp222 miliar atau 1,87%.

Penurunan tersebut terutama berasal dari gaji dan tunjangan yang turun dari Rp7,37 triliun menjadi Rp7,15 triliun.

Beban penghargaan masa kerja juga turun dari Rp241 miliar menjadi Rp168 miliar.

Hal ini menunjukkan perusahaan mampu menekan beberapa komponen biaya sumber daya manusia.

E. Beban Penyusutan dan Amortisasi Relatif Stabil

Beban penyusutan dan amortisasi turun tipis dari Rp26,00 triliun menjadi Rp25,77 triliun.

Penurunannya sekitar Rp226 miliar.

Beban ini berkaitan dengan pengakuan biaya atas aset tetap dan aset tidak berwujud selama masa manfaatnya, termasuk infrastruktur telekomunikasi.

Walaupun nilainya sangat besar, penurunan beban penyusutan memberikan sedikit dukungan terhadap laba usaha.

F. Biaya Pendanaan Turun Cukup Besar

Biaya pendanaan turun dari Rp4,03 triliun menjadi Rp3,46 triliun.

Artinya, Telkom berhasil menekan biaya pendanaan sekitar Rp570 miliar atau 14,15%.

Sementara itu, penghasilan pendanaan bersih turun dari Rp1,29 triliun menjadi Rp1,19 triliun.

Penurunan biaya pendanaan memberikan kontribusi positif terhadap laba sebelum pajak. Namun, dampaknya belum cukup untuk mengimbangi kenaikan beberapa beban lainnya.

3. Mengapa Laba Sebelum Pajak Naik, tetapi Laba Bersih Turun?

Di sini terdapat hal yang cukup menarik.

Laba usaha Telkom memang turun, tetapi laba sebelum pajak justru meningkat.

Keterangan 2026 2025
Laba usaha Rp28,00 T Rp28,24 T
Penghasilan pendanaan bersih Rp1,19 T Rp1,29 T
Biaya pendanaan (Rp3,46 T) (Rp4,03 T)
Bagian rugi entitas asosiasi (Rp1 M) (Rp5 M)
Laba sebelum pajak Rp25,73 T Rp25,49 T

Laba sebelum pajak meningkat sekitar Rp233 miliar atau 0,91%.

Salah satu penyebabnya adalah penurunan biaya pendanaan sebesar Rp570 miliar.

Dengan demikian, meskipun laba usaha mengalami penurunan, beban pendanaan yang lebih rendah membantu mempertahankan laba sebelum pajak.

Namun, tekanan berikutnya muncul dari beban pajak penghasilan.

Beban pajak penghasilan meningkat dari Rp5,65 triliun menjadi Rp6,26 triliun.

Kenaikannya mencapai Rp613 miliar atau sekitar 10,85%.

Keterangan 2026 2025
Pajak kini Rp6,39 T Rp5,98 T
Pajak tangguhan (Rp130 M) (Rp325 M)
Total beban pajak Rp6,26 T Rp5,65 T

Meskipun laba sebelum pajak meningkat, beban pajak juga mengalami kenaikan lebih besar.

Akibatnya, laba periode berjalan justru turun dari Rp19,84 triliun menjadi Rp19,46 triliun.

Beban pajak penghasilan meningkat

Beban pajak penghasilan naik dari Rp5,65 triliun menjadi Rp6,26 triliun.

Kenaikannya mencapai Rp613 miliar atau sekitar 10,85%.

Rinciannya:

Keterangan

2026

2025

Pajak kini

Rp6,39 T

Rp5,98 T

Pajak tangguhan

(Rp130 M)

(Rp325 M)

Total beban pajak

Rp6,26 T

Rp5,65 T

Meskipun laba sebelum pajak meningkat, beban pajak juga mengalami kenaikan lebih besar.

Akibatnya, laba periode berjalan justru turun dari Rp19,84 triliun menjadi Rp19,46 triliun.

Perbandingan laba Telkom

Sembilan bulan pertama 2025 dan 2026, dalam triliun rupiah.

Chart

Jadi, penurunan laba bersih konsolidasian bukan semata-mata disebabkan oleh penurunan kinerja operasional. Kenaikan beban pajak juga menjadi faktor penting.

4. Mengapa laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun lebih besar?

Ini bagian yang sangat penting untuk investor TLKM.

Dalam laporan keuangan konsolidasian, terdapat dua jenis penerima laba:

  1. Pemilik entitas induk, yaitu pemegang saham PT Telkom Indonesia Tbk.

  2. Kepentingan nonpengendali, yaitu pemegang saham minoritas pada entitas anak yang dikonsolidasikan.

Laba periode berjalan Telkom bukan seluruhnya menjadi hak pemegang saham TLKM. Sebagian laba menjadi hak pemegang saham minoritas di entitas anak.

Berikut perbandingannya:

Keterangan

September 2026

September 2025

Laba periode berjalan

Rp19,46 T

Rp19,84 T

Hak pemilik entitas induk

Rp14,45 T

Rp15,03 T

Hak kepentingan nonpengendali

Rp5,02 T

Rp4,81 T

Ada dua perkembangan yang menarik.

Pertama, laba konsolidasian turun Rp380 miliar.

Laba periode berjalan turun dari Rp19,84 triliun menjadi Rp19,46 triliun, atau berkurang sekitar 1,92%.

Kedua, laba yang menjadi hak pemegang saham induk turun lebih besar.

Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun dari Rp15,03 triliun menjadi Rp14,45 triliun.

Penurunannya mencapai Rp585 miliar atau 3,89%.

Sementara itu, laba yang menjadi hak kepentingan nonpengendali justru meningkat dari Rp4,81 triliun menjadi Rp5,02 triliun, bertambah Rp205 miliar.

Laba berdasarkan hak kepemilikan

Dalam triliun rupiah, September 2025 dibandingkan September 2026.

Chart

■ September 2025

■ September 2026

Artinya, meskipun laba konsolidasian hanya turun 1,92%, penurunan laba yang menjadi hak pemegang saham induk mencapai 3,89%.

Perbedaan ini penting karena investor TLKM merupakan pemegang saham perusahaan induk, bukan pemilik langsung seluruh laba setiap entitas anak.

Dengan demikian, untuk menilai keuntungan yang menjadi hak pemegang saham TLKM, angka yang paling relevan adalah laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp14,446 triliun.

Perlu diperhatikan pula bahwa angka kepentingan nonpengendali bukan seluruhnya merupakan laba Telkomsel. Angka tersebut merupakan gabungan hak pemegang saham minoritas di berbagai entitas anak yang dikonsolidasikan.

5. Ringkasan Faktor yang Memengaruhi Penurunan Laba Telkom

Jika seluruh laporan tersebut digabungkan, terdapat beberapa faktor utama.

Faktor Perubahan Dampak
Pendapatan +Rp3,89 T Positif
Beban operasi dan pemeliharaan +Rp1,80 T Negatif
Beban umum dan administrasi +Rp958 M Negatif
Kerugian perubahan nilai wajar investasi +Rp1,30 T Negatif
Beban penyusutan -Rp226 M Positif
Beban karyawan -Rp222 M Positif
Biaya pendanaan -Rp570 M Positif
Beban pajak penghasilan +Rp613 M Negatif

Untuk beban, kenaikan berarti dampak negatif, sedangkan penurunan berarti dampak positif.

Dari seluruh komponen tersebut, tiga hal paling menonjol adalah:

  1. Pertumbuhan pendapatan belum mampu meningkatkan laba usaha karena sejumlah beban operasional meningkat.
  2. Kerugian perubahan nilai wajar investasi meningkat tajam hingga Rp1,66 triliun.
  3. Beban pajak penghasilan meningkat Rp613 miliar meskipun laba sebelum pajak justru bertumbuh.

Ketiganya membantu menjelaskan mengapa pertumbuhan pendapatan 3,54% tidak diikuti pertumbuhan laba bersih.

6. Apa Artinya bagi Investor Saham TLKM?

Menurut saya, ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian investor.

Pertama, bisnis utama Telkom masih bertumbuh.

Pendapatan data dan internet meningkat 8,30%, dengan kontribusi terbesar berasal dari internet dan data seluler. Ini menunjukkan bahwa bisnis konektivitas digital masih menjadi sumber pertumbuhan utama perusahaan.

Namun, pendapatan IndiHome turun 3,05% dan pendapatan telepon turun 20,71%. Artinya, pertumbuhan bisnis Telkom tidak merata.

Kedua, pertumbuhan pendapatan belum menghasilkan pertumbuhan laba yang sebanding.

Pendapatan naik 3,54%, tetapi laba usaha turun 0,87%. Kenaikan biaya operasi, pemeliharaan, administrasi, serta kerugian perubahan nilai investasi memberikan tekanan terhadap profitabilitas.

Hal ini perlu diperhatikan karena perusahaan telekomunikasi membutuhkan investasi infrastruktur yang besar dan biaya pemeliharaan jaringan secara berkelanjutan.

Ketiga, laba yang menjadi hak pemegang saham induk turun lebih besar daripada laba konsolidasian.

Penurunan laba pemilik entitas induk sebesar 3,89% merupakan angka yang lebih relevan untuk mengukur perkembangan keuntungan pemegang saham TLKM.

Hal ini juga perlu dikaitkan dengan valuasi saham. Jika harga saham tidak mengalami penyesuaian sementara laba per saham turun, rasio valuasi seperti PER berpotensi meningkat.

Baca Laporan Keuangan Emiten:

  1. Laporan Keuangan Indosat Q3 2026: Laba Bersih Melonjak +37,19% Jadi Rp4,92 triliun, Cek Analisis Keuangan ISAT
  2. Laporan Keuangan CFIN per September 2026 Laba Bersih Naik 13% Jadi Rp153,65 miliar
  3. Laporan Keuangan Onix Capital Tbk (OCAP) September 2026 Rugi Rp25,34 miliar 
  4. Laba Bersih Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) Turun 6,89% per September 2026
  5. Laba Bersih UVCR Meroket 395% per September 2026
  6. Bank Mandiri Cetak Laba Rp47,11 Triliun hingga September 2026, Naik 13,9%
  7. Laba United Tractors (UNTR) Anjlok 61% hingga September 2026, Pendapatan Turun 10%
  8. Bukalapak Minus Rp881 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Naik 19%
  9. SNLK Catat Pendapatan Rp32,82 Miliar hingga September 2026, Rugi Bersih Turun 39,36%
  10. Laba BLES Melonjak 484% Jadi Rp284 Miliar hingga Kuartal III-2026
  11. Metrodata Electronics (MTDL) Raih Pendapatan Rp22,09 Triliun, Laba Naik 2,33% hingga September 2026
  12. Laba Saham PADA Melonjak 333% Jadi Rp3,4 Miliar hingga September 2026
  13. Laba PT Vale Indonesia (INCO) Meroket 180% Jadi AS$147,1 juta  hingga September 2026
  14. Kedaung Indah Can (KICI) Pangkas Rugi 67,74% Jadi Rp2,19 Miliar hingga September 2026
  15. Laporan Keuangan Mayora Q3 2026: Laba Naik +31,08% Jadi Rp2,47 Triliun, Cek Rasio Keuangan Saham MYOR

7. Kesimpulan Analisis

Kinerja Telkom hingga September 2026 memperlihatkan pertumbuhan pendapatan yang masih positif, tetapi profitabilitas mengalami tekanan.

Pendapatan konsolidasian meningkat 3,54% menjadi Rp113,50 triliun. Pertumbuhan terbesar berasal dari internet dan data seluler yang naik 8,57%, sementara pendapatan data, internet, dan teknologi informatika secara keseluruhan tumbuh 8,30%.

Namun, peningkatan beban operasi dan pemeliharaan, beban administrasi, serta kerugian perubahan nilai wajar investasi menyebabkan laba usaha turun menjadi Rp28 triliun.

Meskipun laba sebelum pajak masih meningkat menjadi Rp25,73 triliun, kenaikan beban pajak membuat laba periode berjalan turun menjadi Rp19,46 triliun.

Lebih jauh, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 3,89% menjadi Rp14,45 triliun.

Dengan demikian, persoalan Telkom bukan terletak pada tidak adanya pertumbuhan pendapatan, melainkan pada kemampuan perusahaan mengonversi pertumbuhan pendapatan menjadi laba yang lebih besar bagi pemegang saham.

Disclaimer: Informasi hanya untuk edukasi, bukan rekomendasi investasi. Analisis ini tidak bertujuan untuk mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham tertentu.
Penulis: Adit Saputra  - Mediasaham Research

0 Comments

Posting Komentar

Berita Terbaru

    Belajar Saham

      Dividen Saham