Transformasi 2.0 Darma Henwa (DEWA): Laba Naik 1000% & Proyek Emas

PT Darma Henwa
Karyawan PT Darma Henwa (DEWA) sedang melakukan pengawasan di lapangan. Darma Henwa


PT Darma Henwa Tbk (DEWA) tengah berada dalam titik balik bersejarah. Sebagai salah satu kontraktor pertambangan terintegrasi tertua di Indonesia, perusahaan ini sedang menjalankan strategi "Transformation 2.0" yang bertujuan mengubah wajah perusahaan dari sekadar kontraktor tradisional menjadi grup layanan pertambangan berbasis teknologi yang efisien dan berkelanjutan.

Artikel ini akan membedah secara rinci seluruh aspek berdasarkan dokumen data Public Expose 2025 DEWA yang diterbitkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Artikel ini menganalisa perusahaan mulai dari kinerja keuangan, efisiensi operasional, hingga proyek diversifikasi emas yang menjadi "game changer" bagi emiten berkode saham DEWA ini.

1. Profil Perusahaan

Didirikan pada tahun 1991, PT Darma Henwa Tbk telah lama malang melintang di industri jasa pertambangan Indonesia. Perusahaan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 26 September 2007. Saat ini, DEWA menyediakan layanan terintegrasi yang mencakup:

  • Jasa penambangan batubara dan mineral.
  • Infrastruktur pertambangan dan aktivitas pendukung lainnya.
  • Manajemen pelabuhan.

Hingga semester pertama 2025 (1H25), DEWA mengelola total aset senilai Rp 10,04 triliun dengan dukungan lebih dari 3.300 karyawan. Portofolio klien utama mereka tetap didominasi oleh raksasa industri seperti PT Kaltim Prima Coal (KPC).

2. Strategi Transformasi: Resetting the Foundation

Salah satu poin paling krusial dalam paparan publik 2025 adalah progres transformasi DEWA yang terbagi dalam tiga fase utama:

  • 2023 (The Past): Era kontraktor tradisional dengan ketergantungan tinggi pada subkontraktor.
  • 2023 - 2025 (Rewriting the Future): Fase penguatan struktur keuangan, likuiditas, dan perluasan kapasitas armada internal (in-house fleet).
  • 2026 (Reshaping the Future): Target menuju grup jasa pertambangan yang terintegrasi, berbasis teknologi, dengan fokus pada integrasi ESG dan efisiensi modal.

3. Restrukturisasi Keuangan: Penurunan DER Secara Drastis

Tahun 2025 menjadi tahun "pembersihan" neraca keuangan DEWA. Melalui RUPSLB pada 13 Februari 2025, perusahaan mendapatkan persetujuan untuk melakukan Debt to Equity Conversion (NPR) senilai Rp 1,4 triliun.

Dampak langsung bagi investor sangat signifikan:

  • Debt-to-Equity Ratio (DER): Turun drastis dari 1,32x menjadi 0,62x.
  • Current Ratio: Meningkat dari 0,70x menjadi 1,11x.

Ini menunjukkan bahwa profil risiko keuangan DEWA kini jauh lebih sehat, memberikan ruang lebih besar untuk pendanaan ekspansi di masa depan.

Baca: Darma Henwa (DEWA) Peroleh Kredit Rp1 Triliun dari BCA, Fokus Ambil Alih Proyek KPC & Arutmin

4. Kinerja Operasional 9M25: Efisiensi Armada Internal

Meskipun tantangan cuaca sempat menghambat pada kuartal ketiga (Q3), DEWA berhasil mencatatkan pertumbuhan volume yang solid pada sembilan bulan pertama tahun 2025 (9M25):

  • Waste Removal (OB Removal): 101,19 Juta Bcm (naik 2,12% YoY).
  • Coal Mining: 12,47 Juta Ton (naik 1,14% YoY).
  • Total Material Moved: 110,78 Juta Bcm (naik 2,04%).

Investor perlu mencermati pergeseran strategi armada DEWA. Penggunaan armada internal (DH Fleet) meningkat tajam sebesar 59,64%, sementara penggunaan subkontraktor ditekan hingga 41,25%. Hal ini krusial karena armada sendiri memberikan margin keuntungan yang lebih tebal.

5. Ekspansi Armada Besar-besaran (Batch 1 & 2)

Untuk mendukung target pertumbuhan, DEWA telah melakukan pengadaan alat berat secara agresif:

  • Batch 1 Ekspansi: Terdiri dari 8 Excavator kelas 200T, 1 Excavator kelas 120T, dan 75 Truk kelas 100T. Menambah kapasitas sebesar 30-35 Mbcm per tahun.
  • Batch 2 Ekspansi (XCMG Fleet): Terdiri dari 4 unit Excavator XE2000, 2 unit XE1250, dan 35 unit Dump Truck XDE130. Seluruh peralatan ini telah beroperasi penuh pada akhir September 2025. Penambahan ini menyumbang peningkatan kapasitas 25-30 Mbcm per tahun.

6. Laporan Keuangan 1H25: Lonjakan Laba Bersih 1000%

Kombinasi antara pertumbuhan pendapatan dan efisiensi biaya membuahkan hasil luar biasa pada semester I-2025:

  • Pendapatan (Revenue): Rp 3.108,83 miliar (naik 6,44%).
  • Laba Kotor (Gross Profit): Rp 476,43 miliar (meroket 119,15%).
  • EBITDA: Rp 821,21 miliar (naik 100,09%).
  • Laba Bersih (Net Income): Rp 168,01 miliar (melonjak 1.075,72% dibandingkan 1H24).

7. Proyek GMR: Masa Depan Emas dan Tembaga

DEWA tidak hanya mengandalkan batubara. Melalui PT Gayo Mineral Resources (GMR), perusahaan mulai melangkah serius ke pertambangan mineral. Per 14 Oktober 2025, GMR telah menerima persetujuan perubahan kepemilikan saham. Kegiatan eksplorasi saat ini mencakup pengeboran untuk membuka potensi cadangan emas dan tembaga yang signifikan.

8. Aksi Korporasi: Buyback Saham Rp 950 Miliar

Sebagai bentuk kepercayaan diri manajemen, DEWA melakukan aksi Share Buyback dengan anggaran hingga Rp 950 miliar. Hingga 19 Desember 2025, realisasi telah mencapai Rp 160 miliar untuk 372 juta lembar saham. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan EPS (Earning Per Share) bagi pemegang saham publik.

9. Tata Kelola dan Manajemen Baru

DEWA memperkuat manajemen dengan merekrut tenaga profesional dari kompetitor raksasa (PAMA & BUMA). Nama-nama seperti Joseph Lembayung, Sorimuda Pulungan, dan Agus Suharyono kini memperkuat jajaran direksi dan komisaris, membawa standar operasional kelas dunia ke dalam perusahaan.

Baca:
  1. Daftar Saham di Bursa Efek Indonesia: Kode Saham, Tanggal IPO dan Papan Pencatatan
  2. 105 Daftar Saham Sektor Keuangan di BEI: Cek Papan Pencatatan, Jumlah Saham dan Tanggal IPO
  3. Bank-Bank Tercatat di Papan Utama BEI, Ini 29 Daftar Emiten dan Kodenya
  4. 91 Daftar Saham Sektor Energi di BEI

10. Kesimpulan dan Outlook Investor

Berdasarkan data Public Expose 2025, DEWA bertransformasi dari perusahaan yang terbebani utang menjadi entitas yang efisien dengan margin yang sehat. Penurunan DER ke 0,62x dan lonjakan laba bersih 10x lipat adalah indikator fundamental yang tidak bisa diabaikan.

Key Takeaways bagi Investor:

  • Struktur modal jauh lebih kuat pasca konversi utang.
  • Margin keuntungan meningkat seiring dominasi armada internal.
  • Diversifikasi ke komoditas emas (GMR) memberikan upside potential jangka panjang.
  • Aksi buyback menunjukkan harga saham saat ini masih dianggap undervalued oleh manajemen.

Disclaimer: Artikel ini bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan perintah jual atau beli saham tertentu. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga. Redaksi Mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pembaca.

Penulis: Adit Saputra, Radit M. Pase - Mediasaham Research

0 Comments

Posting Komentar

Berita Terbaru

    Laporan Keuangan

      Dividen Saham