Unilever (UNVR) Jual Bisnis Sariwangi Senilai Rp1,5 Triliun, Ini Alasannya!

Unilever (UNVR) Jual Bisnis Sariwangi Senilai Rp1,5 Triliun, Ini Alasannya!

teh sariwangi
Secangkir Teh Sariwangi / Tokopedia


JAKARTA, Mediasaham.com – Raksasa consumer goods, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), secara mengejutkan mengumumkan pelepasan salah satu aset ikoniknya. UNVR resmi menjual seluruh bisnis teh dengan merek legendaris "Sariwangi" kepada PT Savoria Kreasi Rasa.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 7 Januari 2026, nilai transaksi pengalihan bisnis ini disepakati sebesar Rp1.500.000.000.000 (Rp1,5 Triliun) di luar pajak yang berlaku.

UNVR Jual Bisnis Es Krim Rp7 T: Analisis Dampak pada Saham Unilever Indonesia dan Strategi Fokus Margin

UNVR Jual Bisnis Es Krim Rp7 T: Analisis Dampak pada Saham Unilever Indonesia dan Strategi Fokus Margin

 

Ice Cream Magnum

Mediasaham.com, Jakarta – PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) telah resmi merampungkan aksi korporasi besar yang menjadi sorotan pasar: penjualan divisi bisnis es krimnya. Transaksi strategis ini berhasil membukukan dana segar sebesar Rp7 triliun bagi perseroan. Keputusan ini selaras dengan langkah induk perusahaan, Unilever Global, untuk memisahkan (demerger) bisnis es krimnya menjadi entitas mandiri.

Pemicu Utama: Demerger Global dan Fokus pada Bisnis Inti

Penyelesaian penjualan bisnis es krim kepada PT The Magnum Ice Cream Indonesia ini diumumkan langsung oleh Sekretaris Perusahaan Unilever, Padwestiana Kristanti, melalui keterbukaan informasi pada Senin (8/12/2025).

Aksi korporasi ini bukanlah keputusan tiba-tiba. Sebelumnya, transaksi ini telah memperoleh persetujuan mutlak dari pemegang saham, termasuk pemegang saham independen, dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dan RUPSI yang diselenggarakan pada 14 Januari 2025.

Ini merupakan bagian dari implementasi keputusan induk perusahaan untuk melakukan demerger bisnis es krim. Perusahaan es krim yang baru dan independen ini telah beroperasi sejak 1 Juli 2025 dengan nama The Magnum Ice Cream Company (TMICC).

Dividen Interim UNVR 2025 Melejit 112% Jadi Rp87/Saham! Cek Jadwal dan Potensi Yield 3,14%

Dividen Interim UNVR 2025 Melejit 112% Jadi Rp87/Saham! Cek Jadwal dan Potensi Yield 3,14%

Dividen Unilever
Logo Unilver Indonesia / Unilever


PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR): Kinerja Membaik, Dividen Interim Naik Signifikan

PT Unilever Indonesia Tbk (IDX: UNVR) kembali menjadi sorotan investor setelah mengumumkan kabar gembira mengenai pembagian dividen interim UNVR 2025. Keputusan Rapat Direksi yang diselenggarakan pada 4 Desember 2025 menetapkan bahwa UNVR akan membagikan dividen interim sebesar Rp87 per saham.

Angka ini mencatatkan kenaikan yang sangat impresif, yaitu melonjak 112% dibandingkan dengan dividen interim tahun 2024 yang hanya sebesar Rp41 per saham. Total dividen yang dibagikan oleh perseroan mencapai Rp3,30 triliun.

Laba Bersih Unilever Q3 2025 Naik 10,8%, Tapi Apakah Pertumbuhannya Nyata?

Laba Bersih Unilever Q3 2025 Naik 10,8%, Tapi Apakah Pertumbuhannya Nyata?

  Kantor Unilever

Jakarta, Mediasaham.com — PT Unilever Indonesia Tbk (IDX: UNVR) menutup sembilan bulan pertama tahun 2025 dengan kinerja keuangan yang solid di permukaan. Perusahaan membukukan laba bersih Rp3,33 triliun, naik 10,8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp3,01 triliun.

Namun di balik kenaikan laba tersebut, tidak ada lonjakan penjualan signifikan. Pertumbuhan laba ini lebih disebabkan oleh efisiensi biaya, bukan peningkatan permintaan pasar.


Laba Naik, tapi Bukan karena Penjualan — Artinya Pertumbuhan Belum Organik

Laba bersih Unilever naik +10,8%, namun penjualan hanya naik +0,7%.
Dengan kata lain, kenaikan laba berasal dari pemangkasan biaya, bukan dari peningkatan daya saing atau ekspansi pasar.

Pendapatan bersih hanya naik Rp196 miliar dari Rp27,42 triliun menjadi Rp27,61 triliun — sangat kecil untuk skala Unilever.

Beban pokok penjualan pun naik sebanding, sehingga laba kotor hanya naik 0,8%.
Jadi, secara bisnis, tidak ada dorongan permintaan signifikan dari pasar.

Pendapatan Stagnan, Margin Didorong Efisiensi

Penjualan bersih Unilever hanya meningkat +0,7% menjadi Rp27,61 triliun dibanding Rp27,42 triliun pada 2024.

Kenaikan tipis ini menandakan pasar barang konsumsi cepat saji (FMCG) domestik masih bergerak datar, di tengah ketatnya kompetisi harga dan perubahan perilaku konsumen.

Meski pendapatan hampir tidak berubah, laba usaha melonjak 13,8% menjadi Rp4,45 triliun berkat pemangkasan biaya pemasaran dan penjualan secara besar-besaran. Total beban tersebut turun dari Rp6,88 triliun menjadi Rp6,45 triliun, atau efisiensi Rp421,7 miliar (-6,1%).

Rincian dan Selisih Beban Pemasaran & Penjualan

Komponen Beban
Pemasaran & Penjualan
2025 (Rp juta)2024 (Rp juta)SelisihPerubahan
Iklan & riset pasar2.432.2142.648.695-216.481-8,2%
Distribusi1.225.4041.286.496-61.092-4,8%
Promosi1.120.9831.134.471-13.488-1,2%
Remunerasi & imbalan kerja656.863828.452-171.589-20,7%
Jasa konsultan & eksternal32.98092.049-59.069-64,2%
Lain-lain (termasuk perjalanan)213.872180.512+33.360+18,5%
Total6.454.8886.876.620-421.732-6,1%

Bagian yang Dipangkas: Dari Iklan hingga Konsultan Eksternal

Analisis laporan keuangan menunjukkan beberapa area efisiensi utama yang mendorong kenaikan margin laba:

  • Iklan dan riset pasar turun Rp216,5 miliar (-8,2%), seiring pergeseran dari kampanye televisi ke promosi digital yang lebih terukur.

  • Remunerasi dan imbalan kerja berkurang Rp171,6 miliar (-20,7%), mencerminkan optimalisasi tenaga lapangan dan efisiensi struktur organisasi.

  • Jasa konsultan eksternal turun drastis Rp59,1 miliar (-64,2%), mengindikasikan pengurangan ketergantungan terhadap pihak ketiga.

  • Biaya distribusi dan promosi turun Rp74,6 miliar secara total, menandakan rantai pasok dan logistik yang lebih efisien.

Namun, beberapa pos seperti biaya perjalanan dan kegiatan promosi tatap muka justru naik Rp33,4 miliar (+18,5%), mencerminkan normalisasi aktivitas lapangan pascapandemi.


Efisiensi Meningkatkan Margin, Tapi Bukan Pertumbuhan Organik

Secara operasional, efisiensi ini meningkatkan margin laba usaha dari 14,3% menjadi 16,1% — pencapaian yang patut diapresiasi dari sisi manajemen keuangan.
Namun secara bisnis, kenaikan laba tanpa pertumbuhan penjualan bukan cerminan peningkatan daya saing pasar.

Dalam industri FMCG, di mana merek dan distribusi menjadi ujung tombak, pemangkasan belanja iklan dan promosi berisiko menggerus brand awareness dalam jangka menengah.
Jika efisiensi dilakukan terlalu agresif, kompetitor seperti Wings, P&G, dan pemain lokal berpotensi merebut pangsa pasar melalui strategi harga dan promosi yang lebih agresif.


Tantangan: Bertahan di Tengah Dinamika Konsumen Baru

Pasar FMCG Indonesia kini menghadapi perubahan besar. Konsumen lebih sensitif terhadap harga dan cenderung memilih produk value-for-money atau merek lokal dengan inovasi cepat.
Selain itu, pertumbuhan penjualan melalui e-commerce membuat persaingan semakin tajam, menuntut kecepatan inovasi dan kehadiran digital yang kuat.

Unilever tampaknya memilih strategi konservatif — menjaga margin dengan efisiensi — daripada ekspansi agresif. Strategi ini efektif di jangka pendek, namun tidak menjamin pertumbuhan jangka panjang jika tidak diimbangi inovasi produk dan penetrasi saluran digital yang lebih dalam.

Kesimpulan: Laba Naik, Tapi Belum Menang di Pasar

Kinerja Unilever Indonesia tahun 2025 menggambarkan laba yang tumbuh karena efisiensi, bukan karena pertumbuhan permintaan. Manajemen berhasil mengendalikan biaya, memperkuat margin, dan menjaga profitabilitas di tengah pasar yang stagnan. Namun, dari sisi daya saing, perusahaan belum menunjukkan momentum baru dalam memperluas pangsa pasar.

Dengan persaingan yang makin ketat di segmen FMCG dan perilaku konsumen yang berubah cepat, tantangan Unilever berikutnya bukan lagi sekadar menjaga efisiensi, tapi mengembalikan pertumbuhan penjualan dan relevansi merek di tengah generasi konsumen digital.

Disclaimer: Informasi hanya untuk edukasi, bukan rekomendasi investasi. Analisis ini tidak bertujuan untuk mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

Penulis: Adit Saputra  - Mediasaham Research

Berita Terbaru

    Laporan Keuangan

      Dividen Saham