Laba Bersih Bank BCA Tahun 2025 Rp 57,53 triliun, Meningkat 4,93%

Logo Bank BCA


Laba bersih Bank BCA (BBCA) Tahun 2025 yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 57,53 triliun. Sejalan dengan kenaikan laba tersebut, laba bersih per saham (Earning Per Share/EPS) BBCA juga mengalami kenaikan menjadi Rp 467 per lembar saham.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian auditan terbaru, laba bersih Bank BCA (BBCA) Tahun 2025 tersebut naik sebesar 4,93% dibandingkan laba bersih tahun 2024.

Bagi Anda yang baru belajar saham, angka-angka di atas bukan sekadar statistik. Laba bersih dan EPS adalah indikator utama apakah perusahaan tempat Anda menanam modal mampu mencetak keuntungan yang bertumbuh atau tidak. Mari kita bedah lebih dalam laporan keuangan BBCA per 31 Desember 2025 ini untuk melihat apakah "Raja Bank Swasta" ini masih layak disebut sebagai mesin pencetak uang yang efisien.

1. Pertumbuhan Profitabilitas: Mesin Laba yang Konsisten

Indikator pertama yang harus dilihat oleh investor pemula adalah Top Line (Pendapatan) dan Bottom Line (Laba Bersih). BCA menunjukkan performa yang stabil di tengah dinamika ekonomi.

Kenaikan Laba Bersih

Seperti disebutkan di awal, laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk naik dari Rp 54.836.305 juta pada tahun 2024 menjadi Rp 57.537.287 juta pada tahun 2025.

  • Persentase Kenaikan: Sekitar 4,93%.

Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income)

Bisnis inti bank adalah meminjamkan uang. Selisih antara bunga yang didapat dari peminjam dengan bunga yang dibayarkan ke penabung disebut Pendapatan Bunga Bersih.

  • Tahun 2025: Rp 85.548.157 juta.
  • Tahun 2024: Rp 82.264.164 juta.
  • Kenaikan: Sekitar 3,99%.

Pendapatan Operasional Lainnya (Fee Based Income)

Selain bunga, BCA mendapatkan uang dari biaya transfer, administrasi, dan layanan digital. Ini disebut Non-Interest Income.

  • Tahun 2025: Rp 26.313.231 juta.
  • Tahun 2024: Rp 22.931.644 juta.
  • Kenaikan: Sekitar 14,75%.

Bagi investor pemula, perhatikan lonjakan hampir 15% ini. Ini menandakan ekosistem digital BCA (mobile banking, internet banking, dll) sangat kuat dan terus menghasilkan uang di luar pendapatan bunga konvensional.

2. Neraca Keuangan: Aset Jumbo yang Terus Membesar

Neraca keuangan (Balance Sheet) menunjukkan kekayaan perusahaan. Apakah asetnya bertambah? Apakah utangnya terkendali?

Total Aset

BCA kembali mencatatkan rekor aset baru.

  • Aset 2025: Rp 1.586.828.536 juta.
  • Aset 2024: Rp 1.449.301.328 juta.
  • Kenaikan: Sekitar 9,49%.

Pertumbuhan aset hampir 10% menunjukkan skala bisnis BCA yang semakin raksasa, didorong oleh kenaikan penyaluran kredit dan penempatan dana.

Penyaluran Kredit (Loans)

Aset terbesar bank biasanya ada pada kredit yang disalurkan. Jika kredit tumbuh, potensi laba masa depan juga tumbuh.

  • Kredit yang Diberikan (Neto) 2025: Rp 940.481.200 juta.
  • Kredit yang Diberikan (Neto) 2024: Rp 868.686.210 juta.
  • Kenaikan: Sekitar 8,26%.

BCA berhasil menyalurkan kredit lebih banyak di tahun 2025. Secara sektoral, kredit ini mengalir deras ke sektor manufaktur (Rp 211 triliun), perdagangan (Rp 191 triliun), dan jasa bisnis (Rp 175 triliun). Diversifikasi ini penting bagi investor untuk mengetahui bahwa BCA tidak bergantung pada satu sektor saja.

3. Dana Pihak Ketiga (DPK): Keunggulan Mutlak BCA

Inilah "senjata rahasia" BCA yang wajib dipahami investor pemula: Dana Murah atau CASA (Current Account Saving Account). Bank yang hebat adalah bank yang bisa menghimpun dana dari masyarakat dengan bunga serendah mungkin.

Total Simpanan Nasabah

  • Tahun 2025: Rp 1.233.799.081 juta.
  • Tahun 2024: Rp 1.120.613.667 juta.
  • Kenaikan: Sekitar 10,10%.

Masyarakat semakin percaya menyimpan uang di BCA, terbukti dari kenaikan simpanan di atas 10%.

Struktur Dana Murah (CASA)

Mari kita lihat komposisi simpanan nasabah tahun 2025:

  • Giro: Rp 431.010.515 juta.
  • Tabungan: Rp 608.119.555 juta.
  • Deposito Berjangka: Rp 194.669.011 juta.

Jika kita jumlahkan Giro dan Tabungan, totalnya mencapai Rp 1.039.130.070 juta. Artinya, sekitar 84,2% dari total uang nasabah di BCA adalah dana murah (Giro dan Tabungan) yang bunganya sangat kecil bagi Bank. Hanya sebagian kecil (sekitar 15,8%) yang berupa Deposito (dana mahal).

Mengapa ini penting bagi investor?
Karena BCA membayar bunga yang sangat kecil kepada nasabah (biaya dana rendah), namun bisa meminjamkan uang tersebut dengan bunga pasar. Ini menciptakan margin keuntungan yang tebal dan sulit ditandingi oleh bank lain.

4. Kualitas Aset: Manajemen Risiko yang Prudent (Hati-hati)

Bank yang agresif menyalurkan kredit bisa berbahaya jika banyak nasabah yang gagal bayar. Investor harus melihat rasio kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL).

Rasio NPL (Kredit Bermasalah)

BCA dikenal sangat disiplin dan hati-hati (prudent).

  • NPL Bruto 2025: 1,71%.
  • NPL Bruto 2024: 1,78%.
  • Perubahan: Membaik (turun) sebesar 0,07%.

Penurunan rasio NPL menunjukkan kualitas kredit BCA semakin sehat. Sebagai perbandingan, batas aman yang ditetapkan regulator biasanya di angka 5%. Angka 1,71% adalah angka yang sangat fantastis dan menunjukkan manajemen risiko kelas wahid.

Pencadangan Kerugian (CKPN)

Meskipun kredit macet rendah, BCA tetap sedia payung sebelum hujan. Cadangan kerugian penurunan nilai atas kredit yang diberikan pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp 29.752.034 juta. Meskipun angka ini sedikit turun dari tahun 2024 yang sebesar Rp 32.624.643 juta, namun jumlah ini dinilai sangat memadai oleh manajemen dan auditor untuk menutup risiko gagal bayar.

5. Permodalan: Benteng Pertahanan yang Kokoh

Apakah BCA punya cukup modal jika terjadi krisis ekonomi? Kita bisa melihatnya dari rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR/KPMM).

  • Rasio KPMM (Konsolidasian) 2025: 30,36%.
  • Rasio KPMM (Konsolidasian) 2024: 29,14%.

Modal BCA sangat tebal, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Peningkatan rasio modal ini memberikan rasa aman bagi investor bahwa bank memiliki bantalan yang cukup kuat untuk menahan guncangan ekonomi sekaligus modal untuk ekspansi kredit di masa depan.

6. Dividen dan Apresiasi Saham: Apa yang Didapat Investor?

Sebagai investor, tentu Anda mengharapkan pengembalian investasi. Dari laporan ini, kita bisa melihat potensi dividen.

Rekam Jejak Dividen

Pada tahun 2024 (berdasarkan laba 2023), BCA membagikan dividen tunai sebesar Rp 270 per saham.
Untuk tahun buku 2024 (yang dibayarkan di 2025), BCA membagikan dividen tunai sebesar Rp 300 per saham.

Potensi Dividen dari Laba 2025

Mengingat EPS tahun 2025 naik menjadi Rp 467 dibanding tahun 2024 (Rp 445), investor memiliki harapan logis bahwa dividen final untuk tahun buku 2025 (yang akan dibagikan di 2026) berpotensi naik atau setidaknya stabil. BCA juga telah membagikan dividen interim untuk tahun buku 2025 sebesar Rp 55 per saham pada akhir tahun 2025.

Baca :Bank Central Asia Tbk (BBCA): Profil BCA, Dividen, Laporan Keuangan, dan Perkembangan Terbaru

Aksi Korporasi: Buyback Saham

Laporan ini juga mencatat bahwa BCA melakukan pembelian kembali saham (buyback) pada periode Oktober 2025 hingga Januari 2026 dengan harga rata-rata Rp 8.140,64 per lembar saham. Aksi buyback ini seringkali diartikan bahwa manajemen percaya harga saham perusahaan masih "murah" atau undervalued dibandingkan dengan nilai intrinsiknya, serta merupakan cara untuk mengembalikan nilai lebih kepada pemegang saham.

7. Transformasi Digital dan Anak Usaha

Investor masa kini tidak hanya melihat bank fisik, tapi juga bank digital. Laporan keuangan 2025 menunjukkan kinerja anak usaha BCA:

  • PT Bank Digital BCA (blu): Mencatatkan total aset sebesar Rp 18.923.844 juta, naik signifikan dari tahun 2024 yang sebesar Rp 16.054.445 juta. Pertumbuhan aset bank digital yang pesat ini (sekitar 17,8%) menunjukkan bahwa strategi digital BCA berjalan mulus dan mulai memberikan kontribusi aset yang berarti bagi grup.
  • BCA Syariah: Asetnya tumbuh menjadi Rp 19.207.364 juta pada 2025 dari Rp 16.641.459 juta pada 2024, menunjukkan penetrasi pasar syariah yang semakin kuat.

Kesimpulan: Apakah BBCA Layak Koleksi?

Berdasarkan bedah laporan keuangan tahun 2025 ini, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan karakteristik perusahaan yang sangat sehat dan investable bagi pemula:

  1. Bertumbuh: Laba bersih dan pendapatan bunga tumbuh positif meski basisnya sudah sangat besar.
  2. Efisien: Memiliki struktur dana murah (CASA) 84% yang menjadi keunggulan kompetitif utama.
  3. Aman: Rasio kredit macet (NPL) sangat rendah (1,71%) dan permodalan (KPMM) sangat tebal (30,36%).
  4. Ramah Investor: Konsisten menaikkan laba per saham (EPS) yang berujung pada potensi dividen rutin.

Bagi investor saham pemula, laporan keuangan BBCA 2025 ini mengonfirmasi statusnya sebagai saham "tahan banting". Meskipun kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan, namun fundamental yang kokoh seperti yang tertera dalam laporan ini adalah basis terbaik untuk keputusan investasi jangka panjang.

Disclaimer: Tulisan ini adalah analisis berdasarkan data laporan keuangan dan bukan merupakan ajakan membeli atau menjual saham BBCA. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan Anda.

0 Comments

Posting Komentar

Berita Terbaru

    Laporan Keuangan

      Dividen Saham