IPO PJHB: Tambah 3 Kapal Baru, Siap Angkut Cuan dari Lautan Nusantara

IPO PJHB

Mediasaham.com, Jakarta – IPO PJHB. Dunia pelayaran tanah air kembali kedatangan pemain baru. Kali ini, giliran PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) yang siap berlayar di Bursa Efek Indonesia.

Perusahaan asal Samarinda, Kalimantan Timur ini bakal mencatatkan saham perdana pada 6 November 2025.

Harga saham PJHB ditawarkan Rp330 per lembar, dengan jumlah saham yang dilepas ke publik sebanyak 480 juta lembar atau 25% dari modal disetor. Total dana yang berhasil dikantongi PJHB sebesar Rp158,4 miliar.

Menariknya lagi, PJHB juga membagikan 240 juta Waran Seri I secara cuma-cuma. Setiap 2 saham baru dapat 1 waran, yang bisa ditebus mulai Mei 2026 dengan harga pelaksanaan Rp330 per lembar.
Penjamin pelaksana emisi efeknya adalah PT Pilarmas Investindo Sekuritas.

Fokus Ekspansi: Bikin Tiga Kapal Baru Sekaligus

Uang hasil IPO ini nggak bakal nganggur.
PJHB sudah punya rencana jelas: bikin tiga kapal baru berjenis Landing Craft Tank (LCT) yang biasa dipakai buat ngangkut alat berat, kontainer, dan material proyek industri.

Total nilai proyek pembangunan kapal ini mencapai sekitar Rp167 miliar.
Dari angka itu, sekitar Rp153,4 miliar akan dibiayai dari dana hasil IPO, dan sisanya Rp9,6 miliar dari kas internal perusahaan.

Berikut rencana tiga kapal barunya:

  1. LCT ukuran 75m x 16m x 4,8m (kapasitas 2.500 DWT) senilai Rp57 miliar – Rp5,53 miliar sudah dibayar dari kas internal.

  2. LCT ukuran 72m x 16m x 4,8m (2.500 DWT) senilai Rp53 miliar.

  3. LCT ukuran 70m x 15m x 4,5m senilai Rp57 miliar.

Kapal-kapal ini akan dibangun bersama PT Untung Brawijaya Sejahtera dan PT Adiluhung Saranasegara Indonesia, dua galangan yang sudah berpengalaman di dunia pelayaran.

Kalau semua selesai sesuai jadwal, kapasitas armada PJHB bakal naik lebih dari 50%. Artinya, peluang cuan dari bisnis angkutan laut juga makin terbuka lebar.

Kondisi Keuangan: Margin Tebal, Tapi Kas Menyusut

Kalau lihat laporan keuangannya, performa PJHB sebenarnya lumayan.
Per April 2025, total aset perusahaan mencapai Rp9,19 miliar, dengan liabilitas Rp8,77 miliar dan ekuitas Rp427 juta.

Namun, posisi kas agak menurun dari Rp16,25 miliar (2024) menjadi Rp4,74 miliar (2025).
Ini karena sebagian besar dana digunakan buat pembangunan kapal dan kebutuhan modal kerja.

Menariknya, meski likuiditas ketat, margin labanya cukup baik:

  • Gross margin: 46,18%

  • Operating margin: 32,35%

  • Net profit margin: 32,45%

Angka ini menunjukkan bisnis PJHB cukup efisien dan punya pricing power di segmen pengangkutan proyek, terutama alat berat dan peralatan industri.

Sektor Pelayaran Lagi Ramai Gelombang Positif

Indonesia punya lebih dari 17.000 pulau — artinya, transportasi laut tetap jadi urat nadi logistik nasional.
Apalagi sekarang pemerintah lagi gencar mendorong program tol laut dan hilirisasi industri tambang.

Dari data Kementerian Perhubungan, volume muatan tol laut melonjak tajam dari 30 ton di 2015 jadi 851,7 ton di 2024.
Lalu, riset dari Technavio juga bilang pasar logistik Indonesia akan tumbuh sekitar USD 25,57 miliar sampai 2028, dengan pertumbuhan tahunan (CAGR) 7,7%.

Jadi, sektor pelayaran punya ombak besar untuk ditunggangi, dan PJHB tampaknya siap pasang layar lebar.

Tapi Hati-Hati, Lautan Tak Selalu Tenang

Seperti kapal yang berlayar di tengah laut, bisnis PJHB juga punya risiko yang harus diwaspadai:

  1. Cuaca ekstrem bisa ganggu jadwal pelayaran dan bikin biaya operasional naik.

  2. Harga bahan bakar (solar) yang fluktuatif bisa nyerang margin kalau kontrak nggak fleksibel.

  3. Keterlambatan pembangunan kapal bisa tunda ekspansi dan aliran pendapatan.

  4. Likuiditas saham kemungkinan masih terbatas di awal perdagangan karena ukuran IPO-nya tidak terlalu besar.


Pandangan: Layak Pantau, Potensi Menarik

Kalau dilihat dari rencana ekspansi dan potensi pasar, saham PJHB tergolong menarik untuk investor jangka menengah dan panjang.
Perusahaan ini punya rencana ekspansi yang konkret, margin usaha yang kuat, dan momentum positif dari sektor logistik laut nasional.

Namun, untuk investor jangka pendek, perlu waspada terhadap fluktuasi harga saham di awal perdagangan serta risiko likuiditas.
Sebaiknya pantau dulu perkembangan pembangunan kapal barurealisasi penggunaan dana IPO, dan laporan keuangan setelah listing.

Kalau semuanya berjalan lancar, PJHB bisa jadi salah satu emiten pelayaran dengan pertumbuhan tercepat di 2026, dan mungkin jadi “bintang baru” di sektor logistik laut Indonesia.


Ringkasan IPO PJHB

KeteranganDetail
Nama EmitenPT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB)
SektorPelayaran & Logistik Laut
Jumlah Saham Ditawarkan480.000.000 lembar (25%)
Harga PenawaranRp330 per saham
Nilai PenawaranRp158,4 miliar
Waran Seri I240.000.000 lembar (rasio 2:1)
Tanggal Listing di BEI6 November 2025
Penjamin EmisiPT Pilarmas Investindo Sekuritas
Tujuan Dana IPOPembangunan 3 kapal LCT & modal kerja


Jadwal IPO PJHB (Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk)

  1. Masa Penawaran Awal: 22–27 Oktober 2025

  2. Tanggal Efektif: 29 Oktober 2025

  3. Masa Penawaran Umum: 31 Oktober–4 November 2025

  4. Penjatahan Saham dan Waran: 4 November 2025

  5. Distribusi Saham dan Waran: 5 November 2025

  6. Pencatatan di Bursa Efek Indonesia: 6 November 2025

  7. Awal Perdagangan Waran Seri I: 6 November 2025

  8. Periode Pelaksanaan Waran Seri I: 6 Mei 2026 – 6 November 2026


Kesimpulan

Prospek jangka menengah: positif dengan catatan.
Jika IPO PJHB berjalan sesuai rencana dan dana segera digunakan untuk menyelesaikan pembangunan tiga kapal barunya, perusahaan ini berpotensi meningkatkan kapasitas dan pendapatan secara signifikan.
Margin usaha historis yang tinggi menjadi sinyal bahwa model bisnisnya efisien, sehingga ekspansi armada bisa mendorong pertumbuhan profitabilitas secara berkelanjutan.

Hal yang Perlu Dipantau Investor

  1. Realisasi Dana IPO
    Pastikan seluruh dana hasil IPO benar-benar terealisasi sesuai target agar pembangunan kapal dan ekspansi berjalan tepat waktu.

  2. Penyelesaian Proyek Kapal Baru
    Pembangunan kapal pertama sudah menunjukkan progres positif, namun penyelesaian kapal kedua dan ketiga perlu terus dipantau untuk memastikan tidak ada penundaan yang berdampak pada arus pendapatan.

  3. Kondisi Arus Kas dan Likuiditas
    Sebelum IPO, posisi kas perusahaan menurun cukup tajam akibat kebutuhan belanja modal. Setelah IPO, investor perlu memantau kinerja kas dan penggunaan dana agar tetap sehat.

  4. Risiko Operasional
    Faktor cuaca, biaya bahan bakar, dan kondisi pasar pelayaran bisa memengaruhi kinerja operasional. Pengelolaan efisiensi bahan bakar dan kontrak jangka panjang dengan pelanggan akan menjadi kunci kestabilan margin.

Bagi investor jangka menengah hingga panjang, saham PJHB layak dipertimbangkan.

Fokus ekspansi, prospek sektor pelayaran yang positif, serta dukungan program tol laut memberi peluang pertumbuhan yang menarik. Namun, kesabaran menjadi kunci karena hasil ekspansi tidak akan langsung terasa dalam jangka pendek.

Sementara itu, investor jangka pendek atau trader sebaiknya berhati-hati terhadap potensi volatilitas tinggi di awal perdagangan dan kemungkinan likuiditas yang masih terbatas.


Disclaimer: Informasi hanya untuk edukasi, bukan rekomendasi investasi. Analisis ini tidak bertujuan untuk mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

Penulis: Adit Saputra  - Mediasaham Research

0 Comments

Posting Komentar

Berita Terbaru

    Laporan Keuangan

      Dividen Saham