Jakarta, Mediasaham.com — PT Asri Karya Lestari Tbk (IDX: ASLI) mencatatkan kinerja keuangan yang negatif sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025. Emiten konstruksi ini berbalik rugi setelah tahun sebelumnya masih mampu membukukan laba, seiring dengan penurunan tajam pendapatan dan lonjakan beban operasional.
Pendapatan dan Laba Bruto Tertekan
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang dipublikasikan melalui laman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (6/11), ASLI membukukan pendapatan sebesar Rp136,49 miliar hingga 30 September 2025. Nilai ini turun 24,57% dibandingkan Rp180,93 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meskipun beban pokok pendapatan berhasil ditekan 5,7% menjadi Rp129,49 miliar, penurunan omzet yang cukup besar membuat laba bruto perseroan merosot tajam 83,96% menjadi Rp7 miliar dibandingkan Rp43,56 miliar pada 9M24.
Berbalik Rugi di Tingkat Operasional dan Laba Bersih
Kinerja operasional ASLI ikut memburuk. Pada periode Januari–September 2025, perseroan mencatatkan rugi usaha sebesar Rp24,31 miliar, berbalik dari posisi laba usaha Rp6,3 miliar di 9M24. Tekanan ini disebabkan meningkatnya beban umum dan administrasi menjadi Rp27,37 miliar serta tambahan beban keuangan sebesar Rp3,94 miliar.
Dengan kondisi tersebut, ASLI menanggung rugi sebelum pajak Rp24,29 miliar, berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mampu mencatat laba sebelum pajak Rp6,08 miliar. Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan bersih sebesar Rp2,74 miliar, rugi bersih periode berjalan mencapai Rp27,03 miliar.
Rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp26,99 miliar, berbalik dari laba Rp1,79 miliar pada 9M24.
Neraca dan Likuiditas
Dari sisi neraca, total aset ASLI per 30 September 2025 mencapai Rp536,52 miliar, naik 2,54% dibandingkan akhir 2024 sebesar Rp523,20 miliar. Namun, total liabilitas membengkak 20,83% menjadi Rp75,69 miliar dari Rp62,63 miliar pada akhir tahun lalu, terutama disebabkan kenaikan kewajiban jangka pendek.
Ekuitas turun menjadi Rp460,83 miliar dari Rp487,86 miliar pada akhir 2024, mencerminkan tergerusnya saldo laba akibat rugi bersih sepanjang tahun berjalan. Sementara itu, kas dan setara kas mengalami penurunan drastis 90,68% menjadi hanya Rp4,47 miliar, dari Rp47,96 miliar di akhir tahun sebelumnya.
Ringkasan Kinerja Keuangan PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI)
| Pos Keuangan | 9M25 | 9M24 | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | 136,49 | 180,93 | -24,57% |
| Beban Pokok Pendapatan | 129,49 | 137,36 | -5,70% |
| Laba Bruto | 7,00 | 43,56 | -83,96% |
| Laba (Rugi) Usaha | -24,31 | 6,30 | n/a |
| Laba (Rugi) Bersih ke Induk | -26,99 | 1,79 | n/a |
| Total Aset | 536,52 | 523,20* | +2,54% |
| Total Liabilitas | 75,69 | 62,63* | +20,83% |
| Total Ekuitas | 460,83 | 487,86* | -5,54% |
| Kas dan Setara Kas | 4,47 | 47,96* | -90,68% |
Sumber: Laporan Keuangan Konsolidasian PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI), per 30 September 2025.
Keterangan: Pos bertanda (*) dibandingkan posisi per 31 Desember 2024.
Penyebab Kerugian dan Prospek Ke Depan
Kerugian yang dialami ASLI pada sembilan bulan pertama 2025 terutama disebabkan oleh penurunan omzet di tengah meningkatnya beban operasional dan keuangan. Penjualan yang melemah menunjukkan bahwa pasar properti dan proyek konstruksi yang menjadi basis pendapatan utama perusahaan masih menghadapi tekanan dari sisi permintaan, baik akibat perlambatan sektor pembangunan maupun penyesuaian strategi proyek.
Cek juga informasi tentang Laba BLES Anjlok 61,2% di 9M25, Kenaikan Beban Tekan Margin Meski Penjualan Tumbuh Tipis
Turunnya laba bruto hingga 83,96% menandakan bahwa efisiensi biaya belum cukup mengimbangi penurunan pendapatan. Kenaikan beban administrasi dan biaya keuangan juga memperparah tekanan terhadap margin operasional.
Menjelang akhir tahun, tantangan ASLI diperkirakan masih tinggi, terutama dari sisi likuiditas yang menipis dan kebutuhan menjaga arus kas di tengah biaya operasional yang besar. Dengan kas yang tersisa hanya Rp4,47 miliar, perusahaan perlu memperkuat strategi pengelolaan modal kerja agar tetap mampu membiayai kegiatan operasional tanpa menambah tekanan pada utang jangka pendek.
Perusahaan investasi terbesar di Indonesia yaitu Saratoga (SRTG) mengalami Rugi Rp2,43 Triliun pada kuartal III 2025.
Namun demikian, jika ASLI berhasil menekan beban dan memulihkan pendapatan pada kuartal IV—melalui percepatan proyek konstruksi dan diversifikasi pendapatan—potensi perbaikan kinerja masih terbuka, meski pemulihan penuh diperkirakan baru terjadi pada 2026.

0 Comments
Posting Komentar