Jakarta, Mediasaham.com — PT Bukit Asam Tbk (IDX: PTBA) membukukan laba bersih sebesar Rp1,4 triliun hingga periode sembilan bulan pertama 2025 (9M25), longsor 57 persen dibandingkan Rp3,26 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, perusahaan pelat merah anggota grup MIND ID ini tetap mencatatkan kinerja operasional yang solid dengan pertumbuhan produksi dan penjualan batu bara masing-masing 9 persen dan 8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Direktur Utama PTBA Arsal Ismail menyebutkan bahwa di tengah tekanan harga batu bara global yang menurun, perseroan berhasil menjaga profitabilitas melalui efisiensi biaya dan optimalisasi pasar domestik.
Pendapatan Naik Tipis, Namun Harga Batu Bara Tekan Margin
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2025, pendapatan usaha PTBA mencapai Rp31,33 triliun atau naik 2 persen dibandingkan Rp30,66 triliun pada 9M24.
Kenaikan ini didorong oleh volume penjualan yang meningkat menjadi 33,7 juta ton dari 31,3 juta ton tahun lalu. Penjualan domestik tumbuh 11 persen menjadi 18,82 juta ton, sedangkan ekspor naik 4 persen menjadi 14,88 juta ton.
Meski volume meningkat, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) turun 6 persen seiring dengan pelemahan harga batu bara global. Newcastle Coal Index (NCI) turun 22 persen, sementara Indonesian Coal Index (ICI-3) melemah 16 persen (yoy).
Beban Pokok Naik 11%, Laba Usaha Turun 59%
Beban pokok pendapatan meningkat 11 persen menjadi Rp27,76 triliun dari Rp25,05 triliun tahun sebelumnya. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas operasional, termasuk volume produksi dan angkutan batu bara, serta kenaikan harga bahan bakar sekitar 8 persen akibat kebijakan biodiesel B40.
Sebagai akibatnya, laba kotor PTBA turun 36 persen menjadi Rp3,57 triliun dari Rp5,61 triliun, sementara laba usaha menurun tajam 59 persen menjadi Rp1,59 triliun dari Rp3,92 triliun pada 9M24.
Earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) tercatat sebesar Rp3,56 triliun, turun 37 persen secara tahunan, dengan EBITDA margin sebesar 11 persen.
Kinerja Operasional Masih Positif
Dari sisi operasional, PTBA berhasil mencatat peningkatan produksi batu bara menjadi 35,9 juta ton pada 9M25, naik 9 persen dari 32,97 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Volume angkutan juga meningkat 8 persen menjadi 30 juta ton, sementara stripping ratio menurun sedikit menjadi 5,98x dari 6,02x pada 9M24, mencerminkan efisiensi di lapangan tambang.
Aset Naik 3%, Liabilitas Meningkat 15%, Ekuitas Turun 8%
Dari sisi neraca, total aset PTBA mencapai Rp42,84 triliun per 30 September 2025, naik 3 persen dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp41,79 triliun.
Total liabilitas meningkat 15 persen menjadi Rp22,06 triliun, sedangkan total ekuitas turun 8 persen menjadi Rp20,77 triliun.
Kas dan setara kas turun tipis 3 persen menjadi Rp4,01 triliun dari Rp4,13 triliun pada akhir 2024. Sementara utang berbunga meningkat signifikan 143 persen menjadi Rp3,40 triliun, sejalan dengan peningkatan pembiayaan proyek.
Arus Kas dan Belanja Modal
Arus kas dari aktivitas operasi turun 4 persen menjadi Rp4,2 triliun, dipengaruhi peningkatan pembayaran kepada pemasok dan karyawan akibat kenaikan harga bahan bakar.
Sementara itu, arus kas untuk investasi meningkat menjadi Rp2,2 triliun dari Rp0,8 triliun tahun sebelumnya, digunakan untuk penambahan aset tetap dan pengembangan proyek logistik strategis Tanjung Enim–Kramasan.
Baca juga info mengenai Laporan Keuangan ABM Investama (ABMM) Q3 2025: Laba Bersih Anjlok 62,1% Jadi USD 42,4 Juta
Total belanja modal (capital expenditure/capex) yang telah terealisasi mencapai Rp3,0 triliun atau 41 persen dari target tahunan Rp7,2 triliun.
Ringkasan Kinerja Keuangan PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
(Periode 30 September 2025 dibandingkan 30 September 2024)
(Dalam juta rupiah kecuali dinyatakan lain)
| Pos Keuangan | 9M24 | 9M25 | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Pendapatan Usaha | 30.655.933 | 31.330.296 | +2,2% |
| Beban Pokok Pendapatan | 25.047.684 | 27.764.355 | +10,9% |
| Laba Kotor | 5.608.249 | 3.565.941 | -36,4% |
| Laba Usaha | 3.919.848 | 1.595.842 | -59,3% |
| EBITDA | 5.653.761 | 3.556.870 | -37,1% |
| Laba Bersih | 3.260.340 | 1.394.026 | -57% |
| EPS (Rupiah) | 281 | 121 | -57,0% |
| Total Aset | 41.785.576 | 42.836.755 | +2,5% |
| Total Liabilitas | 19.141.764 | 22.063.478 | +15,2% |
| Total Ekuitas | 22.643.812 | 20.773.277 | -8,3% |
| Kas dan Setara Kas | 4.132.858 | 4.005.385 | -3,1% |
| Utang Berbunga | 1.397.680 | 3.401.960 | +143,6% |
| Belanja Modal | 2.348.332 | 2.985.280 | +27,1% |
Prospek dan Strategi
PTBA menargetkan volume produksi tahun penuh 2025 sebesar 50,05 juta ton, dengan volume penjualan 50,09 juta ton dan stripping ratio 6,49x. Perusahaan menegaskan komitmennya terhadap efisiensi biaya, penguatan pasar domestik, serta ekspansi portofolio bisnis berkelanjutan, termasuk pengembangan energi baru terbarukan di bawah grup MIND ID.
Baca juga informasi Laporan Keuangan Adaro Andalan (AADI) Q3 2025: Laba Bersih Anjlok 45%
Corporate Secretary PTBA, Eko Prayitno, menyatakan bahwa perseroan akan terus mengedepankan prinsip cost leadership dan efisiensi operasional untuk menjaga kinerja positif di tengah tren harga batu bara global yang menurun.

0 Comments
Posting Komentar