Analisis Strategis Merger Moratelindo (MORA) dan MyRepublic (EMR): Panduan Lengkap bagi Investor

penggabungan dua perusahaan
Ilustrasi Penggabungan dua perusahaan (merger). Adit Saputra / Mediasaham.com


Poin Utama Merger MORA & EMR (MyRepublic)

1. Integrasi Vertikal Strategis

Penggabungan antara MORA (pemilik infrastruktur kabel serat optik 57.779 km) dan EMR/MyRepublic (penyedia internet ritel) akan menciptakan ekosistem telekomunikasi terpadu. Sinergi ini bertujuan meningkatkan efisiensi biaya sewa jaringan dan memperluas pangsa pasar melawan kompetitor besar seperti IndiHome dan Link Net.

2. Struktur Transaksi & Kendali Sinar Mas

MORA akan menjadi entitas yang bertahan (surviving entity) dengan rasio konversi 1 saham EMR setara 7.703,8 saham baru MORA. Pasca-merger, Grup Sinar Mas melalui PT Innovate Mas Utama akan menjadi pengendali baru dengan kepemilikan mayoritas, yang memberikan stabilitas finansial bagi entitas gabungan.

3. Opsi Investor & Jadwal Krusial

Pemegang saham MORA menghadapi potensi dilusi kepemilikan sebesar 50,50%. Namun, tersedia mekanisme perlindungan berupa buyback pada harga Rp432 per saham bagi pemegang saham yang tidak setuju. Tanggal penting yang wajib dipantau adalah RUPSLB pada 25 Maret 2026 dan tanggal efektif penggabungan pada 22 April 2026.

Industri telekomunikasi Indonesia tengah bersiap menyambut salah satu aksi korporasi paling signifikan di tahun 2026. Rencana penggabungan usaha (merger) antara PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), yang dikenal sebagai raksasa infrastruktur backbone serat optik, dengan PT Eka Mas Republik (EMR), penyedia layanan internet ritel bermerek MyRepublic, menjanjikan terciptanya kekuatan baru dalam ekosistem digital nasional.

Artikel ini akan mengupas tuntas setiap sudut dari rancangan penggabungan tersebut, mulai dari valuasi, rasio konversi saham, hingga proyeksi sinergi yang akan mempengaruhi nilai investasi Anda.

1. Latar Belakang dan Profil Perusahaan yang Melakukan Penggabungan

PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA)

Didirikan pada tahun 2000, MORA telah berkembang menjadi salah satu penyedia jaringan fiber optik backbone terbesar di Indonesia. Kekuatan utama MORA terletak pada infrastruktur bawah laut dan darat yang masif, mencakup Sumatera, Jawa, Bali, hingga Papua.

  • Jangkauan: Per September 2025, MORA memiliki kabel serat optik sepanjang 57.779 km dan mengoperasikan 6 data center di lokasi strategis seperti Jakarta, Surabaya, dan Batam.
  • Segmen Pasar: Utama pada segmen enterprise, Internet Service Provider (ISP), dan penyediaan kapasitas jaringan internasional melalui sistem kabel MIC-1 ke Singapura.

PT Eka Mas Republik (EMR)

EMR, yang beroperasi dengan merek dagang MyRepublic, adalah pemain kunci di sektor internet broadband ritel (Fiber to the Home - FTTH). Sebagai bagian dari grup Sinar Mas, EMR fokus pada penyediaan internet kecepatan tinggi untuk pelanggan residensial dan usaha kecil menengah (UKM).

  • Model Bisnis: Berbeda dengan MORA yang fokus pada "jalan tol" informasi (infrastruktur), EMR adalah "kendaraan" yang mengantarkan layanan langsung ke pintu rumah pelanggan.

2. Rasional Strategis: Mengapa Merger Ini Terjadi?

Investor perlu memahami bahwa merger ini bukan sekadar penggabungan dua entitas, melainkan integrasi vertikal yang sangat kuat.

  • Sinergi Infrastruktur dan Ritel: MORA memiliki kabel, sedangkan EMR memiliki basis pelanggan ritel yang besar. Dengan bergabung, entitas gabungan dapat mengurangi biaya sewa jaringan pihak ketiga dan memaksimalkan utilisasi aset serat optik milik sendiri.
  • Efisiensi Biaya Operasional: Penggabungan fungsi kantor pusat, operasional, dan pemasaran diharapkan dapat menekan rasio biaya terhadap pendapatan. Kantor pusat akan dipusatkan di Grha 9, Menteng, sementara kantor EMR di Sinar Mas Land Plaza akan menjadi kantor cabang.
  • Skala Ekonomi: Gabungan kedua perusahaan ini akan memiliki kapasitas untuk bersaing lebih kompetitif melawan raksasa telekomunikasi lain seperti Telkom (IndiHome) dan Link Net (XL Axiata).

3. Detail Transaksi dan Struktur Permodalan Pasca-Merger

Rencana penggabungan ini akan menempatkan MORA sebagai entitas yang tetap berdiri (surviving entity), sementara EMR akan berakhir demi hukum tanpa likuidasi.

Valuasi Saham dan Rasio Konversi

Berdasarkan penilaian independen per 30 September 2025, nilai pasar kedua perusahaan hampir setara, yang menunjukkan betapa besarnya skala merger ini:

  • Nilai Pasar Ekuitas MORA: Rp10,21 triliun (Rp432 per saham).
  • Nilai Pasar Ekuitas EMR: Rp10,42 triliun (Rp3.327.118 per saham).

Berdasarkan valuasi tersebut, telah disepakati Rasio Konversi Saham:

1 Saham EMR = 7.703,807548 Saham Baru MORA.

Dampak Dilusi bagi Pemegang Saham MORA

Aksi korporasi ini akan menyebabkan penambahan jumlah saham beredar MORA secara signifikan. Pemegang saham eksisting MORA akan mengalami dilusi kepemilikan sebesar 50,50%. Meskipun terjadi dilusi, secara teori, nilai ekonomi pemegang saham tetap terjaga karena mereka kini memiliki persentase lebih kecil dalam entitas yang memiliki aset dua kali lebih besar.

4. Struktur Pemegang Saham dan Kendali (Ultimate Beneficial Owner)

Setelah merger efektif, peta kepemilikan MORA akan berubah drastis dengan masuknya entitas di bawah naungan Grup Sinar Mas sebagai pemegang saham mayoritas.

  • Pengendali Baru: PT Innovate Mas Utama (IMU) akan menjadi pengendali dari MORA pasca-merger.
  • UBO (Ultimate Beneficial Owner): Pemilik manfaat akhir dari entitas hasil penggabungan adalah Bapak Franky Oesman Widjaja dan Ibu Farida Bau.

Hal ini menandakan integrasi yang lebih dalam antara aset telekomunikasi Sinar Mas dengan infrastruktur strategis Moratelindo.

5. Jadwal Penting yang Harus Dipantau Investor (Milestones)

Investor harus memperhatikan tanggal-tanggal kritis berikut guna mengambil langkah strategis:

  • 18 Desember 2025: Pengumuman resmi rancangan penggabungan.
  • 25 Maret 2026: Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk persetujuan merger.
  • 6 - 17 April 2026: Periode bagi pemegang saham yang tidak setuju untuk mengajukan permintaan pembelian kembali (buyback) saham mereka.
  • 22 April 2026: Perkiraan Tanggal Efektif Penggabungan setelah mendapat persetujuan Menteri Hukum.
  • 23 April 2026: Tanggal pembayaran bagi pemegang saham yang melakukan buyback.

6. Opsi bagi Pemegang Saham: Setuju atau Tidak?

MORA memberikan perlindungan bagi pemegang saham minoritas yang tidak setuju dengan rencana merger ini melalui mekanisme buyback.

  • Harga Buyback: Pemegang saham yang memenuhi syarat dapat meminta saham mereka dibeli kembali di harga wajar, yaitu Rp432 per saham.
  • Pertimbangan: Jika harga pasar di bursa lebih rendah dari Rp432 saat periode verifikasi, opsi buyback ini bisa menjadi pelindung modal (capital protection) bagi investor minoritas. Namun, jika investor percaya pada prospek jangka panjang entitas gabungan, tetap memegang saham adalah pilihan untuk menikmati potensi pertumbuhan di masa depan.

7. Analisis Laporan Keuangan Proforma (Key Highlights)

Secara proforma, entitas gabungan akan memiliki profil keuangan yang jauh lebih kokoh dibandingkan entitas mandiri.

  • Aset: Total aset gabungan diperkirakan melonjak karena konsolidasi seluruh infrastruktur EMR ke dalam neraca MORA.
  • Laba per Saham: Adanya penyesuaian proforma termasuk eliminasi utang-piutang antar-perusahaan dan penyesuaian akuntansi kombinasi bisnis untuk mencerminkan nilai wajar.
  • Rasio Keuangan: MORA mencatatkan perbaikan berkelanjutan dalam Debt to Equity Ratio (DER) dari 139,14% di 2022 menjadi 89,34% per September 2025. Hal ini menunjukkan manajemen risiko utang yang baik menjelang merger besar ini.

8. Analisis Risiko: Apa yang Harus Diwaspadai?

Meskipun terlihat menjanjikan, investor tetap harus mempertimbangkan beberapa risiko material:

  1. Risiko Integrasi: Menyatukan dua budaya perusahaan dan sistem operasional yang berbeda (infrastruktur vs ritel) bukanlah perkara mudah. Kegagalan integrasi dapat menghambat pencapaian sinergi yang diharapkan.
  2. Risiko Regulasi: Perubahan kebijakan pemerintah di sektor telekomunikasi atau tantangan dari otoritas persaingan usaha (KPPU) bisa menjadi penghambat.
  3. Dampak Pajak: Otoritas pajak mungkin memiliki pandangan berbeda atas posisi pajak hasil merger, yang berpotensi menimbulkan kewajiban tambahan.

9. Kesimpulan dan Pandangan Investasi (Investment Outlook)

Merger MORA dan EMR (MyRepublic) adalah langkah defensif sekaligus ofensif yang cerdas. Secara defensif, perusahaan memperkuat kontrol atas rantai pasok infrastruktur. Secara ofensif, mereka menciptakan ekosistem end-to-end yang sulit dikalahkan oleh pemain baru.

Bagi Investor Jangka Panjang: Merger ini memberikan akses ke perusahaan telekomunikasi dengan aset fisik yang kuat dan basis pelanggan ritel yang tumbuh cepat. Kepemilikan di bawah kendali Grup Sinar Mas juga memberikan stabilitas dari sisi dukungan finansial dan ekosistem bisnis yang luas.

Bagi Investor Jangka Pendek: Pergerakan harga saham MORA menjelang RUPSLB pada Maret 2026 akan sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap harga buyback Rp432 dan persepsi terhadap nilai dilusi 50,50%.

Secara keseluruhan, penggabungan ini menandai era baru bagi Moratelindo untuk bertransformasi dari sekadar "penyedia kabel" menjadi pemimpin pasar layanan digital terpadu di Indonesia.


Kontak Informasi Tambahan:
Apabila Anda memerlukan informasi lebih lanjut mengenai penggabungan ini, perusahaan telah menyediakan akses melalui Kantor Pusat di Grha 9, Jl. Penataran No. 9, Jakarta Pusat.


Disclaimer: Analisis ini berdasarkan dokumen Ringkasan Rancangan Penggabungan tanggal 18 Desember 2025. Artikel ini bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan perintah jual atau beli. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga. Redaksi Mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pembaca.

Penulis: Adit Saputra, Radit M. Pase  - Mediasaham Research

Sumber Data: Pengumuman Keterbukaan Informasi di IDX

0 Comments

Posting Komentar

Berita Terbaru

    Laporan Keuangan

      Dividen Saham