Laba Bersih Jaya Ancol (PJAA) Kuartal III-2025 Anjlok 41,7%, Ini Penyebabnya!

logo ancol

Mediasaham.com, Jakarta — PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (IDX: PJAA) mencatat penurunan signifikan pada laba bersih sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang dirilis PJAA di Bursa Efek Indoneesia (BEI), laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp58,63 miliar, anjlok 41,7% secara tahunan (YoY) dari Rp100,60 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Koreksi tersebut disebabkan oleh penurunan pendapatan usaha, meski beban langsung dan biaya operasional relatif terkendali.

Pendapatan Ancol Turun 9,4% YoY

Sepanjang Januari–September 2025, pendapatan usaha PJAA tercatat Rp798,53 miliar, atau turun 9,4% YoY dibandingkan Rp881,45 miliar pada periode yang sama tahun 2024.

Beban pokok pendapatan dan beban langsung sedikit menurun dari Rp443,10 miliar menjadi Rp440,03 miliar (turun 0,7% YoY), menghasilkan laba bruto sebesar Rp358,49 miliar, turun 18,2% YoY dari Rp438,34 miliar.

Laba Usaha Terkoreksi 31,1%

Efisiensi operasional belum cukup menahan penurunan margin. Laba usaha PJAA tercatat Rp164,29 miliar, turun 31,1% YoY dari Rp238,39 miliar tahun sebelumnya.

Beban umum dan administrasi naik tipis 2,0% YoY menjadi Rp187,51 miliar, sementara beban penjualan turun 2,8% YoY menjadi Rp23,96 miliar.
Namun, pendapatan bunga juga turun tajam 39,7% dari Rp14,21 miliar menjadi Rp8,57 miliar, dan beban keuangan masih tinggi di Rp56,47 miliar, meski turun 26,1% YoY dari Rp76,36 miliar.

Aset Turun 4,3%, Ekuitas Naik 1,2%

Per 30 September 2025, total aset PJAA tercatat Rp3,44 triliun, menurun 4,3% dibanding posisi akhir Desember 2024 sebesar Rp3,59 triliun.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh anjloknya kas dan setara kas hingga 53,8%, dari Rp292,79 miliar menjadi Rp135,20 miliar.

Sementara itu, total ekuitas meningkat 1,2% YoY menjadi Rp1,75 triliun, ditopang oleh saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp1,44 triliun, naik dari Rp1,42 triliun tahun sebelumnya.

Liabilitas Turun 9,4%, Utang Jangka Pendek Berkurang Drastis

Total liabilitas PJAA turun 9,4% YoY menjadi Rp1,68 triliun dari Rp1,86 triliun.
Liabilitas jangka pendek anjlok tajam 39,9%, dari Rp569,55 miliar menjadi Rp342,47 miliar, akibat penurunan utang bank jangka pendek dari Rp244,78 miliar menjadi Rp24,85 miliar.

Sebaliknya, liabilitas jangka panjang meningkat 4,1% menjadi Rp1,34 triliun, dipengaruhi munculnya utang bank jangka panjang Rp73,13 miliar yang sebelumnya nihil.

Arus Kas Operasi Naik 32,8%, Kas Akhir Turun 49,3%

Dari sisi arus kas, kas bersih dari aktivitas operasi tercatat Rp113,60 miliar, naik 32,8% YoY dari Rp85,51 miliar.
Peningkatan ini terutama karena efisiensi pembayaran pajak yang menurun drastis 69,5%, dari Rp150,56 miliar menjadi Rp45,96 miliar.

Namun demikian, kas dan setara kas akhir periode turun signifikan 49,3% YoY, dari Rp269,02 miliar menjadi Rp135,20 miliar, akibat tingginya pembayaran utang bank dan dividen sebesar Rp38,4 miliar.

Laba per Saham Turun ke Rp37

Penurunan laba bersih berimbas pada laba per saham dasar (EPS) yang turun dari Rp63 per saham menjadi Rp37 per saham, setara penurunan 41,3% YoY.

Tiga Faktor Utama Penyebab Laba Bersih PJAA Anjlok 41,7% di Kuartal III-2025

Analisis laporan keuangan menunjukkan bahwa anjloknya laba bersih disebabkan oleh tiga faktor utama, yaitu penurunan pendapatan inti, penurunan efisiensi margin, dan tingginya beban keuangan serta pajak final.

1. Pendapatan Usaha Menurun 9,4%

Pendapatan usaha PJAA turun dari Rp881,45 miliar menjadi Rp798,53 miliar, atau terkoreksi 9,4% YoY.
Koreksi ini mengindikasikan adanya perlambatan aktivitas bisnis utama perseroan, baik dari sektor rekreasi dan hiburan, properti komersial, maupun event dan sponsorship.

Pelemahan ini kemungkinan besar terkait dengan:

  • Menurunnya jumlah pengunjung Ancol, terutama pascalibur panjang semester pertama 2025.

  • Minimnya event skala besar di kawasan wisata Ancol yang biasanya menjadi penyumbang signifikan bagi pendapatan non-tiket.

  • Efek pergeseran konsumsi masyarakat, di mana wisatawan lebih banyak memilih destinasi luar kota dengan atraksi baru.

Akibatnya, laba kotor (gross profit) terkoreksi 18,2% YoY menjadi Rp358,49 miliar, menunjukkan penurunan efisiensi pendapatan terhadap biaya langsung.

2. Margin Operasional Tergerus 31,1%

Penurunan margin laba usaha menjadi salah satu penyebab utama turunnya laba bersih PJAA.
Laba usaha turun 31,1% YoY, dari Rp238,39 miliar menjadi Rp164,29 miliar, seiring kenaikan beban operasional.

Rinciannya:

  • Beban umum dan administrasi naik dari Rp183,77 miliar menjadi Rp187,51 miliar (+2,0% YoY), menandakan peningkatan biaya gaji, utilitas, dan pemeliharaan aset.

  • Beban penjualan relatif stabil di sekitar Rp23,96 miliar, menandakan biaya promosi tidak meningkat, tetapi belum efektif meningkatkan traffic pengunjung.

  • Pendapatan bunga merosot 39,7% YoY menjadi Rp8,57 miliar, menandakan penurunan hasil dari instrumen keuangan atau deposito perusahaan.

Secara agregat, laba operasi (operating margin) melemah karena pendapatan turun lebih tajam dibanding efisiensi biaya yang dicapai.

3. Beban Keuangan dan Pajak Masih Menekan

Meskipun beban keuangan turun dari Rp76,36 miliar menjadi Rp56,47 miliar (turun 26,1% YoY), pos ini masih menjadi beban besar terhadap laba sebelum pajak.
Penurunan utang jangka pendek membantu menekan bunga, tetapi belum cukup untuk mengembalikan profitabilitas ke level tahun lalu.

Selain itu, beban pajak final naik tipis 5,6% YoY menjadi Rp20,10 miliar, sementara beban pajak penghasilan meski turun 31,5% tetap berada di level tinggi Rp29,76 miliar.
Kombinasi kedua pos ini menekan laba bersih sebelum pajak menjadi hanya Rp87,95 miliar, turun 38,7% YoY dari Rp143,41 miliar.

4. Tekanan Arus Kas dan Likuiditas

Penurunan kas dan setara kas dari Rp292,79 miliar menjadi Rp135,20 miliar (-53,8%) menunjukkan perusahaan menghadapi tekanan likuiditas, meski arus kas operasi masih positif.
Tingginya pembayaran utang bank (Rp250 miliar) dan pembagian dividen (Rp38,4 miliar) mempersempit ruang manuver perusahaan untuk ekspansi atau investasi baru.

Kondisi ini menjadi indikasi bahwa manajemen lebih fokus pada stabilisasi keuangan dan pengendalian utang ketimbang agresif menumbuhkan pendapatan di 2025.

🧾 Ringkasan Kinerja Keuangan PJAA – September 2025 vs September 2024
(Dalam jutaan rupiah, kecuali dinyatakan lain)

Pos Keuangan Utama

Sept 2025

Sept 2024

Perubahan (±)

% Perubahan YoY

Pendapatan Usaha

798.529

881.446

-82.917

-9,4%

Beban Pokok & Beban Langsung

440.034

443.105

-3.071

-0,7%

Laba Bruto

358.495

438.341

-79.846

-18,2%

Beban Umum & Administrasi

187.511

183.772

+3.739

+2,0%

Beban Penjualan

23.956

24.637

-681

-2,8%

Laba Usaha

164.289

238.390

-74.101

-31,1%

Pendapatan Bunga

8.572

14.211

-5.639

-39,7%

Beban Keuangan

56.473

76.357

-19.884

-26,0%

Laba Sebelum Pajak

87.946

143.414

-55.468

-38,7%

Beban Pajak Penghasilan

29.761

43.479

-13.718

-31,5%

Laba Bersih

58.185

99.935

-41.750

-41,8%

Laba Bersih yang Dapat Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk

58.625

100.595

-41.970

-41,7%

Laba per Saham (EPS) (Rupiah penuh)

37

63

-26

-41,3%

Total Aset

3.436.922

3.591.729

-154.807

-4,3%

Kas & Setara Kas

135.198

292.786

-157.588

-53,8%

Total Liabilitas

1.683.260

1.857.852

-174.592

-9,4%

Total Ekuitas

1.753.662

1.733.877

+19.785

+1,1%

Arus Kas dari Aktivitas Operasi

113.604

85.514

+28.090

+32,8%

Arus Kas Akhir Periode

135.198

269.015

-133.817

-49,8%

Kesimpulan

Secara keseluruhan, anjloknya laba bersih PJAA 2025 bersumber dari penurunan pendapatan utama (top-line) dan penyusutan margin laba operasi (bottom-line) akibat biaya tetap yang tinggi serta belum pulihnya kunjungan wisata ke kawasan Ancol.

0 Comments

Posting Komentar

Berita Terbaru

    Laporan Keuangan

      Dividen Saham