Jakarta, Mediasaham.com — PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC), anak usaha PT Pelindo Multi Terminal, mencatat kinerja keuangan solid hingga kuartal III 2025 di tengah pelemahan ekonomi domestik dan penurunan penjualan mobil nasional. Emiten pelabuhan kendaraan terbesar di Indonesia ini membukukan laba bersih sebesar Rp190,3 miliar, tumbuh 28,42% year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Pendapatan IPCC meningkat 12,67% menjadi Rp660,24 miliar, didorong oleh lonjakan arus kendaraan ekspor dan impor — khususnya mobil listrik (EV) — serta efisiensi operasional. Laba usaha juga naik 18,36%, dan EBITDA tumbuh 8,75% menjadi Rp297,73 miliar, dengan EBITDA margin 45,1% dan net profit margin 28,42%.
Direktur Utama IPCC Sugeng Mulyadi menegaskan, kinerja kuat ini menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga efisiensi dan profitabilitas di tengah dinamika industri otomotif.
“Kami fokus memperkuat ekosistem logistik kendaraan terintegrasi dan menjaga kinerja berkelanjutan. Strategi ekspansi dan digitalisasi menjadi kunci kami untuk menghadapi tantangan pasar,” ujar Sugeng dalam Public Expose IPCC 2025 di Jakarta, Selasa (29/10/2025).
Ekspor Naik, Impor Mobil Listrik Dorong Trafik Terminal
Meskipun aktivitas domestik menurun, IPCC mencatat peningkatan signifikan di terminal internasional, terutama dari impor kendaraan listrik (EV). Berdasarkan data GAIKINDO, hingga September 2025, IPCC menguasai 74,4% pangsa ekspor dan 84,63% pangsa impor logistik kendaraan nasional.
Terminal satelit seperti Banjarmasin, Belawan, dan Makassar juga menunjukkan tren positif, seiring beroperasinya fasilitas baru dan penyesuaian tarif layanan. Terminal Banjarmasin sendiri kini berkontribusi sekitar 10% terhadap pendapatan IPCC, dan diproyeksikan meningkat signifikan pada 2026.
Investasi dan Strategi Bisnis
Untuk tahun 2025, IPCC mengalokasikan belanja modal (CAPEX) Rp7,4 miliar yang digunakan untuk:
-
Pembangunan gedung parkir baru,
-
Pekerjaan jaringan overspray, dan
-
Revitalisasi infrastruktur dan sistem teknologi.
Sugeng memaparkan bahwa IPCC menargetkan menjadi pemimpin ekosistem logistik kendaraan di Asia Tenggara melalui strategi Go Integrated Auto Solutions 2029, dengan tiga tahapan utama:
-
Business Alignment & Konsolidasi,
-
Business Enhancement,
-
Integrated Ecosystem Achievement.
Ekspansi juga diarahkan secara horizontal (perluasan ke Surabaya, Lembar, dan Semarang) dan vertikal (pengembangan layanan car carrier, shipping, dan vehicle distribution center).
Dividen Dua Kali Setahun, Buyback Selektif
IPCC menegaskan posisinya sebagai perusahaan tanpa utang (debt-free), dengan kas kuat dan liabilitas jangka panjang hanya berasal dari pencatatan sewa lahan (PSAK 73).
Dengan EBITDA tahunan sekitar Rp400 miliar, IPCC berencana membagikan dividen dua kali setahun — dividen interim dan final — mulai periode 2025–2026.
“Kebijakan ini memberi nilai optimal bagi pemegang saham tanpa mengganggu kebutuhan ekspansi. Dividen interim diupayakan dibagikan pada Desember 2025 atau awal 2026,” jelas Sugeng.
IPCC juga mengonfirmasi bahwa buyback saham telah dilakukan pada 2025 di kisaran harga Rp600–700 per saham, namun akan dilanjutkan secara selektif jika harga kembali di bawah Rp1.000.
Fokus ESG dan Tata Kelola
Dalam aspek keberlanjutan, IPCC memperkuat komitmen ESG (Environmental, Social, and Governance) dengan pendekatan berbasis aksi nyata.
Perusahaan meraih skor 110 poin pada Asian Corporate Governance Scorecard (ACGS) dengan standar OECD, serta penghargaan dari Singapura dan Bangkok atas manajemen risiko unggul.
Program ESG IPCC berfokus pada:
-
Efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon hingga 60.000 ton per tahun,
-
Keselamatan kerja dan pemberdayaan masyarakat, serta
-
Transparansi dan manajemen risiko efektif.
IPCC kini memiliki sekitar 11.000 investor, dengan target naik menjadi 20.000 investor dan likuiditas perdagangan saham mencapai 3–5 miliar transaksi per hari.
Rangkuman Sesi Tanya Jawab
Sesi tanya jawab dengan investor berlangsung aktif, mencakup topik insentif mobil listrik, ekspor otomotif, strategi buyback, hingga ekspansi internasional.
Beberapa isu kunci yang menarik perhatian investor antara lain:
-
Impor EV setelah insentif berakhir (2026)
-
Rencana terminal baru di Surabaya
-
Kontribusi Terminal Banjarmasin
-
Rencana ekspor ke Meksiko dan Eropa
-
Potensi keterlibatan IPCC dalam suntikan dana Danantara sebesar Rp16 triliun
Tanya Jawab dengan Investor
Pertanyaan (Investor):
“Apakah pemerintah akan melanjutkan insentif impor mobil listrik tahun depan, dan bagaimana IPCC mengantisipasi jika insentif tersebut berakhir?”
Jawaban – Sugeng Mulyadi:
“Insentif EV kemungkinan tidak diperpanjang, tetapi kebijakan net zero carbon 2060 tetap berjalan. Pemerintah kini fokus mendorong produsen mobil listrik untuk memproduksi di Indonesia, bukan sekadar impor.
Setelah insentif berakhir, ekspor kendaraan dari Indonesia justru diperkirakan meningkat karena produsen seperti Toyota dan BYD akan mengekspor hasil produksi lokalnya. Tantangan kami adalah memastikan kapasitas ekspor siap menghadapi lonjakan permintaan global.”
Prospek 2026: Optimistis Ekspor & Terminal Baru
Menghadapi 2026, IPCC optimistis kinerja akan tetap positif didukung kenaikan ekspor kendaraan buatan Indonesia, terutama dari produsen besar seperti Toyota dan BYD yang akan menjadikan Indonesia basis ekspor regional.
Ekspansi terminal kendaraan di Surabaya diproyeksikan rampung hingga 90% pada 2026, sementara peluang kerja sama internasional di India dan Timur Tengah tengah dikaji lebih lanjut.
“Kami melihat peluang besar menjadikan Indonesia sebagai hub otomotif Asia. IPCC siap menjadi penggerak utama logistik kendaraan nasional dan global,” pungkas Sugeng.
.jpg)
0 Comments
Posting Komentar