Saham RLCO ARA Berjilid - Jilid, Harga Meroket dari Rp168 ke Rp1.765 atau Terbang 950%

RLCO ARA Berjilid-jilid
Grafik saham RLCO terus mengalami ARA berjilid-jilid sejak IPO tanggal 8 Desember. Foto tangkapan layar Tradingview

JAKARTA, Mediasaham.com – Pasar modal Indonesia tengah dihebohkan oleh pergerakan harga saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO). Sejak melakukan penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) pada awal Desember 2025, emiten ini terus mencatatkan sejarah dengan menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA) di setiap hari perdagangan.

Hingga sesi perdagangan menjelang akhir tahun, 30 Desember 2025, saham RLCO telah bertengger di level Rp1.765. Angka ini menunjukkan kenaikan fantastis lebih dari 950% dibandingkan harga perdana saat IPO yang hanya sebesar Rp168.

Kronologi Kenaikan Saham RLCO: Dari Rp168 hingga Rp1.765

RLCO resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Desember 2025. Sejak hari pertama, antusiasme investor sudah terlihat sangat tinggi, yang tercermin dari volume perdagangan dan antrean beli di kolom bid yang tak kunjung habis setiap harinya.

Tanggal Harga Awal Harga Penutupan Status
08 Des 2025 168 226 ARA (Day 1)
15 Des 2025 550 685 ARA
19 Des 2025 1.065 1.330 ARA
24 Des 2025 1.330 1.460 ARA
29 Des 2025 1.460 1.605 ARA
30 Des 2025 1.605 1.765 ARA

*Data berdasarkan ringkasan historis harga perdagangan di Bursa Efek Indonesia.

Analisis: Mengapa RLCO ARA Setiap Hari?

Fenomena "ARA Berjilid-jilid" pada saham RLCO dipicu oleh beberapa faktor strategis yang menjadi perhatian pelaku pasar:

1. Kapitalisasi Pasar yang Menarik

Dengan harga IPO yang relatif rendah di Rp168, RLCO dipandang sebagai saham yang sangat likuid secara psikologis. Kelangkaan barang (supply) di pasar reguler berbanding terbalik dengan permintaan (demand) yang masif dari investor ritel maupun institusi.

2. Sentimen Ekspansi Bisnis

Investor merespons positif prospek penggunaan dana IPO RLCO. Kepercayaan pasar terhadap manajemen PT Abadi Lestari Indonesia Tbk memberikan optimisme bahwa perusahaan akan tumbuh agresif di tahun 2026.

3. Psikologi Pasar (FOMO)

Kenaikan yang konsisten menciptakan efek Fear of Missing Out. Investor yang tidak mendapatkan penjatahan saat IPO berusaha masuk di harga berapapun, yang pada akhirnya terus mendorong harga ke batas atas (ARA).

Waspada Risiko Investasi

Melihat kenaikan harga yang sangat signifikan, Investor dihimbau untuk selalu mempertimbangkan manajemen risiko dan tidak terjebak dalam euforia semata, mengingat potensi aksi profit taking di harga puncak.

Baca:

  1. OMED Hentikan Aksi Buyback Saham Lebih Awal, Begini Realisasi dan Alasannya!
  2. Transformasi 2.0 Darma Henwa (DEWA): Laba Naik 1000% & Proyek Emas
  3. Diversifikasi Bisnis, Indika Energy (INDY) Bentuk Anak Usaha Baru PT Indika Empat Mitra Timor
  4. MAHA Perluas Sinergi Bisnis, Suntik Modal Rp15,75 Miliar ke Mandiri Karya Maritim
  5. Tutup Tahun 2025 dengan Gemilang, PT PP Presisi Tbk (PPRE) Kantongi Kontrak Baru Rp1,2 Triliun

Disclaimer: Investasi saham memiliki risiko. Keputusan beli atau jual sepenuhnya berada di tangan investor. Mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul dari keputusan investasi berdasarkan informasi ini.

0 Comments

Posting Komentar

Berita Terbaru

    Laporan Keuangan

      Dividen Saham