Membeli saham perusahaan sebelum resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) terdengar menarik. Investor bisa mendapatkan saham pada saat perusahaan melakukan Initial Public Offering (IPO) atau penawaran umum perdana saham.
Namun, bagi investor pemula, proses IPO sering terasa membingungkan.
Ada istilah bookbuilding, offering, penjatahan, pooling, fixed allotment, RDN, SID, sampai refund. Belum lagi investor harus mengetahui kapan harus memasukkan pesanan dan apa yang harus dilakukan jika harga final IPO ternyata berbeda dari harga saat bookbuilding.
Sebenarnya, prosesnya tidak serumit yang dibayangkan.
Secara sederhana, investor dapat membayangkan IPO seperti perusahaan yang sedang membuka kesempatan kepada masyarakat untuk membeli sahamnya sebelum saham tersebut mulai diperdagangkan di BEI.
| Ilustrasi cara memesan ipo lewat online dari website e-ipo. Radit M. Pase / Mediasaham.com |
Di Indonesia, proses pemesanan saham IPO untuk investor ritel dapat dilakukan melalui sistem e-IPO (Electronic Indonesia Public Offering). Sistem ini digunakan untuk mendukung proses penawaran umum saham kepada masyarakat di pasar perdana. Setelah proses IPO selesai dan saham tercatat di bursa, saham tersebut kemudian dapat diperdagangkan di pasar sekunder.
Artikel ini membahas proses tersebut dari awal sampai akhir, lengkap dengan contoh perhitungan sederhana.
Apa Itu IPO?
IPO adalah proses ketika sebuah perusahaan menawarkan sahamnya kepada masyarakat untuk pertama kalinya melalui pasar modal.
IPO merupakan singkatan dari Initial Public Offering.
Sebelum IPO, kepemilikan perusahaan pada umumnya masih berada pada pendiri, pemegang saham lama, investor tertentu, atau pihak lain sesuai struktur kepemilikan perusahaan.
Melalui IPO, perusahaan menawarkan saham kepada investor publik.
Sebagai contoh sederhana:
PT Maju Jaya memiliki 10 miliar saham.
Perusahaan kemudian memutuskan melakukan IPO dengan menawarkan 2 miliar saham kepada masyarakat dengan harga Rp500 per saham.
Jika seluruh saham tersebut terserap, perusahaan memperoleh dana sebesar:
2 miliar saham × Rp500 = Rp1 triliun
Dana hasil IPO dapat digunakan perusahaan sesuai dengan tujuan yang dijelaskan dalam prospektus, misalnya untuk ekspansi usaha, pembayaran utang, modal kerja, pembangunan fasilitas, atau kebutuhan perusahaan lainnya.
Bagi investor, IPO memberikan kesempatan untuk membeli saham perusahaan pada pasar perdana.
Setelah saham resmi tercatat di BEI, saham tersebut kemudian masuk ke pasar sekunder, tempat investor dapat membeli dan menjual saham dengan investor lainnya.
Apa Itu e-IPO?
e-IPO adalah sistem elektronik yang digunakan untuk mendukung proses penawaran umum saham kepada publik.
Dengan e-IPO, investor ritel dapat melihat informasi IPO dan menyampaikan minat atau pesanan melalui sistem elektronik.
Menurut informasi resmi e-IPO, investor yang ingin melakukan pemesanan saham IPO harus memiliki:
SID atau Single Investor Identification;
rekening efek pada perusahaan sekuritas;
sekuritas yang menjadi Partisipan Sistem e-IPO.
Investor dapat melakukan pemesanan melalui website e-IPO atau melalui perusahaan sekuritas yang bersangkutan.
Jadi, memiliki rekening saham saja belum tentu cukup. Sekuritas yang digunakan juga harus menjadi Partisipan Sistem e-IPO.
Apa Itu SID, RDN, dan SRE?
Sebelum mengikuti IPO, investor pemula sebaiknya memahami tiga istilah penting.
1. SID
SID (Single Investor Identification) adalah nomor identitas tunggal investor di pasar modal Indonesia yang diterbitkan oleh KSEI.
Sederhananya, SID dapat dianggap sebagai identitas investor di pasar modal.
2. RDN
RDN (Rekening Dana Nasabah) adalah rekening dana atas nama nasabah pada bank yang digunakan untuk penyelesaian transaksi.
Dana yang digunakan untuk mengikuti IPO nantinya perlu tersedia di RDN.
3. SRE
SRE (Sub Rekening Efek) merupakan rekening efek untuk menyimpan portofolio efek atas nama investor yang tercatat pada KSEI.
Ketiga istilah tersebut penting karena proses IPO tidak hanya berkaitan dengan pemesanan saham, tetapi juga verifikasi identitas dan ketersediaan dana.
Apakah Harus Memiliki Rekening di Sekuritas yang Menjadi Underwriter?
Tidak.
Ini salah satu hal yang sering disalahpahami investor pemula.
Untuk pemesanan melalui penjatahan terpusat atau pooling, investor dapat melakukan pemesanan melalui perusahaan sekuritas yang menjadi Partisipan Sistem e-IPO, meskipun sekuritas tersebut bukan underwriter IPO tersebut.
Namun, mekanismenya berbeda untuk penjatahan pasti (fixed allotment).
Menurut FAQ resmi e-IPO, investor secara langsung hanya dapat menyampaikan minat atau pesanan untuk penjatahan terpusat. Penjatahan pasti dilakukan melalui Perusahaan Efek atau Partisipan Sistem yang juga bertindak sebagai underwriter IPO terkait.
Tahapan IPO di e-IPO
Secara umum, proses IPO melalui e-IPO terdiri dari beberapa tahap:
Publikasi → Bookbuilding → Penentuan Harga Final → Offering → Allotment/Penjatahan → Distribusi
Mari kita bahas satu per satu.
1. Publikasi atau Masa Pra-Efektif
Tahap pertama adalah publikasi.
Pada tahap ini, perusahaan yang akan melakukan IPO telah memperoleh izin untuk melakukan publikasi atau Pernyataan Pra-Efektif dari OJK.
Informasi mengenai perusahaan dan penawaran saham kemudian dapat ditampilkan melalui sistem e-IPO.
Investor dapat mempelajari informasi perusahaan melalui prospektus yang tersedia.
Ini sebenarnya merupakan tahap yang sangat penting bagi investor.
Jangan langsung berpikir:
"Harga IPO cuma Rp200. Berarti murah."
Harga nominal saham tidak otomatis menunjukkan murah atau mahal.
Saham seharga Rp100 belum tentu lebih murah daripada saham seharga Rp1.000.
Investor perlu melihat informasi seperti:
jumlah saham yang ditawarkan;
harga penawaran;
penggunaan dana IPO;
pendapatan perusahaan;
laba atau rugi;
utang;
aset;
prospek usaha;
pemegang saham;
risiko bisnis;
kebijakan dividen;
pihak terafiliasi;
dan informasi material lainnya.
Semua informasi tersebut dapat dipelajari dari prospektus.
2. Bookbuilding: Apa Itu Bookbuilding?
Setelah tahap publikasi, masuk ke tahap bookbuilding atau masa penawaran awal.
Ini adalah salah satu istilah yang paling sering membingungkan investor pemula.
Sederhananya, bookbuilding adalah tahap ketika perusahaan dan underwriter mengumpulkan minat investor untuk membantu menentukan harga penawaran perdana.
Pada tahap ini biasanya terdapat rentang harga.
Misalnya:
| Informasi | Contoh |
|---|---|
| Harga terendah | Rp200 |
| Harga tertinggi | Rp250 |
| Jumlah yang ingin dipesan investor | 100 lot |
Investor kemudian dapat menyampaikan minatnya dalam rentang harga tersebut.
Misalnya investor memasukkan:
100 lot pada harga Rp230
Artinya investor menyampaikan minat membeli 10.000 saham dengan indikasi harga Rp230 per saham.
Ingat:
1 lot = 100 saham.
Jadi:
100 lot × 100 saham = 10.000 saham
Nilai indikatif pesanannya:
10.000 × Rp230 = Rp2.300.000
Tetapi pada tahap bookbuilding, harga tersebut belum tentu menjadi harga final IPO.
Mengapa Ada Bookbuilding?
Karena perusahaan dan underwriter perlu mengetahui tingkat permintaan investor.
Misalnya harga bookbuilding:
Rp200–Rp250
Kemudian banyak investor menunjukkan minat pada Rp240–Rp250.
Data permintaan tersebut menjadi salah satu dasar bagi perusahaan dan underwriter dalam menentukan harga penawaran perdana.
Menurut e-IPO, minat yang dikumpulkan selama masa bookbuilding menjadi dasar bagi perusahaan dan underwriter dalam menentukan harga penawaran perdana.
Contoh Sederhana Bookbuilding
Misalnya PT ABC melakukan IPO.
Rentang harga:
Rp200–Rp250 per saham
Investor A memasukkan:
100 lot pada Rp200
Investor B:
100 lot pada Rp224
Investor C:
200 lot pada Rp250
Setelah bookbuilding selesai, perusahaan dan underwriter menentukan harga final, misalnya:
Rp240 per saham
Apa yang terjadi?
Investor yang memasukkan minat pada Rp250 berada di atas harga final.
Sementara investor yang memasukkan minat Rp200 berada di bawah harga final.
Karena itu, investor tidak boleh menganggap pesanan pada masa bookbuilding otomatis menjadi pesanan final.
3. Penentuan Harga Final IPO
Setelah masa bookbuilding selesai, perusahaan dan underwriter menentukan harga penawaran perdana final.
Contohnya:
Harga bookbuilding:
Rp200–Rp250
Harga final:
Rp240
Harga Rp240 inilah yang kemudian digunakan pada masa offering.
Informasi harga final dapat dilihat melalui sistem e-IPO.
4. Offering: Tahap Investor Memesan Saham
Setelah perusahaan memperoleh Pernyataan Efektif dari OJK, proses masuk ke masa offering atau masa penawaran umum.
Pada tahap inilah investor melakukan pemesanan saham berdasarkan harga final IPO yang sudah ditentukan.
Ini berbeda dengan bookbuilding.
Bookbuilding
Investor menyampaikan minat.
Offering
Investor menyampaikan pesanan saham pada harga final.
Apa yang Terjadi dengan Pesanan Saat Bookbuilding?
Ini bagian yang sangat penting.
Misalnya saat bookbuilding investor menyampaikan minat:
100 lot pada harga Rp250
Kemudian harga final ditetapkan:
Rp230
Jika minat tersebut diteruskan ke masa offering, investor perlu melakukan konfirmasi sesuai mekanisme e-IPO.
Investor juga harus melakukan konfirmasi bahwa dirinya telah membaca prospektus.
Jika investor tidak melakukan konfirmasi sampai masa offering berakhir, pesanan tersebut dapat otomatis dibatalkan dan tidak diteruskan ke tahap penjatahan.
Sebaliknya, apabila harga final lebih tinggi daripada minat yang disampaikan saat bookbuilding, minat tersebut tidak otomatis diteruskan. Investor dapat memasukkan pesanan kembali selama masa offering masih berlangsung.
Contoh Perubahan Harga Bookbuilding ke Offering
Misalnya:
Bookbuilding: Rp300–Rp400
Investor memasukkan minat:
100 lot pada Rp350
Kemudian perusahaan menetapkan harga final:
Rp380
Karena harga final lebih tinggi daripada minat investor Rp350, investor perlu memasukkan pesanan pada masa offering jika masih ingin membeli saham tersebut.
Sekarang misalnya harga final justru:
Rp330
Jika minat investor diteruskan ke masa offering, investor tetap perlu memperhatikan status order dan melakukan konfirmasi sesuai ketentuan sistem di e-ipo.
5. Bagaimana Cara Pesan Saham IPO di e-IPO?
Secara sederhana, langkahnya seperti berikut.
Langkah 1: Pastikan Sudah Memiliki Rekening Saham
Investor harus memiliki:
rekening efek;
SID;
RDN;
dan menggunakan sekuritas yang menjadi Partisipan Sistem e-IPO.
Langkah 2: Membuat Akun e-IPO
Investor melakukan pendaftaran pada sistem e-IPO.
Setelah mendaftar, data investor akan diverifikasi oleh broker.
Status verifikasi dapat berupa:
Request Authentication
Artinya SID dan SRE masih dalam proses verifikasi.
Authenticated
Artinya SID dan SRE telah diverifikasi dan investor sudah dapat melakukan order.
Deactivated
Artinya data telah diverifikasi tetapi dinyatakan tidak aktif oleh broker, misalnya karena terdapat ketidaksesuaian data.
Langkah 3: Tambahkan Broker
Jika investor memiliki rekening di lebih dari satu sekuritas, e-IPO menyediakan fitur untuk menambahkan broker.
Investor tidak perlu membuat akun e-IPO berbeda untuk setiap sekuritas.
Satu akun e-IPO dapat digunakan untuk melakukan pemesanan melalui beberapa broker yang memang menjadi rekening investor dan Partisipan Sistem.
Langkah 4: Pilih IPO
Investor kemudian mencari IPO yang sedang memasuki periode bookbuilding atau offering.
Di halaman IPO biasanya tersedia informasi seperti:
nama perusahaan;
kode saham;
sektor;
periode bookbuilding;
periode offering;
rentang harga;
harga final;
jumlah saham yang ditawarkan;
prospektus.
Investor sebaiknya membaca prospektus sebelum melakukan pemesanan.
Langkah 5: Masukkan Pesanan
Misalnya:
Harga IPO:
Rp500 per saham
Investor ingin membeli:
50 lot
Karena satu lot terdiri dari 100 saham:
50 × 100 = 5.000 saham
Nilai pemesanan:
5.000 × Rp500 = Rp2.500.000
Investor kemudian memasukkan jumlah tersebut ke sistem sesuai mekanisme yang tersedia.
6. Pastikan Dana Tersedia di RDN
Ini juga sangat penting.
Setelah melakukan pemesanan, dana harus tersedia.
Menurut FAQ e-IPO, dana investor disediakan pada RDN dan kemudian broker dapat melakukan pemindahan dana tersebut ke Sub Rekening Efek Jaminan (SRE 004) untuk proses validasi.
Jadi, jangan hanya melihat saldo RDN.
Investor juga perlu memahami bahwa dana yang diperlukan untuk proses IPO harus tersedia dan dapat divalidasi sesuai mekanisme yang berlaku.
Contoh
Investor memesan:
100 lot
Harga IPO:
Rp500
Maka kebutuhan dana:
100 × 100 × Rp500
= Rp5.000.000
Investor sebaiknya memastikan dana yang diperlukan tersedia sebelum batas waktu yang ditentukan.
Jika dana tidak tersedia atau tidak berhasil divalidasi sesuai ketentuan, pesanan dapat dibatalkan atau disesuaikan.
7. Penjatahan IPO: Apakah Pesanan Pasti Dapat Semua?
Tidak.
Ini merupakan salah satu hal terpenting yang harus dipahami investor pemula.
Misalnya investor memesan:
100 lot
Bukan berarti investor pasti mendapatkan 100 lot.
Mengapa?
Karena jumlah saham yang ditawarkan kepada investor publik terbatas.
Pada saat penjatahan saham. Ada beberapa kondisi keterangan yang akan diterima oleh setiap investor di halaman penjatahan yaitu :
- Alloted : Anda akan mendapatkan jatah.
- Alloted with scaleback : Anda akan mendapatkan penjatahan
disesuaikan atau hanya anda mendapatkan sebagian dari jumlah saham yang
anda ingin beli.
- Not alloted : Anda tidak mendapatkan penjatahan.
- Not caried over : Pesanan tidak diteruskan untuk
proses penjatahan.
Pesanan yang telah disetujui dan di jatahkan akan segera masuk ke portfolio akun.
Kondisi Alloted with scaleback terjadi Jika jumlah permintaan lebih besar daripada jumlah saham yang tersedia, terjadi oversubscription atau kelebihan permintaan.
Apa Itu Oversubscription?
Misalnya perusahaan menawarkan:
1 juta lot
Tetapi seluruh investor meminta:
10 juta lot
Artinya permintaan 10 kali lebih besar daripada saham yang tersedia.
Investor tidak mungkin mendapatkan seluruh pesanannya.
Maka dilakukan proses penjatahan atau allotment.
Apa Itu Penjatahan Terpusat atau Pooling?
Pooling adalah mekanisme penjatahan terpusat untuk investor yang melakukan pemesanan melalui sistem e-IPO.
Dalam mekanisme ini, pesanan investor dikumpulkan untuk kemudian dialokasikan berdasarkan ketentuan penjatahan yang berlaku.
OJK melalui SEOJK No. 25/SEOJK.04/2025 memperbarui ketentuan mengenai penyediaan dana, verifikasi pesanan, serta alokasi penjatahan dalam penawaran umum saham secara elektronik. Regulasi tersebut berlaku sejak 17 November 2025.
Memesan Lewat Banyak Sekuritas Tidak Berarti Mendapat Jatah Berkali-kali
Ini sangat penting.
Misalnya seseorang memiliki rekening di:
Sekuritas A;
Sekuritas B;
Sekuritas C.
Investor dapat menggunakan satu akun e-IPO untuk memasukkan pesanan melalui beberapa broker tersebut.
Namun, berdasarkan ketentuan yang dirujuk e-IPO dari SEOJK No. 25/SEOJK.04/2025, pesanan pooling dari investor dengan SID yang sama digabungkan, bukan dianggap sebagai investor yang berbeda. Dalam kondisi oversubscription, urutan waktu pesanan atau timestamp menjadi salah satu dasar penjatahan.
Jadi, jangan berpikir:
"Kalau saya pesan 100 lot lewat tiga sekuritas, berarti saya punya kesempatan seperti tiga investor."
Tidak sesederhana itu.
Pesanan tetap dikaitkan dengan SID investor.
Contoh Pemesanan Melalui Dua Sekuritas
Misalnya:
Sekuritas A:
100 lot
Sekuritas B:
100 lot
Total pesanan investor:
200 lot
Karena kedua rekening tersebut menggunakan SID investor yang sama, pesanan tersebut tidak otomatis dianggap sebagai dua investor yang berbeda.
Dalam kondisi oversubscription, e-IPO menjelaskan bahwa pesanan tersebut digabung berdasarkan satu SID dan penjatahan mengikuti urutan waktu penyampaian pesanan.
8. Bagaimana Cara Penjatahan?
Penjatahan dilakukan setelah masa offering selesai.
Tahapannya secara sederhana:
Investor memesan → offering berakhir → pesanan diverifikasi → penjatahan dilakukan → saham didistribusikan
e-IPO menjelaskan bahwa setelah masa offering berakhir, dilakukan proses allotment atau penjatahan atas pesanan investor. Setelah itu, saham didistribusikan sesuai hasil penjatahan.
Contoh Penjatahan Sederhana
Investor memesan:
500 lot
Harga IPO:
Rp500
Total nilai pesanan:
500 × 100 × Rp500
= Rp25 juta
Tetapi setelah penjatahan, investor hanya mendapatkan:
100 lot
Maka nilai saham yang benar-benar diperoleh:
100 × 100 × Rp500
= Rp5 juta
Investor tidak membeli Rp25 juta saham.
Investor hanya memperoleh saham senilai Rp5 juta.
Sisa dana yang tidak digunakan untuk membeli saham akan dikembalikan sesuai mekanisme refund.
9. Apa Itu Refund IPO?
Refund adalah pengembalian dana investor yang tidak digunakan karena saham yang diperoleh lebih sedikit daripada jumlah yang dipesan, atau karena alasan lain sesuai hasil validasi dan penjatahan.
Misalnya:
Pesanan:
500 lot
Harga:
Rp500
Dana yang disiapkan:
Rp25 juta
Hasil penjatahan:
100 lot
Nilai saham yang diperoleh:
100 × 100 × Rp500
= Rp5 juta
Maka secara sederhana terdapat:
Rp25 juta − Rp5 juta = Rp20 juta
dana yang tidak digunakan untuk membeli saham.
Dana tersebut dikembalikan ke RDN sesuai kebijakan dan mekanisme broker/Partisipan Sistem e-IPO.
Penting
Waktu masuknya refund ke RDN tidak selalu berarti investor dapat menentukan sendiri. e-IPO menyebut pengembalian sisa dana dilakukan sesuai kebijakan masing-masing broker/Partisipan Sistem.
Karena itu, jika sudah mendapatkan penjatahan tetapi saldo RDN belum kembali, investor dapat mengecek mekanisme refund pada sekuritas yang digunakan.
10. Bagaimana Jika Tidak Mendapat Saham Sama Sekali?
Ada beberapa kemungkinan.
Misalnya investor memesan:
1.000 lot
Tetapi karena oversubscription dan mekanisme penjatahan, investor mendapatkan:
0 lot
Dalam kondisi tersebut, dana pemesanan yang tidak digunakan akan dikembalikan sesuai mekanisme refund.
e-IPO juga menjelaskan sejumlah alasan investor dapat tidak memperoleh penjatahan pada suatu Partisipan Sistem, antara lain masalah validasi dana, pesanan belum disetujui broker, tidak melakukan konfirmasi prospektus untuk pesanan yang berasal dari bookbuilding, serta kondisi lain yang terkait dengan status pesanan.
11. Mengapa Pesanan Saya Bisa Dibatalkan?
Pesanan yang dibatalkan akan mendapatkan status berikut:
- Rejected / ditolak : Saldo RDN T+2 tidak mencukupi
- Dropped / dibatalkan : Nasabah belum melakukan konfirmasi membaca prospektus
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Pertama, tidak melakukan konfirmasi
Jika minat dari bookbuilding diteruskan ke offering, investor perlu melakukan konfirmasi sesuai mekanisme e-IPO.
Jika tidak melakukan konfirmasi sampai masa offering berakhir, pesanan dapat otomatis dibatalkan.
Kedua, dana tidak mencukupi
Saldo RDN yang terlihat cukup belum tentu berarti dana berhasil divalidasi untuk pesanan.
e-IPO menjelaskan bahwa dana dapat saja belum dipindahkan broker ke SRE004 atau telah digunakan untuk transaksi lain sehingga ketika dilakukan validasi, dana tidak lagi tersedia.
Ketiga, pesanan belum disetujui broker
Investor juga perlu memastikan pesanan telah memperoleh status yang sudah disetujui oleh broker.
12. Contoh Lengkap Mengikuti IPO dari Awal Sampai Akhir
Agar lebih mudah dipahami, mari kita gunakan satu contoh lengkap.
Misalnya PT ABC melakukan IPO.
Tahap bookbuilding
Rentang harga:
Rp400–Rp500
Investor memasukkan minat:
200 lot pada Rp450
Jumlah saham:
200 × 100
= 20.000 saham
Nilai indikatif:
20.000 × Rp450
= Rp9 juta
Harga Final
Setelah bookbuilding selesai, perusahaan dan underwriter menetapkan:
Harga final Rp480
Karena harga final lebih tinggi daripada minat investor Rp450, investor perlu memperhatikan mekanisme offering dan memasukkan pesanan kembali jika masih ingin membeli saham tersebut.
Offering
Investor kemudian memasukkan:
200 lot pada Rp480
Nilai pesanan:
20.000 × Rp480
= Rp9,6 juta
Dana
Investor memastikan dana tersedia sesuai mekanisme broker.
Penjatahan
Karena permintaan tinggi, investor hanya mendapatkan:
60 lot
Jumlah saham:
60 × 100
= 6.000 saham
Nilai saham yang diperoleh:
6.000 × Rp480
= Rp2.880.000
Refund
Dana awal:
Rp9.600.000
Dana yang digunakan:
Rp2.880.000
Sisa:
Rp6.720.000
Dana tersebut kemudian dikembalikan sesuai mekanisme refund broker.
13. Setelah Mendapat Saham IPO, Apa yang Terjadi?
Setelah penjatahan selesai, saham akan masuk ke rekening efek investor melalui proses distribusi.
Setelah perusahaan resmi tercatat di BEI, saham tersebut dapat diperdagangkan di pasar sekunder.
Di sinilah investor akan melihat harga saham bergerak mengikuti mekanisme perdagangan di bursa.
Misalnya harga IPO:
Rp480
Setelah tercatat, harga saham menjadi:
Rp600
Jika investor memiliki 60 lot:
60 × 100 = 6.000 saham
Nilai saham:
6.000 × Rp600
= Rp3.600.000
Modal pembelian:
6.000 × Rp480
= Rp2.880.000
Selisih:
Rp3.600.000 − Rp2.880.000
= Rp720.000
Secara sederhana, keuntungan belum direalisasikan tersebut setara dengan:
Rp720.000 / Rp2.880.000 × 100% = 25%
Namun, ini baru contoh perhitungan sederhana sebelum memperhitungkan biaya transaksi dan faktor lain.
Bagaimana Jika Harga Saham Turun?
IPO tidak menjamin investor mendapatkan keuntungan.
Misalnya harga IPO:
Rp480
Setelah tercatat, harga turun menjadi:
Rp400
Investor memiliki 6.000 saham.
Nilai saham:
6.000 × Rp400
= Rp2.400.000
Modal:
6.000 × Rp480
= Rp2.880.000
Kerugian belum direalisasikan:
Rp2.400.000 − Rp2.880.000
= −Rp480.000
Persentasenya:
−16,67%
Artinya, membeli saham pada saat IPO tetap memiliki risiko penurunan harga.
Apakah Saham IPO Pasti Naik Saat Listing?
Tidak.
Ini salah satu kesalahpahaman yang perlu dihindari investor pemula.
Ada saham IPO yang naik setelah tercatat di bursa.
Ada pula yang bergerak terbatas.
Bahkan ada yang turun di bawah harga IPO.
Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya melihat:
"IPO ini ramai."
atau:
"IPO ini kemungkinan langsung naik."
Yang lebih penting adalah memahami perusahaan dan risiko investasinya.
Baca: ARA Saham IPO Berapa Persen dan Bagaimana Cara Menghitungnya?
Apa yang Harus Dibaca dari Prospektus IPO?
Sebelum memesan saham, investor sebaiknya membaca setidaknya bagian-bagian berikut.
1. Model bisnis
Cari tahu:
Perusahaan sebenarnya menghasilkan uang dari mana?
Jangan hanya melihat nama perusahaan atau sektor industrinya.
2. Pendapatan
Perhatikan perkembangan pendapatan beberapa tahun terakhir.
Apakah naik?
Stagnan?
Atau justru turun?
3. Laba
Perusahaan dengan pendapatan besar belum tentu menghasilkan laba besar.
Periksa:
laba bruto;
laba usaha;
laba bersih;
margin laba.
4. Utang
Perhatikan jumlah utang dan kemampuan perusahaan membayarnya.
5. Penggunaan Dana IPO
Ini sangat penting.
Misalnya dana IPO akan digunakan untuk:
ekspansi;
membeli aset;
membayar utang;
modal kerja;
atau kebutuhan lainnya.
Investor perlu memahami ke mana uang investor akan digunakan.
6. Pemegang Saham Lama
Lihat siapa pemegang saham sebelum IPO.
Informasi ini dapat membantu investor memahami struktur kepemilikan perusahaan.
7. Risiko Usaha
Jangan melewati bagian risiko dalam prospektus.
Justru bagian ini sangat penting karena perusahaan biasanya menjelaskan berbagai risiko yang dapat mempengaruhi kegiatan usaha.
8. Penjamin Emisi
Cek siapa penjamin emisinya. Apakah memiliki kredibilitas yang baik atau tidak.
Baca Juga: Cara Memilih Broker Saham Terbaik di Indonesia dan Aman untuk Pemula
Bookbuilding dan Offering: Apa Bedanya?
| Perbedaan | Bookbuilding | Offering |
|---|---|---|
| Istilah | Penawaran awal | Penawaran umum |
| Tujuan | Mengumpulkan minat | Menerima pesanan |
| Harga | Rentang harga | Harga final |
| Status | Minat | Pesanan |
| Harga final sudah ada? | Belum | Sudah |
| Investor harus memperhatikan konfirmasi? | Ya, jika minat diteruskan | Ya sesuai mekanisme |
Secara sederhana:
Bookbuilding = menyampaikan minat
Offering = memesan saham pada harga final
Pooling dan Fixed Allotment: Apa Bedanya?
Investor pemula juga sering menemukan dua istilah ini.
Pooling
Pesanan masuk ke mekanisme penjatahan terpusat.
Investor ritel dapat berpartisipasi melalui Partisipan Sistem e-IPO.
Fixed Allotment
Merupakan mekanisme penjatahan pasti.
Menurut FAQ e-IPO, investor tidak dapat langsung menyampaikan pesanan fixed allotment melalui sistem seperti pooling. Penjatahan pasti dilakukan oleh Perusahaan Efek atau Partisipan Sistem yang juga merupakan underwriter IPO terkait.
Untuk investor pemula, mekanisme pooling merupakan bagian yang paling relevan untuk dipahami karena inilah mekanisme yang umum digunakan untuk pemesanan investor publik melalui e-IPO.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Investor Pemula Saat IPO
1. Hanya melihat harga IPO
Harga Rp100 tidak otomatis murah.
Harga Rp1.000 tidak otomatis mahal.
Nilai perusahaan harus dilihat bersama jumlah saham beredar dan kinerja bisnisnya.
2. Tidak membaca prospektus
Ini merupakan kesalahan yang cukup serius.
Prospektus berisi informasi penting mengenai perusahaan dan penawaran saham.
3. Menganggap pesan banyak pasti dapat banyak
Tidak demikian.
Jika terjadi oversubscription, investor dapat memperoleh saham jauh lebih sedikit daripada jumlah yang dipesan. Bahkan bisa hanya dapat 1 lot saja.
4. Lupa melakukan konfirmasi
Investor yang melakukan pemesanan melalui minat bookbuilding harus memperhatikan proses konfirmasi pada masa offering.
Jika tidak dilakukan sesuai ketentuan, pesanan dapat batal.
5. Menganggap refund langsung masuk rekening tabungan
Investor perlu memahami bahwa refund mengikuti mekanisme dan kebijakan broker/Partisipan Sistem.
6. Mengira punya beberapa sekuritas berarti punya beberapa identitas investor
Tidak.
Pesanan pooling dari beberapa broker tetap dikaitkan dengan SID yang sama.
e-IPO menjelaskan bahwa pesanan dari beberapa Partisipan Sistem digabung menjadi satu SID dan penjatahan mengikuti urutan waktu penyampaian pesanan.
7. Menganggap saham IPO pasti naik
IPO bukan jaminan keuntungan.
Setelah tercatat di BEI, harga saham dapat naik maupun turun.
Checklist Sebelum Ikut IPO
Sebelum menekan tombol pesan, investor pemula dapat menggunakan checklist sederhana berikut:
Administrasi
Sudah memiliki rekening saham
Sudah memiliki SID
Sudah memiliki RDN
Sekuritas sudah menjadi Partisipan Sistem e-IPO
Akun e-IPO sudah terverifikasi
Analisis perusahaan
Sudah membaca prospektus
Memahami bisnis perusahaan
Memeriksa pendapatan
Memeriksa laba/rugi
Memeriksa utang
Memahami penggunaan dana IPO
Membaca risiko usaha
Mengetahui harga final IPO
Saat memesan
Memasukkan jumlah lot dengan benar
Memastikan dana tersedia
Memastikan status order sudah sesuai
Melakukan konfirmasi jika diperlukan
Memantau hasil penjatahan
Setelah penjatahan
Memeriksa jumlah saham yang diperoleh
Memeriksa refund
Memantau distribusi saham
Memahami harga saham setelah listing
Ringkasan Cara Ikut IPO untuk Pemula
Jika seluruh proses tadi disederhanakan, alurnya sebenarnya seperti ini:
1. Buka rekening saham
↓
2. Dapatkan SID dan RDN
↓
3. Pastikan sekuritas menjadi Partisipan Sistem e-IPO
↓
4. Daftar dan verifikasi akun e-IPO
↓
5. Cari IPO yang sedang berlangsung
↓
6. Baca prospektus
↓
7. Ikuti bookbuilding jika ingin menyampaikan minat
↓
8. Tunggu harga final
↓
9. Masuk ke masa offering
↓
10. Masukkan pesanan berdasarkan harga final
↓
11. Pastikan dana tersedia
↓
12. Lakukan konfirmasi jika diperlukan
↓
13. Tunggu penjatahan
↓
14. Cek jumlah saham yang diperoleh
↓
15. Tunggu refund untuk dana yang tidak terpakai
↓
16. Saham didistribusikan
↓
17. Saham mulai diperdagangkan di BEI
Kesimpulan
Mengikuti IPO sebenarnya tidak sulit, tetapi investor harus memahami bahwa ada beberapa tahap yang berbeda.
Bookbuilding bukan sama dengan membeli saham.
Bookbuilding merupakan tahap penyampaian minat yang digunakan sebagai salah satu dasar penentuan harga penawaran perdana.
Setelah harga final ditentukan dan Pernyataan Efektif diperoleh, investor masuk ke tahap offering, yaitu masa ketika investor menyampaikan pesanan saham pada harga final.
Setelah offering berakhir, dilakukan penjatahan.
Jika investor hanya mendapatkan sebagian dari saham yang dipesan, dana yang tidak digunakan akan dikembalikan melalui mekanisme refund ke RDN sesuai kebijakan broker.
Yang paling penting bagi investor pemula adalah jangan melihat IPO hanya sebagai kesempatan mendapatkan saham murah sebelum listing.
IPO tetap merupakan investasi saham yang memiliki risiko.
Karena itu, sebelum memesan, investor sebaiknya memahami bisnis perusahaan, kondisi keuangan, penggunaan dana IPO, harga penawaran, serta risiko yang dijelaskan dalam prospektus.
Dengan memahami alurnya, investor tidak lagi melihat IPO sebagai proses yang rumit.
Secara sederhana, yang perlu diingat adalah:
Bookbuilding → Harga Final → Offering → Penjatahan → Refund → Distribusi → Listing
Itulah perjalanan sebuah pesanan IPO dari minat awal sampai akhirnya saham masuk ke portofolio investor.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan perintah jual atau beli saham tertentu. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga. Redaksi Mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pembaca.
Penulis: Adit Saputra, Radit M. Pase - Mediasaham Research
0 Comments
Posting Komentar