ARA Saham IPO 2026: Berapa Persen dan Bagaimana Cara Menghitungnya?

ARA saham IPO merupakan salah satu istilah penting yang perlu dipahami investor, terutama bagi Anda yang baru mulai membeli saham perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Ketika sebuah saham baru tercatat di Bursa, harganya bisa bergerak cukup cepat. Tidak sedikit saham IPO yang langsung mengalami Auto Reject Atas (ARA) pada hari pertama perdagangan.

Namun, perlu diketahui bahwa batas ARA saham IPO tidak selalu 35%. Besarnya batas kenaikan harga bergantung pada harga saham dan papan pencatatannya.

ara saham ipo
ARA Saham IPO di Bursa Efek Indonesia. Adit Saputra

Lalu, berapa batas ARA saham IPO pada 2026? Bagaimana cara menghitungnya?

Mari kita bahas secara sederhana.

Apa Itu Saham ARA?

ARA atau Auto Rejection Atas adalah batas maksimal kenaikan harga saham dalam satu sesi perdagangan.

Jika harga saham sudah mencapai batas ARA, pesanan beli pada harga yang lebih tinggi tidak dapat diproses oleh sistem perdagangan Bursa.

Sederhananya, ARA merupakan semacam batas atas pergerakan harga saham dalam satu hari perdagangan.

Misalnya sebuah saham memiliki harga acuan Rp100 dan batas ARA yang berlaku adalah 35%.

Maka:

Rp100 × 35% = Rp35

Artinya, harga saham tersebut secara perhitungan persentase dapat naik hingga:

Rp100 + Rp35 = Rp135

Jika harga sudah mencapai batas tersebut, saham dikatakan ARA.

Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan: perhitungan harga di Bursa juga mengikuti fraksi harga saham.

Berapa Batas ARA Saham IPO 2026?

Berdasarkan ketentuan BEI yang berlaku, batas ARA berbeda berdasarkan rentang harga saham dan papan pencatatannya.

Untuk saham yang berada di Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Ekonomi Baru, ketentuannya adalah:

Rentang Harga SahamBatas ARA
Rp50–Rp20035%
>Rp200–Rp5.00025%
>Rp5.00020%

Sementara itu, saham yang berada di Papan Akselerasi dan Papan Pemantauan Khusus (Watchlist) menggunakan ketentuan berbeda:

Rentang Harga SahamBatas ARA
Rp1–Rp10Rp1
>Rp1010%

Ketentuan tersebut berlaku sejak 8 April 2025 berdasarkan Peraturan BEI Nomor II-A Kep-00003/BEI/04-2025.

Yang juga penting untuk investor pemula, perdagangan perdana saham hasil penawaran umum menggunakan 1 kali persentase batas Auto Rejection yang berlaku.

Artinya, saham IPO tidak otomatis mendapatkan batas ARA dua kali lipat dari batas normal.


1. ARA Saham IPO Harga Rp50 sampai Rp200

Untuk saham pada Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Ekonomi Baru dengan harga Rp50 sampai Rp200, batas ARA adalah 35%.

Contoh saham IPO Rp100

Misalnya sebuah perusahaan melakukan IPO dengan harga Rp100 per saham.

Perhitungannya:

Rp100 × 35% = Rp35

Maka:

Rp100 + Rp35 = Rp135

Jadi, berdasarkan batas persentasenya, harga saham tersebut dapat naik hingga sekitar Rp135 apabila mencapai ARA.

Bagaimana jika harga IPO Rp150?

Perhitungannya:

Rp150 × 35% = Rp52,50

Secara matematis:

Rp150 + Rp52,50 = Rp202,50

Namun, harga transaksi sebenarnya di Bursa tetap mengikuti fraksi harga saham yang berlaku.


Perhatian: Ketika Harga Saham Melewati Rp200

Ini merupakan bagian yang cukup penting bagi investor pemula.

Batas ARA tidak selamanya 35%.

Misalnya sebuah saham memiliki harga Rp150. Pada kelompok harga tersebut, batas ARA yang berlaku adalah 35%.

Namun, ketika harga saham sudah masuk ke kelompok di atas Rp200 sampai Rp5.000, batas ARA yang berlaku berubah menjadi 25%.

Jadi, investor tidak boleh beranggapan bahwa saham yang awalnya memiliki batas ARA 35% akan selalu menggunakan batas 35% pada perdagangan berikutnya.

2. ARA Saham IPO Harga di Atas Rp200 sampai Rp5.000

Untuk saham pada Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Ekonomi Baru dengan harga lebih dari Rp200 sampai Rp5.000, batas ARA adalah 25%.

Contoh saham IPO Rp500

Jika harga IPO ditetapkan Rp500:

Rp500 × 25% = Rp125

Maka:

Rp500 + Rp125 = Rp625

Jadi, secara perhitungan batas persentase, harga maksimalnya menjadi Rp625.

Contoh saham IPO Rp1.000

Perhitungannya:

Rp1.000 × 25% = Rp250

Sehingga:

Rp1.000 + Rp250 = Rp1.250

Dengan demikian, saham IPO dengan harga Rp1.000 memiliki batas ARA 25% pada kelompok harga tersebut.

3. ARA Saham IPO di Atas Rp5.000

Bagaimana jika saham IPO memiliki harga di atas Rp5.000?

Untuk saham pada Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Ekonomi Baru, batas ARA yang berlaku adalah 20%.

Contoh saham IPO Rp10.000

Perhitungannya:

Rp10.000 × 20% = Rp2.000

Jika saham mencapai batas ARA:

Rp10.000 + Rp2.000 = Rp12.000

Jadi, saham dengan harga Rp10.000 menggunakan batas ARA 20%, bukan 25% atau 35%.

4. Berapa ARA Saham IPO di Papan Akselerasi?

Saham yang tercatat di Papan Akselerasi memiliki ketentuan ARA yang berbeda.

Untuk harga saham Rp1 sampai Rp10, batas perubahan harga ditetapkan sebesar Rp1, bukan menggunakan persentase.

Sedangkan untuk harga saham di atas Rp10, batas ARA adalah 10%.

Harga Saham Papan AkselerasiBatas ARA
Rp1–Rp10Rp1
Di atas Rp1010%

Contoh saham Rp50

Jika harga saham Rp50:

Rp50 × 10% = Rp5

Maka batas kenaikannya:

Rp50 + Rp5 = Rp55

Jadi, secara persentase, batas ARA-nya adalah 10%.

Namun, apabila harga saham berada di Rp10, batas perubahannya adalah Rp1, bukan 10%.

Ketentuan tersebut juga mencakup saham yang berada dalam Papan Pemantauan Khusus (Watchlist).

Baca Juga: Kamus Istilah Saham A–Z: Cocok untuk Investor Pemula

Apakah ARA Saham IPO Berbeda dengan Saham Biasa?

Untuk perdagangan perdana saham hasil penawaran umum, BEI menetapkan bahwa Auto Rejection diterapkan sebesar 1 kali persentase batas Auto Rejection yang berlaku.

Dengan kata lain, investor tidak perlu menggunakan anggapan lama bahwa saham IPO memiliki batas ARA dua kali lipat.

Contohnya:

Harga IPO = Rp100

Batas ARA = 35%

Maka:

35% × 1 = 35%

Sehingga kenaikan berdasarkan batas tersebut:

Rp100 × 35% = Rp35

Harga menjadi sekitar:

Rp135

Sekali lagi, harga aktual di Bursa tetap mengikuti mekanisme perdagangan dan fraksi harga yang berlaku.

Cara Menghitung ARA Saham IPO

Bagi investor pemula, cara menghitung ARA sebenarnya cukup sederhana.

Gunakan rumus:

Nilai kenaikan ARA = Harga saham × Persentase ARA

Kemudian:

Harga ARA = Harga saham + Nilai kenaikan ARA

Berikut beberapa contoh sederhana.

Saham IPO Rp100

Harga = Rp100
ARA = 35%

Rp100 × 35% = Rp35

Harga berdasarkan batas tersebut:

Rp100 + Rp35 = Rp135

Saham IPO Rp500

Harga = Rp500
ARA = 25%

Rp500 × 25% = Rp125

Harga:

Rp500 + Rp125 = Rp625

Saham IPO Rp2.000

Harga = Rp2.000
ARA = 25%

Rp2.000 × 25% = Rp500

Harga:

Rp2.000 + Rp500 = Rp2.500

Saham IPO Rp10.000

Harga = Rp10.000
ARA = 20%

Rp10.000 × 20% = Rp2.000

Harga:

Rp10.000 + Rp2.000 = Rp12.000

Perhitungan tersebut merupakan ilustrasi berdasarkan persentase batas ARA. Harga transaksi sebenarnya tetap mengikuti fraksi harga dan mekanisme perdagangan BEI.

Baca Juga: Cara Membeli Saham IPO untuk Pemula: Pengertian, Tahapan Bookbuilding, Offering, Penjatahan, Refund, dan Cara Pesan Saham di e-IPO

Apakah ARA Saham IPO Hari Kedua Masih Sama?

Belum tentu.

Ini juga menjadi hal penting yang perlu dipahami investor baru.

Pada perdagangan berikutnya, batas ARA dihitung berdasarkan harga acuan yang berlaku.

Harga acuan untuk pembatasan harga dapat menggunakan harga sebelumnya, harga teoretis hasil aksi korporasi, atau harga perdana untuk saham perusahaan yang baru pertama kali diperdagangkan di Bursa, sesuai kondisi yang berlaku.

Selain itu, perubahan harga saham dapat membuat saham berpindah ke kelompok harga yang berbeda.

Contohnya:

Harga Rp150 → kelompok batas ARA 35%

Jika kemudian harga sudah berada pada kelompok di atas Rp200 sampai Rp5.000, batas ARA yang berlaku menjadi:

25%

Jadi, investor tidak bisa berasumsi bahwa saham IPO akan selalu memiliki batas ARA 35% setiap hari.

Baca Juga: Saham Gorengan: Panduan Lengkap, Ciri-Ciri, dan Studi Kasus Nyata Saham DADA

Apakah Saham yang ARA Berarti Bagus?

Tidak selalu.

ARA hanya menunjukkan bahwa harga saham telah mencapai batas kenaikan yang ditentukan dalam mekanisme perdagangan Bursa.

ARA bukan indikator yang secara langsung menunjukkan bahwa fundamental perusahaan bagus atau buruk.

Pergerakan harga saham dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, misalnya:

  • Tingginya permintaan investor.

  • Jumlah saham yang ditawarkan saat IPO.

  • Jumlah saham yang beredar di pasar.

  • Valuasi perusahaan.

  • Prospek industri.

  • Sentimen pasar.

  • Kondisi IHSG.

  • Ekspektasi terhadap kinerja perusahaan.

Karena itu, investor sebaiknya tidak membeli saham IPO hanya karena saham tersebut mengalami ARA.

Investor tetap perlu melihat informasi perusahaan, prospektus IPO, kinerja keuangan, valuasi, prospek bisnis, serta risiko investasinya.


ARA dan ARB Saham

Selain ARA, investor juga perlu mengenal istilah ARB atau Auto Reject Bawah.

Jika ARA merupakan batas kenaikan harga, maka ARB merupakan batas penurunan harga saham.

Untuk saham pada Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Ekonomi Baru, ketentuannya adalah:

Rentang HargaARAARB
Rp50–Rp20035%15%
>Rp200–Rp5.00025%15%
>Rp5.00020%15%

Sementara saham pada Papan Akselerasi dan Papan Pemantauan Khusus memiliki ketentuan tersendiri.

Perubahan batas ARB menjadi 15% merupakan bagian dari kebijakan asymmetric auto rejection yang efektif sejak 8 April 2025.


Tabel Ringkas ARA Saham IPO 2026

Agar lebih mudah dipahami, berikut rangkumannya:

Papan / Rentang HargaBatas ARA
Papan Utama, Pengembangan, Ekonomi Baru — Rp50–Rp20035%
Papan Utama, Pengembangan, Ekonomi Baru — >Rp200–Rp5.00025%
Papan Utama, Pengembangan, Ekonomi Baru — >Rp5.00020%
Papan Akselerasi & Watchlist — Rp1–Rp10Rp1
Papan Akselerasi & Watchlist — >Rp1010%

Kesimpulan

ARA saham IPO 2026 tidak bisa disamaratakan 35%.

Besarnya batas ARA bergantung pada harga saham dan papan pencatatannya.

Untuk Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Ekonomi Baru:

  • Rp50–Rp200: ARA 35%

  • Di atas Rp200–Rp5.000: ARA 25%

  • Di atas Rp5.000: ARA 20%

Sedangkan untuk Papan Akselerasi dan Papan Pemantauan Khusus:

  • Rp1–Rp10: batas Rp1

  • Di atas Rp10: ARA 10%

Khusus perdagangan perdana saham hasil IPO, BEI menetapkan penggunaan 1 kali persentase batas Auto Rejection yang berlaku.

Jadi, sebagai contoh:

IPO Rp100 → ARA 35%

IPO Rp500 → ARA 25%

IPO Rp10.000 → ARA 20%

Yang tidak kalah penting, ARA bukan berarti saham tersebut otomatis bagus. ARA hanya menunjukkan bahwa harga saham sudah mencapai batas kenaikan yang diperbolehkan dalam mekanisme perdagangan Bursa.

Bagi investor pemula, memahami ARA akan membantu membaca pergerakan saham IPO dengan lebih realistis dan menghindari keputusan membeli saham hanya karena melihat harga sedang naik cepat.

Baca Juga: Cara Memilih Broker Saham Terbaik di Indonesia dan Aman untuk Pemula


FAQ ARA Saham IPO

Berapa persen ARA saham IPO 2026?

Untuk saham pada Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Ekonomi Baru, batas ARA adalah 35%, 25%, atau 20%, tergantung rentang harga saham. Papan Akselerasi dan Papan Pemantauan Khusus memiliki ketentuan berbeda.

Apakah semua saham IPO bisa ARA 35%?

Tidak. Batas 35% berlaku untuk saham dengan harga Rp50 sampai Rp200 pada Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Ekonomi Baru.

Berapa ARA saham IPO harga Rp500?

Harga Rp500 masuk kelompok lebih dari Rp200 sampai Rp5.000, sehingga batas ARA-nya adalah 25%.

Berapa ARA saham IPO harga Rp100?

Batas ARA-nya adalah 35%. Secara sederhana, Rp100 dapat naik sebesar Rp35 menjadi sekitar Rp135, dengan tetap memperhatikan fraksi harga.

Berapa ARA saham IPO harga Rp10.000?

Harga di atas Rp5.000 memiliki batas ARA 20%. Jika harga Rp10.000, kenaikan berdasarkan batas tersebut adalah Rp2.000 sehingga menjadi sekitar Rp12.000.

Apakah ARA saham IPO pada hari kedua tetap sama?

Tidak selalu. Pada perdagangan berikutnya, batas ARA mengikuti harga acuan dan kelompok harga saham yang berlaku.

Apakah saham yang ARA berarti bagus?

Tidak. ARA hanya menunjukkan bahwa harga saham telah mencapai batas kenaikan yang ditetapkan dalam mekanisme perdagangan Bursa. Untuk menilai saham, investor tetap perlu melihat fundamental, valuasi, prospek bisnis, dan risikonya.


Sumber Data: Bursa Efek Indonesia

0 Comments

Posting Komentar

Berita Terbaru

    Konten Premium

      Dividen Saham