Jakarta, Mediasaham.com — Emiten jaringan rumah sakit terbesar kedua di Indonesia, PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), mencatat kinerja yang cenderung melambat pada sembilan bulan pertama tahun 2025. Pendapatan masih tumbuh positif, namun margin laba tertekan oleh kenaikan biaya tenaga medis, penyusutan, dan beban keuangan.
Meski demikian, posisi kas, ekuitas, dan tingkat investasi perusahaan tetap menunjukkan fundamental yang solid. Investor perlu menyoroti kemampuan Hermina menjaga efisiensi operasional di tengah tren ekspansi jaringan rumah sakit dan peningkatan tarif layanan kesehatan.
Pendapatan Tumbuh, Tekanan Biaya Masih Terasa
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian tidak diaudit, Hermina mencatat pendapatan sebesar Rp5,29 triliun per 30 September 2025, naik 5,2% dibandingkan Rp5,03 triliun pada periode yang sama tahun 2024.
Pertumbuhan ini utamanya didorong oleh meningkatnya jumlah kunjungan pasien rawat jalan serta kontribusi dari unit rumah sakit baru yang beroperasi sejak 2024. Namun, beban pokok pendapatan naik lebih tinggi, yakni 11,7% menjadi Rp3,52 triliun dari Rp3,15 triliun, terutama karena kenaikan biaya tenaga kerja medis dan bahan medis habis pakai.
Alhasil, laba kotor perusahaan turun 5,7% menjadi Rp1,77 triliun dari Rp1,88 triliun. Laba usaha juga terkoreksi 13,3% menjadi Rp751,10 miliar, mencerminkan tekanan efisiensi di tengah pertumbuhan skala operasional yang masih agresif.
Laba Bersih dan EPS Terkoreksi
Laba sebelum pajak tercatat Rp590,68 miliar, turun 22,7% dibandingkan Rp764,36 miliar pada tahun sebelumnya. Setelah memperhitungkan pajak penghasilan sebesar Rp139,62 miliar, laba periode berjalan Hermina menjadi Rp451,07 miliar.
Lihat Juga: Laba BOBA Melejit 37% di Q3 2025, Penjualan Stabil dan Efisiensi Dorong Profitabilitas
Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp356,02 miliar, turun 24,0% dibandingkan Rp468,16 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Nilai laba per saham (earnings per share / EPS) ikut terkoreksi menjadi Rp23,67 dari Rp31,58 per lembar saham.
Bagi investor, penurunan ini menjadi sinyal adanya tekanan margin di tengah kenaikan biaya operasional dan ekspansi agresif perusahaan di beberapa wilayah. Namun, dengan pertumbuhan volume pasien yang tetap positif, Hermina masih memiliki prospek pertumbuhan jangka menengah yang kuat.
Neraca Keuangan Tetap Solid, Ekuitas Naik Signifikan
Dari sisi posisi keuangan, total aset Hermina mencapai Rp11,81 triliun per 30 September 2025, naik 11,6% dari Rp10,58 triliun pada akhir Desember 2024.
Total liabilitas turun 0,8% menjadi Rp4,67 triliun dari Rp4,71 triliun, sementara total ekuitas naik 21,6% menjadi Rp7,13 triliun dari Rp5,87 triliun. Kenaikan ekuitas ini mengindikasikan struktur permodalan yang semakin kuat, terutama karena adanya tambahan modal disetor dan kenaikan saldo laba ditahan.
Lihat Juga: Laporan Keuangan Wulandari Bangun Laksana Tbk (BSBK) Q3 2025, Laba Bersih Turun 12,9%
Kondisi tersebut menempatkan Hermina dalam posisi keuangan yang sehat untuk melakukan ekspansi rumah sakit baru maupun investasi teknologi medis di tahun mendatang.
Arus Kas Operasional Masih Kuat
Dari sisi likuiditas, Hermina mencatat arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp779,54 miliar, turun 10,9% dari Rp874,65 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan ini disebabkan oleh peningkatan piutang usaha dan investasi modal kerja di sejumlah rumah sakit yang baru beroperasi. Arus kas dari aktivitas investasi tercatat negatif Rp1,36 triliun, sementara arus kas dari aktivitas pendanaan menghasilkan arus masuk Rp894,36 miliar.
Dengan posisi kas dan setara kas akhir periode mencapai Rp956,74 miliar, naik 48,7% dibandingkan Rp643,17 miliar pada akhir 2024, Hermina memiliki ruang likuiditas yang cukup luas untuk menopang belanja modal (capex) dan pembayaran utang jangka pendek.
Ringkasan Laporan Keuangan HEAL Q3 2025
| Pos Keuangan (dalam jutaan Rp) | 2025 | 2024 | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | 5.287.968 | 5.026.528 | +5,2% |
| Beban Pokok Pendapatan | 3.516.100 | 3.147.416 | +11,7% |
| Laba Kotor | 1.771.868 | 1.879.112 | -5,7% |
| Laba Usaha | 751.104 | 866.076 | -13,3% |
| Laba Sebelum Pajak | 590.682 | 764.360 | -22,7% |
| Laba Tahun Berjalan | 451.066 | 597.350 | -24,5% |
| Laba Bersih ke Induk | 356.017 | 468.160 | -24,0% |
| Laba per Saham (EPS) | Rp23,67 | Rp31,58 | -25,0% |
| Total Aset | 11.805.141 | 10.577.680 | +11,6% |
| Total Liabilitas | 4.674.454 | 4.711.461 | -0,8% |
| Total Ekuitas | 7.130.687 | 5.866.219 | +21,6% |
| Arus Kas Operasi | 779.536 | 874.650 | -10,9% |
| Arus Kas Investasi | -1.360.325 | -1.829.437 | -25,7% |
| Arus Kas Pendanaan | 894.357 | 771.556 | +15,9% |
| Kas Akhir Periode | 956.736 | 643.168 | +48,7% |
Hal yang Perlu Diperhatikan Investor
-
Margin laba turun, terutama karena biaya operasional dan tenaga medis meningkat lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan.
-
Ekuitas dan kas meningkat signifikan, menandakan perusahaan memperkuat struktur permodalan dan menjaga likuiditas yang baik.
-
Arus kas operasi positif dan kuat, memberi ruang bagi Hermina untuk ekspansi tanpa ketergantungan besar pada pendanaan eksternal.
-
Prospek sektor kesehatan masih cerah, didorong oleh permintaan layanan medis yang terus tumbuh, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, dan perluasan jaringan rumah sakit di luar Jawa.
-
Valuasi saham HEAL berpotensi dipengaruhi oleh tren margin laba dan kemampuan perusahaan mengelola biaya di tengah ekspansi jaringan.

0 Comments
Posting Komentar