Laba Bersih Bank BRI November 2025 Anjlok Rp 4,55 Triliun

Bank BRI
Kantor Pusat Bank BRI / Dokumentasi Mediasaham.com


Mediasaham.com – Laba bersih BBRI per 31 November 2025 sebesar Rp45,44 triliun, turun sebesar 9,11% dibanding 31 November 2024.

Analisis ini mencakup Neraca (Posisi Keuangan) dan Laba Rugi, dengan fokus pada pertumbuhan aset, kualitas kredit, efisiensi, dan profitabilitas.

1. Ringkasan Kinerja Bank BRI November 2025

Secara garis besar, BRI mencatatkan pertumbuhan Aset dan Kredit yang solid (naik sekitar 7%). Namun, dari sisi profitabilitas, terjadi penurunan Laba Bersih sebesar 9,11% pada November 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan laba ini terutama disebabkan oleh kenaikan beban operasional non-bunga dan pencadangan kerugian (impairment), meskipun pendapatan bunga bersih (NII) masih tumbuh positif.

2. Analisis Neraca (Posisi Keuangan)

BRI menunjukkan ekspansi bisnis dengan pertumbuhan aset yang didorong oleh penyaluran kredit yang agresif.

Perbandingan Aset & Kredit

Keterangan (Jutaan Rp) Nov 2024 Nov 2025 Selisih Nominal % Perubahan
Total Aset 1.851.304.758 1.922.525.541 +71.220.783 +3,85%
Kredit yang Diberikan 1.219.210.538 1.306.535.785 +87.325.247 +7,16%
Surat Berharga (Dimiliki) 332.700.211 361.989.519 +29.289.308 +8,80%
Cadangan Kerugian (Kredit) (76.254.033) (72.785.893) +3.468.140 -4,55%

Analisis: Pertumbuhan kredit sebesar 7,16% menunjukkan fungsi intermediasi BRI berjalan sangat baik. Menariknya, cadangan kerugian penurunan nilai untuk kredit justru menurun (membaik) sebesar 4,55%, yang bisa mengindikasikan perbaikan kualitas kredit atau adanya penghapusbukuan.

Perbandingan Dana Pihak Ketiga (DPK) & Liabilitas

Keterangan (Jutaan Rp) Nov 2024 Nov 2025 Selisih Nominal % Perubahan
Giro 379.553.942 440.791.357 +61.237.415 +16,13%
Tabungan 535.280.670 577.744.419 +42.463.749 +7,93%
Deposito Berjangka 471.880.362 441.451.917 (30.428.445) -6,45%
Total Liabilitas 1.536.819.000 1.608.246.113 +71.427.113 +4,65%
Total Ekuitas 314.485.758 314.279.428 (206.330) -0,07%

Analisis Dana Murah (CASA): BRI berhasil melakukan efisiensi biaya dana. Hal ini terlihat dari kenaikan signifikan pada dana murah (Giro +16,13% dan Tabungan +7,93%), sementara dana mahal (Deposito) justru turun -6,45%. Ini merupakan indikator positif bagi Cost of Funds (CoF) ke depan.

3. Analisis Laba Rugi (Profitabilitas)

Meskipun pendapatan bunga naik, laba bersih BRI tertekan akibat beban operasional lainnya yang membengkak.

Perbandingan Kinerja Profitabilitas

Keterangan (Jutaan Rp) Nov 2024 Nov 2025 Selisih Nominal % Perubahan
Pendapatan Bunga 147.962.231 149.839.063 +1.876.832 +1,27%
Beban Bunga (47.081.831) (46.433.143) -648.688 -1,38%
Pendapatan Bunga Bersih (NII) 100.880.400 103.405.920 +2.525.520 +2,50%
Beban Operasional Lainnya (Net) (38.010.508) (46.873.008) (8.862.500) +23,32%
Laba Operasional 62.869.892 56.532.912 (6.336.980) -10,08%
Laba Bersih Tahun Berjalan 50.004.094 45.446.172 (4.557.922) -9,11%

Detail Beban yang Menekan Laba

Penurunan laba bersih sebesar 9,11% terutama disebabkan oleh lonjakan pada pos-pos berikut dalam Beban Operasional Lainnya:

  1. Kerugian Penurunan Nilai (Impairment / CKPN)
    • 2024: 35.522.774
    • 2025: 37.841.949

    Analisis: Naik sekitar Rp2,3 triliun. Ini menunjukkan bank bersikap lebih konservatif atau adanya pemburukan kualitas aset tertentu yang membutuhkan pencadangan tambahan.

  2. Beban Lainnya (Other Expenses)
    • 2024: 25.227.304
    • 2025: 28.340.237

    Analisis: Naik sekitar Rp3,1 triliun atau tumbuh 12,3%.

  3. Kerugian Transaksi Spot & Derivatif
    • 2024: (68.848)
    • 2025: (1.992.139)

    Analisis: Terjadi lonjakan kerugian yang sangat signifikan, hampir Rp2 triliun di tahun 2025, dibandingkan kerugian yang relatif kecil di tahun sebelumnya.

Baca Juga: 

4. Kesimpulan Utama

  1. Fundamental Bisnis Inti Masih Kuat
    BRI mencatatkan kenaikan Pendapatan Bunga Bersih (NII) sebesar 2,50% menjadi Rp103,4 triliun. Kinerja ini ditopang oleh penurunan Beban Bunga (-1,38%) seiring keberhasilan pergeseran struktur pendanaan ke dana murah (CASA).
  2. Tekanan pada Bottom Line
    Laba bersih tergerus menjadi Rp45,4 triliun atau turun 9,11%. Tekanan ini bukan berasal dari bisnis inti penyaluran kredit, melainkan dari lonjakan Beban Operasional Non-Bunga.
  3. Sorotan Khusus (Red Flag)
    Investor perlu mencermati lonjakan kerugian transaksi spot dan derivatif yang mencapai Rp1,99 triliun serta kenaikan biaya pencadangan (CKPN) sekitar Rp2,3 triliun.

0 Comments

Posting Komentar

Berita Terbaru

    Laporan Keuangan

      Dividen Saham