Mediasaham.com – Cerita lucu Bikin Ngakak
sampai Nangis. Siapa sangka, dunia saham yang penuh analisis, grafik, dan strategi bisa jadi sumber cerita lucu paling nyambung buat para investor dan trader Indonesia?
Nah, kali ini kita akan ketawa bareng lewat kisah kocak Mukidi, warga kampung yang nekat terjun ke dunia investasi saham tanpa ilmu, tapi dengan percaya diri tak terbatas.
Mulai dari jadi trader harian, nyangkut di saham gorengan, sampai akhirnya “terpaksa” jadi investor jangka panjang karena harga gak naik-naik” — semua ada di sini! 😆
1. Mukidi Jadi Trader Saham
Suatu hari, Mukidi — warga kampung yang terkenal sok tahu — tiba-tiba datang ke warung kopi sambil membawa laptop dan wajah serius.
Ia duduk, menyalakan laptop, lalu memasang ekspresi seperti sedang memantau misi rahasia.
Teman-temannya heran.
Karyo bertanya, “Lho, Di... kamu ngapain? Kok gaya kayak orang NASA mau luncurin roket?”
Mukidi menjawab santai sambil menyeruput kopi, “Tenang, Yo... mulai hari ini aku resmi jadi trader saham profesional.”
Paijo yang duduk di sebelah langsung nyaris keselek, “Profesional dari mana? Kamu aja kemarin buka Facebook masih minta ajarin.”
Mukidi menatap Paijo dengan pandangan bijak, “Paijo... dalam dunia saham, yang penting percaya diri, bukan pintar teori.” 😎
📈 Hari Pertama Trading
Mukidi membuka aplikasi trading saham miliknya dan mulai menatap grafik warna-warni yang bergerak naik turun.
Ia mengerutkan dahi dan bergumam,
“Hmm... ini pasti mau naik nih, feeling-ku kuat.”
Tanpa pikir panjang, ia langsung klik tombol BUY.
Setengah jam kemudian... grafiknya malah anjlok.
Mukidi panik, “Waduh, kenapa turun?! Ini pasti karena aku belum baca doa buka trading!”
Paijo nyengir, “Lho, emangnya itu warung soto, ada doa buka?”
📉 Hari Kedua
Mukidi datang lagi ke warung kopi dengan muka tegang.
“Teman-teman,” katanya pelan, “Aku rugi dua ratus ribu kemarin.”
Karyo menimpali, “Lho, itu baru dua ratus. Masih kecil.”
Mukidi menjawab dengan nada sedih, “Kecil apanya... modalnya aja cuma seratus lima puluh.” ðŸ˜
💸 Hari Ketiga
Mukidi mulai pakai “strategi baru”.
Dia pakai cara yang dia lihat dari YouTube: “trading pakai perasaan.”
Ketika grafik merah, dia bilang, “Tenang... ini pasti mau hijau.”
Ketika grafik hijau, dia bilang, “Waduh... ini jebakan.”
Hasilnya?
Uangnya makin habis, tapi semangatnya malah naik.
Paijo geleng-geleng, “Kamu tuh bukan trader, Di... kamu trader rasa dukun!”
📊 Hari Keempat – Titik Balik
Mukidi datang ke warung dengan wajah cerah.
“Teman-teman! Akhirnya aku untung!”
Karyo heran, “Wah, mantap! Untung berapa, Di?”
Mukidi menjawab bangga, “Tadi pagi aku beli saham, naik lima poin! Aku langsung jual, dapet untung seribu dua ratus perak!”
Paijo nyeletuk, “Lho, kamu kan rugi dua ratus ribu kemarin?”
Mukidi tersenyum bijak, “Iya, tapi hari ini aku belajar satu hal penting...”
Karyo penasaran, “Apa itu, Di?”
Mukidi menatap mereka dengan ekspresi serius dan berkata pelan,
“Dalam trading... bukan uang yang penting, tapi pengalaman.”
Paijo menjawab cepat, “Ya jelas! Soalnya uangmu udah habis semua!” ðŸ˜ðŸ¤£
2. Mukidi dan Saham Gorengan yang Bikin Gosong
Suatu pagi yang cerah di warung kopi Bu Partini, Mukidi tampak sumringah sambil membuka HP-nya. Di depannya ada temannya, Tarno, yang sedang menyeruput kopi item sambil makan gorengan tempe.
“Tarnooo!” teriak Mukidi dengan semangat.
“Kenapa, Di? Baru dapet THR?”
“Lebih dari itu, No! Nih liat... saham gue naik 30% dalam dua hari! Wahahaha!”
Tarno melotot, “Hah? Kok bisa? Saham apaan tuh?”
Mukidi dengan bangga menjawab, “Ini No... saham gorengan! Namanya PT Goreng Abadi Tbk! Naiknya cepet banget, kayak minyak goreng kalau kena api!”
Tarno cuma geleng-geleng. “Ati-ati lho, Di... saham gorengan itu cepat naik tapi juga cepat gosong.”
“Ah kamu gak ngerti investasi modern! Sekarang zamannya cuan cepat!” jawab Mukidi dengan wajah yakin kayak motivator dadakan.
📈 Babak Awal: Mukidi Jadi Sutan Saham
Tiga hari kemudian, Mukidi makin kaya raya — setidaknya di HP-nya.
“Wah, saldo portofolio naik terus!” katanya sambil update status Facebook:
“Kalau kalian masih kerja keras tiap hari, aku cukup klik dua kali — uang datang sendiri 💸💪”
Komentar pun berdatangan:
-
“Mantap bang Mukidi! Ajari dong!”
-
“Saham apaan bang, bagi tips!”
-
“Semoga gak nyangkut ya 😅”
Mukidi merasa seperti Warren Buffett versi kampung. Bahkan ia mulai manggil dirinya “Mukidi Buffett”.
🔥 Babak Tengah: Mukidi Tambah Gas, Tambah Modal
Karena terlalu percaya diri, Mukidi jual motor bebeknya buat nambah modal.
“Istri gak apa-apa lah jalan kaki dulu, yang penting cuan!” katanya sambil ketawa-ketawa.
Ia beli lagi saham gorengan yang katanya “akan to the moon.”
Sampai suatu hari, grup WA saham yang biasa ramai tiba-tiba sunyi.
Biasanya ada yang teriak “Naik broo!”, “Ayo serok!”, “Gak usah panik!”.
Tapi hari itu cuma satu pesan masuk:
“Teman-teman, bandar udah kabur...”
📉 Babak Akhir: Mukidi Gosong Total
Keesokan harinya, harga sahamnya anjlok drastis.
Sahamnya ARB berjilid-jilid.
Dari Rp 500 turun jadi Rp 50. Mukidi kaget bukan main.
“Waduh... ini saham atau pesawat jatuh???”
Ia panik. Coba jual sahamnya, tapi gak ada yang mau beli.
“Lho kok gak bisa dijual? Ini pasar saham atau pasar hantu???”
Tarno yang dari awal sudah ngasih peringatan cuma nyengir.
“Gimana, Di? Gorengannya enak?”
Mukidi jawab lemas, “Enak sih... tapi sekarang aku yang kegoreng.”
💀 Epilog: Pelajaran dari Mukidi
Sejak hari itu, Mukidi jadi sering nongkrong di warung sambil lihat papan harga saham dari HP bekas.
Bu Partini nanya, “Lho, Mukidi, kok gak main saham lagi?”
Mukidi menjawab dengan wajah lesu tapi masih bisa bercanda,
“Main, Bu. Tapi sekarang sahamnya cuma gorengan tempe aja. Biar kalau rugi, masih bisa dimakan.” 😅
3. Mukidi Jadi Investor Jangka Panjang (Karena Terpaksa)
Suatu pagi di warung kopi Bu Partini, Mukidi datang dengan gaya baru. Rambut disisir rapi, pakai kemeja, dan bawa laptop.
“Wih, gaya banget, Di! Kayak analis pasar modal!” kata Tarno yang sedang makan bakwan.
Mukidi senyum tipis. “Iyalah, No. Sekarang aku bukan trader biasa. Aku trader profesional!”
Tarno nyeletuk, “Profesional yang mana dulu nih, Di? Profesional untung apa nyangkut?”
Mukidi cuek. Ia membuka laptop dan menunjukkan grafik saham warna-warni.
“Tuh liat, No. Saham PT Mimpi Abadi Tbk. Minggu lalu aku beli di harga 1.000. Sekarang udah naik jadi 1.200! Untung 20%! Gampang banget kan!” katanya bangga.
Tarno nyengir. “Wah hebat! Terus udah dijual belum?”
Mukidi santai jawab, “Belum. Lagi nunggu naik dikit lagi biar makin cuan.”
Keesokan harinya... harga turun jadi 800.
Mukidi langsung panik.
“Waduh, kok turun?! Harusnya naik, bukan main seluncuran begini!”
Tarno ketawa ngakak. “Nah, itu yang disebut gravitasi pasar, Di.”
Mukidi mengeluh, “Ini mah bukan gravitasi, ini jatuh cinta sama kerugian!” 😂
📉 Babak Kedua: Mukidi Balas Dendam
Beberapa hari kemudian, harga sahamnya pelan-pelan naik lagi.
Mukidi langsung semangat, “Yes, saatnya jual!”
Begitu dijual… harga malah naik lebih tinggi.
Mukidi menatap grafik sambil nyengir getir.
“Lho, kok begitu dijual malah terbang! Nih saham kayaknya ada dendam pribadi sama ku!”
Tarno mencoba menenangkan.
“Ya udah, sabar Di. Lain kali beli pas murah, jual pas mahal.”
Mukidi langsung nyolot, “Lah iya, kalau tahu murah atau mahalnya gampang, aku udah jadi bos Bursa Efek, No!”
💸 Babak Ketiga: Mukidi Jadi Investor Jangka Panjang (Karena Nggak Bisa Apa-apa)
Suatu sore, Mukidi beli lagi saham baru. Katanya, kali ini dia mau “main aman”.
“Aku beli saham PT Harapan Jaya Tbk, No. Harganya sekarang 2.000. Katanya bakal naik!”
Tiga hari kemudian, harganya malah turun jadi 1.400.
Tarno datang sambil nyengir, “Lho Di, kok tambah murah? Gak dijual?”
Mukidi geleng kepala, “Enggak. Ini aku bukan trader lagi. Aku udah berubah... jadi investor jangka panjang.”
Tarno bingung. “Lho, sejak kapan?”
Mukidi jawab tenang, “Sejak sahamnya gak naik-naik!” 🤣
📆 Babak Akhir: Filosofi Mukidi di Dunia Saham
Beberapa bulan kemudian, saham Mukidi tetap gak naik juga.
Setiap hari dia buka aplikasi saham cuma buat lihat angka yang sama.
Teman-temannya pada bilang,
“Wah Mukidi hebat, sabar banget, cocok jadi investor jangka panjang!”
Mukidi cuma senyum kecut dan berkata,
“Sabar sih sabar, tapi kalau sabar terus gak naik-naik, ini bukan investasi... ini penyiksaan batin.” 😂
Suatu kali Bu Partini nanya, “Lho Mukidi, sahammu gimana?”
Mukidi menjawab dengan gaya bijak,
“Naik-turun itu biasa, Bu. Cuma bedanya, yang lain naik dulu baru turun... aku turun dulu, terus turun lagi.”
📊 Epilog: Mukidi dan Strategi Abadi
Akhirnya Mukidi dikenal di komunitas saham sebagai “Investor Abadi”.
Bukan karena kaya, tapi karena semua sahamnya nyangkut permanen.
Bahkan temannya bilang, “Mukidi itu bukan pegang saham jangka panjang... tapi sahamnya yang pegang Mukidi jangka panjang!” 😂
4. Mukidi Menjual Saham Kesabaran
Pagi itu, Mukidi duduk di warung kopi Bu Partini sambil memandangi layar HP dengan wajah datar — seperti baru ditolak cinta untuk ke-17 kalinya.
Tarno, sahabat sekaligus “penasihat keuangan tak bersertifikat”, langsung curiga.
“Lho, Di, kenapa mukamu kayak saham ARB berjilid-jilid?”
Mukidi menarik napas panjang, “No… akhirnya aku menyerah. Saham-sahamku udah aku jual semua. Rugi besar! Tapi aku udah ikhlas...”
Mukidi menatap jauh ke arah gorengan pisang, “Sekitar... tiga digit.”
Tarno penasaran, “Tiga digit juta?”
Mukidi mengangguk pelan. “Tapi yang paling sakit tuh bukan rugi duitnya, No. Tapi rugi perasaannya.” ðŸ˜
📉 Babak 1: Awal Perjuangan Mukidi
Setahun sebelumnya, Mukidi semangat jadi investor jangka panjang.
Setiap hari dia rajin baca berita ekonomi dan nonton YouTube analis saham.
Katanya, “Saham itu investasi jangka panjang, jangan takut turun.”
Jadi ketika sahamnya turun, Mukidi santai.
Waktu turun lagi, dia bilang, “Ah, ini cuma koreksi.”
Waktu turun terus, dia bilang, “Masih sideways.”
Pas akhirnya anjlok setengah harga, dia bilang, “Aku bukan rugi, cuma belum cuan.” 🤣
Setahun berlalu, harga tetap tak bergerak.
Mukidi mulai berubah jadi filsuf:
“Mungkin sahamku gak turun, cuma lagi istirahat panjang.”
💸 Babak 2: Akhirnya Mukidi Menyerah
Setelah 13 bulan memandangi grafik merah, Mukidi menyerah total.
Ia bilang ke Tarno,
“Udah lah, No. Kayaknya sahamku ini gak akan naik sampai kiamat. Aku jual aja biar tenang.”
Tarno menasihati, “Yakin, Di? Kadang pasar itu naik pas kita udah gak sabar.”
Mukidi jawab dengan penuh keyakinan yang salah tempat,
“No, aku bukan gak sabar. Aku cuma udah lelah.” 😩
Akhirnya Mukidi jual semua sahamnya dengan kerugian 50%.
Begitu transaksi selesai, dia merasa ringan.
“Ah, akhirnya bebas juga dari beban hidup ini,” katanya sambil menyeruput kopi.
📈 Babak 3: Satu Bulan Kemudian
Satu bulan setelah menjual semua sahamnya, Mukidi iseng buka aplikasi saham.
Matanya melotot sebesar tutup termos.
“LHO?! SAHAMKU NAIK?! NAIK??!!”
Tarno yang kebetulan duduk di sebelahnya langsung kaget.
“Ada apa, Di? Kena jackpot kah?”
Mukidi menunjuk layar HP dengan gemetar.
“Itu No! Saham PT Mimpi Abadi yang aku jual rugi... sekarang NAIK 400%!” 😱
Tarno melongo. “Waduh... berarti kalau kamu tahan dikit lagi, udah cuan besar dong?”
Mukidi menatap langit dengan ekspresi pilu.
“No… kalau aku tahan 1 bulan aja lagi... aku udah beli Alphard, rumah baru, sama liburan ke Bali...”
Tarno mencoba menenangkan, “Ya udah lah, Di. Yang penting kamu udah tenang, kan?”
Mukidi menjawab dengan wajah datar,
“Tenang apanya, No... sekarang tiap kali liat gorengan naik di minyak panas, aku langsung trauma.” 😂
🔥 Babak 4: Mukidi Jadi Legenda Grup Saham
Berita tragedi Mukidi cepat menyebar di grup WA saham.
Anggota grup langsung bilang,
“Kalau Mukidi udah jual, berarti tanda saham mau naik.”
Sejak itu, mereka menjuluki Mukidi:
“Indikator Mukidi” — Si Penentu Waktu Pasar.
Ada yang bilang,
“Jangan tanya analisis teknikal, tanya aja Mukidi kapan jual. Kalau dia jual, saatnya kita beli!”
Mukidi hanya bisa menatap mereka dengan wajah kosong sambil berkata,
“Kalian senang di atas penderitaan orang lain.” ðŸ˜
📊 Epilog: Mukidi dan Filosofi Kehidupan Saham
Sekarang Mukidi sudah jarang buka aplikasi saham.
Ia lebih sering nongkrong di warung Bu Partini, menikmati kopi dan gorengan.
Kadang orang nanya,
“Di, kamu masih investasi?”
Mukidi jawab sambil tersenyum pahit,
“Masih, tapi sekarang aku invest ke ketenangan batin. Return-nya lebih stabil daripada saham.” ☕😌
5. Mukidi Buka Kelas Trading Online
Setelah “sukses” (walau rugi terus), Mukidi merasa dirinya sudah cukup berpengalaman untuk berbagi ilmu.
Maka, suatu sore ia tempel pengumuman di depan warung kopi:
🧠KELAS TRADING ONLINE BY MUKIDI
Belajar saham cepat, mudah, tanpa mikir grafik!
Modal kecil, hasil besar (asal sabar & pasrah).
Orang kampung pun penasaran.
Paijo, Karyo, dan Mulyono daftar duluan — bukan karena yakin, tapi karena pengin ngetawain Mukidi dari dekat.
🪑 Sesi Pertama: “Rahasia Kaya dari Saham”
Mukidi membuka laptop dan berdiri layaknya motivator sukses.
Ia berkata lantang, “Teman-teman, semua bisa kaya dari saham... asal jangan takut rugi!”
Mukidi tersenyum bijak, “Itu berarti Tuhan sedang mengetes kesabaranmu.”
Karyo bertanya lagi, “Kalau terus rugi tiap hari?”
Mukidi menjawab cepat, “Berarti Tuhan kagum sama kesabaranmu.” 😎
💻 Sesi Kedua: “Cara Baca Grafik Tanpa Pusing”
Mukidi membuka chart saham yang warnanya hijau-merah seperti lampu disko.
Ia menunjuk grafik itu sambil berkata,
“Nah, ini kalau hijau artinya... sahamnya lagi semangat. Kalau merah, dia lagi sedih.”
Mulyono bingung, “Lho, itu bukan perasaan, Di, itu harga!”
Mukidi menjawab mantap, “Justru itu, Mul. Harga itu hidup. Harus dirasakan, bukan dihitung.”
Paijo garuk-garuk kepala, “Jadi strategi kamu pakai ilmu rasa gitu?”
Mukidi tersenyum lebar, “Betul! Namanya Analisis Perasaan Fundamental.” 😂
💸 Sesi Ketiga: “Simulasi Trading Langsung”
Mukidi buka aplikasi saham dan mencontohkan cara beli saham.
Ia menatap layar penuh percaya diri.
“Perhatikan baik-baik, ini teknik rahasia: kalau grafiknya miring ke kanan, itu tanda naik!”
Paijo nyeletuk, “Kalau miring ke kiri?”
Mukidi jawab cepat, “Itu berarti HP-mu kebalik.” 🤣
🧾 Akhir Kelas
Setelah dua jam, semua peserta bengong.
Mukidi menutup laptopnya dan berkata,
“Teman-teman, hari ini kalian sudah belajar hal paling penting: dalam trading, jangan panik... panik bikin rugi.”
Karyo menghela napas, “Tapi dari tadi kok nggak ada yang belajar cara untung, Di?”
Mukidi tersenyum bijak, “Untung itu urusan nanti... yang penting gaya dulu.” 😎
Paijo akhirnya nyeletuk pelan,
“Kelas ini bukan trading saham, tapi trading sabar.” ðŸ˜ðŸ¤£
🎯 Epilog
Malamnya, Mukidi posting di media sosial:
“Kelas trading pertamaku sukses besar! Semua peserta terkesima dengan strategi rahasiaku!”
Padahal, semua peserta cuma terkesima karena heran...
Bagaimana caranya Mukidi bisa rugi tiap hari tapi tetap percaya diri! 😅💸



0 Comments
Posting Komentar