![]() |
| Ilustrasi / Pixabay |
Mediasaham.com, Jakarta — PT Link Net Tbk (IDX: LINK), emiten penyedia layanan internet dan TV kabel, kembali mencatatkan kinerja yang kurang menggembirakan sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Meski pendapatan tumbuh, kenaikan tajam pada beban jaringan membuat rugi bersih perseroan semakin dalam.
Rugi Bersih Membengkak
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang dipublikasikan melalui laman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/11), Link Net mencatat rugi bersih sebesar Rp1,02 triliun hingga 30 September 2025. Angka ini membengkak 27,1% dibandingkan rugi Rp801,54 miliar pada periode yang sama tahun 2024.
Baca: Laporan Keuangan Saratoga (SRTG) Q3 2025: Rugi Rp2,43 Triliun
Meningkatnya rugi bersih tersebut dipicu oleh lonjakan beban jaringan dan beban langsung lainnya yang naik lebih dari dua kali lipat, mencapai Rp1,21 triliun pada 9M25 dari Rp592,35 miliar pada 9M24.
Pendapatan Tumbuh, Margin Tertekan
Di sisi lain, pendapatan perseroan justru meningkat signifikan menjadi Rp2,39 triliun, naik 45,7% dibandingkan Rp1,64 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan beban operasional yang jauh lebih cepat membuat margin laba operasional menyusut tajam.
Baca: Laba Bersih Indika Energy (INDY) Longsor 98,61% di 9M25, Pendapatan Turun ke USD1,44 Miliar
Kondisi ini menggambarkan bahwa kenaikan volume pelanggan dan aktivitas jaringan belum sepenuhnya mampu menutupi biaya ekspansi dan peningkatan kapasitas infrastruktur yang dilakukan perusahaan sepanjang tahun ini.
Struktur Keuangan
Berdasarkan laporan posisi keuangan, total aset Link Net per 30 September 2025 mencapai Rp15,08 triliun, naik 8,4% dibandingkan Rp13,91 triliun pada akhir Desember 2024. Namun, total liabilitas juga melonjak 24,7% menjadi Rp11,11 triliun dari Rp8,91 triliun pada akhir tahun lalu.
Sementara itu, total ekuitas menurun tajam 20,6% menjadi Rp3,97 triliun dari Rp5,00 triliun, seiring dengan akumulasi rugi bersih yang diderita perseroan. Rugi bersih per saham dasar dan dilusian tercatat Rp374 per lembar saham selama 9M25, lebih rendah dari rugi Rp498 per lembar saham di periode yang sama tahun lalu.
Ringkasan Laporan Keuangan PT Link Net Tbk (LINK)
(Per 30 September 2025 dibandingkan 30 September 2024)
(Dalam miliar rupiah)
| Pos Keuangan | 9M25 | 9M24 | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | 2.390 | 1.640 | +45,73% |
| Beban Jaringan & Langsung | 1.210 | 592,35 | +104,26% |
| Laba (Rugi) Bersih ke Induk | -1.020 | -801,54 | +27,21% |
| Total Aset | 15.080 | 13.910* | +8,40% |
| Total Liabilitas | 11.110 | 8.910* | +24,67% |
| Total Ekuitas | 3.970 | 5.000* | -20,60% |
Sumber: Laporan Keuangan Konsolidasian PT Link Net Tbk (LINK), per 30 September 2025
Keterangan: Pos bertanda (*) dibandingkan posisi per 31 Desember 2024
Akar Kerugian dan Prospek Ke Depan
Kerugian yang dialami Link Net sebagian besar disebabkan oleh kenaikan tajam beban jaringan dan operasional akibat investasi besar-besaran dalam peningkatan kapasitas infrastruktur dan ekspansi jaringan fiber optik. Meskipun langkah tersebut diharapkan meningkatkan daya saing jangka panjang, dalam jangka pendek hal ini menekan profitabilitas perusahaan.
Baca: Cara Investasi Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap, Aman dan Menguntungkan
Selain itu, biaya pemeliharaan jaringan yang meningkat seiring ekspansi wilayah layanan turut menambah tekanan pada margin laba. Di sisi lain, kompetisi ketat di industri layanan internet tetap menjadi tantangan besar, dengan munculnya banyak penyedia baru yang menawarkan tarif kompetitif.
Ke depan, prospek Link Net akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan untuk menyeimbangkan strategi ekspansi dengan efisiensi operasional. Jika manajemen mampu menekan biaya jaringan sambil mempertahankan pertumbuhan pelanggan dan meningkatkan average revenue per user (ARPU), peluang pemulihan kinerja mulai terlihat pada paruh kedua 2026.
Baca: Saham Gorengan: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya
Namun, dengan struktur liabilitas yang meningkat tajam dan penurunan ekuitas, penguatan arus kas operasional menjadi prioritas utama agar perusahaan dapat menjaga stabilitas keuangan tanpa ketergantungan berlebih pada pendanaan eksternal.

0 Comments
Posting Komentar