Lahan Industri Laris Manis Diserbu Investor Tiongkok, Pendapatan KIJA Meroket di Kuartal III
MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (IDX: KIJA) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 4,25 triliun sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026 (9M26). Angka ini tumbuh 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (9M25) yang tercatat sebesar Rp 3,67 triliun.
Lonjakan pendapatan
emiten pengembang kawasan industri ini didorong oleh penguatan signifikan pada
segmen Land Development & Property di kuartal III 2026, serta
kontribusi pendapatan berulang (recurring revenue) yang stabil dari
pilar Infrastruktur.

Kota Jababeka Cikarang. Foto/Jababeka.com
Berdasarkan siaran
pers resmi perusahaan yang dirilis Selasa (4/11), pilar Land Development
& Property berhasil mengantongi pendapatan Rp 1,91 triliun pada 9M26,
melonjak 17% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Menariknya, kontribusi
kuartal III 2026 (3Q26) saja menyumbang Rp 939,9 miliar. Jumlah ini
hampir menyamai seluruh pendapatan pilar properti sepanjang semester I 2026
yang sebesar Rp 974,9 miliar.
Pertumbuhan pilar ini
utamanya ditopang oleh:
- Penjualan tanah matang: Rp 1,62 triliun (naik dari Rp 1,43
triliun di 9M25).
- Penjualan tanah dan bangunan pabrik: Rp 126,0 miliar, melonjak tajam 291% YoY
dari sebelumnya Rp 32,2 miliar.
- Penjualan tanah dan rumah residensial: Rp 77,8 miliar (tumbuh 18% YoY).
Pilar Infrastruktur Topang Recurring Revenue
Pilar Infrastruktur
Jababeka terus mencatatkan pertumbuhan stabil dengan pendapatan mencapai Rp
2,24 triliun pada 9M26, naik 15% dari Rp 1,95 triliun pada 9M25. Bisnis
infrastruktur ini kini menyumbang 53% dari total pendapatan konsolidasi
Perseroan.
Rincian kinerja pilar
infrastruktur meliputi:
- Segmen Ketenagalistrikan: Mengantongi Rp 1,50 triliun (naik dari Rp
1,37 triliun), didukung peningkatan konsumsi listrik tenant industri di
Cikarang dan Kendal.
- Jasa dan Pemeliharaan: Tumbuh 33% YoY menjadi Rp 525,6 miliar,
dipicu oleh tingginya aktivitas tenant di Kendal serta penyesuaian
tarif dan volume di Cikarang.
- Cikarang Dry Port: Mencatat pendapatan Rp 211,8 miliar (naik
dari Rp 174,6 miliar) berkat peningkatan arus lalu lintas peti kemas
(TEUs).
Sementara itu, pilar Leisure
& Hospitality mencatatkan pendapatan Rp 97,6 miliar, di mana bisnis
lapangan golf memberikan kontribusi dominan sekitar 65%.
Beban Refinancing Dolar As Pangkas Laba Bersih 38%
Di tengah pertumbuhan
top-line, laba bersih KIJA pada 9M26 justru terkoreksi 38% YoY menjadi Rp 391,7
miliar, dibandingkan Rp 634,6 miliar pada 9M25.
Manajemen KIJA
menjelaskan bahwa penurunan laba bersih ini dipicu oleh adanya beban
non-operasional yang bersifat satu kali (one-off) pada kuartal II 2026.
Beban tersebut timbul akibat langkah strategis Perseroan melakukan refinancing
atas Senior Notes berdenominasi Dolar AS menjadi fasilitas pinjaman bank
dalam mata uang Rupiah.
Proses refinancing
tersebut memicu akumulasi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen
lindung nilai (hedging), serta amortisasi yang dipercepat atas Senior
Notes yang semula jatuh tempo pada 2027.
Meski menekan laba
bersih secara sementara, manajemen optimistis pelepasan utang dolar ini akan
memberikan efisiensi dan stabilitas struktur keuangan jangka panjang bagi
Perseroan.
Di sisi lain,
operasional inti KIJA tetap solid:
- Laba Bruto: Rp 1,57 triliun (naik 7% YoY dari Rp 1,47
triliun).
- Margin Laba Bruto: 37% (turun dari 40% di 9M25 akibat
penurunan margin operasional segmen listrik).
- EBITDA: Rp 1,36 triliun (naik 4% YoY dari Rp 1,30 triliun).
- Saldo Kas Konsolidasi: Terjaga kuat di level Rp 3,15 triliun.
Baca Laporan Keuangan Emiten:
- Kinerja Cemerlang September 2026: Laba DMAS Meroket 183% Jadi Rp1,49 Triliun
- Laporan Keuangan Indosat Q3 2026: Laba Bersih Melonjak +37,19% Jadi Rp4,92 triliun, Cek Analisis Keuangan ISAT
- Laporan Keuangan CFIN per September 2026 Laba Bersih Naik 13% Jadi Rp153,65 miliar
- Laba Bersih Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) Turun 6,89% per September 2026
- Laba Bersih UVCR Meroket 395% per September 2026
- Bank Mandiri Cetak Laba Rp47,11 Triliun hingga September 2026, Naik 13,9%
- Laba United Tractors (UNTR) Anjlok 61% hingga September 2026, Pendapatan Turun 10%
- Bukalapak Minus Rp881 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Naik 19%
- SNLK Catat Pendapatan Rp32,82 Miliar hingga September 2026, Rugi Bersih Turun 39,36%
- Laba BLES Melonjak 484% Jadi Rp284 Miliar hingga Kuartal III-2026
- Metrodata Electronics (MTDL) Raih Pendapatan Rp22,09 Triliun, Laba Naik 2,33% hingga September 2026
- Laba Saham PADA Melonjak 333% Jadi Rp3,4 Miliar hingga September 2026
- Laba PT Vale Indonesia (INCO) Meroket 180% Jadi AS$147,1 juta hingga September 2026
- Kedaung Indah Can (KICI) Pangkas Rugi 67,74% Jadi Rp2,19 Miliar hingga September 2026
- Laporan Keuangan Mayora Q3 2026: Laba Naik +31,08% Jadi Rp2,47 Triliun, Cek Rasio Keuangan Saham MYOR
- Laporan Keuangan Multi Garam Utama (FOLK) Q3 2026: Berbalik Untung Rp18,40 Miliar dari Sebelumnya Minus Rp8,27 miliar
Realisasi Marketing Sales & Investor Asing
Hingga 9M26, KIJA
mengantongi marketing sales dari pilar properti sebesar Rp 1,52
triliun. Di kawasan industri Kendal, KIJA sukses mengamankan transaksi
lahan dari investor Tiongkok, antara lain 7 hektare untuk produsen baterai dan
6 hektare untuk produsen kulit sintetis, serta 9,7 hektare untuk produsen
peralatan rumah tangga asal Indonesia.
Sedangkan di Cikarang
dan wilayah joint venture lainnya, transaksi ditopang oleh penjualan
lahan industri ke perusahaan tekstil nasional (3 ha), sektor ketenagalistrikan
(1 ha), dan perusahaan bahan bangunan asal Tiongkok (0,7 ha).
Menghadapi sikap investor yang cenderung wait and see di tengah tantangan makroekonomi 2026, KIJA memilih fokus memperkuat sales pipeline dan meyakini daya tarik Indonesia sebagai hub manufaktur jangka panjang akan membuat prospek bisnis kawasan industri kembali kondusif pada tahun 2027.
Disclaimer: Artikel ini merupakan konten jurnalistik dari mediasaham.com yang bertujuan memberikan informasi, bukan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual saham tertentu. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dan mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.