Laba United Tractors (UNTR) Anjlok 61% hingga September 2026, Pendapatan Turun 10%

MEDIASAHAM.COM – PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan penurunan kinerja keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Emiten alat berat dan pertambangan ini membukukan laba bersih sebesar Rp 4,47 triliun hingga September 2026, turun 61% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 11,48 triliun.

Berdasarkan laporan perkembangan usaha yang disampaikan perseroan, pendapatan bersih konsolidasian UNTR mencapai Rp 90,34 triliun per akhir September 2026. Angka tersebut turun 10% dibandingkan pendapatan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 100,47 triliun.

Penurunan kinerja tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal serta metalurgi. Selain itu, penjualan emas yang lebih rendah dari PT Agincourt Resources turut menekan pendapatan perseroan.

Di tengah tekanan tersebut, bisnis kontraktor penambangan masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan. Penguatan kurs dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor yang menopang kinerja segmen tersebut.

pertambangan
Ilustrasi. Alat Berat Pertambangan. Adit Saputra / Mediasaham.com

Laba UNTR Tertekan Beban Nonrutin

Selain penurunan pendapatan, laba bersih United Tractors juga terbebani oleh pos nonrutin atau non-recurring items sebesar Rp 3,46 triliun hingga kuartal III-2026. Pos tersebut terutama mencakup penurunan nilai investasi pada Supreme Geothermal Energy serta pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan yang berhubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di tambang nikel Stargate.

Jika tidak memperhitungkan pos nonrutin, UNTR membukukan laba bersih sebesar Rp 7,93 triliun. Meski lebih tinggi dibandingkan laba bersih setelah memperhitungkan pos tersebut, angka ini tetap turun 31% dibandingkan Rp 11,55 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Perseroan menjelaskan, penurunan laba sebelum pos nonrutin terutama mencerminkan tekanan pendapatan akibat alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah serta penjualan emas yang melemah.

Penjualan emas yang lebih rendah dari Tambang Emas Martabe milik Agincourt Resources terjadi setelah penghentian sementara operasional tambang tersebut. Operasi tambang kemudian kembali berjalan pada kuartal II-2026.

Penjualan Alat Berat Komatsu Turun 17%

Dari segmen alat berat, penjualan Komatsu mencapai 3.026 unit hingga September 2026, turun 17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan terutama terjadi pada penjualan alat berat berukuran besar atau big machine untuk sektor pertambangan. Penjualan di segmen ini merosot 48% menjadi 481 unit, sejalan dengan dampak alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah.

Berdasarkan sektor pengguna, pelanggan pertambangan menyerap 51% dari total penjualan alat berat UNTR. Sementara itu, sektor konstruksi berkontribusi 20%, perkebunan 18%, dan kehutanan 11%.

Meski penjualan unit baru melemah, pendapatan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat meningkat menjadi Rp 8,5 triliun dari Rp 8,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Secara keseluruhan, pendapatan bersih segmen alat berat turun 19% menjadi Rp 23,6 triliun hingga kuartal III-2026.

Pendapatan Kontraktor Penambangan Tumbuh 11%

Segmen kontraktor penambangan yang dijalankan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining) menjadi salah satu penopang kinerja pendapatan UNTR.

Pendapatan bersih dari segmen ini meningkat 11% menjadi Rp 44,5 triliun. Perseroan menyebut penguatan kurs dolar AS sebagai faktor utama yang mendorong pertumbuhan tersebut.

Namun, dari sisi operasional, volume pekerjaan pemindahan tanah atau overburden removal turun 7% menjadi 766 juta bank cubic meter (bcm). Sementara itu, volume produksi batu bara untuk klien PAMA dan KPP Mining turun 3% menjadi 106 juta ton, dengan rata-rata rasio pengupasan tanah atau stripping ratio sebesar 7,2 kali.

Penurunan volume tersebut sejalan dengan penyesuaian target produksi para klien berdasarkan RKAB yang telah disetujui.

Untuk memperluas sumber pertumbuhan, PAMA dan KPP Mining juga memperkuat ekspansi ke sektor mineral di luar batu bara, terutama pertambangan emas dan nikel. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perseroan memperkuat portofolio bisnis dan menopang pertumbuhan jangka panjang.

Pendapatan Batu Bara Turun 15%

Kinerja segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi yang dijalankan melalui PT Tuah Turangga Agung atau Turangga Resources masih menghadapi tekanan.

Volume penjualan batu bara segmen ini mencapai 7,1 juta ton hingga September 2026, termasuk 2,1 juta ton batu bara metalurgi. Jumlah tersebut turun 23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sejalan dengan penurunan volume penjualan, pendapatan bersih dari bisnis batu bara termal dan metalurgi menyusut 15% menjadi Rp 15,9 triliun.

Baca Laporan Keuangan Emiten:

  1. Laporan Keuangan BPFI Q3 2026: Laba Bersih Melonjak 88%
  2. Laporan Keuangan PTPP September 2026: Laba yang Diatribusikan ke Pemilik Entitas Induk Meroket Jadi Rp259,97 Miliar
  3. Laporan Keuangan PJAA  September 2026: Laba Bersih Anjlok 56,5% Jadi Rp25,3 Miliar
  4. Laba Haloni Jane Tbk (HALO) Melejit 160% Per September 2026
  5. Laporan Keuangan Bima Sakti Pertiwi Tbk (PAMG) per September 2026
  6. Laporan Keuangan AKRA per 30 September 2026, Laba Bersih Melonjak 34,00% Jadi Rp2,21 triliun
  7. Laporan Keuangan BTPN Syariah (BTPS) 30 September 2026, Laba Naik 7% Jadi Rp1,01 triliun
  8. Laporan Keuangan CFIN per September 2026 Laba Bersih Naik 13% Jadi Rp153,65 miliar
  9. Laporan Keuangan Onix Capital Tbk (OCAP) September 2026 Rugi Rp25,34 miliar 
  10. Laba Bersih Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) Turun 6,89% per September 2026
  11. Laba Bersih UVCR Meroket 395% per September 2026
  12. Bank Mandiri Cetak Laba Rp47,11 Triliun hingga September 2026, Naik 13,9%
  13. Laba United Tractors (UNTR) Anjlok 61% hingga September 2026, Pendapatan Turun 10%

Bisnis Emas Melemah, Penjualan Setara Emas Turun Tajam

Segmen pertambangan emas dan mineral lainnya menjadi salah satu bagian bisnis UNTR yang mengalami penurunan paling dalam. Pendapatan bersih segmen ini merosot 53% menjadi Rp 4,9 triliun hingga kuartal III-2026.

Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh melemahnya penjualan emas sebesar 70%. Secara volume, penjualan setara emas dari PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya mencapai 54.000 ons hingga September 2026, jauh di bawah 178.000 ons pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan penjualan tersebut antara lain berkaitan dengan penghentian sementara operasional Tambang Emas Martabe sebelum kembali beroperasi pada kuartal II-2026.

Sementara itu, pada bisnis nikel, PT Stargate Pacific Resources mencatatkan penjualan bijih nikel sebanyak 1,157 juta wet metric ton (wmt) hingga kuartal III-2026. Volume tersebut terdiri dari 390.000 wmt bijih saprolit dan 767.000 wmt bijih limonit.

Posisi Keuangan Berubah Menjadi Utang Bersih

Dari sisi neraca, posisi keuangan UNTR juga mengalami perubahan. Per 30 September 2026, perseroan mencatatkan utang bersih sebesar Rp 4,6 triliun dengan rasio gearing 4,2%.

Posisi tersebut berbalik dari kas bersih sebesar Rp 7,7 triliun pada 31 Desember 2025. Menurut perseroan, perubahan terutama mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas dan pelaksanaan program pembelian kembali saham atau buyback.

Dengan demikian, kinerja UNTR hingga September 2026 menghadapi tekanan dari penurunan pendapatan sejumlah segmen utama serta beban nonrutin. Pertumbuhan pendapatan kontraktor penambangan belum cukup untuk mengimbangi pelemahan alat berat, batu bara, dan bisnis emas.

Disclaimer: Artikel ini merupakan konten jurnalistik dari mediasaham.com yang bertujuan memberikan informasi, bukan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual saham tertentu. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dan mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

0 Comments

Posting Komentar

Berita Terbaru

    Konten Premium

      Dividen Saham