Laba Bersih Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) Turun 6,89% per September 2026

Kuhuni.com, Jakarta — PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) mencatat penurunan kinerja laba pada sembilan bulan pertama 2026. Berdasarkan laporan keuangan interim, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp177,18 miliar hingga 30 September 2026, turun 6,89% dibandingkan Rp190,30 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan laba terjadi ketika pendapatan operasi IPCC turun menjadi Rp645,48 miliar dari Rp660,24 miliar. Di sisi lain, beban pokok pendapatan meningkat sehingga laba bruto turun menjadi Rp260,43 miliar dari Rp288,48 miliar.

Cargo Loading. Dok. Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC)

Ringkasan Kinerja Keuangan IPCC September 2026

Berikut perbandingan kinerja keuangan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk untuk periode Januari–September 2026 dan Januari–September 2025. Seluruh angka disajikan dalam rupiah, kecuali laba per saham.

Pos Keuangan Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan Nominal Perubahan (%)
Pendapatan Operasi Rp645,48 miliar Rp660,24 miliar -Rp14,76 miliar -2,24%
Laba Bruto Rp260,43 miliar Rp288,48 miliar -Rp28,05 miliar -9,73%
Laba Usaha Rp205,64 miliar Rp218,42 miliar -Rp12,78 miliar -5,85%
Laba Sebelum Pajak Rp216,47 miliar Rp236,86 miliar -Rp20,40 miliar -8,61%
Laba Bersih Rp177,18 miliar Rp190,30 miliar -Rp13,12 miliar -6,89%
Laba Komprehensif Rp177,18 miliar Rp190,30 miliar -Rp13,12 miliar -6,89%
Laba Bersih per Saham Rp97,44 Rp104,65 -Rp7,21 -6,89%

Pendapatan Operasi IPCC Turun 2,24%

IPCC mencatat pendapatan operasi sebesar Rp645,48 miliar pada Januari–September 2026. Nilai tersebut turun Rp14,76 miliar atau 2,24% dibandingkan Rp660,24 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan pendapatan tersebut turut menekan laba bruto. Beban pokok pendapatan meningkat dari Rp371,76 miliar menjadi Rp385,05 miliar, atau bertambah sekitar Rp13,29 miliar. Akibatnya, laba bruto turun Rp28,05 miliar atau 9,73%, dari Rp288,48 miliar menjadi Rp260,43 miliar.

Margin laba bruto IPCC juga mengalami penurunan. Pada Januari–September 2026, laba bruto setara sekitar 40,35% dari pendapatan operasi, dibandingkan sekitar 43,69% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba Usaha IPCC Turun Menjadi Rp205,64 Miliar

Setelah memperhitungkan beban umum dan administrasi serta pos operasi lainnya, IPCC membukukan laba usaha Rp205,64 miliar pada sembilan bulan 2026. Laba tersebut turun Rp12,78 miliar atau 5,85% dibandingkan Rp218,42 miliar pada Januari–September 2025.

Beban umum dan administrasi justru turun dari Rp63,14 miliar menjadi Rp61,88 miliar. Perseroan juga mencatat pendapatan operasi lainnya sebesar Rp7,96 miliar, meningkat signifikan dibandingkan Rp2,86 miliar pada periode sebelumnya.

Di sisi lain, beban operasi lainnya turun tajam dari Rp9,79 miliar menjadi Rp874,19 juta. Penurunan beban tersebut membantu menahan tekanan terhadap laba usaha, meskipun laba bruto turun cukup besar.

Laba Bersih IPCC Turun 6,89%

IPCC mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp216,47 miliar pada Januari–September 2026, turun Rp20,40 miliar atau 8,61% dari Rp236,86 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan keuangan turun dari Rp43,69 miliar menjadi Rp38,44 miliar. Sementara itu, beban keuangan meningkat dari Rp25,25 miliar menjadi Rp27,62 miliar. Kombinasi penurunan pendapatan keuangan dan kenaikan beban keuangan tersebut turut menekan laba sebelum pajak.

Setelah dikurangi pajak penghasilan badan sebesar Rp39,29 miliar, yang terdiri dari pajak kini Rp36,84 miliar dan pajak tangguhan Rp2,45 miliar, IPCC membukukan laba bersih Rp177,18 miliar. Angka tersebut turun 6,89% dari Rp190,30 miliar pada Januari–September 2025.

Laba komprehensif IPCC juga tercatat Rp177,18 miliar karena tidak terdapat penghasilan komprehensif lain pada kedua periode tersebut. Laba bersih per saham turun dari Rp104,65 menjadi Rp97,44 per saham.

Baca Laporan Keuangan Emiten:

  1. Laporan Keuangan BPFI Q3 2026: Laba Bersih Melonjak 88%
  2. Penjualan Arwana Citramulia (ARNA) Tumbuh 15,57% Menjadi Rp2,51 Triliun
  3. Artha Mahiya Investama (AIMS) Rugi Rp706 Juta hingga September 2026
  4. Laporan Keuangan PTPP September 2026: Laba yang Diatribusikan ke Pemilik Entitas Induk Meroket Jadi Rp259,97 Miliar
  5. Laporan Keuangan PJAA  September 2026: Laba Bersih Anjlok 56,5% Jadi Rp25,3 Miliar
  6. Laba Haloni Jane Tbk (HALO) Melejit 160% Per September 2026
  7. Laporan Keuangan Bima Sakti Pertiwi Tbk (PAMG) per September 2026
  8. Laporan Keuangan AKRA per 30 September 2026, Laba Bersih Melonjak 34,00% Jadi Rp2,21 triliun
  9. Laporan Keuangan BTPN Syariah (BTPS) 30 September 2026, Laba Naik 7% Jadi Rp1,01 triliun
  10. Laporan Keuangan CFIN per September 2026 Laba Bersih Naik 13% Jadi Rp153,65 miliar
  11. Laporan Keuangan Onix Capital Tbk (OCAP) September 2026 Rugi Rp25,34 miliar 
  12. Laba Bersih Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) Turun 6,89% per September 2026

Posisi Keuangan IPCC per 30 September 2026

Total aset IPCC pada 30 September 2026 tercatat Rp1,98 triliun, turun Rp80,11 miliar atau 3,89% dibandingkan Rp2,06 triliun pada 31 Desember 2025. Penurunan aset terutama berasal dari berkurangnya aset tidak lancar.

Pos Keuangan 30 September 2026 31 Desember 2025 Perubahan Nominal Perubahan (%)
Kas dan Setara Kas Rp1,07 triliun Rp1,08 triliun -Rp9,36 miliar -0,86%
Total Aset Lancar Rp1,17 triliun Rp1,17 triliun +Rp3,61 miliar +0,31%
Total Aset Tidak Lancar Rp803,31 miliar Rp887,02 miliar -Rp83,72 miliar -9,44%
Total Aset Rp1,98 triliun Rp2,06 triliun -Rp80,11 miliar -3,89%
Total Liabilitas Rp598,01 miliar Rp697,43 miliar -Rp99,42 miliar -14,26%
Total Ekuitas Rp1,38 triliun Rp1,36 triliun +Rp19,31 miliar +1,42%

Kas IPCC Tetap di Atas Rp1 Triliun

Kas dan setara kas IPCC per 30 September 2026 mencapai Rp1,07 triliun. Saldo tersebut turun Rp9,36 miliar atau 0,86% dibandingkan Rp1,08 triliun pada 31 Desember 2025.

Total aset lancar justru meningkat tipis menjadi Rp1,17 triliun dari Rp1,17 triliun pada akhir 2025. Selain kas, piutang usaha pihak ketiga tercatat Rp72,94 miliar, sedangkan piutang usaha pihak berelasi sebesar Rp1,22 miliar.

Aset kontrak pihak berelasi meningkat dari Rp13,10 miliar menjadi Rp17,63 miliar. Pajak dibayar di muka juga meningkat menjadi Rp3,27 miliar dari Rp1,43 miliar.

Aset Tidak Lancar Turun Rp83,72 Miliar

Total aset tidak lancar IPCC pada akhir September 2026 mencapai Rp803,31 miliar, turun 9,44% dari Rp887,02 miliar pada akhir Desember 2025.

Aset tetap bersih turun dari Rp340,34 miliar menjadi Rp326,03 miliar. Aset takberwujud bersih juga turun dari Rp1,90 miliar menjadi Rp999,73 juta.

Aset hak-guna bersih menjadi salah satu komponen terbesar aset tidak lancar. Saldo aset hak-guna tercatat Rp425,14 miliar, turun dari Rp488,84 miliar pada akhir 2025.

Liabilitas IPCC Turun 14,26%

Total liabilitas IPCC per 30 September 2026 tercatat Rp598,01 miliar, turun Rp99,42 miliar atau 14,26% dibandingkan Rp697,43 miliar pada 31 Desember 2025.

Liabilitas jangka pendek turun menjadi Rp177,15 miliar dari Rp276,56 miliar. Penurunan terbesar berasal dari utang dividen yang sebelumnya mencapai Rp47,57 miliar dan pada 30 September 2026 tidak lagi tercatat sebagai kewajiban.

Beban akrual juga turun cukup besar, dari Rp96,30 miliar menjadi Rp55,92 miliar. Utang usaha pihak ketiga turun dari Rp10,92 miliar menjadi Rp6,15 miliar, sedangkan utang usaha pihak berelasi turun dari Rp35,47 miliar menjadi Rp22,52 miliar.

Liabilitas jangka panjang relatif tidak berubah, yaitu sekitar Rp420,87 miliar. Seluruhnya berasal dari liabilitas sewa jangka panjang.

Ekuitas IPCC Naik Menjadi Rp1,38 Triliun

Total ekuitas IPCC per 30 September 2026 mencapai Rp1,38 triliun, meningkat Rp19,31 miliar atau 1,42% dibandingkan Rp1,36 triliun pada akhir 2025.

Modal saham tetap sebesar Rp181,84 miliar, sedangkan tambahan modal disetor juga tidak berubah di Rp749,46 miliar. Cadangan umum meningkat menjadi Rp14 miliar dari Rp12 miliar.

Saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya naik menjadi Rp434,81 miliar dari Rp417,50 miliar. Kenaikan saldo laba tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang peningkatan total ekuitas perseroan.

Arus Kas Operasi IPCC Mencapai Rp231,03 Miliar

IPCC menghasilkan kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp231,03 miliar pada Januari–September 2026. Namun, angka tersebut turun 22,47% dibandingkan Rp298,00 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Arus Kas Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan Nominal Perubahan (%)
Penerimaan Kas dari Pelanggan Rp633,97 miliar Rp664,65 miliar -Rp30,68 miliar -4,62%
Pembayaran Pemasok, Utilitas dan Lainnya -Rp291,33 miliar -Rp254,51 miliar +Rp36,82 miliar +14,47%
Pembayaran kepada Karyawan -Rp43,50 miliar -Rp39,54 miliar +Rp3,96 miliar +10,02%
Penerimaan Pendapatan Keuangan Rp37,55 miliar Rp34,38 miliar +Rp3,17 miliar +9,22%
Kas Neto dari Aktivitas Operasi Rp231,03 miliar Rp298,00 miliar -Rp66,97 miliar -22,47%
Kas Neto Digunakan untuk Investasi -Rp1,59 miliar -Rp7,65 miliar Arus keluar turun Rp6,06 miliar -79,18%*
Kas Neto Digunakan untuk Pendanaan -Rp238,80 miliar -Rp135,91 miliar Arus keluar naik Rp102,89 miliar +75,70%*
Kenaikan Neto Kas Rp9,36 miliar Rp154,44 miliar -Rp145,07 miliar -93,93%

*Untuk arus kas keluar, perubahan persentase menunjukkan perubahan besaran arus kas keluar.

Penerimaan kas dari pelanggan turun dari Rp664,65 miliar menjadi Rp633,97 miliar. Sementara itu, pembayaran kepada pemasok, utilitas dan lainnya meningkat dari Rp254,51 miliar menjadi Rp291,33 miliar. Pembayaran kepada karyawan juga meningkat menjadi Rp43,50 miliar dari Rp39,54 miliar.

Aktivitas investasi menggunakan kas Rp1,59 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan Rp7,65 miliar pada periode sebelumnya. Pengeluaran tersebut terutama berasal dari perolehan aset tetap.

Arus kas pendanaan mencatat penggunaan kas Rp238,80 miliar, meningkat dibandingkan Rp135,91 miliar pada Januari–September 2025. Pembayaran dividen mencapai Rp203,16 miliar, sedangkan pembayaran liabilitas sewa sebesar Rp35,64 miliar.

Secara keseluruhan, kas dan setara kas meningkat bersih Rp9,36 miliar selama sembilan bulan 2026. Namun, karena saldo awal tahun sebesar Rp1,08 triliun, saldo kas akhir September 2026 menjadi Rp1,07 triliun.

Kesimpulan Kinerja Keuangan IPCC September 2026

Kinerja keuangan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk pada Januari–September 2026 menunjukkan penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan operasi turun 2,24%, sementara kenaikan beban pokok pendapatan membuat laba bruto turun 9,73% menjadi Rp260,43 miliar.

Laba usaha turun 5,85% menjadi Rp205,64 miliar dan laba sebelum pajak turun 8,61% menjadi Rp216,47 miliar. Setelah memperhitungkan pajak penghasilan, laba bersih IPCC tercatat Rp177,18 miliar, turun 6,89% dari Rp190,30 miliar.

Dari sisi neraca, total aset turun menjadi Rp1,98 triliun, tetapi total liabilitas juga turun lebih besar menjadi Rp598,01 miliar. Ekuitas meningkat menjadi Rp1,38 triliun. Kas dan setara kas tetap berada di atas Rp1 triliun pada akhir September 2026.

Arus kas operasi masih positif sebesar Rp231,03 miliar, meskipun turun dari Rp298,00 miliar pada periode sebelumnya. Sementara itu, arus kas pendanaan meningkat karena pembayaran dividen dan liabilitas sewa.

Secara keseluruhan, IPCC masih membukukan laba dan menghasilkan arus kas operasi positif, tetapi pertumbuhan laba mengalami tekanan akibat penurunan pendapatan operasi, peningkatan beban pokok pendapatan, serta meningkatnya beban keuangan.

FAQ Kinerja Keuangan IPCC September 2026

Berapa laba bersih IPCC pada Januari–September 2026?

IPCC membukukan laba bersih sebesar Rp177,18 miliar pada Januari–September 2026, turun 6,89% dibandingkan Rp190,30 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berapa pendapatan operasi IPCC?

Pendapatan operasi IPCC mencapai Rp645,48 miliar pada sembilan bulan pertama 2026, turun 2,24% dari Rp660,24 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berapa total aset IPCC per 30 September 2026?

Total aset IPCC tercatat Rp1,98 triliun per 30 September 2026, turun 3,89% dibandingkan Rp2,06 triliun pada 31 Desember 2025.

Bagaimana posisi liabilitas IPCC?

Total liabilitas IPCC mencapai Rp598,01 miliar per 30 September 2026, turun 14,26% dibandingkan Rp697,43 miliar pada akhir 2025.

Berapa arus kas operasi IPCC?

IPCC menghasilkan kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp231,03 miliar pada Januari–September 2026, turun dari Rp298,00 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berapa laba per saham IPCC?

Laba bersih per saham dasar IPCC sebesar Rp97,44 pada Januari–September 2026, turun dari Rp104,65 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Disclaimer: Artikel ini merupakan konten jurnalistik dari mediasaham.com yang bertujuan memberikan informasi, bukan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual saham tertentu. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dan mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

0 Comments

Posting Komentar

Berita Terbaru

    Konten Premium

      Dividen Saham