Bukalapak Minus Rp881 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Naik 19%

Mediasaham.com, Jakarta — PT Bukalapak.com Tbk dan entitas anaknya mencatat pendapatan neto sebesar Rp5,64 triliun pada sembilan bulan pertama 2026, meningkat 19,34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,73 triliun. Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum mampu mempertahankan kinerja laba, karena perseroan membukukan rugi bersih Rp881,06 miliar, berbalik dari laba Rp2,91 triliun pada sembilan bulan 2025.

Perubahan kinerja terutama terlihat pada pos investasi. Pada sembilan bulan 2026, Bukalapak mencatat rugi nilai investasi sebesar Rp2,04 triliun, berbanding terbalik dengan keuntungan nilai investasi Rp2,32 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat perseroan berbalik mencatat rugi usaha Rp1,14 triliun dari laba usaha Rp2,33 triliun.

Logo Bukalapak

Ringkasan Kinerja Keuangan Bukalapak September 2026

Berikut perbandingan kinerja keuangan Bukalapak pada periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 dan 30 September 2025. Seluruh angka disajikan dalam rupiah, kecuali laba per saham.

Pos Keuangan Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan Nominal Perubahan (%)
Pendapatan Neto Rp5,64 triliun Rp4,73 triliun Rp914,22 miliar +19,34%
Beban Pokok Pendapatan Rp5,18 triliun Rp4,35 triliun Rp831,87 miliar +19,12%
Pendapatan Operasi Lainnya Rp962,99 miliar Rp139,32 miliar Rp823,68 miliar +591,35%
Laba (Rugi) Nilai Investasi -Rp2,04 triliun Rp2,32 triliun -Rp4,36 triliun Berbalik rugi
Laba (Rugi) Usaha -Rp1,14 triliun Rp2,33 triliun -Rp3,46 triliun Berbalik rugi
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan -Rp859,90 miliar Rp2,93 triliun -Rp3,79 triliun Berbalik rugi
Laba (Rugi) Bersih -Rp881,06 miliar Rp2,91 triliun -Rp3,79 triliun Berbalik rugi
EPS Dasar -Rp9,21 Rp30,77 -Rp39,98 Berbalik rugi

Pendapatan Naik, tetapi Beban Pokok Ikut Meningkat

Pendapatan neto Bukalapak mencapai Rp5,64 triliun hingga September 2026, naik Rp914,22 miliar atau 19,34% dibandingkan Rp4,73 triliun pada periode yang sama 2025. Pertumbuhan pendapatan tersebut relatif sejalan dengan kenaikan beban pokok pendapatan yang mencapai 19,12%, dari Rp4,35 triliun menjadi Rp5,18 triliun.

Dengan demikian, secara sederhana selisih antara pendapatan dan beban pokok pendapatan mencapai sekitar Rp458,66 miliar pada sembilan bulan 2026. Beban penjualan dan pemasaran juga meningkat menjadi Rp200,93 miliar dari Rp149,37 miliar. Sementara itu, beban umum dan administrasi justru turun menjadi Rp324,45 miliar dari Rp361,34 miliar.

Bukalapak juga mencatat pendapatan operasi lainnya sebesar Rp962,99 miliar, melonjak dari Rp139,32 miliar pada periode sebelumnya. Namun, kontribusi positif tersebut belum mampu mengimbangi rugi nilai investasi yang mencapai Rp2,04 triliun.

Rugi Nilai Investasi Tekan Laba Usaha

Pos yang paling mencolok dalam laporan laba rugi adalah perubahan hasil investasi. Pada sembilan bulan 2025, Bukalapak mencatat keuntungan nilai investasi Rp2,32 triliun. Sebaliknya, pada sembilan bulan 2026 perseroan membukukan rugi nilai investasi Rp2,04 triliun.

Perubahan tersebut mencapai sekitar Rp4,36 triliun secara nominal dan menjadi faktor utama yang membuat laba usaha berbalik menjadi rugi. Bukalapak mencatat rugi usaha Rp1,14 triliun pada Januari–September 2026, dibandingkan laba usaha Rp2,33 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada tingkat sebelum pajak penghasilan, Bukalapak membukukan rugi Rp859,90 miliar, berbanding laba Rp2,93 triliun pada sembilan bulan 2025. Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan Rp21,16 miliar, rugi periode berjalan mencapai Rp881,06 miliar.

Rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp885,89 miliar. Angka tersebut membuat rugi per saham dasar dan dilusian menjadi Rp9,21 per saham, dibandingkan laba per saham masing-masing Rp30,77 dan Rp30,23 pada periode sebelumnya.

Baca Laporan Keuangan Emiten:

  1. Laporan Keuangan BPFI Q3 2026: Laba Bersih Melonjak 88%
  2. Laporan Keuangan PJAA  September 2026: Laba Bersih Anjlok 56,5% Jadi Rp25,3 Miliar
  3. Laba Haloni Jane Tbk (HALO) Melejit 160% Per September 2026
  4. Laporan Keuangan Bima Sakti Pertiwi Tbk (PAMG) per September 2026
  5. Laporan Keuangan AKRA per 30 September 2026, Laba Bersih Melonjak 34,00% Jadi Rp2,21 triliun
  6. Laporan Keuangan BTPN Syariah (BTPS) 30 September 2026, Laba Naik 7% Jadi Rp1,01 triliun
  7. Laporan Keuangan CFIN per September 2026 Laba Bersih Naik 13% Jadi Rp153,65 miliar
  8. Laporan Keuangan Onix Capital Tbk (OCAP) September 2026 Rugi Rp25,34 miliar 
  9. Laba Bersih Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) Turun 6,89% per September 2026
  10. Laba Bersih UVCR Meroket 395% per September 2026
  11. Bank Mandiri Cetak Laba Rp47,11 Triliun hingga September 2026, Naik 13,9%
  12. Laba United Tractors (UNTR) Anjlok 61% hingga September 2026, Pendapatan Turun 10%
  13. Bukalapak Minus Rp881 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Naik 19%

Aset Bukalapak Turun Menjadi Rp24,92 Triliun

Dari sisi posisi keuangan, total aset Bukalapak per 30 September 2026 tercatat Rp24,92 triliun, turun Rp1,11 triliun atau 4,28% dibandingkan Rp26,03 triliun pada 31 Desember 2025.

Posisi Keuangan 30 Sep 2026 31 Des 2025 Perubahan Nominal Perubahan (%)
Kas dan Setara Kas Rp15,56 triliun Rp16,21 triliun -Rp646,96 miliar -3,99%
Piutang Usaha Pihak Ketiga Rp226,67 miliar Rp137,72 miliar Rp88,95 miliar +64,59%
Persediaan Rp230,84 miliar Rp197,21 miliar Rp33,63 miliar +17,05%
Aset Keuangan Lancar Lainnya Rp2,94 triliun Rp4,99 triliun -Rp2,05 triliun -41,05%
Total Aset Lancar Rp19,26 triliun Rp21,97 triliun -Rp2,71 triliun -12,32%
Investasi Jangka Panjang Rp4,23 triliun Rp2,71 triliun Rp1,52 triliun +55,86%
Total Aset Tidak Lancar Rp5,66 triliun Rp4,06 triliun Rp1,59 triliun +39,28%
Total Aset Rp24,92 triliun Rp26,03 triliun -Rp1,11 triliun -4,28%

Penurunan aset terutama terlihat pada aset lancar yang turun dari Rp21,97 triliun menjadi Rp19,26 triliun. Kas dan setara kas juga turun sekitar Rp646,96 miliar menjadi Rp15,56 triliun.

Di sisi lain, investasi jangka panjang meningkat cukup signifikan menjadi Rp4,23 triliun dari Rp2,71 triliun. Investasi pada entitas asosiasi juga naik menjadi Rp862,75 miliar dari Rp830,21 miliar.

Liabilitas Turun, Ekuitas Menyusut

Total liabilitas Bukalapak per 30 September 2026 tercatat Rp673,61 miliar, turun 6,09% dari Rp717,30 miliar pada akhir 2025. Liabilitas jangka pendek turun menjadi Rp553,75 miliar dari Rp592,52 miliar, sementara liabilitas jangka panjang turun menjadi Rp119,86 miliar dari Rp124,78 miliar.

Posisi Keuangan 30 Sep 2026 31 Des 2025 Perubahan Nominal Perubahan (%)
Total Liabilitas Jangka Pendek Rp553,75 miliar Rp592,52 miliar -Rp38,77 miliar -6,54%
Total Liabilitas Jangka Panjang Rp119,86 miliar Rp124,78 miliar -Rp4,92 miliar -3,94%
Total Liabilitas Rp673,61 miliar Rp717,30 miliar -Rp43,69 miliar -6,09%
Ekuitas Pemilik Entitas Induk Rp24,23 triliun Rp25,30 triliun -Rp1,07 triliun -4,21%
Total Ekuitas Rp24,24 triliun Rp25,31 triliun -Rp1,07 triliun -4,23%

Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp24,23 triliun dari Rp25,30 triliun. Penurunan tersebut sejalan dengan akumulasi rugi yang meningkat menjadi Rp8,00 triliun dari Rp7,11 triliun.

Perseroan juga mencatat saham treasuri sebesar Rp1,70 triliun pada September 2026, dibandingkan Rp1,53 triliun pada akhir 2025.

Arus Kas Operasi Tetap Positif

Meski membukukan rugi bersih, Bukalapak masih mencatat arus kas positif dari aktivitas operasi. Kas neto yang diperoleh dari aktivitas operasi mencapai Rp181,06 miliar pada sembilan bulan 2026, meningkat 20,91% dibandingkan Rp149,75 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Arus Kas Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan Nominal
Kas Neto dari Aktivitas Operasi Rp181,06 miliar Rp149,75 miliar Rp31,31 miliar
Kas Neto dari/(Digunakan untuk) Aktivitas Investasi -Rp1,23 triliun Rp6,88 triliun -Rp8,11 triliun
Kas Neto Digunakan untuk Aktivitas Pendanaan -Rp201,44 miliar -Rp1,29 triliun Rp1,09 triliun
Penurunan Kenaikan Neto Kas -Rp1,25 triliun Rp5,74 triliun -Rp6,99 triliun
Kas dan Setara Kas Akhir Periode Rp15,56 triliun Rp17,11 triliun -Rp1,55 triliun

Arus kas investasi berubah cukup signifikan. Pada sembilan bulan 2026, perseroan menggunakan kas Rp1,23 triliun untuk aktivitas investasi, sedangkan pada periode yang sama 2025 perseroan memperoleh kas Rp6,88 triliun.

Penggunaan kas investasi 2026 terutama terkait penambahan investasi sebesar Rp2,53 triliun, yang sebagian diimbangi penerimaan dari pelepasan investasi sebesar Rp1,32 triliun. Sementara itu, aktivitas pendanaan menggunakan kas Rp201,44 miliar, terutama untuk pembayaran liabilitas sewa, pembelian kembali saham, dan pembayaran dividen kepada kepentingan nonpengendali.

Akibatnya, kas dan setara kas turun secara neto Rp1,25 triliun selama sembilan bulan 2026. Setelah memperhitungkan dampak perubahan kurs positif Rp603,43 miliar, saldo kas dan setara kas pada akhir September 2026 tercatat Rp15,56 triliun.

Rasio Keuangan Bukalapak

Sejumlah rasio sederhana menunjukkan perubahan posisi keuangan Bukalapak hingga September 2026.

Rasio 30 Sep 2026 31 Des 2025 / Jan–Sep 2025
Pertumbuhan Pendapatan +19,34% —
Margin Laba Bersih -15,62% 61,62%
Current Ratio 34,78x 37,07x
Liabilitas terhadap Aset 2,70% 2,76%
Ekuitas terhadap Aset 97,30% 97,24%

Margin laba bersih berubah tajam menjadi negatif 15,62% pada sembilan bulan 2026 dari 61,62% pada periode sebelumnya. Perubahan tersebut terutama dipengaruhi pembalikan hasil investasi dari keuntungan menjadi kerugian.

Di sisi likuiditas, current ratio masih sangat tinggi sekitar 34,78 kali karena aset lancar jauh lebih besar dibandingkan liabilitas jangka pendek. Struktur permodalan juga menunjukkan liabilitas hanya sekitar 2,70% dari total aset, sementara sekitar 97,30% aset dibiayai oleh ekuitas.

Kesimpulan Kinerja Keuangan Bukalapak

Kinerja Bukalapak pada sembilan bulan 2026 menunjukkan pertumbuhan bisnis dari sisi pendapatan, tetapi tekanan dari hasil investasi membuat perseroan berbalik membukukan rugi. Pendapatan neto naik 19,34% menjadi Rp5,64 triliun, sementara arus kas operasi juga meningkat menjadi Rp181,06 miliar.

Namun, rugi nilai investasi Rp2,04 triliun menjadi faktor utama yang mengubah laba usaha Rp2,33 triliun pada sembilan bulan 2025 menjadi rugi usaha Rp1,14 triliun pada sembilan bulan 2026. Pada akhirnya, Bukalapak mencatat rugi bersih Rp881,06 miliar dan rugi per saham Rp9,21.

Dari sisi neraca, total aset turun menjadi Rp24,92 triliun dan ekuitas turun menjadi Rp24,24 triliun. Meski demikian, total liabilitas relatif kecil sebesar Rp673,61 miliar dan perseroan masih memiliki kas dan setara kas Rp15,56 triliun pada akhir September 2026.

FAQ Kinerja Keuangan Bukalapak September 2026

Berapa pendapatan Bukalapak hingga September 2026?

Bukalapak mencatat pendapatan neto Rp5,64 triliun pada sembilan bulan 2026, naik 19,34% dari Rp4,73 triliun pada periode yang sama 2025.

Berapa rugi bersih Bukalapak pada September 2026?

Bukalapak membukukan rugi bersih Rp881,06 miliar hingga September 2026, berbalik dari laba bersih Rp2,91 triliun pada sembilan bulan 2025.

Mengapa Bukalapak berbalik rugi?

Salah satu faktor utama adalah perubahan hasil investasi. Bukalapak mencatat rugi nilai investasi Rp2,04 triliun pada sembilan bulan 2026, sedangkan pada periode yang sama 2025 membukukan keuntungan nilai investasi Rp2,32 triliun.

Berapa kas dan setara kas Bukalapak?

Per 30 September 2026, Bukalapak memiliki kas dan setara kas sebesar Rp15,56 triliun, turun dari Rp16,21 triliun pada 31 Desember 2025.

Disclaimer: Artikel ini merupakan konten jurnalistik dari mediasaham.com yang bertujuan memberikan informasi, bukan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual saham tertentu. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dan mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

0 Comments

Posting Komentar

Berita Terbaru

    Konten Premium

      Dividen Saham