Bank Mandiri Cetak Laba Rp47,11 Triliun hingga September 2026, Naik 13,9%

Mediasaham.com, Jakarta — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (IDX: BMRI) dan entitas anaknya mencatat laba bersih konsolidasian sebesar Rp47,11 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026, meningkat 13,86% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp41,37 triliun.

Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan laba operasional yang mencapai Rp57,85 triliun, naik 12,47% dari Rp51,43 triliun pada periode yang sama 2025. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bahkan meningkat 20,68% menjadi Rp45,53 triliun dari Rp37,73 triliun.

Teller Bank Mandiri
Teller Bank Mandiri. Dok. BMRI

Ringkasan Kinerja Keuangan Bank Mandiri September 2026

Berikut perbandingan kinerja keuangan konsolidasian Bank Mandiri untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026 dan 30 September 2025. Untuk pos laporan posisi keuangan, perbandingan dilakukan terhadap posisi 31 Desember 2025. Seluruh angka disajikan dalam rupiah dan telah dikonversi ke satuan triliun atau miliar agar lebih mudah dibaca, kecuali laba per saham.

Pos Keuangan 2026 2025 Perubahan
Pendapatan bunga dan syariah - neto Rp69,81 triliun Rp78,26 triliun -10,79%
Pendapatan bunga, syariah dan asuransi - neto Rp70,52 triliun Rp78,56 triliun -10,20%
Pendapatan operasional lainnya Rp35,03 triliun Rp33,04 triliun +6,02%
Laba operasional Rp57,85 triliun Rp51,43 triliun +12,47%
Laba bersih Rp47,11 triliun Rp41,37 triliun +13,86%
Laba diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp45,53 triliun Rp37,73 triliun +20,68%
Total aset Rp2.588,30 triliun Rp2.829,95 triliun -8,54%
Kredit dan pembiayaan syariah - neto Rp1.606,31 triliun Rp1.801,93 triliun -10,86%
Total simpanan nasabah Rp1.804,61 triliun Rp1.816,90 triliun -0,68%

Pendapatan Bunga Neto Turun, Laba Operasional Justru Naik

Dalam sembilan bulan 2026, total pendapatan bunga dan pendapatan syariah Bank Mandiri tercatat Rp110,23 triliun, turun dari Rp122,30 triliun pada periode yang sama 2025.

Penurunan tersebut terutama berasal dari pendapatan syariah yang turun tajam seiring adanya de-konsolidasi PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk sejak 1 Februari 2026. Pendapatan syariah turun menjadi Rp2,04 triliun dari Rp18,47 triliun setahun sebelumnya.

Di sisi lain, pendapatan operasional lainnya meningkat menjadi Rp35,03 triliun dari Rp33,04 triliun. Kenaikan tersebut antara lain berasal dari provisi dan komisi yang mencapai Rp19,46 triliun serta pendapatan dari kelompok nilai wajar melalui laba rugi sebesar Rp5,26 triliun.

Pos Laba Rugi 9M 2026 9M 2025 Perubahan
Pendapatan bunga Rp108,20 triliun Rp103,83 triliun +4,20%
Pendapatan syariah Rp2,04 triliun Rp18,47 triliun -88,98%
Beban bunga dan syariah -Rp40,42 triliun -Rp44,04 triliun -8,22%
Pendapatan bunga dan syariah - neto Rp69,81 triliun Rp78,26 triliun -10,79%
Pendapatan asuransi - neto Rp710,31 miliar Rp300,26 miliar +136,58%
Pendapatan operasional lainnya Rp35,03 triliun Rp33,04 triliun +6,02%
Beban operasional lainnya -Rp40,31 triliun -Rp49,91 triliun -19,22%
Laba operasional Rp57,85 triliun Rp51,43 triliun +12,47%
Laba sebelum pajak Rp57,83 triliun Rp51,55 triliun +12,18%
Laba bersih Rp47,11 triliun Rp41,37 triliun +13,86%
Laba per saham Rp488,13 Rp404,25 +20,75%

Efisiensi Beban Menopang Pertumbuhan Laba

Salah satu faktor penting di balik pertumbuhan laba Bank Mandiri adalah penurunan beban operasional lainnya. Beban tersebut turun menjadi Rp40,31 triliun dari Rp49,91 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Beban gaji dan tunjangan turun menjadi Rp16,79 triliun dari Rp20,20 triliun. Sementara itu, beban umum dan administrasi turun menjadi Rp15,96 triliun dari Rp21,82 triliun.

Bank Mandiri juga membukukan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp8,52 triliun, lebih rendah dibandingkan Rp9,38 triliun pada sembilan bulan 2025. Penurunan beban tersebut membantu menjaga pertumbuhan laba meskipun pendapatan bunga dan syariah secara neto mengalami tekanan.

Setelah memperhitungkan beban pajak neto sebesar Rp10,72 triliun, Bank Mandiri membukukan laba periode berjalan Rp47,11 triliun. Dari jumlah tersebut, laba yang menjadi hak pemilik entitas induk mencapai Rp45,53 triliun.

Kredit Bank Mandiri Turun 10,86%

Dari sisi neraca, total aset Bank Mandiri per 30 September 2026 tercatat Rp2.588,30 triliun, turun 8,54% dibandingkan posisi 31 Desember 2025 sebesar Rp2.829,95 triliun.

Kredit yang diberikan dan piutang atau pembiayaan syariah secara neto tercatat Rp1.606,31 triliun, turun 10,86% dari Rp1.801,93 triliun pada akhir 2025.

Penurunan tersebut perlu dibaca dengan mempertimbangkan perubahan cakupan konsolidasi. Laporan keuangan menyebutkan bahwa laporan keuangan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk telah didekonsolidasikan sejak 1 Februari 2026. Dengan demikian, perbandingan sejumlah pos neraca dan laba rugi dengan tahun sebelumnya tidak sepenuhnya mencerminkan perubahan organik pada bisnis Bank Mandiri.

Pos Aset 30 Sep 2026 31 Des 2025 Perubahan
Kas Rp24,94 triliun Rp33,86 triliun -26,35%
Giro pada Bank Indonesia Rp101,89 triliun Rp238,29 triliun -57,23%
Surat berharga - neto Rp162,72 triliun Rp124,73 triliun +30,47%
Obligasi pemerintah Rp265,72 triliun Rp292,82 triliun -9,25%
Kredit dan pembiayaan syariah - neto Rp1.606,31 triliun Rp1.801,93 triliun -10,86%
Piutang pembiayaan konsumen - neto Rp44,23 triliun Rp39,81 triliun +11,08%
Aset tetap - neto Rp61,55 triliun Rp72,06 triliun -14,58%
Aset lain-lain - neto Rp59,04 triliun Rp39,85 triliun +48,15%
Total aset Rp2.588,30 triliun Rp2.829,95 triliun -8,54%

Simpanan Nasabah Masih di Atas Rp1.800 Triliun

Di sisi pendanaan, total simpanan dari nasabah per 30 September 2026 mencapai Rp1.804,61 triliun, sedikit turun dari Rp1.816,90 triliun pada akhir 2025.

Simpanan dalam bentuk giro dan giro wadiah mencapai Rp679,14 triliun. Tabungan dan tabungan wadiah tercatat Rp594,30 triliun, sedangkan deposito berjangka mencapai Rp531,17 triliun.

Total simpanan dari bank lain meningkat menjadi Rp29,57 triliun dari Rp20,76 triliun pada akhir 2025. Kenaikan tersebut terutama berasal dari deposito berjangka dari bank lain yang meningkat menjadi Rp13,92 triliun dari Rp6,72 triliun.

Pos Liabilitas 30 Sep 2026 31 Des 2025 Perubahan
Total simpanan nasabah Rp1.804,61 triliun Rp1.816,90 triliun -0,68%
Simpanan dari bank lain Rp29,57 triliun Rp20,76 triliun +42,47%
Liabilitas kontrak asuransi Rp36,50 triliun Rp37,85 triliun -3,56%
Efek-efek yang diterbitkan - neto Rp48,77 triliun Rp62,21 triliun -21,60%
Pinjaman yang diterima Rp170,38 triliun Rp154,67 triliun +10,16%
Total liabilitas Rp2.285,50 triliun Rp2.212,93 triliun +3,28%
Total ekuitas Rp302,80 triliun Rp327,40 triliun -7,51%

Ekuitas Turun, Laba Ditahan Naik

Total ekuitas Bank Mandiri pada akhir September 2026 tercatat Rp302,80 triliun, turun 7,51% dari Rp327,40 triliun pada akhir 2025.

Meski demikian, saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya meningkat menjadi Rp220,81 triliun dari Rp218,13 triliun. Tambahan modal disetor atau agio saham juga naik menjadi Rp18,58 triliun dari Rp18,10 triliun.

Penurunan total ekuitas terutama berkaitan dengan berkurangnya kepentingan nonpengendali atas aset bersih entitas anak yang dikonsolidasi, dari Rp33,65 triliun menjadi Rp8,76 triliun.

Rasio dan Indikator Utama

Beberapa indikator utama yang dapat ditarik dari laporan keuangan Bank Mandiri per 30 September 2026 menunjukkan pertumbuhan laba yang cukup kuat, meskipun skala aset dan kredit mengalami penurunan dibandingkan akhir 2025.

Indikator 2026 2025
Pertumbuhan laba bersih 13,86% -
Pertumbuhan laba pemilik entitas induk 20,68% -
Pertumbuhan laba operasional 12,47% -
Pertumbuhan kredit dan pembiayaan neto -10,86% -
Pertumbuhan simpanan nasabah -0,68% -
Laba per saham Rp488,13 Rp404,25

Laba per Saham Bank Mandiri Naik Menjadi Rp488,13

Sejalan dengan pertumbuhan laba yang menjadi hak pemegang saham, laba per saham dasar dan dilusian Bank Mandiri meningkat menjadi Rp488,13 per saham pada sembilan bulan 2026, dibandingkan Rp404,25 per saham pada periode yang sama 2025.

Dengan demikian, laba per saham tumbuh sekitar 20,75% secara tahunan. Kinerja tersebut mencerminkan peningkatan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk di tengah perubahan struktur konsolidasi perseroan.

Perubahan Konsolidasi BSI Jadi Faktor Penting

Laporan keuangan Bank Mandiri menyatakan bahwa laporan keuangan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk telah didekonsolidasikan sejak 1 Februari 2026. Perubahan ini menjadi faktor penting dalam membaca kinerja Bank Mandiri tahun berjalan dibandingkan dengan periode 2025.

Dampaknya terlihat jelas pada pendapatan syariah yang turun dari Rp18,47 triliun menjadi Rp2,04 triliun. Pada sisi neraca, total aset, kredit dan pembiayaan, serta kepentingan nonpengendali juga mengalami perubahan yang signifikan.

Karena itu, pertumbuhan laba Bank Mandiri hingga September 2026 sebaiknya dilihat bersama-sama dengan perubahan cakupan konsolidasi, bukan hanya berdasarkan perbandingan angka absolut antarperiode.

Baca Laporan Keuangan Emiten:

  1. Laporan Keuangan BPFI Q3 2026: Laba Bersih Melonjak 88%
  2. Laporan Keuangan PTPP September 2026: Laba yang Diatribusikan ke Pemilik Entitas Induk Meroket Jadi Rp259,97 Miliar
  3. Laporan Keuangan PJAA  September 2026: Laba Bersih Anjlok 56,5% Jadi Rp25,3 Miliar
  4. Laba Haloni Jane Tbk (HALO) Melejit 160% Per September 2026
  5. Laporan Keuangan Bima Sakti Pertiwi Tbk (PAMG) per September 2026
  6. Laporan Keuangan AKRA per 30 September 2026, Laba Bersih Melonjak 34,00% Jadi Rp2,21 triliun
  7. Laporan Keuangan BTPN Syariah (BTPS) 30 September 2026, Laba Naik 7% Jadi Rp1,01 triliun
  8. Laporan Keuangan CFIN per September 2026 Laba Bersih Naik 13% Jadi Rp153,65 miliar
  9. Laporan Keuangan Onix Capital Tbk (OCAP) September 2026 Rugi Rp25,34 miliar 
  10. Laba Bersih Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) Turun 6,89% per September 2026
  11. Laba Bersih UVCR Meroket 395% per September 2026
  12. Bank Mandiri Cetak Laba Rp47,11 Triliun hingga September 2026, Naik 13,9%

Kesimpulan Kinerja Bank Mandiri September 2026

Bank Mandiri mencatat kinerja laba yang positif hingga September 2026. Laba bersih konsolidasian tumbuh 13,86% menjadi Rp47,11 triliun, sedangkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat lebih tinggi sebesar 20,68% menjadi Rp45,53 triliun.

Pertumbuhan laba tersebut terjadi meskipun pendapatan bunga dan syariah neto turun 10,79%. Penurunan beban operasional lainnya serta peningkatan pendapatan operasional lainnya menjadi faktor yang mendukung kenaikan laba operasional.

Di sisi neraca, total aset turun menjadi Rp2.588,30 triliun dan kredit serta pembiayaan syariah neto menjadi Rp1.606,31 triliun. Total simpanan nasabah relatif stabil di Rp1.804,61 triliun. Perubahan-perubahan tersebut perlu dianalisis dengan mempertimbangkan de-konsolidasi BSI sejak Februari 2026.

FAQ Bank Mandiri September 2026

Berapa laba bersih Bank Mandiri hingga September 2026?

Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp47,11 triliun pada sembilan bulan 2026, naik 13,86% dibandingkan Rp41,37 triliun pada periode yang sama 2025.

Berapa laba Bank Mandiri yang menjadi hak pemilik entitas induk?

Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp45,53 triliun, meningkat 20,68% dari Rp37,73 triliun pada sembilan bulan 2025.

Berapa kredit Bank Mandiri per September 2026?

Kredit yang diberikan dan piutang atau pembiayaan syariah secara neto tercatat Rp1.606,31 triliun per 30 September 2026, turun dari Rp1.801,93 triliun pada 31 Desember 2025.

Berapa laba per saham Bank Mandiri?

Laba per saham dasar dan dilusian Bank Mandiri mencapai Rp488,13 per saham pada sembilan bulan 2026, naik dari Rp404,25 per saham pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Disclaimer: Artikel ini merupakan konten jurnalistik dari mediasaham.com yang bertujuan memberikan informasi, bukan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual saham tertentu. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dan mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

0 Comments

Posting Komentar

Berita Terbaru

    Konten Premium

      Dividen Saham