Mediasaham.com – PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) membukukan pendapatan Rp46,53 triliun pada periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan tersebut melonjak 43,63% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp32,40 triliun.
Pertumbuhan pendapatan tersebut turut mendorong laba bruto dan laba usaha perseroan. Laba bruto AKRA meningkat 30,49% menjadi Rp3,61 triliun, sedangkan laba usaha naik 31,71% menjadi Rp2,71 triliun. Laba neto periode berjalan juga tumbuh 32,37% menjadi Rp2,44 triliun.
Dari sisi neraca, total aset AKRA per 30 September 2026 mencapai Rp38,63 triliun, naik 5,66% dibandingkan posisi 31 Desember 2025. Sementara itu, kas dan setara kas tercatat Rp5,97 triliun, turun 6,77% dari Rp6,40 triliun pada akhir 2025.
![]() |
| Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum milik AKR. Dok. AKRA |
Ringkasan Kinerja Keuangan AKRA September 2026
Berikut perbandingan kinerja keuangan konsolidasian PT AKR Corporindo Tbk untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026 dan 2025. Seluruh angka disajikan dalam rupiah, kecuali laba per saham.
| Pos Keuangan | Jan–Sep 2026 | Jan–Sep 2025 | Perubahan Nominal | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|---|
| Total pendapatan | Rp46,53 triliun | Rp32,40 triliun | Rp14,14 triliun | 43,63% |
| Beban pokok penjualan dan pendapatan | Rp42,92 triliun | Rp29,63 triliun | Rp13,29 triliun | 44,86% |
| Laba bruto | Rp3,61 triliun | Rp2,77 triliun | Rp843,46 miliar | 30,49% |
| Laba usaha | Rp2,71 triliun | Rp2,06 triliun | Rp652,20 miliar | 31,71% |
| Laba sebelum pajak penghasilan | Rp2,87 triliun | Rp2,16 triliun | Rp718,56 miliar | 33,33% |
| Laba neto periode berjalan | Rp2,44 triliun | Rp1,85 triliun | Rp597,66 miliar | 32,37% |
| Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk | Rp2,21 triliun | Rp1,65 triliun | Rp561,06 miliar | 34,00% |
| Laba per saham dasar | Rp111,83 | Rp83,50 | Rp28,33 | 33,93% |
Pendapatan AKRA Tumbuh 43,63%
PT AKR Corporindo Tbk mencatat total pendapatan sebesar Rp46,53 triliun hingga September 2026. Pendapatan tersebut meningkat Rp14,14 triliun atau 43,63% dibandingkan Rp32,40 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan dari kontrak dengan pelanggan menjadi kontributor utama dengan nilai Rp46,33 triliun, naik dari Rp32,18 triliun pada Januari–September 2025. Sementara itu, pendapatan sewa tercatat Rp203,97 miliar, sedikit lebih rendah dibandingkan Rp219,35 miliar pada periode sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan tersebut diikuti kenaikan beban pokok penjualan dan pendapatan. Beban tersebut mencapai Rp42,92 triliun, naik 44,86% dari Rp29,63 triliun.
Laba Bruto AKRA Naik 30,49%
Laba bruto AKRA mencapai Rp3,61 triliun pada sembilan bulan pertama 2026, naik Rp843,46 miliar atau 30,49% dibandingkan Rp2,77 triliun pada periode yang sama 2025.
Namun, kenaikan beban pokok penjualan dan pendapatan yang lebih tinggi daripada pertumbuhan laba bruto membuat margin laba bruto sedikit tertekan. Margin laba bruto berada sekitar 7,76% pada 2026, dibandingkan sekitar 8,54% pada periode sebelumnya.
Beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp912,07 miliar dari Rp669,63 miliar. Sebaliknya, beban penjualan turun menjadi Rp54,26 miliar dari Rp69,56 miliar.
Laba Usaha Meningkat Menjadi Rp2,71 Triliun
Laba usaha AKRA tercatat sebesar Rp2,71 triliun, meningkat Rp652,20 miliar atau 31,71% dibandingkan Rp2,06 triliun pada Januari–September 2025.
Perseroan juga membukukan laba selisih kurs sebesar Rp37,29 miliar, naik dari Rp7,08 miliar. Pendapatan usaha lainnya meningkat menjadi Rp34,29 miliar dari Rp24,33 miliar.
Dengan perkembangan tersebut, margin laba usaha berada sekitar 5,82% pada Januari–September 2026, dibandingkan 6,35% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba Sebelum Pajak Naik 33,33%
Laba sebelum pajak penghasilan AKRA mencapai Rp2,87 triliun, meningkat Rp718,56 miliar atau 33,33% dibandingkan Rp2,16 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penghasilan keuangan meningkat menjadi Rp238,14 miliar dari Rp175,65 miliar. Beban keuangan justru turun menjadi Rp48,33 miliar dari Rp52,65 miliar. Selain itu, bagian atas laba entitas asosiasi meningkat menjadi Rp42,20 miliar dari Rp29,08 miliar.
Setelah memperhitungkan pajak final dan pajak penghasilan neto sebesar Rp430,47 miliar, AKRA membukukan laba neto periode berjalan Rp2,44 triliun.
Laba Neto AKRA Tumbuh 32,37%
Laba neto periode berjalan AKRA mencapai Rp2,44 triliun, naik Rp597,66 miliar atau 32,37% dari Rp1,85 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Dari total laba tersebut, sebesar Rp2,21 triliun dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, meningkat 34,00% dari Rp1,65 triliun pada periode sebelumnya. Sementara laba yang menjadi bagian kepentingan nonpengendali mencapai Rp232,62 miliar, naik dari Rp196,03 miliar.
Total penghasilan komprehensif periode berjalan tercatat Rp2,52 triliun, meningkat dari Rp1,89 triliun. Penghasilan komprehensif lain setelah pajak mencapai Rp73,77 miliar, terutama berasal dari selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan serta keuntungan aktuarial atas imbalan pasca kerja.
Laba Per Saham AKRA Naik Menjadi Rp111,83
Laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp111,83 per saham pada Januari–September 2026. Angka tersebut meningkat dari Rp83,50 per saham pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan demikian, laba per saham dasar meningkat Rp28,33 atau sekitar 33,93% secara tahunan. Angka laba per saham disajikan dalam nilai penuh rupiah sesuai laporan keuangan perseroan.
Posisi Keuangan AKRA per 30 September 2026
Total aset AKRA per 30 September 2026 tercatat Rp38,63 triliun, meningkat Rp2,07 triliun atau 5,66% dibandingkan Rp36,56 triliun pada 31 Desember 2025.
Kenaikan aset terutama berasal dari aset tidak lancar yang meningkat menjadi Rp14,88 triliun dari Rp13,35 triliun. Aset lancar juga naik menjadi Rp23,75 triliun dari Rp23,21 triliun.
| Pos Keuangan | 30 September 2026 | 31 Desember 2025 | Perubahan Nominal | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|---|
| Kas dan setara kas | Rp5,97 triliun | Rp6,40 triliun | (Rp433,69 miliar) | -6,77% |
| Total aset lancar | Rp23,75 triliun | Rp23,21 triliun | Rp537,33 miliar | 2,32% |
| Total aset tidak lancar | Rp14,88 triliun | Rp13,35 triliun | Rp1,53 triliun | 11,47% |
| Total aset | Rp38,63 triliun | Rp36,56 triliun | Rp2,07 triliun | 5,66% |
| Total liabilitas jangka pendek | Rp18,14 triliun | Rp15,84 triliun | Rp2,30 triliun | 14,53% |
| Total liabilitas jangka panjang | Rp4,25 triliun | Rp5,12 triliun | (Rp869,72 miliar) | -17,01% |
| Total liabilitas | Rp22,38 triliun | Rp20,95 triliun | Rp1,43 triliun | 6,83% |
| Total ekuitas | Rp16,25 triliun | Rp15,61 triliun | Rp637,65 miliar | 4,08% |
Aset Lancar AKRA Naik 2,32%
Aset lancar AKRA mencapai Rp23,75 triliun pada akhir September 2026, naik Rp537,33 miliar atau 2,32% dibandingkan Rp23,21 triliun pada akhir 2025.
Piutang usaha pihak ketiga menjadi salah satu komponen terbesar dengan nilai Rp10,78 triliun, meningkat dari Rp9,54 triliun. Persediaan neto juga meningkat menjadi Rp2,62 triliun dari Rp2,60 triliun.
Sementara itu, persediaan tanah kawasan industri turun menjadi Rp3,44 triliun dari Rp4,01 triliun. Pada aset tidak lancar, persediaan tanah kawasan industri untuk pengembangan justru meningkat menjadi Rp1,75 triliun dari Rp1,42 triliun.
Aset tetap neto meningkat menjadi Rp7,02 triliun dari Rp6,81 triliun. Investasi pada entitas asosiasi juga meningkat menjadi Rp715,31 miliar dari Rp535,83 miliar.
Liabilitas AKRA Naik 6,83%
Total liabilitas AKRA pada 30 September 2026 mencapai Rp22,38 triliun, naik Rp1,43 triliun atau 6,83% dibandingkan Rp20,95 triliun pada akhir 2025.
Liabilitas jangka pendek meningkat menjadi Rp18,14 triliun dari Rp15,84 triliun. Kenaikan tersebut antara lain berasal dari utang usaha pihak ketiga yang meningkat menjadi Rp14,10 triliun dari Rp12,28 triliun.
Hutang bank jangka pendek tercatat Rp472,35 miliar, naik dari Rp237,37 miliar. Biaya masih harus dibayar juga meningkat menjadi Rp879,63 miliar dari Rp663,23 miliar.
Sebaliknya, liabilitas jangka panjang turun menjadi Rp4,25 triliun dari Rp5,12 triliun. Hutang bank jangka panjang setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun turun menjadi Rp2,74 triliun dari Rp3,70 triliun.
Ekuitas AKRA Mencapai Rp16,25 Triliun
Total ekuitas AKRA per 30 September 2026 tercatat Rp16,25 triliun, naik Rp637,65 miliar atau 4,08% dibandingkan Rp15,61 triliun pada 31 Desember 2025.
Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat menjadi Rp12,74 triliun dari Rp12,16 triliun. Saldo laba yang tidak ditentukan penggunaannya mencapai Rp10,34 triliun, naik dari Rp10,14 triliun.
Kepentingan nonpengendali juga meningkat menjadi Rp3,51 triliun dari Rp3,45 triliun.
Arus Kas AKRA September 2026
AKRA menghasilkan kas neto dari aktivitas operasi sebesar Rp3,01 triliun pada Januari–September 2026. Nilai tersebut turun 11,33% dibandingkan Rp3,39 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
| Pos Arus Kas | Jan–Sep 2026 | Jan–Sep 2025 | Perubahan Nominal | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|---|
| Kas yang diperoleh dari aktivitas operasi | Rp8,04 triliun | Rp6,37 triliun | Rp1,67 triliun | 26,16% |
| Kas neto dari aktivitas operasi | Rp3,01 triliun | Rp3,39 triliun | (Rp384,15 miliar) | -11,33% |
| Kas neto digunakan untuk aktivitas investasi | (Rp758,17 miliar) | (Rp803,93 miliar) | Arus keluar turun Rp45,76 miliar | -5,69% |
| Kas neto digunakan untuk aktivitas pendanaan | (Rp2,91 triliun) | (Rp2,18 triliun) | Arus keluar bertambah Rp738,26 miliar | 33,94% |
| Kenaikan/(penurunan) neto kas dan setara kas | (Rp665,72 miliar) | Rp410,93 miliar | Turun Rp1,08 triliun | -261,99% |
| Kas dan setara kas akhir periode | Rp5,97 triliun | Rp5,85 triliun | Rp122,65 miliar | 2,10% |
Arus Kas Operasi Tetap Positif
Kas yang diperoleh dari aktivitas operasi sebelum penerimaan dan pembayaran lainnya mencapai Rp8,04 triliun, meningkat 26,16% dari Rp6,37 triliun. Namun setelah memperhitungkan penghasilan keuangan, beban keuangan, akuisisi persediaan tanah kawasan industri, serta pembayaran pajak, kas neto dari aktivitas operasi tercatat Rp3,01 triliun.
Kas yang diterima dari pelanggan mencapai Rp49,50 triliun, meningkat dari Rp35,14 triliun. Di sisi lain, pembayaran kepada pemasok dan untuk beban usaha mencapai Rp41,47 triliun, dibandingkan Rp28,76 triliun pada periode sebelumnya.
Perseroan membayar pajak penghasilan dan pajak lainnya sebesar Rp4,81 triliun, naik dari Rp2,94 triliun. AKRA juga mengeluarkan Rp798,59 miliar untuk akuisisi persediaan tanah kawasan industri, termasuk uang muka kepada kontraktor dan kapitalisasi bunga.
Baca Laporan Keuangan Emiten:
- Kinerja Darma Henwa (DEWA) 2026: Laba Naik 114,5% hingga September
- Laporan Keuangan AXIO Q3 2026: Pendapatan Tumbuh 24,21%, Laba Naik 73,66%
- Laporan Keuangan BPFI Q3 2026: Laba Bersih Melonjak 88%
- Penjualan Arwana Citramulia (ARNA) Tumbuh 15,57% Menjadi Rp2,51 Triliun
- Artha Mahiya Investama (AIMS) Rugi Rp706 Juta hingga September 2026
- Laporan Keuangan PTPP September 2026: Laba yang Diatribusikan ke Pemilik Entitas Induk Meroket Jadi Rp259,97 Miliar
- Laporan Keuangan PJAA September 2026: Laba Bersih Anjlok 56,5% Jadi Rp25,3 Miliar
- Laba Haloni Jane Tbk (HALO) Melejit 160% Per September 2026
- Laporan Keuangan Bima Sakti Pertiwi Tbk (PAMG) per September 2026
- Laporan Keuangan AKRA per 30 September 2026, Laba Bersih Melonjak 34,00% Jadi Rp2,21 triliun
Arus Kas Investasi dan Pendanaan
Arus kas neto yang digunakan untuk aktivitas investasi tercatat Rp758,17 miliar, lebih rendah dibandingkan Rp803,93 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Pengeluaran tersebut antara lain digunakan untuk perolehan aset tetap sebesar Rp629,42 miliar dan investasi pada entitas asosiasi sebesar Rp136,46 miliar.
Sementara itu, arus kas neto yang digunakan untuk aktivitas pendanaan mencapai Rp2,91 triliun, meningkat dari Rp2,18 triliun pada periode sebelumnya. Perseroan membayar dividen tunai kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,01 triliun dan membayar liabilitas sewa sebesar Rp256,83 miliar.
Perseroan juga mencatat penerbitan kembali saham treasuri sebesar Rp328,78 miliar. Pada saat yang sama, pembayaran hutang bank jangka panjang mencapai Rp762,02 miliar.
Secara keseluruhan, kas dan setara kas turun Rp665,72 miliar selama sembilan bulan pertama 2026. Namun, terdapat dampak positif perubahan selisih kurs sebesar Rp232,03 miliar. Saldo kas dan setara kas pada akhir periode tercatat Rp5,97 triliun.
Kesimpulan Kinerja Keuangan AKRA September 2026
PT AKR Corporindo Tbk mencatat pertumbuhan kinerja yang kuat hingga September 2026. Pendapatan meningkat 43,63% menjadi Rp46,53 triliun, sedangkan laba bruto naik 30,49% menjadi Rp3,61 triliun.
Laba usaha tumbuh 31,71% menjadi Rp2,71 triliun dan laba neto periode berjalan meningkat 32,37% menjadi Rp2,44 triliun. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp2,21 triliun, naik 34,00%.
Dari sisi neraca, total aset meningkat 5,66% menjadi Rp38,63 triliun dan ekuitas naik 4,08% menjadi Rp16,25 triliun. Total liabilitas juga meningkat 6,83% menjadi Rp22,38 triliun, dengan liabilitas jangka pendek menjadi komponen terbesar.
Arus kas operasi tetap positif sebesar Rp3,01 triliun, meskipun turun 11,33% dari tahun sebelumnya. Setelah memperhitungkan arus kas investasi dan pendanaan, kas dan setara kas akhir periode tercatat Rp5,97 triliun.
FAQ Kinerja Keuangan AKRA
Berapa pendapatan AKRA hingga September 2026?
Total pendapatan AKRA mencapai Rp46,53 triliun hingga September 2026, naik 43,63% dibandingkan Rp32,40 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berapa laba neto AKRA pada September 2026?
Laba neto periode berjalan AKRA tercatat Rp2,44 triliun, meningkat 32,37% dibandingkan Rp1,85 triliun pada Januari–September 2025.
Berapa laba per saham AKRA?
Laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp111,83 per saham, dibandingkan Rp83,50 per saham pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berapa total aset AKRA per 30 September 2026?
Total aset AKRA mencapai Rp38,63 triliun per 30 September 2026, naik 5,66% dibandingkan Rp36,56 triliun pada 31 Desember 2025.
Bagaimana arus kas operasi AKRA?
Kas neto yang diperoleh dari aktivitas operasi mencapai Rp3,01 triliun pada Januari–September 2026, turun 11,33% dibandingkan Rp3,39 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Disclaimer: Artikel ini merupakan konten jurnalistik dari mediasaham.com yang bertujuan memberikan informasi, bukan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual saham tertentu. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dan mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

0 Comments
Posting Komentar