Laporan Keuangan Saham ANDA (Andalan Artha Primanusa Tbk) Semester I 2026  Pendapatan Turun 8,69%, Laba Bersih Naik 260,99%

Laporan Keuangan Saham ANDA (Andalan Artha Primanusa Tbk) Semester I 2026 Pendapatan Turun 8,69%, Laba Bersih Naik 260,99%

Mediasaham.com, Jakarta — PT Andalan Artha Primanusa Tbk (IDX: ANDA) membukukan pendapatan neto sebesar Rp200,12 miliar pada semester I 2026. Angka tersebut turun 8,69% dibandingkan Rp219,15 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

IPO Saham ANDA

Di tengah penurunan pendapatan, perseroan berhasil meningkatkan laba bruto menjadi Rp51,81 miliar dari Rp43,18 miliar. Laba bersih periode berjalan juga naik menjadi Rp11,77 miliar, dibandingkan Rp3,26 miliar pada semester I 2025.

Dari sisi neraca, total aset ANDA mencapai Rp856,71 miliar per 30 Juni 2026, meningkat 18,84% dibandingkan posisi akhir Desember 2025. Sementara itu, arus kas operasi tercatat Rp26,41 miliar, lebih rendah dibandingkan Rp58,34 miliar pada semester I tahun sebelumnya.

Lahan Industri Laris Manis Diserbu Investor Tiongkok, Pendapatan KIJA Meroket di Kuartal III

Lahan Industri Laris Manis Diserbu Investor Tiongkok, Pendapatan KIJA Meroket di Kuartal III

MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (IDX: KIJA) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 4,25 triliun sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026 (9M26). Angka ini tumbuh 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (9M25) yang tercatat sebesar Rp 3,67 triliun.

Lonjakan pendapatan emiten pengembang kawasan industri ini didorong oleh penguatan signifikan pada segmen Land Development & Property di kuartal III 2026, serta kontribusi pendapatan berulang (recurring revenue) yang stabil dari pilar Infrastruktur.

Kota Jababeka Cikarang. Foto/Jababeka.com

Berdasarkan siaran pers resmi perusahaan yang dirilis Selasa (4/11), pilar Land Development & Property berhasil mengantongi pendapatan Rp 1,91 triliun pada 9M26, melonjak 17% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Menariknya, kontribusi kuartal III 2026 (3Q26) saja menyumbang Rp 939,9 miliar. Jumlah ini hampir menyamai seluruh pendapatan pilar properti sepanjang semester I 2026 yang sebesar Rp 974,9 miliar.

Pertumbuhan pilar ini utamanya ditopang oleh:

  • Penjualan tanah matang: Rp 1,62 triliun (naik dari Rp 1,43 triliun di 9M25).
  • Penjualan tanah dan bangunan pabrik: Rp 126,0 miliar, melonjak tajam 291% YoY dari sebelumnya Rp 32,2 miliar.
  • Penjualan tanah dan rumah residensial: Rp 77,8 miliar (tumbuh 18% YoY).

Pilar Infrastruktur Topang Recurring Revenue

Pilar Infrastruktur Jababeka terus mencatatkan pertumbuhan stabil dengan pendapatan mencapai Rp 2,24 triliun pada 9M26, naik 15% dari Rp 1,95 triliun pada 9M25. Bisnis infrastruktur ini kini menyumbang 53% dari total pendapatan konsolidasi Perseroan.

Rincian kinerja pilar infrastruktur meliputi:

  1. Segmen Ketenagalistrikan: Mengantongi Rp 1,50 triliun (naik dari Rp 1,37 triliun), didukung peningkatan konsumsi listrik tenant industri di Cikarang dan Kendal.
  2. Jasa dan Pemeliharaan: Tumbuh 33% YoY menjadi Rp 525,6 miliar, dipicu oleh tingginya aktivitas tenant di Kendal serta penyesuaian tarif dan volume di Cikarang.
  3. Cikarang Dry Port: Mencatat pendapatan Rp 211,8 miliar (naik dari Rp 174,6 miliar) berkat peningkatan arus lalu lintas peti kemas (TEUs).

Sementara itu, pilar Leisure & Hospitality mencatatkan pendapatan Rp 97,6 miliar, di mana bisnis lapangan golf memberikan kontribusi dominan sekitar 65%.

Beban Refinancing Dolar As Pangkas Laba Bersih 38%

Di tengah pertumbuhan top-line, laba bersih KIJA pada 9M26 justru terkoreksi 38% YoY menjadi Rp 391,7 miliar, dibandingkan Rp 634,6 miliar pada 9M25.

Manajemen KIJA menjelaskan bahwa penurunan laba bersih ini dipicu oleh adanya beban non-operasional yang bersifat satu kali (one-off) pada kuartal II 2026. Beban tersebut timbul akibat langkah strategis Perseroan melakukan refinancing atas Senior Notes berdenominasi Dolar AS menjadi fasilitas pinjaman bank dalam mata uang Rupiah.

Proses refinancing tersebut memicu akumulasi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen lindung nilai (hedging), serta amortisasi yang dipercepat atas Senior Notes yang semula jatuh tempo pada 2027.

Meski menekan laba bersih secara sementara, manajemen optimistis pelepasan utang dolar ini akan memberikan efisiensi dan stabilitas struktur keuangan jangka panjang bagi Perseroan.

Di sisi lain, operasional inti KIJA tetap solid:

  • Laba Bruto: Rp 1,57 triliun (naik 7% YoY dari Rp 1,47 triliun).
  • Margin Laba Bruto: 37% (turun dari 40% di 9M25 akibat penurunan margin operasional segmen listrik).
  • EBITDA: Rp 1,36 triliun (naik 4% YoY dari Rp 1,30 triliun).
  • Saldo Kas Konsolidasi: Terjaga kuat di level Rp 3,15 triliun.

Baca Laporan Keuangan Emiten:

  1. Kinerja Cemerlang September 2026: Laba DMAS Meroket 183% Jadi Rp1,49 Triliun
  2. Laporan Keuangan Indosat Q3 2026: Laba Bersih Melonjak +37,19% Jadi Rp4,92 triliun, Cek Analisis Keuangan ISAT
  3. Laporan Keuangan CFIN per September 2026 Laba Bersih Naik 13% Jadi Rp153,65 miliar
  4. Laba Bersih Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) Turun 6,89% per September 2026
  5. Laba Bersih UVCR Meroket 395% per September 2026
  6. Bank Mandiri Cetak Laba Rp47,11 Triliun hingga September 2026, Naik 13,9%
  7. Laba United Tractors (UNTR) Anjlok 61% hingga September 2026, Pendapatan Turun 10%
  8. Bukalapak Minus Rp881 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Naik 19%
  9. SNLK Catat Pendapatan Rp32,82 Miliar hingga September 2026, Rugi Bersih Turun 39,36%
  10. Laba BLES Melonjak 484% Jadi Rp284 Miliar hingga Kuartal III-2026
  11. Metrodata Electronics (MTDL) Raih Pendapatan Rp22,09 Triliun, Laba Naik 2,33% hingga September 2026
  12. Laba Saham PADA Melonjak 333% Jadi Rp3,4 Miliar hingga September 2026
  13. Laba PT Vale Indonesia (INCO) Meroket 180% Jadi AS$147,1 juta  hingga September 2026
  14. Kedaung Indah Can (KICI) Pangkas Rugi 67,74% Jadi Rp2,19 Miliar hingga September 2026
  15. Laporan Keuangan Mayora Q3 2026: Laba Naik +31,08% Jadi Rp2,47 Triliun, Cek Rasio Keuangan Saham MYOR
  16. Laporan Keuangan Multi Garam Utama (FOLK) Q3 2026: Berbalik Untung Rp18,40 Miliar dari Sebelumnya Minus Rp8,27 miliar

Realisasi Marketing Sales & Investor Asing

Hingga 9M26, KIJA mengantongi marketing sales dari pilar properti sebesar Rp 1,52 triliun. Di kawasan industri Kendal, KIJA sukses mengamankan transaksi lahan dari investor Tiongkok, antara lain 7 hektare untuk produsen baterai dan 6 hektare untuk produsen kulit sintetis, serta 9,7 hektare untuk produsen peralatan rumah tangga asal Indonesia.

Sedangkan di Cikarang dan wilayah joint venture lainnya, transaksi ditopang oleh penjualan lahan industri ke perusahaan tekstil nasional (3 ha), sektor ketenagalistrikan (1 ha), dan perusahaan bahan bangunan asal Tiongkok (0,7 ha).

Menghadapi sikap investor yang cenderung wait and see di tengah tantangan makroekonomi 2026, KIJA memilih fokus memperkuat sales pipeline dan meyakini daya tarik Indonesia sebagai hub manufaktur jangka panjang akan membuat prospek bisnis kawasan industri kembali kondusif pada tahun 2027.

Disclaimer: Artikel ini merupakan konten jurnalistik dari mediasaham.com yang bertujuan memberikan informasi, bukan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual saham tertentu. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dan mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

Laporan Keuangan Multi Garam Utama (FOLK) Q3 2026: Berbalik Untung Rp18,40 Miliar dari Sebelumnya Minus Rp8,27 miliar

Laporan Keuangan Multi Garam Utama (FOLK) Q3 2026: Berbalik Untung Rp18,40 Miliar dari Sebelumnya Minus Rp8,27 miliar

Mediasaham.com, Jakarta — PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) mencatat perubahan kinerja keuangan yang signifikan selama sembilan bulan pertama 2026. Perseroan membukukan pendapatan neto sebesar Rp14,45 miliar hingga 30 September 2026, meningkat dibandingkan Rp14,06 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perubahan paling menonjol terlihat pada laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Setelah membukukan rugi sebesar Rp8,27 miliar pada sembilan bulan pertama 2025, perseroan berbalik mencatat laba sebesar Rp18,40 miliar pada periode yang sama 2026.

Ilustrasi Laporan Keuangan Multi Garam Utama (FOLK)

Analisis Mendalam Pendapatan dan Profitabilitas Telkom (TLKM)  hingga September 2026

Analisis Mendalam Pendapatan dan Profitabilitas Telkom (TLKM) hingga September 2026

Mediasaham.com - Dari laporan keuangan konsolidasian Telkom Indonesia (IDX: TLKM) per 30 September 2026, ada beberapa hal menarik. Pendapatan Telkom masih tumbuh, tetapi pertumbuhan tersebut tidak sepenuhnya menghasilkan peningkatan laba. Bahkan, terdapat perubahan penting dalam komposisi pendapatan, terutama pertumbuhan bisnis B2C, penurunan layanan telepon, kenaikan beban operasional, serta lonjakan kerugian perubahan nilai wajar investasi.

Ilustrasi Analisis Kinerja Telkom Indonesia. Adit Saputra/Mediasaham.com

1. Analisis Pertumbuhan Pendapatan Telkom

Pendapatan konsolidasian Telkom meningkat dari Rp109,62 triliun pada September 2025 menjadi Rp113,50 triliun pada September 2026.

  • Pendapatan 9M 2026: Rp113,50 T (Naik dari Rp109,62 triliun)
  • Pertumbuhan tahunan: 3,54% (Bertambah Rp3,89 triliun)

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa bisnis Telkom masih mampu meningkatkan pendapatan. Namun, jika dilihat lebih dalam, pertumbuhan tersebut tidak terjadi secara merata pada seluruh lini usaha.

Laporan Keuangan Mayora Q3 2026: Laba Naik +31,08% Jadi Rp2,47 Triliun, Cek Rasio Keuangan Saham MYOR

Laporan Keuangan Mayora Q3 2026: Laba Naik +31,08% Jadi Rp2,47 Triliun, Cek Rasio Keuangan Saham MYOR

Mediasaham.com, Jakarta — PT Mayora Indah Tbk (MYOR) membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp2,47 triliun pada periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Capaian tersebut meningkat 31,08% dibandingkan laba Rp1,88 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba tersebut terjadi di tengah penjualan bersih yang naik 3,59% menjadi Rp28,13 triliun dari Rp27,16 triliun. Mayora juga mencatat penurunan beban pokok penjualan sebesar 1,51% menjadi Rp21,07 triliun.

Produk Mayora seperti Sari Gandum, Roma Kelapa dan lainnya di pajang di salah satu supermarket. Adit Saputra/Mediasaham.com

Laporan Keuangan Indosat Q3 2026: Laba Bersih Melonjak +37,19% Jadi Rp4,92 triliun, Cek Analisis Keuangan ISAT

Laporan Keuangan Indosat Q3 2026: Laba Bersih Melonjak +37,19% Jadi Rp4,92 triliun, Cek Analisis Keuangan ISAT

Mediasaham.com, Jakarta — PT Indosat Tbk (ISAT) membukukan laba periode berjalan sebesar Rp5,12 triliun hingga 30 September 2026. Angka tersebut meningkat 33,07% dibandingkan laba Rp3,84 triliun pada periode sembilan bulan yang sama tahun 2025.

Pertumbuhan laba ditopang kenaikan pendapatan sebesar 11,14% menjadi Rp45,75 triliun. Indosat juga mencatat peningkatan laba sebelum pajak menjadi Rp6,46 triliun, dari sebelumnya Rp4,75 triliun.

Kantor pusat Indosat Ooredoo Hutchison. Foto: Indosat

Analisa Kinerja Wismilak (WIIM) per September 2026

Analisa Kinerja Wismilak (WIIM) per September 2026

Ilustrasi Kinerja Wismilak (WIIM). Adit Saputra/Mediasaham.com

1. Ringkasan Eksekutif

  • Pertumbuhan Top-Line yang Solid: Penjualan neto WIIM tumbuh +10,00% (YoY) mencapai Rp 5,07 triliun, didorong terutama oleh ekspansi kuat pada lini Sigaret Kretek Mesin (SKM).
  • Lonjakan Profitabilitas yang Spektakuler: Berkat efisiensi beban usaha yang luar biasa serta penurunan beban bunga yang tajam, Laba Bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meroket +74,00% (YoY) dari Rp 284,96 miliar menjadi Rp 495,80 miliar.
  • Kesehatan Neraca yang Kuat: Posisi likuiditas terjaga dengan baik, penurunan utang bank jangka pendek, dan penguatan posisi ekuitas secara signifikan.
Analisa Kinerja Gudang Garam (GGRM) Kuartal III 2026 yang Labanya Melonjak 307%

Analisa Kinerja Gudang Garam (GGRM) Kuartal III 2026 yang Labanya Melonjak 307%

Mediasaham.com, Jakarta — PT Gudang Garam Tbk (GGRM) membukukan laba sebesar Rp4,52 triliun pada sembilan bulan pertama 2026. Capaian tersebut melonjak 307,43% dibandingkan laba Rp1,11 triliun pada periode yang sama 2025.

Kenaikan laba terjadi meski pendapatan perseroan turun 8,67% menjadi Rp61,49 triliun dari Rp67,33 triliun. Perbaikan laba terutama terlihat pada laba bruto dan laba usaha yang masing-masing tumbuh 42,78% dan 213,83%.

Ilustrasi Kinerja Gudang Garam Tbk (GGRM). Adit Saputra/Mediasaham.com

Laba HMSP Tembus Rp6,51 Triliun, Melonjak 44% hingga Kuartal III 2026, Simak Analisa Kinerjanya!

Laba HMSP Tembus Rp6,51 Triliun, Melonjak 44% hingga Kuartal III 2026, Simak Analisa Kinerjanya!

Mediasaham.com, Jakarta — PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) mencatat pertumbuhan kinerja pada sembilan bulan pertama 2026. Laba periode berjalan perseroan mencapai Rp6,51 triliun hingga 30 September 2026, meningkat 44,42% dibandingkan Rp4,51 triliun pada periode yang sama 2025.

Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan kenaikan penjualan bersih sebesar 4,50% menjadi Rp87,51 triliun dari sebelumnya Rp83,74 triliun. Pada saat yang sama, laba kotor meningkat 3,93% menjadi Rp16,02 triliun.

Kantor HM Sampoerna. Dok. HMSP

Pendapatan Ancara Logistics (ALII) Turun 8,26% hingga September 2026, Laba Bersih Menyusut Tipis

Pendapatan Ancara Logistics (ALII) Turun 8,26% hingga September 2026, Laba Bersih Menyusut Tipis

Mediasaham.com, Jakarta — PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) membukukan pendapatan sebesar Rp701,52 miliar selama sembilan bulan pertama 2026, turun 8,26% dibandingkan Rp764,71 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih perseroan juga terkoreksi tipis menjadi Rp328,84 miliar dari Rp330,14 miliar.

Di tengah penurunan pendapatan tersebut, ALII mencatatkan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp278,58 miliar. Sementara itu, total aset per 30 September 2026 mencapai Rp2,93 triliun, meningkat dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp2,84 triliun.

Armada Ancara Logistics. Dok.ALII

Kedaung Indah Can (KICI) Pangkas Rugi 67,74% Jadi Rp2,19 Miliar hingga September 2026

Kedaung Indah Can (KICI) Pangkas Rugi 67,74% Jadi Rp2,19 Miliar hingga September 2026

Mediasaham.com, Jakarta — PT Kedaung Indah Can Tbk (KICI) mencatat penjualan neto sebesar Rp70,09 miliar selama sembilan bulan pertama 2026, meningkat Rp12,45 miliar atau 21,60% dibandingkan Rp57,64 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan penjualan tersebut diikuti perbaikan kinerja bottom line. Rugi periode berjalan KICI menyusut menjadi Rp2,19 miliar dari Rp6,79 miliar pada sembilan bulan 2025. Namun, posisi kas dan setara kas pada laporan posisi keuangan per 30 September 2026 tercatat Rp1,45 miliar, turun dibandingkan Rp5,09 miliar pada akhir 2025.

Kinerja Kedaung Indah Can Tbk (KICI)

Saratoga (SRTG) Mencetak Laba Rp3,47 triliun dan Aset Naik Jadi Rp65,01 triliun per September 2026

Saratoga (SRTG) Mencetak Laba Rp3,47 triliun dan Aset Naik Jadi Rp65,01 triliun per September 2026

Mediasaham.com, Jakarta — PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) membukukan laba periode berjalan sebesar Rp3,47 triliun pada sembilan bulan pertama 2026, berbalik dari rugi Rp2,43 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan kinerja terutama ditopang oleh keuntungan neto atas investasi pada saham dan efek lainnya yang berbalik positif.

Edwin Soeryadjaya (kiri), Hoesen (tengah), and Sandiaga Uno (kanan). Foto Saratoga

Dalam laporan keuangan konsolidasian interim yang tidak diaudit, Saratoga mencatat laba sebelum pajak Rp4,76 triliun hingga 30 September 2026, dibandingkan rugi sebelum pajak Rp3,21 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.

Di sisi neraca, total aset Saratoga juga meningkat menjadi Rp65,01 triliun per 30 September 2026 dari Rp62,51 triliun pada akhir Desember 2025. Sementara itu, pinjaman turun signifikan menjadi Rp548,31 miliar dari Rp1,45 triliun.

Laba PT Vale Indonesia (INCO) Meroket 180% Jadi AS$147,1 Juta  per September 2026

Laba PT Vale Indonesia (INCO) Meroket 180% Jadi AS$147,1 Juta per September 2026

MEDIASAHAM.COM, Jakarta – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat kinerja keuangan yang semakin kuat hingga kuartal III 2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar AS$147 juta sepanjang sembilan bulan pertama 2026, hampir tiga kali lipat dibandingkan AS$52 juta pada periode yang sama tahun 2025.

Peningkatan kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan, kenaikan volume penjualan nikel matte, serta semakin besarnya kontribusi penjualan bijih nikel dari Blok Bahodopi dan Blok Pomalaa.

batubara
PT Vale Indonesia (INCO)

Pendapatan INCO Tumbuh 27%

PT Vale Indonesia mencatat pendapatan sebesar AS$896 juta pada 9M26, meningkat 27% dibandingkan AS$705 juta pada 9M25.

Pada kuartal III 2026 saja, pendapatan mencapai AS$353 juta, naik dari AS$290 juta pada kuartal II 2026.

Perseroan menyebut kenaikan pendapatan terutama didorong oleh peningkatan volume pengiriman nikel matte serta kontribusi penjualan bijih nikel dari operasi Bahodopi dan Pomalaa.

Laba Saham PADA Melonjak 333% Jadi Rp3,4 Miliar hingga September 2026

Laba Saham PADA Melonjak 333% Jadi Rp3,4 Miliar hingga September 2026

Mediasaham.com, Jakarta - PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) membukukan pertumbuhan kinerja yang signifikan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Pendapatan perseroan hampir mencapai Rp1,4 triliun, sementara laba bersih melonjak lebih dari empat kali lipat menjadi Rp3,4 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan interim per 30 September 2026 yang belum diaudit, pendapatan usaha PADA tercatat Rp1.398,1 miliar, naik 75,9% dibandingkan Rp794,7 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan pendapatan tersebut terutama ditopang oleh bisnis Courier Services, jasa Fiber to the Home (FTTH) dan Project Management Office (PMO), serta layanan Technical Services.

Layanan Jasa Perkantoran. Dok. PADA

Laba Bersih PADA Tumbuh 333%

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba bruto PADA meningkat 72,1% menjadi Rp50,0 miliar dari Rp29,0 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.

Beban pokok pendapatan tercatat sekitar Rp1,3 triliun, meningkat 76,1% secara tahunan. Kenaikan tersebut sejalan dengan meningkatnya aktivitas penyediaan jasa alih daya dan layanan pendukung operasional kepada klien.

Dengan demikian, margin laba bruto PADA berada di level sekitar 3,6%, relatif tidak banyak berubah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Meski margin relatif stabil, peningkatan skala bisnis membuat laba bruto bertambah sekitar Rp20,9 miliar secara tahunan.

Metrodata Electronics (MTDL) Raih Pendapatan Rp22,09 Triliun, Laba Naik 2,33% hingga September 2026

Metrodata Electronics (MTDL) Raih Pendapatan Rp22,09 Triliun, Laba Naik 2,33% hingga September 2026

Mediasaham.com, Jakarta — PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) membukukan pendapatan bersih sebesar Rp22,09 triliun hingga September 2026, meningkat 17,46% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp18,81 triliun.

Pertumbuhan pendapatan tersebut diikuti kenaikan laba kotor dan laba bersih. Laba tahun berjalan MTDL mencapai Rp688,10 miliar, naik 2,33% dari Rp672,41 miliar pada periode yang sama 2025. Namun, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 5,47% menjadi Rp443,92 miliar.

Ilustrasi Kinerja Metrodata Electronics Tbk (MTDL). Radit M. Pase/Mediasaham.com

Laba BLES Melonjak 484% Jadi Rp284 Miliar hingga Kuartal III-2026

Laba BLES Melonjak 484% Jadi Rp284 Miliar hingga Kuartal III-2026

MEDIASAHAM.COM, JAKARTA – PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES), produsen bata ringan merek Blesscon dan Superiore Block, mencatatkan lonjakan laba hingga kuartal III-2026. Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp284 miliar, tumbuh 484% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan peningkatan penjualan perseroan sebesar 31% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp1,4 triliun selama sembilan bulan pertama 2026.

Dalam keterangan resminya pada 26 Oktober 2026, BLES menyebut peningkatan kinerja didukung oleh permintaan bata ringan yang meningkat, ekspansi kapasitas produksi, serta optimalisasi utilisasi pabrik. Perseroan juga menjalankan efisiensi operasional untuk memperkuat profitabilitas.

Bata ringan blesscon produk PT Superior Prima Sukses Tbk 

Penjualan BLES Tumbuh 31% hingga September 2026

Pertumbuhan penjualan menjadi salah satu pendorong kinerja BLES sepanjang Januari-September 2026. Perseroan membukukan penjualan Rp1,4 triliun, meningkat 31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 484% menjadi Rp284 miliar. Angka pertumbuhan tersebut menunjukkan peningkatan laba yang jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penjualan.

Meski demikian, keterangan perseroan tidak merinci komponen yang paling besar berkontribusi terhadap lonjakan laba tersebut. Karena itu, pengaruh masing-masing faktor, seperti perubahan biaya produksi, beban operasional, atau faktor nonoperasional, perlu dilihat lebih lanjut dalam laporan keuangan lengkap.

Laba BNI (BBNI) Tumbuh 6,03% Jadi Rp16,15 Triliun hingga September 2026

Laba BNI (BBNI) Tumbuh 6,03% Jadi Rp16,15 Triliun hingga September 2026

Mediasaham.com, Jakarta — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) membukukan laba bersih sebesar Rp16,15 triliun pada sembilan bulan pertama 2026, meningkat 6,03% dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp15,23 triliun.

Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan bunga bersih, pendapatan operasional lainnya, serta laba operasional. Pada periode yang sama, total aset BNI juga meningkat menjadi Rp1.481,83 triliun dari Rp1.362,05 triliun pada akhir 2025.

BNI
Bank BNI Tabet Barat. Adit Saputra/Mediasaham.com

Bank Aladin Syariah Cetak Laba Operasional Rp130,18 Miliar, tapi Laba Bersih Anjlok 63% hingga September 2026

Bank Aladin Syariah Cetak Laba Operasional Rp130,18 Miliar, tapi Laba Bersih Anjlok 63% hingga September 2026

Mediasaham.com, Jakarta — PT Bank Aladin Syariah Tbk (IDX: BANK) membukukan laba neto sebesar Rp47,26 miliar pada sembilan bulan pertama 2026, turun 63,10% dibandingkan Rp128,15 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan laba bersih tersebut terjadi meskipun kinerja operasional Bank Aladin Syariah mengalami perbaikan signifikan. Laba operasional mencapai Rp130,18 miliar, melonjak 207,80% dari Rp42,29 miliar pada sembilan bulan 2025.

Kantor Pusat Bank Aladin yang beralamat di Capital Place, Lantai 27 Jl. Jenderal Gatot Subroto Kav. 18. Dok/Aladin

SNLK Catat Pendapatan Rp32,82 Miliar hingga September 2026, Rugi Bersih Turun 39,36%

SNLK Catat Pendapatan Rp32,82 Miliar hingga September 2026, Rugi Bersih Turun 39,36%

Mediasaham.com, Jakarta — PT Sunter Lakeside Hotel Tbk (IDX: SNLK) mencatat pendapatan sebesar Rp32,82 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Angka tersebut meningkat 9,20% dibandingkan pendapatan Rp30,05 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di tengah kenaikan pendapatan, perseroan masih membukukan rugi bersih Rp3,47 miliar, meski menyusut 39,36% dibandingkan rugi Rp5,73 miliar pada Januari–September 2025.

Perbaikan kinerja terlihat dari kenaikan laba bruto menjadi Rp17,77 miliar dari Rp16,47 miliar. Beban usaha juga turun menjadi Rp15,57 miliar dari Rp16,04 miliar. Namun, beban penyusutan yang mencapai Rp7,32 miliar membuat perseroan masih mencatat rugi sebelum pajak sebesar Rp3,47 miliar.

Fasilitar kamar hotel Sunter Lakeside Hotel Tbk. Dok Sunter Hotel

Bukalapak Minus Rp881 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Naik 19%

Bukalapak Minus Rp881 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Naik 19%

Mediasaham.com, Jakarta — PT Bukalapak.com Tbk dan entitas anaknya mencatat pendapatan neto sebesar Rp5,64 triliun pada sembilan bulan pertama 2026, meningkat 19,34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,73 triliun. Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum mampu mempertahankan kinerja laba, karena perseroan membukukan rugi bersih Rp881,06 miliar, berbalik dari laba Rp2,91 triliun pada sembilan bulan 2025.

Perubahan kinerja terutama terlihat pada pos investasi. Pada sembilan bulan 2026, Bukalapak mencatat rugi nilai investasi sebesar Rp2,04 triliun, berbanding terbalik dengan keuntungan nilai investasi Rp2,32 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat perseroan berbalik mencatat rugi usaha Rp1,14 triliun dari laba usaha Rp2,33 triliun.

Logo Bukalapak

Berita Terbaru

    Belajar Saham

      Dividen Saham