Harga Saham 50 Rupiah Tahun 2026 (Update Oktober)

Harga Saham 50 Rupiah Tahun 2026 (Update Oktober)

Mediasaham.com — Harga saham 50 rupiah atau yang sering disebut saham gocap. Saham gocap sering menjadi perbincangan investor ritel karena harganya sudah mentok dan terkadang tidak ada transaksi.

Secara nominal harga saham gocap kelihatannya “murah banget”. Tapi murah belum tentu cuan—yang penting ngerti dulu kondisi dan potensi tiap sahamnya.

harga saham gocap
Ilustrasi. Harga saham 50 rupiah. Adit Saputra / Mediasaham.com

Secara umum, saham gocap adalah saham yang sudah mentok di batas bawah harga perdagangan BEI. Saham gocap biasanya punya masalah fundamental, seperti kinerja perusahaan yang menurun, beban utang tinggi, atau bisnis yang tidak lagi berkembang. Intinya saham-saham gocap seringkali disebut saham "bermasalah" oleh investor ritel.

Bahkan investor-investor sering kali mengalami yang namanya “nyangkut” karane harga sahamnya tidak bergerak-gerak dari harga gocap. Atau tidak ada transaksi jual beli karena tidak ada peminatnya.

Menguasai Foreign Flow Saham 2025: Analisis Rotasi Dana Asing & Strategi Investasi Cerdas

Menguasai Foreign Flow Saham 2025: Analisis Rotasi Dana Asing & Strategi Investasi Cerdas

Foreign Flow Saham
Gambar Foreign Flow Saham Saham ASII, BBRI, BBCA,TLKM. Radint M. Pase / Mediasaham.com


Apakah Anda sering mendengar istilah "Foreign Flow" saat membahas pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI)? Arus dana asing, atau foreign flow, adalah salah satu indikator paling krusial yang dapat memberikan wawasan mendalam tentang sentimen pasar, potensi pergerakan harga, dan arah tren pasar modal secara keseluruhan. Mengabaikan indikator ini sama saja dengan berinvestasi dengan mata tertutup.

Artikel panjang dan mendalam ini dirancang khusus untuk menjadi panduan utama Anda dalam memahami, menganalisis, dan memanfaatkan foreign flow saham. Kami akan membedah konsep ini, menyajikan analisis data Foreign Flow YTD 2025 terbaru, dan memberikan rekomendasi strategi investasi yang cerdas berdasarkan pergerakan dana investor global.

Jajaran 10 Saham Top Gainers dan Top Losers Sepekan Terakhir (10-14 November 2025)

Jajaran 10 Saham Top Gainers dan Top Losers Sepekan Terakhir (10-14 November 2025)

BEI
Ilustrasi. Seseorang sedang melihat daftar harga saham. Adit Saputra / Mediasaham.com

Mediasaham.com, Jakarta —
Pasar saham Indonesia mencatatkan daftar saham yang melesat tajam sepanjang periode perdagangan 10-14 November 2025. Beberapa saham bahkan mencatat kenaikan signifikan hingga lebih dari 150%, dipimpin oleh UANG dan MORA yang menjadi top gainers paling menonjol.

Kenaikan ini bisa didorong oleh berbagai kombinasi seperti: sentimen positif, aksi beli agresif investor, akumulasi bandar, serta katalis fundamental dan teknikal dari masing-masing saham.

Daftar Harga Saham di Bawah 50 Rupiah

Daftar Harga Saham di Bawah 50 Rupiah

Daftar Harga Saham di Bawah 50 Rupiah

harga saham di bawah 50
Daftar Saham Harga di Bawah Rp 50. Adit Saputra / Mediasaham.com

Mediasaham.com —  Daftar Harga Saham di Bawah 50 Rupiah menjadi salah satu topik yang paling banyak dicari para trader ritel, terutama yang suka berburu saham-saham berharga murah (low price). Namun saham yang harga di bawah 50 biasanya masuk dalam katagori pemantauan khusus.

Bank-Bank Tercatat di Papan Utama BEI, Ini 29 Daftar Emiten dan Kodenya

Bank-Bank Tercatat di Papan Utama BEI, Ini 29 Daftar Emiten dan Kodenya

Bank
Ilustrasi / Mediasaham.com

Daftar emiten Bank di Bursa Efek Indonesia menunjukkan dominasi sektor perbankan sebagai salah satu penggerak utama pasar modal nasional. Hingga tahun 2025, terdapat 29 bank tercatat di Papan Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), mencakup bank-bank besar seperti BCA, BRI, Mandiri, hingga Bank Syariah Indonesia.

Tercatatnya nama-nama bank ini di papan utama bursa menegaskan peran penting industri perbankan dalam mendukung stabilitas keuangan, memperkuat likuiditas pasar, serta menjadi pilihan favorit bagi investor domestik dan internasional.

Apa Itu Papan Utama BEI?

Papan Utama BEI diperuntukkan bagi perusahaan besar dengan rekam jejak operasional dan keuangan yang kuat. Emiten di papan ini biasanya memiliki stabilitas bisnis tinggi, laba yang konsisten, serta tingkat tata kelola (governance) yang baik.

Papan ini menjadi representasi emiten blue chip — perusahaan yang dianggap mapan, solid, dan menjadi pilihan utama investor jangka panjang.

Keunggulan Papan Utama BEI

Emiten yang tercatat di papan utama biasanya memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:

  1. Likuiditas tinggi – saham lebih aktif diperdagangkan.

  2. Reputasi dan kepercayaan investor lebih besar.

  3. Akses pendanaan yang luas untuk ekspansi bisnis.

  4. Kepatuhan terhadap standar tata kelola perusahaan (GCG) yang lebih ketat.

  5. Menjadi tolok ukur indeks-indeks utama, seperti IHSG dan LQ45.

Papan ini menjadi representasi emiten blue chip — perusahaan yang dianggap mapan, solid, dan menjadi pilihan utama investor jangka panjang.


Syarat dan Kriteria Papan Utama Bursa Efek Indonesia

Berdasarkan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), berikut adalah persyaratan utama untuk dapat tercatat di Papan Utama:

KriteriaPersyaratan Papan Utama (BEI)
Bentuk HukumPerseroan Terbatas (PT)
Masa OperasionalMinimal 36 bulan (3 tahun)
Laba UsahaHarus mencatat laba bersih pada 1 tahun terakhir
Laporan Keuangan (Audited)Minimal 3 tahun, dengan 2 tahun terakhir mendapat opini Wajar Tanpa Modifikasi
Ukuran KeuanganAktiva berwujud bersih ≥ Rp100 miliar
Jumlah Saham yang Ditawarkan ke PublikMinimal 300 juta saham, dengan komposisi:
• 20% jika ekuitas < Rp500 miliar
• 15% jika ekuitas Rp500 miliar – Rp2 triliun
• 10% jika ekuitas > Rp2 triliun
Jumlah Pemegang SahamMinimal 1.000 pihak
Harga Saham Perdana (IPO)≥ Rp100 per saham
Bentuk Penjaminan EmisiFull Commitment

Artikel ini akan merangkum daftar lengkap emiten bank  yang terdaftar di papan utama BEI beserta kode saham, tanggal IPO, dan jumlah saham beredar yang perlu Anda ketahui.

20 Saham dengan Nilai Transaksi Terbesar di BEI

20 Saham dengan Nilai Transaksi Terbesar di BEI

trading saham

Mediasaham.com, Jakarta — Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam perdagangan saham tanggal 7 Oktober 2025 mencatat 20 saham dengan nilai transaksi terbesar. Saham PT Chandra Daya Investasi Tbk. (IDX: CDIA) menempati posisi pertama dengan total nilai transaksi mencapai Rp3,98 triliun.

Posisi kedua ditempati oleh PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (IDX: CUAN) dengan nilai Rp2,33 triliun, disusul oleh PT Timah Tbk. (IDX: TINS) senilai Rp989,92 miliar.


Baca Juga:
10 Broker Saham Asing dan Lokal dengan Nilai Trading Saham Tertinggi
Daftar Kode Broker Saham Lokal dan Asing di Indonesia
20 Saham dengan Kapitalisasi Terbesar di Indonesia


Berikut daftar lengkap 20 saham dengan nilai transaksi terbesar di BEI:

  1. CDIA — Chandra Daya Investasi Tbk. — Rp 3.983.472.835.000
  2. CUAN — Petrindo Jaya Kreasi Tbk. — Rp 2.337.107.690.000

  3. TINS — Timah Tbk. — Rp 989.923.672.000

  4. PTRO — Petrosea Tbk. — Rp 968.875.962.500

  5. BRPT — Barito Pacific Tbk. — Rp 967.317.268.000

  6. TOBA — TBS Energi Utama Tbk. — Rp 960.310.766.500

  7. BUMI — Bumi Resources Tbk. — Rp 907.129.697.500

  8. WIFI — Solusi Sinergi Digital Tbk. — Rp 802.715.031.000

  9. BRMS — Bumi Resources Minerals Tbk. — Rp 709.734.843.500

  10. RAJA — Rukun Raharja Tbk. — Rp 603.072.087.000

  11. BBRI — Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. — Rp 575.788.245.000

  12. BBCA — Bank Central Asia Tbk. — Rp 560.977.602.500

  13. MEDC — Medco Energi Internasional Tbk. — Rp 530.614.981.000

  14. DEWA — Darma Henwa Tbk. — Rp 505.471.854.000

  15. SSIA — Surya Semesta Internusa Tbk. — Rp 491.617.134.500

  16. BREN — Barito Renewables Energy Tbk. — Rp 442.489.097.500

  17. BMRI — Bank Mandiri (Persero) Tbk. — Rp 428.630.718.000

  18. MBMA — Merdeka Battery Materials Tbk. — Rp 399.682.759.500

  19. ANTM — Aneka Tambang Tbk. — Rp 365.930.775.000

  20. EMTK — Elang Mahkota Teknologi Tbk. — Rp 330.447.769.000


Jika diamati, mayoritas saham dengan nilai transaksi tertinggi berasal dari sektor energi, pertambangan, dan infrastruktur. Saham-saham seperti CDIA, CUAN, TINS, PTRO, BRPT, TOBA, dan BUMI menunjukkan tingginya rotasi modal asing maupun domestik ke emiten yang berhubungan dengan sumber daya alam.

Sementara itu, sektor perbankan masih menunjukkan peran penting dalam menjaga likuiditas pasar. Tiga bank besar — BBRI, BBCA, dan BMRI — masih menempati posisi di 20 besar dengan total nilai transaksi gabungan lebih dari Rp1,56 triliun.

20 Saham dengan Volume Trading Terbesar di BEI: BUMI Terdepan, Disusul GOTO dan CDIA

20 Saham dengan Volume Trading Terbesar di BEI: BUMI Terdepan, Disusul GOTO dan CDIA

volume trading saham

Mediasaham.com, 7 Oktober 2025 – Volume saham menjadi salah satu indikator penting yang sering digunakan oleh trader dan investor saham dalam menganalisis pergerakan harga saham. Volume tidak hanya menunjukkan seberapa banyak saham diperdagangkan, tetapi juga mencerminkan kekuatan dan arah dari pergerakan harga itu sendiri.

Dalam dunia pasar modal, memahami arti volume trading bisa membantu kamu mengetahui kapan saat yang tepat untuk membeli atau menjual saham.

Volume trading saham adalah jumlah total lembar saham yang diperdagangkan dalam periode waktu tertentu, biasanya dalam satu hari bursa. Volume ini mencakup semua transaksi jual dan beli yang terjadi, baik oleh investor lokal maupun asing.

Laba Bersih BRI Turun 9,9% Jadi Rp32,6 triliun Per Agustus 2025

Laba Bersih BRI Turun 9,9% Jadi Rp32,6 triliun Per Agustus 2025

Bank BRI

Mediasaham.com – Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melaporkan kinerja keuangan per 31 Agustus 2025 dengan capaian negatif. Laba bersih BBRI per 31 Agustus 2025 sebesar Rp32,6 triliun, turun sebesar 9,9% dibanding periode yang sama tahun 2024, ketika perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp36,2 triliun pada Agustus 2024.

Dari sisi pendapatan bunga, BRI meraih sebesar Rp109,42 triliun hingga Agustus 2025, naik tipis 1,1% dibanding Rp108,21 triliun pada Agustus 2024. Beban bunga juga meningkat menjadi Rp34,74 triliun dari Rp34,57 triliun, atau naik 0,5%. Dengan demikian, laba bunga bersih (net interest income) tumbuh 1,4% menjadi Rp74,68 triliun, dari Rp73,63 triliun di tahun sebelumnya.

 Baca: Kamus Istilah Saham A–Z: Cocok untuk Investor Pemula

Namun, tekanan datang dari pos beban operasional. Kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) meningkat menjadi Rp27,49 triliun, naik 7,4% dibanding Rp25,59 triliun pada 2024. Beban tenaga kerja juga naik tipis 0,7% menjadi Rp20,01 triliun, dari Rp19,86 triliun tahun sebelumnya. Beban lainnya pun melonjak 9,7% ke level Rp19,08 triliun, dari Rp17,40 triliun di 2024.

Baca: Daftar Bank Buku 4 di Indonesia

Di sisi lain, pendapatan non-bunga BRI menunjukkan pergerakan berbeda. Pendapatan dividen meningkat signifikan 22,5% menjadi Rp3,15 triliun dari Rp2,57 triliun. Pendapatan dari penjualan aset keuangan juga naik 24,5% ke Rp1,66 triliun dari Rp1,33 triliun. Namun, pendapatan komisi dan administrasi justru turun 10,4% menjadi Rp13,34 triliun dibanding Rp14,90 triliun setahun sebelumnya.

 Baca: 20 Saham dengan Kapitalisasi Terbesar di Indonesia

Per 31 Agustus 2025, Saham BBRI mencatat total ekuitas sebesar Rp304,30 triliun. Dari sisi aset, BRI memiliki total aset sebesar Rp1.925 triliun. Penyaluran kredit mendominasi dengan Rp1.273 triliun atau sekitar 66 persen dari total aset, disusul portofolio surat berharga Rp363,26 triliun. Likuiditas juga ditopang kas serta penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain senilai lebih dari Rp185 triliun.

Baca:
1. Kamus Istilah Saham A–Z: Cocok untuk Investor Pemula
2. 
Daftar Kode Broker Saham Lokal dan Asing di Indonesia
3. Cara Investasi Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap, Aman dan Menguntungkan
4. Cara Memilih Broker Saham Terbaik di Indonesia dan Aman untuk Pemula
5. 7 Aplikasi Trading Saham Terbaik di Indonesia ( Update Oktober 2025)

Perbandingan Kinerja Bank BRI Agustus 2025 vs Agustus 2024


1. Pendapatan dan Beban Bunga

  • Pendapatan bunga: Rp109,42 triliun (2025) vs Rp108,21 triliun (2024) → naik 1,1%
  • Beban bunga: Rp34,74 triliun vs Rp34,57 triliun → naik 0,5%
  • Pendapatan bunga bersih: Rp74,68 triliun vs Rp73,63 triliun → naik 1,4%

2. Pendapatan Non-Bunga

  • Pendapatan dividen: Rp3,15 triliun (2025) vs Rp2,57 triliun (2024) → naik 22,5%
  • Penjualan aset keuangan: Rp1,66 triliun vs Rp1,33 triliun → naik 24,5%
  • Pendapatan komisi & administrasi: Rp13,34 triliun vs Rp14,90 triliun → turun 10,4%

3. Beban Operasional

  • Kerugian penurunan nilai aset (impairment): Rp27,49 triliun (2025) vs Rp25,59 triliun (2024) → naik 7,4%
  • Beban tenaga kerja: Rp20,01 triliun vs Rp19,86 triliun → naik 0,7%
  • Beban lainnya: Rp19,08 triliun vs Rp17,40 triliun → naik 9,7%

4. Laba

Laba Bersih BCA Naik 8,5% Jadi Rp39,06 triliun Hingga Agustus 2025

Laba Bersih BCA Naik 8,5% Jadi Rp39,06 triliun Hingga Agustus 2025

My BCA

Mediasaham.com – Bank Central Asia Tbk (IDX: BBCA) kembali membukukan kinerja positif sepanjang delapan bulan pertama tahun 2025. Berdasarkan laporan keuangan Bank BCA untuk periode 8 bulan pertama 2025, laba bersih BCA per 31 Agustus 2025 tercatat Rp39,06 triliun, naik 8,5 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp35,99 triliun.

Pertumbuhan ini ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang meningkat menjadi Rp53,12 triliun, naik 5,1 % dibanding Agustus 2024 sebesar Rp50,55 triliun. Pendapatan bunga BCA mencapai Rp61,38 triliun, tumbuh 5,3 % dari tahun lalu Rp58,27 triliun. Beban bunga juga naik 7,0 % menjadi Rp8,27 triliun, namun efisiensi pendanaan lewat dominasi dana murah tetap menjaga margin bunga.

 Baca: 
1. Kamus Istilah Saham A–Z: Cocok untuk Investor Pemula
2. 
Cara Investasi Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap, Aman dan Menguntungkan
3. Cara Memilih Broker Saham Terbaik di Indonesia dan Aman untuk Pemula
4. 7 Aplikasi Trading Saham Terbaik di Indonesia ( Update Oktober 2025)

Di luar bunga, pendapatan non-bunga BCA juga mencatat pertumbuhan signifikan. Pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi meningkat 7,6 % menjadi Rp12,61 triliun. Lonjakan besar terlihat pada pendapatan dividen yang naik hampir dua kali lipat, dari Rp1,11 triliun menjadi Rp2,20 triliun. Pendapatan lainnya juga naik hampir 99 %, sementara keuntungan dari transaksi derivatif melonjak 128,8 %. Namun, beban impairment (cadangan kerugian penurunan nilai aset) ikut naik tajam 106,8 % menjadi Rp2,66 triliun.

Berita Terbaru

    Konten Premium

      Dividen Saham