Papan Pencatatan Saham di Bursa Efek Indonesia: Jenis, Syarat, dan Fungsinya

Papan Pencatatan Saham di Bursa Efek Indonesia: Jenis, Syarat, dan Fungsinya

Papan bursa Indonesia
Seseorang sedang memperhatikan papan bursa. Adit Saputra / Mediasaham.com

Pengertian Papan Pencatatan Saham di BEI

Papan pencatatan saham adalah sistem klasifikasi yang digunakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengelompokkan perusahaan tercatat (emiten) berdasarkan ukuran, kinerja, serta karakteristik bisnisnya.

Tujuan utama papan pencatatan adalah agar BEI dapat memantau dan membedakan jenis perusahaan yang sudah terdaftar, sekaligus membantu investor dalam menentukan strategi investasi yang sesuai. Cek di sini daftar perusahaan yang terdaftar di BEI.

38 Daftar Perusahaan Sektor Kesehatan yang Terdaftar di BEI

38 Daftar Perusahaan Sektor Kesehatan yang Terdaftar di BEI

Daftar Sektor Kesehatan yang Terdaftar di BEI
Dokter dan pasien saling bersalaman setelah selesai konsultasi kesehatan. Foto dokumentasi Mediasaham.com

Di pasar modal, ada puluhan perusahaan sektor kesehatan yang sahamnya terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan menjadi perusahaan publik, emiten-emiten ini tidak hanya mendapatkan akses pendanaan lebih luas, tetapi juga memperkuat transparansi dan tata kelola.

Berdasarkan data resmi yang tercatat hingga tahun 2025. Terdapat 38 perusahaan sektor kesehatan yang sudah melantai di BEI dengan klasifikasi pada berbagai papan pencatatan sesuai ketentuan OJK dan BEI. Mulai dari papan utama, pengembangan dan pemantauan khusus.

Daftar saham sektor kesehatan berikut disusun lengkap dengan kode saham, tanggal IPO, jumlah lembar saham perusahaan, serta papan pencatatannya.  Sehingga mudah digunakan sebagai referensi bagi investor pemula maupun berpengalaman.

Daftar Perusahaan Sektor Kesehatan yang Terdaftar di BEI


1. Darya-Varia Laboratoria Tbk.

Kode Saham: DVLA
Tanggal IPO: 11 Nov 1994
Jumlah Saham: 1.120.000.000
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

2. Indofarma Tbk.

Kode Saham: INAF
Tanggal IPO: 17 Apr 2001
Jumlah Saham: 3.099.267.500
Papan Pencatatan di BEI: Pemantauan Khusus

3. Kimia Farma Tbk.

Kode Saham: KAEF
Tanggal IPO: 04 Jul 2001
Jumlah Saham: 5.566.588.407
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

4. Kalbe Farma Tbk.

Kode Saham: KLBF
Tanggal IPO: 30 Jul 1991
Jumlah Saham: 46.813.391.540
Papan Pencatatan di BEI: Utama

5. Merck Tbk.

Kode Saham: MERK
Tanggal IPO: 23 Jul 1981
Jumlah Saham: 448.000.000
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

6. Mitra Keluarga Karyasehat Tbk.

Kode Saham: MIKA
Tanggal IPO: 24 Mar 2015
Jumlah Saham: 13.907.481.500
Papan Pencatatan di BEI: Utama

7. Pyridam Farma Tbk.

Kode Saham: PYFA
Tanggal IPO: 16 Okt 2001
Jumlah Saham: 11.236.691.910
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

8. Sarana Meditama Metropolitan Tbk.

Kode Saham: SAME
Tanggal IPO: 11 Jan 2013
Jumlah Saham: 17.147.132.545
Papan Pencatatan di BEI: Utama

9. Organon Pharma Indonesia Tbk.

Kode Saham: SCPI
Tanggal IPO: 08 Jun 1990
Jumlah Saham: 3.600.000
Papan Pencatatan di BEI: Pemantauan Khusus

10. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.

Kode Saham: SIDO
Tanggal IPO: 18 Des 2013
Jumlah Saham: 30.000.000.000
Papan Pencatatan di BEI: Utama

11. Siloam International Hospitals Tbk.

Kode Saham: SILO
Tanggal IPO: 12 Sep 2013
Jumlah Saham: 13.006.125.000
Papan Pencatatan di BEI: Utama

12. Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk.

Kode Saham: SRAJ
Tanggal IPO: 11 Apr 2011
Jumlah Saham: 12.238.959.990
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

13. Tempo Scan Pacific Tbk.

Kode Saham: TSPC
Tanggal IPO: 17 Jun 1994
Jumlah Saham: 4.509.864.300
Papan Pencatatan di BEI: Utama

14. Prodia Widyahusada Tbk.

Kode Saham: PRDA
Tanggal IPO: 07 Des 2016
Jumlah Saham: 937.500.000
Papan Pencatatan di BEI: Utama

15. Royal Prima Tbk.

Kode Saham: PRIM
Tanggal IPO: 15 Mei 2018
Jumlah Saham: 3.393.434.905
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

16. Medikaloka Hermina Tbk.

Kode Saham: HEAL
Tanggal IPO: 16 Mei 2018
Jumlah Saham: 15.365.950.000
Papan Pencatatan di BEI: Utama

17. Phapros Tbk.

Kode Saham: PEHA
Tanggal IPO: 26 Des 2018
Jumlah Saham: 840.000.000
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

18. Itama Ranoraya Tbk.

Kode Saham: IRRA
Tanggal IPO: 15 Okt 2019
Jumlah Saham: 1.600.000.000
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

19. Soho Global Health Tbk.

Kode Saham: SOHO
Tanggal IPO: 08 Sep 2020
Jumlah Saham: 12.691.682.390
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

20. Bundamedik Tbk.

Kode Saham: BMHS
Tanggal IPO: 06 Jul 2021
Jumlah Saham: 8.603.416.176
Papan Pencatatan di BEI: Utama

21. Kedoya Adyaraya Tbk.

Kode Saham: RSGK
Tanggal IPO: 08 Sep 2021
Jumlah Saham: 929.675.000
Papan Pencatatan di BEI: Pemantauan Khusus

22. Murni Sadar Tbk.

Kode Saham: MTMH
Tanggal IPO: 20 Apr 2022
Jumlah Saham: 2.068.526.950
Papan Pencatatan di BEI: Utama

23. Hetzer Medical Indonesia Tbk.

Kode Saham: MEDS
Tanggal IPO: 10 Agt 2022
Jumlah Saham: 1.562.500.000
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

24. Famon Awal Bros Sedaya Tbk.

Kode Saham: PRAY
Tanggal IPO: 08 Nov 2022
Jumlah Saham: 13.959.422.300
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

25. Jayamas Medica Industri Tbk.

Kode Saham: OMED
Tanggal IPO: 08 Nov 2022
Jumlah Saham: 27.058.850.000
Papan Pencatatan di BEI: Utama

26. Multi Medika Internasional Tbk.

Kode Saham: MMIX
Tanggal IPO: 06 Des 2022
Jumlah Saham: 4.800.425.380
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

27. Penta Valent Tbk.

Kode Saham: PEVE
Tanggal IPO: 24 Jan 2023
Jumlah Saham: 1.765.625.000
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

28. Haloni Jane Tbk.

Kode Saham: HALO
Tanggal IPO: 08 Feb 2023
Jumlah Saham: 5.650.051.056
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

29. Charlie Hospital Semarang Tbk.

Kode Saham: RSCH
Tanggal IPO: 28 Agt 2023
Jumlah Saham: 2.650.000.000
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

30. Ikapharmindo Putramas Tbk.

Kode Saham: IKPM
Tanggal IPO: 08 Nov 2023
Jumlah Saham: 1.684.662.500
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

31. Maja Agung Latexindo Tbk.

Kode Saham: SURI
Tanggal IPO: 07 Des 2023
Jumlah Saham: 6.334.375.000
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

32. UBC Medical Indonesia Tbk.

Kode Saham: LABS
Tanggal IPO: 10 Jul 2024
Jumlah Saham: 3.950.000.000
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

33. Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk.

Kode Saham: OBAT
Tanggal IPO: 13 Jan 2025
Jumlah Saham: 607.844.489
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

34. Diastika Biotekindo Tbk.

Kode Saham: CHEK
Tanggal IPO: 10 Jul 2025
Jumlah Saham: 4.113.331.485
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

35. Medela Potentia Tbk.

Kode Saham: MDLA
Tanggal IPO: 15 Apr 2025
Jumlah Saham: 14.012.825.000
Papan Pencatatan di BEI: Utama

36. Cipta Sarana Medika Tbk.

Kode Saham: DKHH
Tanggal IPO: 08 Mei 2025
Jumlah Saham: 2.550.000.000
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

37. Metro Healthcare Indonesia Tbk.

Kode Saham: CARE
Tanggal IPO: 13 Mar 2020
Jumlah Saham: 33.250.000.000
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan

38. Diagnos Laboratorium Utama Tbk.

Kode Saham: DGNS
Tanggal IPO: 15 Jan 2021
Jumlah Saham: 1.250.000.000
Papan Pencatatan di BEI: Pengembangan


Baca:


Gambar Health Checkup Icons
Berbagai icon daftar cek kesehatan. Adit Saputra / Mediasaham.com

Analisis Papan Pencatatan Perusahaan Sektor Kesehatan di BEI

Dari total 38 perusahaan sektor kesehatan yang tercatat di BEI, pembagian berdasarkan papan pencatatan adalah sebagai berikut:

  • Papan Utama: 9 perusahaan
    (KLBF, MIKA, SAME, SIDO, SILO, TSPC, PRDA, BMHS, MDLA, MTMH, OMED)
    (Catatan: termasuk emiten besar dan mapan dengan kinerja stabil)

  • Papan Pengembangan: 25 perusahaan
    (DVLA, KAEF, MERK, PYFA, SRAJ, PRIM, PEHA, IRRA, SOHO, MEDS, PRAY, MMIX, PEVE, HALO, RSCH, IKPM, SURI, LABS, OBAT, CHEK, DKHH, CARE, DVLA, MERK, PYFA, PHAPROS)
    (Mayoritas perusahaan tahap menengah dan bertumbuh)

  • Papan Pemantauan Khusus: 3 perusahaan
    (INAF, SCPI, RSGK)
    (Sedang dalam pengawasan khusus BEI)

Total keseluruhan:
38 perusahaan kesehatan tercatat di BEI hingga November 2025.


Contoh Perusahaan Sektor Kesehatan di BEI

Beberapa contoh perusahaan kesehatan ternama yang sudah lama tercatat di BEI antara lain:

  • Kalbe Farma Tbk. (KLBF) – perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, tercatat di Papan Utama sejak 1991.

  • Kimia Farma Tbk. (KAEF) – emiten farmasi pelat merah yang berada di Papan Pengembangan.

  • Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) – operator rumah sakit swasta terkemuka di Papan Utama.

  • Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) – rumah sakit swasta modern milik Grup Lippo di Papan Utama.

  • Indofarma Tbk. (INAF) – BUMN farmasi yang kini masuk Papan Pemantauan Khusus.


Kesimpulan

Berdasarkan data hingga 2025, terdapat 38 perusahaan sektor kesehatan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Mayoritas dari mereka tercatat di Papan Pengembangan, yang menunjukkan bahwa sektor kesehatan di Indonesia masih dalam tahap pertumbuhan aktif dan ekspansi.

Sementara itu, perusahaan besar seperti Kalbe Farma (KLBF), Siloam Hospitals (SILO), dan Mitra Keluarga (MIKA) sudah menempati Papan Utama berkat kinerja dan fundamental yang kuat.

Baca: Cara Investasi Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap, Aman dan Menguntungkan

Papan pencatatan di BEI bukan hanya sekadar klasifikasi administratif, tetapi juga panduan penting bagi investor untuk memahami tingkat kematangan dan risiko tiap perusahaan. Dengan mengenal jenis papan ini, calon investor dapat memilih saham sektor kesehatan sesuai profil risiko dan tujuan investasi masing-masing.

Jajaran 10 Saham Top Gainers dan Top Losers Sepekan Terakhir (10-14 November 2025)

Jajaran 10 Saham Top Gainers dan Top Losers Sepekan Terakhir (10-14 November 2025)

BEI
Ilustrasi. Seseorang sedang melihat daftar harga saham. Adit Saputra / Mediasaham.com

Mediasaham.com, Jakarta —
Pasar saham Indonesia mencatatkan daftar saham yang melesat tajam sepanjang periode perdagangan 10-14 November 2025. Beberapa saham bahkan mencatat kenaikan signifikan hingga lebih dari 150%, dipimpin oleh UANG dan MORA yang menjadi top gainers paling menonjol.

Kenaikan ini bisa didorong oleh berbagai kombinasi seperti: sentimen positif, aksi beli agresif investor, akumulasi bandar, serta katalis fundamental dan teknikal dari masing-masing saham.

Daftar Harga Saham di Bawah 50 Rupiah

Daftar Harga Saham di Bawah 50 Rupiah

Daftar Harga Saham di Bawah 50 Rupiah

harga saham di bawah 50
Daftar Saham Harga di Bawah Rp 50. Adit Saputra / Mediasaham.com

Mediasaham.com —  Daftar Harga Saham di Bawah 50 Rupiah menjadi salah satu topik yang paling banyak dicari para trader ritel, terutama yang suka berburu saham-saham berharga murah (low price). Namun saham yang harga di bawah 50 biasanya masuk dalam katagori pemantauan khusus.

Daftar Saham Harga 50 Rupiah: Update Terbaru November 2025

Daftar Saham Harga 50 Rupiah: Update Terbaru November 2025

harga saham gocap
Ilustrasi. Harga saham 50 rupiah. Adit Saputra / Mediasaham.com


Mediasaham.com — Saham harga Rp50 atau yang sering disebut saham gocap. Saham gocap sering menjadi perbincangan investor ritel karena harganya sudah mentok dan terkadang tidak ada transaksi.

Secara nominal harga saham gocap kelihatannya “murah banget”. Tapi murah belum tentu cuan—yang penting ngerti dulu kondisi dan potensi tiap sahamnya.

Secara umum, saham gocap adalah saham yang sudah mentok di batas bawah harga perdagangan BEI. Saham gocap biasanya punya masalah fundamental, seperti kinerja perusahaan yang menurun, beban utang tinggi, atau bisnis yang tidak lagi berkembang. Intinya saham-saham gocap seringkali disebut saham "bermasalah" oleh investor ritel.

Bahkan investor-investor sering kali mengalami yang namanya “nyangkut” karane harga sahamnya tidak bergerak-gerak dari harga gocap. Atau tidak ada transaksi jual beli karena tidak ada peminatnya.

105 Daftar Saham Sektor Keuangan di BEI: Cek Papan Pencatatan, Jumlah Saham dan Tanggal IPO

105 Daftar Saham Sektor Keuangan di BEI: Cek Papan Pencatatan, Jumlah Saham dan Tanggal IPO

sektor keuangan di BEI
Gedung perusahaan dari berbagai sektor keuangan. Foto Dokumentasi Mediasaham.com 

Berdasarkan data terbaru, terdapat 105 emiten saham sektor keuangan BEI yang aktif diperdagangkan. Dari jumlah tersebut, 40 perusahaan tercatat di papan utama, 52 perusahaan di papan pengembangan, dan 13 perusahaan di papan pemantauan khusus.

Perusahaan besar seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mendominasi daftar saham keuangan Indonesia di papan utama.

Baca: 91 Daftar Saham Sektor Energi

Sementara Bank Amar Indonesia (AMAR) dan Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi (JMAS) aktif di papan pengembangan dengan potensi pertumbuhan digital tinggi. Di sisi lain, Asuransi Bina Dana Arta (ABDA) tercatat di papan pemantauan khusus karena evaluasi kinerja.

Bank-Bank Tercatat di Papan Utama BEI, Ini 29 Daftar Emiten dan Kodenya

Bank-Bank Tercatat di Papan Utama BEI, Ini 29 Daftar Emiten dan Kodenya

Bank
Ilustrasi / Mediasaham.com

Daftar emiten Bank di Bursa Efek Indonesia menunjukkan dominasi sektor perbankan sebagai salah satu penggerak utama pasar modal nasional. Hingga tahun 2025, terdapat 29 bank tercatat di Papan Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), mencakup bank-bank besar seperti BCA, BRI, Mandiri, hingga Bank Syariah Indonesia.

Tercatatnya nama-nama bank ini di papan utama bursa menegaskan peran penting industri perbankan dalam mendukung stabilitas keuangan, memperkuat likuiditas pasar, serta menjadi pilihan favorit bagi investor domestik dan internasional.

Apa Itu Papan Utama BEI?

Papan Utama BEI diperuntukkan bagi perusahaan besar dengan rekam jejak operasional dan keuangan yang kuat. Emiten di papan ini biasanya memiliki stabilitas bisnis tinggi, laba yang konsisten, serta tingkat tata kelola (governance) yang baik.

Papan ini menjadi representasi emiten blue chip — perusahaan yang dianggap mapan, solid, dan menjadi pilihan utama investor jangka panjang.

Keunggulan Papan Utama BEI

Emiten yang tercatat di papan utama biasanya memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:

  1. Likuiditas tinggi – saham lebih aktif diperdagangkan.

  2. Reputasi dan kepercayaan investor lebih besar.

  3. Akses pendanaan yang luas untuk ekspansi bisnis.

  4. Kepatuhan terhadap standar tata kelola perusahaan (GCG) yang lebih ketat.

  5. Menjadi tolok ukur indeks-indeks utama, seperti IHSG dan LQ45.

Papan ini menjadi representasi emiten blue chip — perusahaan yang dianggap mapan, solid, dan menjadi pilihan utama investor jangka panjang.


Syarat dan Kriteria Papan Utama Bursa Efek Indonesia

Berdasarkan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), berikut adalah persyaratan utama untuk dapat tercatat di Papan Utama:

KriteriaPersyaratan Papan Utama (BEI)
Bentuk HukumPerseroan Terbatas (PT)
Masa OperasionalMinimal 36 bulan (3 tahun)
Laba UsahaHarus mencatat laba bersih pada 1 tahun terakhir
Laporan Keuangan (Audited)Minimal 3 tahun, dengan 2 tahun terakhir mendapat opini Wajar Tanpa Modifikasi
Ukuran KeuanganAktiva berwujud bersih ≥ Rp100 miliar
Jumlah Saham yang Ditawarkan ke PublikMinimal 300 juta saham, dengan komposisi:
• 20% jika ekuitas < Rp500 miliar
• 15% jika ekuitas Rp500 miliar – Rp2 triliun
• 10% jika ekuitas > Rp2 triliun
Jumlah Pemegang SahamMinimal 1.000 pihak
Harga Saham Perdana (IPO)≥ Rp100 per saham
Bentuk Penjaminan EmisiFull Commitment

Artikel ini akan merangkum daftar lengkap emiten bank  yang terdaftar di papan utama BEI beserta kode saham, tanggal IPO, dan jumlah saham beredar yang perlu Anda ketahui.

20 Saham dengan Nilai Transaksi Terbesar di BEI

20 Saham dengan Nilai Transaksi Terbesar di BEI

trading saham

Mediasaham.com, Jakarta — Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam perdagangan saham tanggal 7 Oktober 2025 mencatat 20 saham dengan nilai transaksi terbesar. Saham PT Chandra Daya Investasi Tbk. (IDX: CDIA) menempati posisi pertama dengan total nilai transaksi mencapai Rp3,98 triliun.

Posisi kedua ditempati oleh PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (IDX: CUAN) dengan nilai Rp2,33 triliun, disusul oleh PT Timah Tbk. (IDX: TINS) senilai Rp989,92 miliar.


Baca Juga:
10 Broker Saham Asing dan Lokal dengan Nilai Trading Saham Tertinggi
Daftar Kode Broker Saham Lokal dan Asing di Indonesia
20 Saham dengan Kapitalisasi Terbesar di Indonesia


Berikut daftar lengkap 20 saham dengan nilai transaksi terbesar di BEI:

  1. CDIA — Chandra Daya Investasi Tbk. — Rp 3.983.472.835.000
  2. CUAN — Petrindo Jaya Kreasi Tbk. — Rp 2.337.107.690.000

  3. TINS — Timah Tbk. — Rp 989.923.672.000

  4. PTRO — Petrosea Tbk. — Rp 968.875.962.500

  5. BRPT — Barito Pacific Tbk. — Rp 967.317.268.000

  6. TOBA — TBS Energi Utama Tbk. — Rp 960.310.766.500

  7. BUMI — Bumi Resources Tbk. — Rp 907.129.697.500

  8. WIFI — Solusi Sinergi Digital Tbk. — Rp 802.715.031.000

  9. BRMS — Bumi Resources Minerals Tbk. — Rp 709.734.843.500

  10. RAJA — Rukun Raharja Tbk. — Rp 603.072.087.000

  11. BBRI — Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. — Rp 575.788.245.000

  12. BBCA — Bank Central Asia Tbk. — Rp 560.977.602.500

  13. MEDC — Medco Energi Internasional Tbk. — Rp 530.614.981.000

  14. DEWA — Darma Henwa Tbk. — Rp 505.471.854.000

  15. SSIA — Surya Semesta Internusa Tbk. — Rp 491.617.134.500

  16. BREN — Barito Renewables Energy Tbk. — Rp 442.489.097.500

  17. BMRI — Bank Mandiri (Persero) Tbk. — Rp 428.630.718.000

  18. MBMA — Merdeka Battery Materials Tbk. — Rp 399.682.759.500

  19. ANTM — Aneka Tambang Tbk. — Rp 365.930.775.000

  20. EMTK — Elang Mahkota Teknologi Tbk. — Rp 330.447.769.000


Jika diamati, mayoritas saham dengan nilai transaksi tertinggi berasal dari sektor energi, pertambangan, dan infrastruktur. Saham-saham seperti CDIA, CUAN, TINS, PTRO, BRPT, TOBA, dan BUMI menunjukkan tingginya rotasi modal asing maupun domestik ke emiten yang berhubungan dengan sumber daya alam.

Sementara itu, sektor perbankan masih menunjukkan peran penting dalam menjaga likuiditas pasar. Tiga bank besar — BBRI, BBCA, dan BMRI — masih menempati posisi di 20 besar dengan total nilai transaksi gabungan lebih dari Rp1,56 triliun.

20 Saham dengan Volume Trading Terbesar di BEI: BUMI Terdepan, Disusul GOTO dan CDIA

20 Saham dengan Volume Trading Terbesar di BEI: BUMI Terdepan, Disusul GOTO dan CDIA

volume trading saham

Mediasaham.com, 7 Oktober 2025 – Volume saham menjadi salah satu indikator penting yang sering digunakan oleh trader dan investor saham dalam menganalisis pergerakan harga saham. Volume tidak hanya menunjukkan seberapa banyak saham diperdagangkan, tetapi juga mencerminkan kekuatan dan arah dari pergerakan harga itu sendiri.

Dalam dunia pasar modal, memahami arti volume trading bisa membantu kamu mengetahui kapan saat yang tepat untuk membeli atau menjual saham.

Volume trading saham adalah jumlah total lembar saham yang diperdagangkan dalam periode waktu tertentu, biasanya dalam satu hari bursa. Volume ini mencakup semua transaksi jual dan beli yang terjadi, baik oleh investor lokal maupun asing.

Laba Bersih BRI Turun 9,9% Jadi Rp32,6 triliun Per Agustus 2025

Laba Bersih BRI Turun 9,9% Jadi Rp32,6 triliun Per Agustus 2025

Bank BRI

Mediasaham.com – Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melaporkan kinerja keuangan per 31 Agustus 2025 dengan capaian negatif. Laba bersih BBRI per 31 Agustus 2025 sebesar Rp32,6 triliun, turun sebesar 9,9% dibanding periode yang sama tahun 2024, ketika perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp36,2 triliun pada Agustus 2024.

Dari sisi pendapatan bunga, BRI meraih sebesar Rp109,42 triliun hingga Agustus 2025, naik tipis 1,1% dibanding Rp108,21 triliun pada Agustus 2024. Beban bunga juga meningkat menjadi Rp34,74 triliun dari Rp34,57 triliun, atau naik 0,5%. Dengan demikian, laba bunga bersih (net interest income) tumbuh 1,4% menjadi Rp74,68 triliun, dari Rp73,63 triliun di tahun sebelumnya.

 BacaKamus Istilah Saham A–Z: Cocok untuk Investor Pemula

Namun, tekanan datang dari pos beban operasional. Kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) meningkat menjadi Rp27,49 triliun, naik 7,4% dibanding Rp25,59 triliun pada 2024. Beban tenaga kerja juga naik tipis 0,7% menjadi Rp20,01 triliun, dari Rp19,86 triliun tahun sebelumnya. Beban lainnya pun melonjak 9,7% ke level Rp19,08 triliun, dari Rp17,40 triliun di 2024.

Baca: Daftar Bank Buku 4 di Indonesia

Di sisi lain, pendapatan non-bunga BRI menunjukkan pergerakan berbeda. Pendapatan dividen meningkat signifikan 22,5% menjadi Rp3,15 triliun dari Rp2,57 triliun. Pendapatan dari penjualan aset keuangan juga naik 24,5% ke Rp1,66 triliun dari Rp1,33 triliun. Namun, pendapatan komisi dan administrasi justru turun 10,4% menjadi Rp13,34 triliun dibanding Rp14,90 triliun setahun sebelumnya.

 Baca20 Saham dengan Kapitalisasi Terbesar di Indonesia

Per 31 Agustus 2025, Saham BBRI mencatat total ekuitas sebesar Rp304,30 triliun. Dari sisi aset, BRI memiliki total aset sebesar Rp1.925 triliun. Penyaluran kredit mendominasi dengan Rp1.273 triliun atau sekitar 66 persen dari total aset, disusul portofolio surat berharga Rp363,26 triliun. Likuiditas juga ditopang kas serta penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain senilai lebih dari Rp185 triliun.

Baca:
1. Kamus Istilah Saham A–Z: Cocok untuk Investor Pemula
2. 
Daftar Kode Broker Saham Lokal dan Asing di Indonesia
3. Cara Investasi Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap, Aman dan Menguntungkan
4. Cara Memilih Broker Saham Terbaik di Indonesia dan Aman untuk Pemula
5. 7 Aplikasi Trading Saham Terbaik di Indonesia ( Update Oktober 2025)

Perbandingan Kinerja Bank BRI Agustus 2025 vs Agustus 2024


1. Pendapatan dan Beban Bunga

  • Pendapatan bunga: Rp109,42 triliun (2025) vs Rp108,21 triliun (2024) → naik 1,1%
  • Beban bunga: Rp34,74 triliun vs Rp34,57 triliun → naik 0,5%
  • Pendapatan bunga bersih: Rp74,68 triliun vs Rp73,63 triliun → naik 1,4%

2. Pendapatan Non-Bunga

  • Pendapatan dividen: Rp3,15 triliun (2025) vs Rp2,57 triliun (2024) → naik 22,5%
  • Penjualan aset keuangan: Rp1,66 triliun vs Rp1,33 triliun → naik 24,5%
  • Pendapatan komisi & administrasi: Rp13,34 triliun vs Rp14,90 triliun → turun 10,4%

3. Beban Operasional

  • Kerugian penurunan nilai aset (impairment): Rp27,49 triliun (2025) vs Rp25,59 triliun (2024) → naik 7,4%
  • Beban tenaga kerja: Rp20,01 triliun vs Rp19,86 triliun → naik 0,7%
  • Beban lainnya: Rp19,08 triliun vs Rp17,40 triliun → naik 9,7%

4. Laba

Laba Bersih BCA Naik 8,5% Jadi Rp39,06 triliun Hingga Agustus 2025

Laba Bersih BCA Naik 8,5% Jadi Rp39,06 triliun Hingga Agustus 2025

My BCA

Mediasaham.com – Bank Central Asia Tbk (IDX: BBCA) kembali membukukan kinerja positif sepanjang delapan bulan pertama tahun 2025. Berdasarkan laporan keuangan Bank BCA untuk periode 8 bulan pertama 2025, laba bersih BCA per 31 Agustus 2025 tercatat Rp39,06 triliun, naik 8,5 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp35,99 triliun.

Pertumbuhan ini ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang meningkat menjadi Rp53,12 triliun, naik 5,1 % dibanding Agustus 2024 sebesar Rp50,55 triliun. Pendapatan bunga BCA mencapai Rp61,38 triliun, tumbuh 5,3 % dari tahun lalu Rp58,27 triliun. Beban bunga juga naik 7,0 % menjadi Rp8,27 triliun, namun efisiensi pendanaan lewat dominasi dana murah tetap menjaga margin bunga.

 Baca
1. Kamus Istilah Saham A–Z: Cocok untuk Investor Pemula
2. 
Cara Investasi Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap, Aman dan Menguntungkan
3. Cara Memilih Broker Saham Terbaik di Indonesia dan Aman untuk Pemula
4. 7 Aplikasi Trading Saham Terbaik di Indonesia ( Update Oktober 2025)

Di luar bunga, pendapatan non-bunga BCA juga mencatat pertumbuhan signifikan. Pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi meningkat 7,6 % menjadi Rp12,61 triliun. Lonjakan besar terlihat pada pendapatan dividen yang naik hampir dua kali lipat, dari Rp1,11 triliun menjadi Rp2,20 triliun. Pendapatan lainnya juga naik hampir 99 %, sementara keuntungan dari transaksi derivatif melonjak 128,8 %. Namun, beban impairment (cadangan kerugian penurunan nilai aset) ikut naik tajam 106,8 % menjadi Rp2,66 triliun.

91 Daftar Saham Sektor Energi di BEI

91 Daftar Saham Sektor Energi di BEI

daftar saham sektor energi

Saham sektor energi di Indonesia terdiri dari berbagai perusahaan yang mencakup kegiatan dari hulu hingga hilir. Mulai dari bidang pertambangan batu bara, minyak, dan gas, termasuk eksplorasi, produksi, hingga distribusinya.

Selain produsen itu, ada juga perusahaan jasa penunjang seperti transportasi, logistik, dan penyedia peralatan pertambangan maupun migas.

Sementara itu, di energi terbarukan, perusahaan fokus pada pembangkit listrik ramah lingkungan, produksi biofuel, serta komponen energi baru seperti panel surya dan turbin.

Perusahaan sektor energi memegang peran vital dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia. sektor ini juga menjadi salah satu kontributor utama terhadap penerimaan negara melalui ekspor dan investasi. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat puluhan perusahaan energi yang sahamnya aktif diperdagangkan, mulai dari perusahaan tambang batu bara, minyak dan gas, hingga penyedia jasa pendukung energi.

Saham sektor energi apa saja?

Berdasarkan data terbaru di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 2025, terdapat 91 saham sektor energi yang tercatat di BEI. Jumlah tersebut terbagi dalam tiga papan pencatatan:

  1. Papan Utama: 49 saham
  2. Papan Pengembangan: 27 saham
  3. Papan Pemantauan Khusus: 15 saham

Papan Utama umumnya diisi oleh perusahaan dengan kapitalisasi besar, kinerja keuangan solid, serta tata kelola yang baik. Sementara itu, Papan Pengembangan menjadi wadah bagi perusahaan yang masih dalam tahap pertumbuhan.

Baca: 7 Aplikasi Trading Saham Terbaik

Saham sektor energi yang berada di Papan Pemantauan Khusus diperuntukkan bagi emiten yang menghadapi masalah tertentu, baik dari sisi operasional maupun regulasi yang belum terpenuhi dai BEI.

Baca: Cara Karyawan Punya Penghasilan Passive Income tanpa Keluar Kerja, Gaji Tetap tapi Aset Terus Bertumbuh

20 Saham dengan Kapitalisasi Terbesar di Indonesia

20 Saham dengan Kapitalisasi Terbesar di Indonesia

Saham Terbesar di Indonesia

Mediasaham.com - Pasar saham Indonesia semakin menarik diamati sepanjang tahun 2025. Daftar saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia tidak lagi dikuasai oleh sektor perbankan seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi sekarang, perusahaan di bidang energi ramah lingkungan, teknologi, dan pertambangan mineral penting mulai naik ke puncak daftar.

20 Saham dengan Kapitalisasi Terbesar di Indonesia


Berdasarkan data terbaru dari Bursa Efek Indonesia (BEI) per Agustus 2025, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) kini jadi saham terbesar dengan nilai pasar lebih dari Rp1.200 triliun. BREN berhasil menggeser Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang selama ini selalu nomor satu. 

Tak kalah menarik, sektor teknologi juga tumbuh kencang. DCI Indonesia Tbk (DCII), perusahaan yang fokus pada pusat data (data center), sudah masuk tiga besar saham terbesar di Indonesia. Ini membuktikan bahwa kebutuhan akan infrastruktur digital seperti server untuk cloud dan AI semakin penting. Selain itu semua orang butuh data yang aman dan cepat seperti untuk layanan e-commerce dan hal ini tentu saja membutuhkan dukungan dari perusahaan data center.

 Baca Juga91 Daftar Saham Sektor Energi di BEI

Meskipun demikian, sektor perbankan masih jadi pondasi utama di pasar saham Indonesia. Bank besar seperti BBCABank Rakyat Indonesia (BBRI)Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) tetap bertahan di 10 saham teratas dengan nilai pasar triliunan rupiah. Selain itu, Bank Syariah Indonesia (BRIS) juga semakin kuat, membuktikan bahwa perbankan berbasis syariah punya peran besar dalam keuangan inklusif di Indonesia.

Apa Itu Saham dengan Kapitalisasi Pasar Terbesar?

Saham dengan kapitalisasi pasar terbesar adalah saham dari perusahaan Tbk yang memiliki nilai total pasar tertinggi di Bursa Efek Indonesia. Kapitalisasi pasar (market capitalization/market cap) dihitung dengan rumus sederhana:

👉 Market Cap = Harga Saham × Jumlah Saham Beredar

Misalnya, jika sebuah perusahaan memiliki 10 miliar lembar saham beredar dengan harga Rp1.000 per lembar, maka kapitalisasi pasarnya adalah Rp10 triliun.

Kenapa Kapitalisasi Pasar Penting?

  1. Mengukur besar nilai sebauh perusahaan
    Market cap sering digunakan untuk melihat seberapa besar nilai sebuah perusahaan dibanding kompetitornya. Semakin besar market cap, semakin besar pula perusahaan tersebut dinilai oleh pasar.

  2. Menunjukkan kepercayaan investor
    Perusahaan dengan market cap besar biasanya dianggap lebih stabil, punya fundamental kuat, dan dipercaya mampu bertahan menghadapi gejolak ekonomi.

  3. Menjadi acuan indeks pasar
    Di Bursa Efek Indonesia (BEI), emiten dengan market cap terbesar sering masuk indeks populer seperti LQ45 dan IDX30, sehingga lebih banyak diperdagangkan oleh investor institusi.



Daftar 20 Saham dengan Kapitalisasi Terbesar di Indonesia

Berikut daftar 20 saham terbesar di Indonesia. Ranking ini diambil dari data IDX.co.id per Agustus 2025.

  1. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)Rp1.207 triliun
    🔹 Sektor: Energi Terbarukan
    🔹 Perusahaan energi terbarukan terbesar di Indonesia, fokus pada pembangkit listrik berbasis panas bumi. Jadi pemimpin transisi energi nasional.

  2. Bank Central Asia Tbk (BBCA)Rp985 triliun
    🔹 Sektor: Perbankan
    🔹 Bank BCA adalah bank swasta terbesar dengan basis nasabah ritel dan digital banking yang sangat kuat.

  3. PT DCI Indonesia Tbk (DCII)Rp812 triliun
    🔹 Sektor: Teknologi (Data Center)
    🔹 Pioneer pusat data di Indonesia, mendukung ekosistem digital dan cloud computing nasional.

  4. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)Rp764 triliun
    🔹 Sektor: Energi & Infrastruktur
    🔹 Bergerak di bidang energi listrik, telekomunikasi, dan infrastruktur dengan diversifikasi bisnis yang kuat.

  5. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)Rp714 triliun
    🔹 Sektor: Petrokimia
    🔹 Produsen petrokimia terbesar di Indonesia, penyedia bahan baku industri plastik dan kimia.

  6. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)Rp608 triliun
    🔹 Sektor: Perbankan
    🔹 Bank BUMN terbesar, unggul di segmen mikro, UMKM, dan jaringan cabang terluas.

  7. PT Bayan Resources Tbk (BYAN)Rp605 triliun
    🔹 Sektor: Pertambangan Batubara
    🔹 Salah satu produsen batubara terbesar di Indonesia, ekspor ke pasar internasional.

  8. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)Rp569 triliun
    🔹 Sektor: Pertambangan Mineral
    🔹 Mengelola tambang Batu Hijau, produsen emas dan tembaga, serta membangun smelter tembaga strategis.

  9. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)Rp437 triliun
    🔹 Sektor: Perbankan
    🔹 Bank BUMN terbesar berdasarkan aset, fokus pada layanan korporasi, ritel, dan digital banking.

  10. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)Rp310 triliun
    🔹 Sektor: Telekomunikasi
    🔹 Pemimpin pasar telekomunikasi, mengoperasikan layanan seluler, broadband, hingga infrastruktur digital.

  11. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)Rp257 triliun
    🔹 Sektor: Properti & Real Estate
    🔹 Developer proyek superblok PIK 2, salah satu kawasan paling premium di Jabodetabek.

  12. PT Astra International Tbk (ASII)Rp223 triliun
    🔹 Sektor: Konglomerat (Multi-sektor)
    🔹 Konglomerat dengan bisnis otomotif, alat berat, jasa keuangan, agribisnis, dan teknologi.

  13. PT Barito Pacific Tbk (BRPT)Rp205 triliun
    🔹 Sektor: Energi & Petrokimia
    🔹 Holding besar di bidang energi, petrokimia, serta induk perusahaan energi terbarukan BREN.

  14. PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA)Rp185 triliun
    🔹 Sektor: Investasi  Infrastruktur
    🔹 Bergerak di sektor investasi strategis, terutama pada energi, air, pelabuhan dan penyimpanan dan logistik.

  15. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)Rp175 triliun
    🔹 Sektor: Pertambangan Batubara
    🔹 Perusahaan batubara yang sedang naik daun, ekspansi produksi dan diversifikasi pasar.

  16. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)Rp162 triliun
    🔹 Sektor: Perbankan
    🔹 Bank BUMN tertua, fokus pada pembiayaan korporasi, ritel, dan ekspansi global.

  17. PT Multipolar Technology Tbk (MLPT)Rp149 triliun
    🔹 Sektor: Teknologi
    🔹 Penyedia solusi IT dan digital transformation, bagian dari grup Lippo.

  18. PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET)Rp139 triliun
    🔹 Sektor: Holding Investasi / Ritel
    🔹 Memiliki portofolio saham strategis di Indomaret, Fast Food Indonesia (KFC), dan bisnis telekomunikasi.

  19. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS)Rp124 triliun
    🔹 Sektor: Perbankan Syariah
    🔹 Bank syariah terbesar di Indonesia hasil merger bank syariah BUMN, pemimpin industri keuangan syariah nasional.

  20. PT Bank Permata Tbk (BNLI)Rp114 triliun
    🔹 Sektor: Perbankan
    🔹 Bank dengan layanan ritel dan korporasi, dimiliki oleh Bangkok Bank sebagai pemegang saham pengendali.

Analisis Tren Saham Terbesar di Indonesia

1. Dominasi Sektor Energi

  • BREN (Rp1.207 triliun) menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia, menyalip bank besar seperti BBCA. Menunjukkan tren kuat ke arah energi terbarukan seiring transisi energi global dan dorongan regulasi.
  • Namun, BYAN (Rp605 triliun) dan CUAN (Rp175 triliun) membuktikan sektor batubara masih kuat berkat tingginya permintaan energi global.
  • AMMN (Rp569 triliun) memperlihatkan momentum sektor tambang mineral (emas & tembaga) yang makin dilirik investor, terutama sebagai komoditas transisi energi.

2. Sektor Perbankan Tetap Pilar Utama

  • BBCA (Rp985 triliun), BBRI (Rp608 triliun), BMRI (Rp437 triliun), dan BBNI (Rp162 triliun) konsisten di 10 besar.
  • Kehadiran BRIS (Rp124 triliun) menegaskan tumbuhnya bank syariah sebagai kekuatan baru.
  • Total kapitalisasi sektor perbankan sebesar Rp2.306 triliun .

3. Kebangkitan Teknologi & Infrastruktur Digital

  • DCII (Rp812 triliun) melonjak sebagai salah satu top 3 terbesar, bukti permintaan pusat data (data center) sangat tinggi.
  • MLPT (Rp149 triliun) dan DNET (Rp139 triliun) juga naik berkat tren digitalisasi.
  • TLKM (Rp310 triliun) tetap kokoh sebagai backbone telekomunikasi nasional.

4. Properti Premium Mulai Menggeser

  • PANI (Rp257 triliun) melonjak masuk ke Top 20 berkat proyek PIK 2 yang jadi kawasan premium baru.
  • Tren properti masih selektif, fokus ke mega township & high-end property ketimbang residensial massal.

5. Konglomerasi dan Holding Energi

  • ASII (Rp223 triliun) masih bertahan sebagai konglomerat otomotif & multi-sektor, meskipun posisinya turun akibat lonjakan sektor energi dan digital.
  • BRPT (Rp205 triliun) dan CDIA (Rp185 triliun) memperlihatkan pentingnya peran holding investment di sektor energi & infrastruktur.

Kesimpulan

Saham dengan kapitalisasi pasar terbesar adalah saham perusahaan yang memiliki nilai paling besar di bursa saham. Nilai ini dihitung dari harga saham dikali jumlah saham beredar, sehingga mencerminkan seberapa besar perusahaan tersebut dinilai oleh pasar.

Baca Juga: Daftar Kode Broker Saham Lokal dan Asing di Indonesia

Saham-saham dengan market cap besar biasanya disebut juga sebagai big cap. Perusahaan kategori ini umumnya sudah mapan, stabil, dan punya posisi penting di industrinya. Karena itulah, saham big cap sering dijadikan barometer utama pergerak IHSG dan banyak dipilih investor jangka panjang.

 Baca JugaKamus Istilah Saham A–Z: Cocok untuk Investor Pemula

Alasannya sederhana, karena saham kapitalisasi besar cenderung lebih likuid (mudah diperdagangkan) dan dianggap lebih aman dibanding saham menengah atau kecil.

Berita Terbaru

    Laporan Keuangan

      Dividen Saham